
Aster meremas sprei yang ada dibawah tubuhnya ketika Nathan menghujamkan sosisnya semakin dalam hingga menyentuh bibir rah*mnya.
Er*Ngan panjang yang berkali-kali lolos dari dari bibir Aster, membuat hasrat Nathan semakin besar. Pria itu semakin dalam menghujamkan sosisnya dengan gerakkan lebih cepat dari sebelumnya
Peluh tampak membanjiri tubuh keduanya. Baik Aster maupun Nathan sama-sama tidak ada yang mau berhenti, meskipun lelah telah menggerogoti tubuh masing-masing.
Sprei yang sudah tidak berbentuk lagi. Pendingin ruangan yang tidak berfungsi dengan baik, ponsel milik Nathan yang tidak henti-hentinya berbunyi bahkan tidak mereka hiraukan.
Aster mengalungkan kedua tangannya pada leher Nathan dan mencium bibirnya dengan keras. Mel*mat, menghisap, memagut sampai menyesap lidah Nathan ke dalam mulutnya.
Wanita itu menyeringai, melihat kabut ***** dimata Nathan. Dan Aster akui jika Nathan memang sangat liar ketika berada diatas tempat tidur. Dan Aster menyukai itu.
"Kau sangat menikmatinya, eh?" Goda Nathan melihat Aster yang tampak menikmati permainan mereka.
"Aahhh, Paman. Lakukan lebih dalam lagi, Aaahh... ini sangat nikmat." Rancau Aster dibawah Hujaman Nathan.
"Uhhh ... Milikku hampir keluar, aku... aahhhh, ahhhh," Nathan menjatuhkan kepalanya dilengkungan leher Aster setelah melakukan pelepasan.
Pria itu mengecup bibir tipis Aster kemudian bangkit dari atas tubuhnya. "Kau pasti lelah, tidurlah." Dan kemudian Nathan beranjak begitu saja.
.
.
.
Nathan mengambil pematik-nya yang terjatuh kelantai. Sementara satu gulungan tembakau sudah terselip manis di sudut bibirnya.
Setelah mendapatkan pematik-nya, Nathan menyalahkan pematik itu dan menyulut ujung rokoknya. Beberapa detik kemudian asap beracun menyembul keluar dari mulutnya.
Aroma tajam pahit dari tembakau yang terbakar memenuhi udara di sekitarnya. Nathan meletakkan sebelah tangannya pada pagar besi dengan pandangan lurus ke langit.
Di atas sana, bulan berpendar dengan gagahnya, sementara bintang bertaburan menghiasi langit malam. Cuaca malam ini memang lebih bersahabat dari malam-malam sebelumnya.
"Apa kalian berdua melihatnya dari atas sana? Dia sudah tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik dan juga pemberani. Aku juga sudah menepati janjiku untuk selalu menjaga dan melindunginya."
Angin tiba-tiba berhembus lebih kencang dari sebelumnya. Dan Nathan anggap angin itu sebagai jawaban dari apa yang dia ucapkan. Orang tua Aster memberikan restunya.
__ADS_1
"Paman,"
Nathan menoleh setelah mendengar suara Aster yang memanggilnya. Nathan membuang rokoknya yang tinggal setengah,kemudian melenggang masuk dan menghampiri wanitanya yang sepertinya terbangun itu.
"Kenapa kau bangun, hm?"
"Tiba-tiba saja aku haus, dan ketika bangun Paman tidak ada di sampingku. Aku pikir Paman sedang pergi ke luar."
"Paman, hanya mencari angin segar. Tunggulah di sini, Paman akan mengambilkan air putih untukmu." Aster mengangguk.
Dua menit kemudian Nathan kembali dengan segelas air putih yang kemudian dia berikan pada Aster. "Setelah ini tidurlah lagi. Paman juga mau tidur." Ucapnya yang kemudian dibalas anggukan oleh Aster.
Nathan merasa lelah, apalagi setelah pergulatan panjangnya dengan Aster. Seluruh tenaganya benar-benar terkuras habis.
-
Seoul masih ditutupi salju sedari malam hingga sekarang. Namun, hal itu tak merubah apapun. Orang-orang masih berlalu lalang dari satu tempat ke tempat lain. Dari sudut satu ke lainnya untuk mengerjakan apa yang harus mereka kerjakan.
Hari ini adalah hari pertama di musim dingin. Musim dingin tahun ini memang datang lebih awal dari tahun sebelumnya.
Suasana kota Seoul dipagi hari ini dimana tak terlalu ramai seperti biasanya, meskipun aktifitas warga telah di mulai sejak satu jam yang lalu. Karena banyak orang yang lebih memilih bergelut dengan mimpi mereka di bawah selimut yang hangat.
