
Nathan mendatangi sebuah bangunan usang yang terletak jauh dari kemegahan kota London. Tidak hanya sendiri, dia datang bersama Leon. Keduanya menuju ruang bawah tanah tempat Leon menyekap pria yang merupakan pelaku peledakan yang nyaris menewaskan Nathan.
Di depan ruangan bawah tanah ada 4 pria yang berjaga di sana. Mereka langsung membungkuk saat melihat kedatangan Nathan, Nathan adalah bos mereka jadi sudah selayaknya berlaku hormat padanya.
Leon memberi kode pada salah satu dari empat pria itu untuk membuka pintu di belakangnya. Pria itu mengangguk lalu membuka pintu tersebut. Nathan dan Leon masuk ke dalam untuk melihat langsung bagaimana kondisi biang kerok di balik insiden yang nyaris menewaskan Nathan.
Mata pria itu membelalak melihat kedatangan Nathan di sana. Sedangkan pria itu terlihat menyeringai, dia mendekati pria yang hanya bisa melotot dan menggerakkan tubuhnya itu. Luka bakar di sekujur tubuhnya lumayan parah, dan dia dalam keadaan menyedihkan.
'Nathan Xiao, apa yang kau lakukan padaku? Lepaskan aku brengsek!!!'
"Jangan pernah bermimpi aku akan melepaskan mu, kau... Akan di sini sampai mati!!!"
'Kau iblis, Nathan Xiao!! Aku pasti akan menghabisi mu!!!'
"Bagaimana kau bisa menghabisi ku?! Bahkan untuk bergerak pun kau tidak mampu, sebaiknya kau diam, karena aku bisa membaca semua yang ada di dalam kepalamu."
'Kau memang iblis, Nathan Xiao!!!'
"Jangan beri dia makan, aku ingin bajingan ini m@ti secara mengenaskan di sini. Turunkan dan naikkan suhu ruangan setiap dua jam sekali, aku ingin dia merasakan hidup bagaikan di neraka!!!"
"Baik, Bos!!"
'AKU PASTI AKAN MEMBUNUHMU, XIAO!!!"
Nathan dan Leon meninggalkan ruangan bawah tanah tersebut. Dia sudah pergi terlalu lama. Bisa-bisa Aster mencemaskan dirinya, apalagi kondisinya saat ini yang masih belum terlalu stabil.
-
"Paman!!!"
Tubuh Nathan terhuyung kebelakang karena pelukan Aster yang begitu tiba-tiba. Panik dan cemas terlihat jelas pada sepasang biner Hazel nya.
__ADS_1
"Paman, kau dari mana saja? Apa kau tau jika aku sangat mencemaskan mu?!"
Kemudian Nathan membawa Aster ke dalam pelukannya dia sungguh menyesal telah membuat istrinya itu cemas. "Aster Maafkan, Paman, karena sudah membuatmu cemas. Paman hanya pergi sebentar untuk menyelesaikan sesuatu di luar."
Aster menghela nafas. "Baiklah kali ini kau ku maafkan, Paman. Tapi tidak untuk yang lain kali!! Oya. Paman, apa kau sudah makan malam? Bagaimana kalau ke siapkan makan malam untukmu?"
Nathan menggeleng. "Tidak perlu, Sayang. Karena aku sudah makan malam di luar. Ini sudah malam, sebaiknya kita tidur saja, aku sangat lelah dan kepalaku agak pusing." Ujar Nathan.
Aster mengangguk Seraya tersenyum tipis."Baiklah, kalau begitu ayo kita tidur."
Aster tersenyum, dia membuka lebar-lebar tangannya dan meminta Natan untuk menggendongnya. "Dasar manja!!" Cibir Nathan, sedangkan Aster hanya terkekeh geli. Kemudian dia menyandarkan kepalanya pada bidang Nathan.
Nathan tersenyum tipis. Dia merasa geli sendiri dengan kelakuan istrinya, Aster memang sangat manja dan sedikit barbar.
-
Laurent membuka matanya, saat dia mendengar ketukan pada pintu kamarnya. Gadis itu menatap sebal 2 gadis lain yang berdiri di hadapannya. "Mau apa kalian datang kemari?" tanya Laurent sinis.
"Urusan kita belum selesai, Laurent Xiao!! Dan aku ingin Malam ini kita menyelesaikannya!!"
