
Usai makan siang. Nathan mengantar Aster kembali ke kampusnya. Dia masih memiliki dua kelas lagi. "Kau pulang jam berapa? Perlu aku jemput?" Tanya Nathan memberi tawaran.
Aster menggeleng. "Tidak perlu, Paman. Aku membawa mobil sendiri. Lagipula aku juga masih belum tau, jam berapa kelas terakhir selesainya."
Nathan mengecup singkat bibir Aster."Baiklah kalau begitu, ya sudah kau masuklah. Paman harus kembali ke kantor." Ucapnya sambil mengusap rambut panjang Aster. Aster tersenyum dan kemudian mengangguk.
Aster menggeleng. "Paman harus memberiku bekal sebelum aku masuk ke dalam. Itu tadi terlalu pendek." Kedua tangan Aster bergelayut manja pada leher Nathan.
Nathan mendengus. Dengan gemas Nathan menjitak kepala coklat Aster dan kemudian mencium bibirnya dengan keras. Bukan ciuman lembut seperti tadi, melainkan ciuman panas yang menuntut. Tapi ciuman itu berlangsung kurang dari 1 menit.
"Bagaimana, sekarang kau sudah puas?" Aster mengangguk.
"Ya, aku puas. Tapi nanti malam harus lanjut yang lebih dari ini, oke."
Dan sekali lagi sebuah jitakan mendarat pada kepala Aster. "Dasar m*sum."
Aster terkekeh. "Baikkah, aku masuk dulu, Paman hati-hati ya. Dan sampai jumpa nanti malam." Aster menangkap wajah Nathan dan kemudian mengecup singkat bibirnya.
Kemudian wanita itu turun dari mobil Nathan dan pergi begitu saja. Dan mobil Nathan pun mulai melaju meninggalkan kampus Aster.
Ada pertemuan penting yang harus Nathan hadiri setengah jam lagi, dia telah membuat janji dengan salah satu koleganya yang berasal dari luar negeri.
-
Veronica merangkul bahu Jordan. Melihat bagaimana cara sahabatnya itu memandang Aster, membuat dia sangat yakin jika Jordan memang menaruh hati pada wanita itu.
Jordan selalu mencoba untuk bisa dekat dengannya semenjak pertemuan mereka pagi ini. Dan dia terlihat gusar karena wanita itu tak kunjung kembali.
"Kau benar-benar jatuh cinta padanya?" Tanya Veronica memastikan.
Sontak saja Jordan menoleh dan menatap penasaran sahabatnya itu. "Pada siapa?" Jordan memicingkan matanya.
"Aster, aku rasa kau sudah jatuh cinta padanya. Dan aku melihat hal itu di matamu." Ucap Veronica dan membuat Jordan tersipu malu.
"Apakah begitu terlihat? Padahal aku sudah mencoba untuk bersikap biasa saja padanya. Tapi bagaimana kau bisa tau jika aku sedang merasakan yang namanya cinta pada pandangan pertama, pada Aster?"
"Karena aku mengenalmu dengan sangat baik, bodoh!! Dan jika kau memang menyukainya. Maka kau harus berusaha dan berjuang untuk bisa mendapatkannya. Kau singel dan dia singel, jadi peluangmu untuk bersama dengannya sangat besar."
Jordan mendesah berat. "Tapi bagaimana kalau dia tidak menyukaiku?"
"Kau tidak akan tau jika tidak mencobanya terlebih dulu. Lagipula kau memiliki banyak poin plus. Selain wajahmu yang tampan, kau juga mahasiswa paling popular disini, ditambah lagi orang tuamu adalah pemilik Universitas ini. Jadi dia tidak memiliki alasan untuk menolakmu!!"
Jordan tersenyum lebar. Kemudian dia memeluk Veronica dengan erat. "Kau memang sahabatku yang terbaik, Ver. Dan aku pasti akan memperjuangkan cintaku untuknya."
Veronica hanya bisa tersenyum pahit. Kemudian dia mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Jordan. "Jangan terlalu lama memelukku, orang akan salah paham pada kita."
*O-Oh, maaf."
"Dia datang, aku pergi dulu, berjuang." Jordan tersenyum dan kemudian mengangguk.
.
.
.
"Aster," seru Jordan dan membuat langkah wanita itu terhenti.
Aster berbalik badan, posisinya dan Jordan saling berhadapan. "Ya, Senior, ada apa?" Tanya Aster setelah Jordan menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Mau ke kelas bersama-sama? Kebetulan kelas kita satu arah."
