
"Ahhh ... Paman Theo, sakit!!"
Suara jeritan Aster menggema di dalam ruangan serba putih tersebut. Saat ini Aster tengah di tangani oleh Theo Kim, teman Nathan ketika kuliah dulu yang kini merangkap sebagai dokter pribadi di keluarga Xiao.
Theo menghentikan gerakan tangannya dan menatap Aster sedikit horor. "Bahkan, Paman belum menyentuh lukamu sama sekali." Ucapnya.
Aster menengok pada luka di perutnya yang masih terbuka. "Benarkah? Hahaha, aku terlalu panik. Paman, tau sendiri bukan jika aku paling takut dengan peralatan medis apalagi jarum suntik."
"Lalu kenapa kau sampai berbuat nekat seperti ini? Dasar gadis ini, rasanya aku ingin sekali menjitak kepalamu itu!!" Theo gemas sendiri dengan sikap dan tingkah Aster.
Aster mencerutkan bibirnya. "Paman, aku ini pasien, seharusnya kau memperlakukanku dengan lembut bukannya malah mengomeli-ku seperti ini." Tuturnya.
"Karena kau memang pantas diomeli!!" Jawab Theo menegaskan.
Aster sudah menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Theo perihal apa yang terjadi padanya. Theo sempat kaget ketika melihat Aster yang tiba-tiba langsung bangun dan berlari ke arah pintu setelah dia berada di ruang gawat darurat.
Bahkan gadis itu terlihat baik-baik saja dan seperti tidak sedang terluka parah. Akhirnya Theo pun meminta penjelasan dari Aster, dan Aster-pun menceritakan semuanya.
Dan ternyata darah itu bukanlah darah yang keluar dari lukanya, melainkan cairan pembersih yang Aster temukan di wastafel yang warna dan texturenya mirip dengan darah.
Tidak ada aroma dari cairan tersebut sehingga tidak mengundang kecurigaan sama sekali dari Nathan dan yang lainnya. Dan setelah di periksa, lukanya tak lebih dari panjang dari sebutir beras. Tidak salah jika Aster di juluki ratu drama oleh Amanda, Maya dan Ella. Dan itu adalah fakta.
"Paman, pokoknya kau harus mengatakan pada Paman Nathan jika keadaanku sangat parah dan lukanya juga dalam. Demi meyakinkan Paman Nathan jika lukaku serius, kau harus menjahitnya!!"
"Tapi lukamu hanya luka ringan saja dan tidak perlu di jahit, Aster Xiao!!"
"Jangan bawel, lakukan saja atau kau memang ingin videomu ketika menari di pinggir jalan sambil memakai kostum wanita, karena kalah taruhan dari Paman Nathan aku sebar?"
Mata Theo langsung membelalak. "Kau masih menyimpan Video itu?" Aster mengangguk.
"Mau melihatnya? Ahh, pasti Paman ingin Bibi-Bibi perawat yang cantik ini melihatnya ya? Oke, aku tunjukkan!!"
"Aster, jangan!! Oke, aku akan menuruti semua permintaan aneh-mu itu, tapi jangan buka aibku di depan orang lain!!"
"Deal!!"
Aster tersenyum penuh kemenangan. Tak lupa dia juga meminta dua perawat yang ada di ruangan itu untuk bekerja sama. Aster ingin melihat bagaimana panik dan cemasnya Nathan setelah mengetahui keadaannya. Tidak hanya cantik dan cerdik. Tapi Aster juga licik.
-
Cklekk...
Nathan langsung bangkit dari duduknya setelah melihat Theo keluar dari ruang gawat darurat. "Bagaimana keadaannya?" Tanya Nathan memastikan.
__ADS_1
Theo mengambil napas panjang dan menghelanya. "Dia sudah melewati masa kritisnya. Tapi keadaannya cukup memprihatinkan. Dia mendapatkan 10 jahitan lara lukanya, empat jahitan dalam dan enam jahitan luar."
"Lalu kapan aku bisa menemuinya?"
"Setelah dia dipindahkan keruang inap." Theo menepuk bahu Nathan. "Tenang, dia akan baik-baik saja. Putrimu adalah gadis yang kuat."
"Hn."
Theo meninggalkan Nathan begitu saja. Pria itu mendesah berat. Setidaknya sekarang Aster baik-baik saja, dan dia tidak perlu cemas lagi.
-
Aster sedang menikmati makanannya ketika pintu ruang inapnya di buka dari luar. Buru-buru Aster meletakkan makanannya di bawah bantal kemudian berbaring dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Tak lupa Aster menyeka bibirnya, takut jika ada makanan yang menempel di sana.
Derap langkah kaki seseorang yang semakin mendekat bersarang di telinga Aster.
Aster mengintip dengan membuka sedikit matanya, dan itu adalah Nathan. Buru-buru Aster menutup matanya.