"Kau pikir kau siapa bisa mengusir kami, dan Kami tidak akan pergi sebelum memberimu pelajaran!!" kedua gadis itu bersikukuh.
Malas meladeni mereka berdua, Laurent memilih untuk pergi. Dia masuk kembali kedalam kamarnya lalu mengunci pintunya, karena berurusan dengan mereka hanya membuang tenaga saja. Begitulah yang larang pikirkan.
-
Jam dinding telah menunjuk angka, 02.00 dini hari. Tapi Aster masih terjaga. Wanita itu sulit untuk menutup matanya dan segera pergi ke alam mimpi, entah apa yang anda pikirkan saat ini, hingga membuatnya tidak bisa tidur.
Lalu pandangan Aster bergulir pada sosok tampan yang berbaring di sampingnya. Aster tersenyum tipis, nathan sedang tertidur pulas. Melihat wajah polos suaminya, membuat Aster tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum.
Saat sedang tertidur pulas, memang terlihat polos, seperti bayi yang tidak berdosa. Tapi ketika dia bangun, maka sosoknya akan terlihat sangat berbeda. Jika boleh jujur, Aster lebih menyukai nathan yang terlihat polos seperti ini.
__ADS_1
Aster menyibak selimutnya, lalu beranjak dari tempat tidurnya. Dengan kaki telanjang, Aster berjalan menuju balkon. Angin malam yang dingin langsung menyambutnya di sana. Langit terlihat gelap dan pekat, tanpa Bulan Tanpa Bintang.
Bulan dan manik-manik langit, menyembunyikan sinarnya Dibalik Awan Hitam. Melihat buruknya cuaca malam ini, sudah bisa dipastikan jika Hujan akan turun.
Inilah Salah satu alasan kenapa Aster membenci mendung di malam hari. Karena iya, tidak bisa Menikmati keindahan langit. Padahal melihat bulan dan bintang, adalah sesuatu yang paling Aster sukai.
"Menyebalkan sekali, kenapa harus ada awan hitam. Padahal aku ingin sekali melihat bintang!" keluh Aster, sambil mempoutkan bibirnya.
Dan sementara itu...
Nathan yang menyadari istrinya berbaring di sampingnya menjadi panik, Nathan hendak mencarinya, tapi hal itu dia urungkan. Saat melihat pintu balkon terbuka.
Yakin Astra ada di sana, nathan pun segera pergi ke balkon. Dan benar saja, aster sedang berdiri di sana. Nathan mendesah berat, bagaimana bisa istrinya itu berdiri di sana, tanpa penghangat apapun, padahal Cuaca dan udara malam ini sangat buruk.
Nathan kembali ke dalam, untuk mengambil selimut. Kemudian dia menghampiri Aster dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut yang dia bawa. Dan apa yang Nathan lakukan membuat Aster terlonjak kaget.
"Omo!!! Paman, kenapa kau harus mengejutkanku. Aku hampir saja jantungan karena ulah mu." Keluh Aster. Wanita itu memanyunkan bibirnya.
"Apa yang kau lakukan disini, disini sangat dingin sebaiknya kau masuk. Aku tidak ingin jika kau sampai sakit, Aster!!"
Aster menggeleng. Dia menolak untuk masuk dan kembali ke kamar. " jangan memaksaku untuk masuk, Paman!! Aku Masih Ingin disini, Lalu kenapa teman malah bangun? Dan bagaimana paman Tahu aku disini?" Aster menatap Nathan penasaran.
"Aku terbangun dan tidak Menemukanmu berbaring di sampingku, dan aku berpikir kau ada disini. Dan ternyata benar, kau memang ada disini."
"Aku tidak tidur. Paman, maukah kau menemaniku disini beberapa saat lagi?" Aster menatap menatap penuh harap.
Nathan mengajak rambut coklat Aster saking gemasnya. "Dasar bodoh, contoh komentar pun, aku pasti menemanimu di sini!!!" jawabnya.
Aster berhambur ke dalam pelukan Nathan. Kedua tangannya mengalung pada leher pria di depannya. "Aku tau, Paman pasti tidak akan mengecewakanku. Paman, kau memang yang terbaik. Aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu!!!"
Nathan mengecup kening Aster dan semakin mengeratkan pelukannya. "Aku juga."
__ADS_1
-
Bersambung.