"Boleh juga."
Menjadi pusat perhatian membuat Aster merasa tidak nyaman. Bukan karena kecantikannya, ataupun bentuk tubuhnya, melainkan karena sosok tampan yang berjalan disampingnya.
Jordan adalah idol kampus dan dia merupakan mahasiswa paling popular di YS University. Selain karena wajahnya yang tampan dan dia adalah anak orang kaya, Jordan merupakan putra dari pemilik YS University.
Berbagai tatapan seolah me**lanjanginya. Dan itu membuat Aster merasa sangat tidak nyaman. Aster sedikit mempercepat langkahnya dan menjaga jarak dari Jordan. Tapi Jordan selalu bisa menyamai langkahnya.
"Oya, jadi yang menjemputmu tadi adalah ayah angkatmu? Dia terlihat masih muda, bahkan dia terlihat lebih muda dariku."
"Itu karena Paman Nathan memiliki wajah baby face. Dia sudah berusia 30 tahun lebih. Dan bulan depan usianya sudah 31 tahun." Tuturnya.
"Kalian terlihat sangat dekat. Tidak terlihat seperti ayah dan putri angkat. Apa kalian memiliki hubungan spesial? Tidak baik loh, jika putri dan ayah angkatnya sampai memiliki hubungan special."
Aster menghentikan langkahnya dan menatap Jordan dengan tatapan tidak suka. "Kenapa Senior ingin tau? Ada atau tidak hubungan antara aku dan Paman Nathan itu tidak ada hubungannya dengan Senior." Ucap Aster menegaskan.
Aster yang kesal setengah mati langsung meninggalkan Jordan begitu saja. Menurutnya Jordan sudah terlalu ikut campur urusan pribadinya. Mau ada atau tidak hubungan antara dirinya dan Nathan, itu tidak ada hubungannya sama sekali dengannya.
-
Perusahaan milik Nathan bukanlah perusahaan kecil yang selalu bergantung pada perusahaan-perusahaan besar di negeri ini.
Justru perusahaan miliknya lah yang sering kali menjadi penopang bagi perusahaan-perusahaan, bukan hanya bagi perusahaan dalam negeri, namun juga perusahaan luar negeri.
Sukses di usia muda tak lantas membuat Nathan menjadi puas dengan apa yang telah dia miliki. Nathan ingin agar perusahaannya lebih berkembang lagi, lagi dan lagi.
Jarum jam sudah menunduk angka 20.00 malam. Namun pria itu belum juga beranjak dari kursi kerjanya. Nathan harus lembur malam ini karena beberapa pekerjaan yang masih belum selesai.
Di luar cuaca juga sedang tidak mendukung. Langit terlihat mendung dan udara berhembus sedikit kencang. Namun hal tersebut tak membuat Nathan terusik sedikit pun, sampai akhirnya dering suara pada ponselnya mengintrupsi pekerjaannya.
Dan tanpa membuang banyak waktu. Nathan pun menerima panggilan itu. "Ada apa, Sayang?"
"Paman, kau ada di mana? Kenapa jam segini belum pulang juga?"
"Maaf, Sayang. Paman harus lembur malam ini. Tidak perlu menunggu Paman pulang. Tidurlah dulu,"
"Bagaimana aku bisa tidur sebelum Paman pulang. Ramalan cuaca hari ini sangat buruk, Paman. Akan terjadi hujan lebat dan badai. Sebaiknya Paman segera pulang sekarang."
Nathan melirik jam yang menggantung di dinding kantornya. Sudah jam 20.15 menit."Baiklah, kalau begitu Paman tutup dulu telfonnya."
Nathan mengakhiri panggilan dari Aster dan mulai membereskan berkas-berkasnya. Dia masih bisa menyelesaikan pekerjaannya di rumah.
Dan hari ini terpaksa Nathan pulang dengan mengemudi sendiri, karena Dio sedang berhalangan untuk bekerja hai ini.
.
.
.
Nathan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi. Sekitar 90km/jam. Jalanan cukup legang dan hal itu tentu saja sedikit menguntungkan dirinya.
"Ada apa ini?"
Nathan sedikit terkejut ketika menyadari rem mobilnya ternyata tidak berfungsi. Berkali-kali dia mencoba menginjak pedal rem, namun tetap tidak bisa berfungsi.
TINNNNN...