Nathan duduk di kursi tinggi di samping ranjang tempat gadis itu berbaring. Nathan meraih tangan kanan Aster dan menggenggamnya. Mata kirinya menatap sendu pada gadis itu.
"Aster, kapan kau akan bangun, Sayang? Paman lebih suka ketika kau mengganggu, Paman dari pada harus seperti ini. Bangun, putriku, dan berhenti membuat Paman khawatir."
Aster membuka matanya dengan perlahan-lahan. Lirih dia memanggil Nathan."Paman, aku sudah bangun dan hanya sekedar menutup mata saja. Aku lelah, sangat lelah." Suaranya terdengar lemah, seolah-olah dia benar-benar sakit.
"Sebelum Paman masuk. Aku sangat lelah makanya aku menutup mata. Paman, maaf sudah membuatmu cemas."
Nathan menggeleng. "Bukan salahmu, tapi salah wanita itu. Aku sudah mengurusnya dan sekarang dia ada di kantor polisi." Dewi batin Aster menari-nari mendengar ucapan Nathan. Itu artinya satu masalah berhasil dia selesaikan dengan sempurna.
"Paman, boleh aku meminta sesuatu darimu?" Tanya Aster masih dengan suara lemahnya.
Nathan mengangguk. "Kau boleh meminta apapun dari, Paman."
"Kalau begitu bawa aku pulang dari tempat terkutuk ini. Aku tidak ingin di sini lagi. Tempat ini sangat mengerikan. Aku mohon." Rengeknya memohon.
Nathan mendengus geli. "Baiklah, Kita pulang malam ini. Lagipula kau juga terlihat sudah baik-baik saja. Paman, akan mengurus administrasinya terlebih dulu. Setelah ini Paman akan kembali dan membantumu bersiap-siap." Aster mengangguk.
Setelah memastikan Nathan benar-benar sudah keluar. Aster buru-buru mengeluarkan makanan yang dia simpan di bawah bantalnya lalu membuangnya keluar melalui jendela dengan asal.
Dan parahnya lagi, makanan itu malah mengenai orang yang sedang berjalan kaki di bawah sana. Tapi Aster tak mau memikirkannya.
Sepuluh menit kemudian Nathan kembali. Pria itu sedikit bingung melihat Aster sudah mengganti piyama rumah sakit dengan sebuah dress hitam.
"Perawat tadi datang dan aku memintanya untuk membantuku mengganti pakaian." Ujarnya.
__ADS_1
"Hn."
Kemudian Nathan beranjak dan mengambilkan sebuah kursi roda untuk Aster. Lalu Aster mengalungkan sebelah tangannya pada leher Nathan ketika pria itu membantunya untuk duduk di kursi roda.
Akting Aster benar-benar sempurna, sampai-sampai Nathan tidak sadar jika saat ini dia sedang dikibulin oleh putri angkatnya sendiri.
.
.
.
Mereka tiba di rumah pada pukul 20.00 malam. Nenek Xiao, Gavin dan Rio sudah menunggu kedatangan mereka berdua. Sedangkan Maya dan Ella tak menunjukkan batang hidungnya.
"Nunna, kami lega akhirnya kau pulang juga."
"Apa kau tau bagaimana cemas dan takutnya kami ketika mendapatkan kabar dari Paman Nathan jika kau masuk rumah sakit karena seseorang berusaha untuk mencelakaimu." Ujar Gavin dan kemudian memeluk Aster.
"Nunna, jangan sakit-sakit lagi. Kalau kau sampai sakit, lalu siapa yang akan menemani kami mencuri mangga tetangga."
Aster meringis ngilu. Bagaimana bisa Rio membahas tentang mencuri mangga tetangga di saat seperti ini.
Tapi menggelikan juga saat Aster ingat ketika dirinya, Gavin dan Rio di kejar-kejar tetangga karena telah mencuri mangga-nya. Dan kejadian itu sudah lewat satu bulan yang lalu.
"Biarkan Nunna kalian istirahat." Ucap Nathan kemudian mengangkat Aster dan membawanya ke kamar yang ada di lantai dua.
.
.
.
Aster menarik lengan Nathan ketika pria itu hendak beranjak pergi. Akibatnya Nathan jatuh tepat di atas tubuhnya dengan kedua tangan menjadi tumpuan tubuhnya.
Mata kirinya bersirobok dengan sepasang hazel milik Aster. Gadis itu tersenyum lebar. Aster menarik Long Vest yang Nathan pakai, dan selanjutnya bibir mereka bertemu dan saling memagut.
Nathan mengangkat sebelah tangannya dan mengarahkan pada wajah Aster. Pria itu mulai mendominasi ciuman yang Aster mulai. Tak ada keraguan lagi, Nathan semakin berani.
"Aku akan tidur, jadi bisakah Paman tetap di sini menemaniku?" Aster menatap Nathan penuh harap.
Pria itu membalas tatapan Aster dan mengangguk. "Baiklah."
-
__ADS_1
Bersambung.