Bagi mereka yang sudah lama tinggal dan bekerja dikediaman keluarga Xiao. Pemandangan semacam itu adalah hal yang lumrah.
Karena hampir setiap hari mereka berdua selalu membuat keributan, entah itu pagi, siang atau malam. Karena tiada hari mereka tanpa membuat keributan.
"RIO!! KAU NGOMPOL LAGI?!"
Suara teriakan Gavin menggema dan memenuhi setiap inci, di seluruh penjuru ruangan. Bagaimana Gavin tidak berteriak, ia baru saja bangun dan mendapati seluruh pakaiannya basah, parahnya lagi itu adalah air ke*cing Rio.
Rio selaku tersangka utama terlihat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia tidak menampik tuduhan Gavin karena kenyataannya ia memang terkencing di celana, alias ngompol.
"Aku mimpi pipis di depan pohon. Dan ketika bangun, yang aku pipisi bukan pohon tapi dirimu. Maaf,"
"Maaf, maaf. Kau sudah mengotori piyama baruku dan membuat kasur kita bau ompol. Aku tidak mau tau, pokoknya kasur ini harus harum lagi!!"
Gavin beranjak dan pergi begitu saja. Pemuda itu berjalan menuju kamar mandi, dia harus mandi sesegera mungkin. Sekujur tubuhnya bau pesing.
__ADS_1
-
Sleeping Beauty, mungkin julukan itu memang pantas diberikan kepada Aster karena kebiasaan tidurnya yang bisa sampai memakan waktu berjam-jam lamanya dalam satu hari.
Orang satu rumah pernah dibuat panik karena Aster yang tidak juga bangun meskipun sudah dibangunkan dengan cara apapun. Mereka mengira Aster pingsan dan mengalami koma, tapi nyatanya tidak, dia hanya tertidur saja.
Nathan yang baru saja selesai dari olah raga pagi terlihat mendengus dan menghela napas berat. Ia sudah menduga jika Aster masih tidur pulas meskipun matahari sudah merangkak tinggi.
Nathan meletakkan handuknya kemudian menghampiri istri kecilnya itu. "Hei, tukang tidur, bangun, ini sudah siang." Pinta Nathan.
Nathan menepuk pipi Aster dan memintanya untuk segera bangun. Tapi gak ada tanggapan."Aster, cepat bangun, ini sudah siang." Sekali lagi Nathan menepuk pipinya. Lagi-lagi Aster tidak bereaksi dan malah berubah posisinya dan memunggungi Nathan.
Tak kehabisan akal. Nathan membalik tubuh Aster dan langsung mel*mat bibirnya dengan keras. Dan apa yang Nathan lakukan sontak membuat Aster membuka matanya, dia terlalu terkejut.
Nathan menyeringai puas. Pria itu bangkit dari atas tubuh wanita itu sambil mengusap bibirnya. Sedangkan Aster merenggut kesal karena ulah Nathan.
Bagaimana bisa suami tampannya itu dengan seenak jidat membangunkan dirinya yang masih asik bergulat dengan mimpi?
"PAMAN!! KAU MENYEBALKAN!!"
"Sudah sana mandi. Semua orang sudah menunggu untuk sarapan."
Aster bangkit dan merubah posisinya menjadi duduk. Wanita itu mengangkat kedua tangannya dan menatap Nathan dengan pandangan memohon. "Gendong," Nathan mendengus geli.
Sebuah jitak-kan mendarat mulus pada kepala Aster. Alih-alih marah, Aster malah terkekeh geli. Wanita itu mengalungkan kedua tangannya pada leher Nathan, dan terus menatap si Paman tampan dan imut itu sambil senyum-senyum sendiri seperti orang gila.
"Berhenti menatapku seperti itu." Kemudian Nathan menurunkan Aster pada bathtub yang belum terisi air sama sekali.
Nathan membantu Aster melepaskan gaun tidurnya, tidak hanya melepaskan pakaian Aster, tapi Nathan juga memandikan wanita itu seperti anak kecil.
"Paman, kemarilah dan ayo kita mandi bersama."
Aster menggeser duduknya kemudian memberikan ruang pada suami tampannya untuk duduk. Nathan masih dengan pakaian lengkap. Celana training dan tanktop putih press body.
Aster mengangkat kepalanya dan sebuah ciuman langsung menyambutnya. Kedua tangan Nathan melingkari perut Aster dan memeluknya dengan erat. Ciuman mereka begitu dalam dan saling menuntut.
Wanita itu menyeringai ketika merasakan sesuatu yang mengeras di bawah sana. Dan tanpa dijelaskan pun, tentu semua orang sudah pasti tau apa yang terjadi selanjutnya diantara mereka berdua.
__ADS_1
-
Bersambung.