"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Khawatir


__ADS_3

Rasa khawatir menyelimuti perasaan Nathan, sudah lebih dari 5 jam Aster pingsam namun belum ada tanda-tanda jika ia akan segera sadar.


Saat ini Aster tengah terbaring lemah dibangsal rumah sakit yang satu ruangan dengan Nathan. Nathan sendiri yang meminta pada pihak rumah sakit agar ia dan Aster ditempatkan disatu ruangan yang sama, dan pihak rumah sakit mengijinkannya.


Nathan tidak ingin terpisah ruang dengan Aster, karena dengan begini maka Nathan bisa memantau terus keadaan Aster.


Sedetik pun Nathan tidak beranjak dari posisinya, pria itu duduk sambil menggenggam tangan Aster yang terasa dingin. Mata kirinya tak luput dari wajah pucatnya, hati Nathab perih melihat keadaan Aster saat ini.


"Permisi Tuan, bisakah Anda minggir sebentar. Saya akan memeriksa keadaan Nona Xiao!"


Nathan bangkit dari posisinya lalu berdiri disamping wanita itu berbaring. "Bagaimana keadaannya? Kenapa sampai detik ini dia belum sadarkan diri juga?"


Suster itu menoleh dan menatap Nathan."Tidak perlu cemas, Tuan! Nona Xiao baik-baik saja. Beliau belum sadar karena pengaruh obat biusnya belum hilang."


"Mungkin 30 menit lagi dia akan bangun, dan untuk saat ini biarkan dia beristirahat agar kondisinya bisa cepat stabil!" setelah menyuntikkan cairan vitamin pada infus Aster, suster itu pun berbalik dan melenggang pergi.


Cklekk!!


Decitan pintu terbuka tak lama setelah kepergian suster itu, terlihat Cris memasuki ruangan.


"Nathan, bagaimana keadaannya? Apa dia masih belum sadar?" tanya Cris yang kini berdiri disamping Nathan, pria itu menggeleng lemah.


"Dia masih saja terlihat cantik, bahkan ketika sedang tertidur. Kau sangat beruntung memiliki istri dan putri angkat secantik ini, Sobat!" ujar Cris yang membuat sudut bibir Nathan tertarik ke atas.


"Kau benar Ge, dia adalah gadis tercantik dan terkuat yang pernah aku temui. Gadis bodoh yang mampu membuatku bertekuk lutut!" ujar Nathan tanpa mengalihkan sedikit pun pandangannya pada Aster.


Cris menepuk bahu Nathan dan sedikit mengusapnya. Banyak sekali hal yang berubah pada diri Nathan sejak kedatangan Aster dalam hidupnya. Dia yang dingin dan acuh pada orang-orang yang ada di sekitarnya. Kini menjadi sosok yang penyayang.


"Uhhhh, kepalaku!!"


Lengkungan pelan dan rintih kesakitan Aster menyita perhatian kedua pria tampan itu. Keduanya menoleh dan mendapati Aster telah membuka matanya.


"Aster!!!" seru Nathan dan Cris hampir bersamaan, kini pandangan Aster tertuju pada dua pria di depannya itu.


"Paman, sebenarnya apa yang terjadi padaku? Kenapa kepalaku rasanya ingin pecah!" papar wanita itu sambil memegangi kepalanya.


"Kau pingsan, Dokter bilang kau kelelahan dan mengalami dehidrasi parah. Tapi kami sangat lega melihatmu baik-baik saja!" Cris mengusap pucuk kepala Aster dan menatapnya penuh kecemasan.


Meskipun baru satu bulan ia mengenal Aster. Tapi mereka bisa langsung akrab. Apalagi mereka sering bersama di rumah sakit saat menemani Nathan yang sedang koma.


"Dasar bodoh, kenapa kau suka sekali membuat orang lain cemas eo?!" omel Nathan sambil menjitak pelan kepala Aster.


Wanita itu merenggut kesal. Jari-jarinya mengusap kepalanya yang baru saja dijitak oleh Nathan.


"Dasar Rusa jelek, jelas-jelas aku menjadi seperti ini karena dirimu. Kenapa kau tidak mati saja hari itu dari pada membuatku merasa takut dan cemas sepanjang waktu? Aku membencimu Paman, aku sungguh-sungguh membencimu, hiks!"

__ADS_1


Nathan mengangkat tangannya, jari-jari besarnya menghapus air mata Aster. Wanita itu bangun dari posisi berbaringnya dan menghambur memeluk Nathan.


Tangis Aster pun pecah, dibahu suaminya itu ia ingin menumpahkan semua rasa sakit, rasa sesak dan rasa takut yang selama satu bulan ini menghimpit hatinya hingga membuat dadanya terasa sesak hingga ia sulit untuk bernafas.


Nathan mengangkat kedua tangannya dan senang hati membalas pelukan Nathan. Tangannya mengusap rambut Aster dengan gerakan naik turun.


Sadar mereka berdua membutuhkan waktu berdua. Cris pun memutuskan untuk pergi dan meninggalkan ruang inap Nathan.


Nathan melonggarkan pelukannya, mata kirinya mengunci hazel milik Aster. Kemudian Nathan menarik tengkuk Aster dan menyatukan bibir mereka.


Aster mengalungkan kedua tangannya pada leher Nathan dan menerima ciuman itu dengan baik. Sedangkan kedua tangan Nathan memeluk tubuh Aster dengan erat.


Baik Nathan maupun Aster sama-sama ingin menumpahkan semua kerinduan yang mereka rasakan melalui ciuman itu. Dan rasa bahagia yang Aster rasakan sudah tak bisa terbendung lagi, karena pada akhirnya Nathan kembali kedalam pelukannya.


