"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Dasar Setan Bobrok


__ADS_3

"Tampan, kita bertemu lagi..."


"Huaaa.... SETAN!!"


Gavin terjengkang dari kursinya karena kemunculan Suketi yang begitu tiba-tiba. Hantu narsis itu tiba-tiba saja nongol di depan Gavin yang sedang memainkan gitar kesayangannya.


Akibatnya tubuh Gavin mendarat di lantai dengan sangat tidak elitnya. Kepala dan punggungnya membentur lantai dengan cukup keras.


"Yakk!! Hantu gila, tidak bisa apa kau tidak usah muncul tiba-tiba dan mengejutkan orang lain. Bagus jantungku baik-baik saja, bagaimana kalau jantungku sampai copot hah!!!"


"Hihihi!!!"


"Malah ketawa lagi, dasar setan bobrok."


Gavin terus saja menggerutu tidak jelas. Bagaimana ada hantu modelan seperti Suketi di dunia ini. Bukannya menyeramkan, dia malah begitu menggelikan. Dan hantu seperti Suketi tentu saja bisa mencoreng nama baik dunia perhantuan.


Suketi terus saja mengikuti kemana pun Gavin pergi, muncul sana, muncul sini membuat Gavin harus terus-terusan berteriak karena ulahnya.


"Hyung, aku tadi kau berteriak. Memangnya ada a~ Huaaa... Ada Kuntil!!"


Rio yang terkejut refleks melemparkan minuman dingin di tangannya ke muka Suketi. Membuat hantu asal Indo itu langsung gelagapan dan basah kuyup.


"Yahhh!! Basah deh." Suketi mengeluh setengah frustasi.


Miss K tiba-tiba melepaskan pakaiannya membuat mata kedua pemuda itu membelalak saking kagetnya. "Yaaa~ Setan tidak waras, apa yang kau lakukan? Kenapa kau malah membuka pakaianmu di depan kami?!" Omel Gavin sambil membuang muka kearah lain.


"Wow, body-mu lumayan juga ya. Bahenol, seperti gitar Spanyol!!" Seru Rio yang langsung mendapatkan jitakan keras dari Gavin.


"Dasar otak m*sum, siapa yang sudah mengkontaminasi kepolosan-mu itu, huh?!!"


Rio mengusap kepalanya yang baru saja dijitak oleh Gavin dan tersenyum tiga jari. Menunjukkan barisan gigi putihnya yang rapi.


Di saat kedua pemuda itu adik berdebat. Si Miss K malah asik berdiri di depan kipas angin. Setelah mengeringkan baju putihnya yang basah. Suketi ganti mengeringkan rambutnya. Rambutnya yang awalnya gimbal sekarang lurus setelah dicuci dan disisir dengan rapi.


"Suketi sudah cantik, cocok jadi anggota girlband Korea SNSD yang ke 10. Hihihi."


Gavin dan Rio saling bertukar pandang. Dengan kompak mereka berkata. "Dasar hantu gila!!"


-


Aroma lezat makanan langsung menyerbu hidung Aster, ketika wanita itu membuka matanya.


Sosok Nathan sudah tidak ada lagi disampingnya. Tempatnya sudah kosong dan terasa sedikit dingin, yang artinya sudah cukup lama ditinggalkan oleh pemiliknya.


Setelah mandi dan mengganti pakaiannya. Aster segera turun untuk menemui Nathan. Dari radius lima meter, Aster melihat pria itu tengah berdiri di depan kompor sambil memegang sebuah spatula.


Aster berjalan dengan langkah tanpa suara, dan tanpa berkata apa-apa, Aster melingkarkan kedua tangannya pada perut Nathan dan bersandar pada punggungnya.

__ADS_1


"Kau sudah bangun?" Ucap Nathan seraya melirik Aster dari ekor matanya.


"Hum, aku baru saja bangun. Apa yang sedang Paman masak? Heem, aromanya sangat lezat."


Kemudian Aster melepaskan pelukannya dan berpindah kesamping Nathan. Dan saat itu juga ia melihat sebuah perban menutup mata kanan Nathan yang kemudian dilapisi sebuah kaca mata bening.


"Hah!! Paman, apa lagi yang terjadi pada mata kananmu?"


"Tidak apa-apa, hanya sedikit ngilu saja setelah semalam berhadapan lama dengan layar mobitor."


Aster mendesah berat. "Itu karena Paman tidak bisa memperhatikan kondisi kesehatan Paman sendiri. Tapi sungguh tidak apa-apa kan?" Nathan menggeleng.


"Jangan cerewet lagi. Bantu menata makanan yang sudah matang ini diatas meja."


"Baiklah." Setelah meyimpan dua menu itu di atas meja. Aster kembali pada Nathan sambil membawa buah-buahan segar. "Aku akan mengupas apel dan peer-nya." Ucap Aster yang kemudian dibalas anggukan oleh Nathan.


"Aaahhh..."


Trang..


Aster menjatuhkan belati ditangannya begitu saja, setelah bagian tajam pisau itu melukai jarinya dengan cukup dalam. Nathan segera mematikan kompornya, lalu membersihkan darah yang terus keluar itu di air yang mengalir.


"Dasar ceroboh. Mengupas buah saja bisa sampai melukai jarimu seperti ini." Nathan mengomeli Aster karena sifat cerobohnya yang tidak sembuh-sembuh itu. Selalu saja dia menempatkan dirinya dalam bahaya


Aster mempoutkan bibirnya. "Sudah tau aku tertimpa musibah, kenapa malah diomeli. Paman sungguh jahat!!" Nathan hanya bisa mendesah berat.