__ADS_1
Kedua mata Nathan membelalak ketika menyadari ada sebuah truk dengan kecepatan tinggi dari arah depan. Tanpa banyak berpikir, Nathan pun banting setir ke kanan guna menghindari kecelakaan yang fatal.
Mobil milik Nathan menabrak membatas jalan dan terguling sebanyak tiga kali hingga mobil itu mengalami kerusakan yang sangat parah.
Nathan yang masih sadar, meskipun tubuhnya penuh luka mencoba untuk keluar dari dalam mobilnya saat mencium bau bensin yang menetes dan percikan api dari bagian belakang mobilnya.
Dan tepat setelah Nathan berhasil keluar. Mobil itu meledak dan terbakar. Nathan jatuh tak sadarkan diri tak jauh dari lokasi mobilnya berada.
Beberapa mobil langsung berhenti dan beberapa orang mengerubungi Nathan. Salah seorang dari mereka bahkan langsung membelalakkan matanya.
"Nathan." Serunya dan segera menghampiri pria itu.
Beberapa kali dia menepuk pipi Nathan dan mengguncang lengannya, meminta Nathan untuk membuka matanya. "Nathan, kau bisa mendengarkan ku? Hei, buka matamu." Orang itu terus mencoba mengembalikan kesadaran Nathan.
Mata Nathan perlahan terbuka. Dengan tatapan lemah dia menatap orang dihadapannya itu. "Cris~" ucapnya sebelum akhirnya kesadarannya kembali hilang.
"Nathan!!!"
-
Brakkk...
Ponsel dalam genggaman Aster langsung terlepas begitu saja setelah dia mendapatkan kabar dari seseorang yang tidak dia kenal jika Nathan baru saja mengalami kecelakaan dan saat ini sedang berada di rumah sakit.
Tanpa membuang banyak waktu. Aster pun bergegas pergi ke sana untuk memastikan keadaan suaminya.
Rasa takut seketika menggerogoti perasaan dan pikiran Aster, dia takut jika hal buruk sampai menimpa ayah angkat yang merangkap sebagai suaminya itu. Dalam hatinya Aster terus berdoa semoga tidak ada hal buruk yang terjadi pada Nathan.
.
.
.
Setelah 25 menit berkendara. Akhirnya Aster tiba di rumah sakit tempat Nathan di rawat. Dia berlari menyusuri lorong rumah sakit yang sepi dan sunyi. Auranya yang sedikit suram membuat Aster sedikit merinding. Namun dia abaikan semua itu.
Dari jarak 10 meter. Aster melihat seorang pria sedang duduk di depan ruang operasi. Pakaiannya berlumur darah dan dia terlihat begitu gelisah.
"Paman, apakah kau adalah orang yang tadi menghubungiku?"
Cris pun mengangkat wajahnya dan mendapati sosok cantik berdiri di depannya. Cris pun mengangguk. "Benar, aku yang tadi menghubungimu. Kau Aster kan?" Aster mengangguk membenarkan.
"Bagaimana keadaan Paman Nathan? Apakah dia akan baik-baik saja?"
Cris menggeleng. "Paman juga tidak tau. Keadaannya sangat kritis, dan dia kehilangan banyak darah. Kita berdoa saja yang terbaik untuknya. Dan di dalam sana dokter sedang berusaha untuk menyelamatkan hidupnya."
Aster menjatuhkan tubuhnya pada lantai. Rasa takut yang semakin besar kian menggerogoti perasaan dan hatinya.
Berbagai spekulasi muncul dibenaknya. Bagaimana jika Nathan tidak mampu bertahan? Bagaimana jika Nathan sampai menyerah dan meninggalkannya.
Aster menggeleng. Dia tidak ingin hal mengerikan itu sampai terjadi dalam hidupnya.
Dia tidak akan siap untuk kehilangan Nathan. Aster tidak akan pernah siap untuk kehilangannya. Nathan adalah hidupnya, dan dia bisa gila jika Nathan tidak ada lagi di sisinya.
Cris menghampiri Aster kemudian menuntunnya untuk duduk. "Berdoalah, semoga hal buruk tidak menimpa dirinya." Aster menatap Cris dengan wajah sembab dan pandangan mengabur karena terhalang oleh air mata.
Aster tak memberikan jawaban apa-apa. Wanita itu memilih diam. "Paman, aku mohon, bertahanlah untukku...."
-
__ADS_1
Bersambung.