Setelah memastikan darah di jari Aster benar-benar bersih. Kemudian Nathan menutupnya dengan plaster luka. "Dan sekarang Nathan tidak mengijinkan Aster untuk memegang pisau lagi.


Jika biasanya setiap hari mereka dilayani, maka kali ini tidak. Tidak ada pelayan di Villa yang mereka tempati, Nathan sengaja meminta penjaga Villa-nya untuk tidak datang, karena Nathan hanya ingin bersama Aster, tanpa ada gangguan dari orang luar.


.


.


.


Usai sarapan. Aster memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar Villa. Selain tempatnya yang sangat sejuk dan alami, Villa milik Nathan juga jauh dari keramaian kota. Bukan lagi rahasia bila Aster sangat menyukai ketenangan.


Aster duduk di sebuah bukit yang di tumbuhi dengan bunga yang sama dengan namanya 'Aster' atau yang lebih di kenal dengan bunga Daisy.


Aster menutup matanya, dan sekelebat masa lalu tiba-tiba muncul dan memenuhi benaknya.


Di siang hari yang cerah, seorang gadis kecil tengah bermain boneka di teras rumahnya, gadis kecik berambut coklat bergelombang itu terlihat begitu menikmati permainannya, meski ia sendirian…


Namanya Aster, dan usianya baru menginjak 10 tahun. Tidak seperti kebanyakan anak pada umumnya. Aster lebih suka menyendiri dan bermain di rumah daripada harus bermain dengan anak-anak sebayanya di taman.


Aster termasuk anak yang pendiam namun juga ceria di waktu yang berbeda. Aster adalah anak tunggal dalam keluarganya, dia tidak memiliki kakak ataupun adik.

__ADS_1


Belum memiliki lebih tepatnya, karena saat ini Ibunya sedang hamil 3 bulan, dan menurut ayahnya. Adiknya akan lahir di hari ulang tahunnya yang hanya tinggal beberapa bulan lagi. Dan Aster sudah tidak sabar menantikannya.


"Aster," gadis kecil itu mengangkat wajahnya dan tersenyum lebar melihat kedatangan sang ibu.


"Eo, Ibu sudah pulang."


"Lihatlah, Ibu membelikan boneka baru untukmu. Lengkap dengan baju, sepatu, dan aksesorisnya. Kau bisa menggantinya kapanpun kau mau, Sayang."


Aster menerima boneka itu dan kemudian berhambur memeluk ibunya. Dia sangat bahagia dengan hadiah kecil yang di berikan oleh sang ibu padanya.


"Kau menyukainya?" Aster mengangguk.


"Sangat, aku sangat menyukainya. Ibu, kau memang yang terbaik."


Wanita itu tersenyum lebar. Diusapnya rambut panjang Aster yang terurai bebas. "Ya sudah, Ibu menyiapkan makan malam dulu ya." Aster mengangguk. Gadis kecil itu pun kembali melanjutkan bermainnya.


Flashback End:


Aster tidak bisa membendung air matanya, saat ia kembali teringat masa lalunya, masa-masa dimana dia masih merasakan hangatnya kasih sayang seorang Ibu, kasih sayang yang tak mungkin orang lain bisa berikan padanya, bahkan itu Nathan sekalipun.


Kepergian orang tuanya yang begitu tiba-tiba memang menjadi pukulan terberat dalam hidup Aster.


Gadis kecil yang masih membutuhkan kasih sayang dan kehangatan sebuah keluarga, tiba-tiba harus hidup sebatang kara karena sebuah insiden berdarah yang merenggut hidup kedua orang tuanya.


"Aster,"


Buru-buru Aster menghapus air matanya ketika mendengar suara Nathan masuk dan berkaur di dalam telinganya. Wanita itu tersenyum lebar. Aster melambaikan tangannya pada Nathan.


Tersimpan sebuah duka dibalik senyum lebar yang selalu menghiasi bibir tipisnya. Meskipun luka dihatinya belum juga mengering hingga detik ini, namun sebisa mungkin Aster menyembunyikan dari semua orang terutama Nathan.


"Kenapa Paman lama sekali, apa Paman tau berapa lama aku menunggu Paman di sini?" Keluh Aster sambil menekuk wajahnya.


"Maaf, ada beberapa hal yang harus Paman selesaikan lebih dulu." Mata kiri Nathan memicing melihat bulu mata Aster yang tampak basah.


Aster menyentak lembut lengan Nathan ketika hendak menyentuh bulu matanya yang basah. Sepertinya Nathan menyadari jika dia baru saja menangis.


"Paman, aku ingin jalan-jalan di sekitar sini. Ayo, temani aku." Aster mencoba menghindari tatapan Nathan. Dia tidak ingin dihujani berbagai pertanyaan oleh suaminya itu.


Namun langkah kakinya harus terhenti ketika sebuah tangan menahan pergelangan tangannya. "Aku tau kau mencoba menyembunyikan sesuatu dariku. Sebenarnya kau anggap apa aku ini, Aster Xiao!!"


Aster menyeka air matanya yang sudah tidak terbendung lagi dan kemudian dia berhambur ke dalam pelukan Nathan. "Hiks, aku merindukan Ibu." Nathan pun langsung terdiam setelah mendengar kalimat yang keluar dari bibir Aster.


Nathan bingung harus menjawab bagaimana, dia bingung harus dengan cara apa menenangkan Aster yang saat ini sedang menangis tersedu-sedu di dalam pelukannya.


Nathan memang selalu kehilangan kata-katanya ketika kesedihan Aster sudah berhubungan dengan orang kedua tuanya. Dan satu-satunya cara adalah dengan membiarkan wanita itu menangis dalam pelukannya.


-

__ADS_1


Bersambung.



__ADS_2