-


"Bagaimana hasil dari penyelidikan mu?"


Leon menyerahkan sebuah berkas pada Nathan lengkap dengan beberapa lembar foto dan hasil rekaman CCTV. Leon menyelidiki tentang insiden malam itu, satu bulan yang lalu.


"Itu adalah hasil rekaman CCTV yang berhasil saya dapatkan, Boss. Seseorang memang sengaja mensabotase rem pada mobilmu, hingga menyebabkan kau mengalami kecelakaan malam itu."


Nathan melihat foto-foto itu lalu melemparkan begitu saja ke atas meja. "Tentukan orang itu dengan segera dalam keadaan hidup-hidup. Untuk sementara jangan diapa-apakan dulu. Aku memiliki rencana untuk bajingan ini."


"Memangnya apa yang akan kau lakukan padanya, Boss?" Tanya Leon penasaran.


Nathan di selimuti aura suram. Sorot matanya terlihat tajam dan terlihat berbahaya. Membuat Leon merinding, bulu kuduknya berdiri. Di matanya Nathan begitu mengerikan.


"Boss, kau sangat mengerikan. Kenapa kau harus mengeluarkan aura menyuramkan seperti itu?! Membuat merinding saja."


"Jangan banyak bicara lagi, segera temukan orang itu. Jika kau berhasil, aku akan memberikan bonus tambahan untukmu!!"


Mendengar kata bonus membuat mata Leon berbinar seketika. Jika urusannya sudah dengan bonus. Maka apa yang tidak bisa dilakukan olehnya? Dan Leon akan sangat cepat dalam menyelesaikan tugasnya.


"Aku janji, Boss. Setelah keluar dari rumah sakit. Orang itu pasti sudah berada di kandang singa mu!! Oke, kalau begitu aku pergi dulu." Leon melambaikan tangannya dan pergi begitu saja.


Nathan mendengus geli. Terkadang Leon memang sangat mengelukan. Tapi jika sudah serius, maka dia akan menjadi sangat serius. Tapi begitulah Leon, seperti apapun dia, Leon tetaplah tangan kanan yang paling Nathan percaya.


.


.


.


"Paman. Kenapa belum tidur?" Aster yang tiba-tiba saja terbangun, tampak sedikit terkejut melihat Nathan yang masih terjaga, padahal ini sudah jam 01.00 dini hari

__ADS_1


Aster merubah posisinya, posisinya duduk berhadapan dengan Nathan. Salah satu tangan Aster menakup sisi kiri wajah suaminya, menyentuh bekas jahitan tepat dibawah matanya.


Nathan menarik turun tangan Aster dari wajahnya kemudian menggenggamnya.


"Aku masih belum mengantuk, aku baru saja mengalami tidur panjang. Mungkin karena hal itu sekarang aku jadi sulit tidur!" bisik Nathan pelan.


"Apa pun alasannya, Paman harus tetap beristirahat. Fikirkan kondisimu! Kau baru saja pulih!" Aster menakup wajah Nathan tanpa melepas kontak matanya.


Kemudian Nathan menarik bahu Aster dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Aster mengangkat kedua tangannya dan senang hati ia membalas pelukan Nathan.


Keduanya sama-sama terdiam, menikmati kehangatan yang sama-sama mereka salurkan. Aster semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh suaminya dan begitu pun sebaliknya.


Pelukan Nathan masih sehangat dulu, hatinya menghangat dan rasanya sangat nyaman. Aster ingin waktu berhenti detik ini juga, ia tidak ingin pelukan itu sampai terlepas.


Aster takut, jika ia melepaskan pelukan itu maka dirinya tidak akan bisa merasakan kehangatan lagi pelukan Nathan.


Aster melepaskan pelukannya, sejenak ia menatap mata Nathan sebelum menakup wajahnya dan menyatukan bibir mereka. Aster mel*mat bibir Nathan dengan perlahan, atas dan bawah secara bergantian.


Wanita itu juga mulai mengerakan kepalanya, kedua tangannya mengalung pada leher Nathan. Tak ingin kalah dari sang wanita, Nathan segera mengambil alih ciuman itu. Ia tidak suka di dominasi, dan kali ini ciuman dikuasai sepenuhnya oleh Nathan.


Aster menggerang ketika lidah Nathan mengajak lidahnya menari, seperti tarian sens*al nan panas diiringi music er*tis yang memikat. Salah satu tangannya menarik pinggang Aster dan membunuh jarak diantara mereka.


Tubuh atas Aster yang hanya berbalut blush brukat tipis menyatu sempurna dengan dada bidang Nathan yang tertutup piama rumah sakitnya.


Aster mencengkram baju belakang Nathan ketika pemuda itu semakin memperdalam ciumannya. Ciuman kali ini jauh lebih mengairahkan, tubuh Aster panas dingin menerima setiap sentuhan bibir Nathan.


Tubuh Aster memberikan respon yang luar biasa, bibir mereka tidak lagi saling memagut. Nathan menurunkan bibirnya pada leher jenjang wanitanya, lidah panjangnya menari er*tis di atas kulit seputih porselen itu hingga membuat sang empunya mengeram merasakan kenikmatan yang Nathan berikan.


Setelah puas, bibir Nathan bergerak kearah telinga kiri gadis itu dan meng*lumnya. "Eeunh!!" Aster menggeram untuk yang kesekian kalinya, Nathan menyeringai ditengah aksi gilanya.


Setelah puas, Nathan menurunkan bibirnya pada pay*dara Aster. Lidahnya bermain-main disalah satu pu*ting-nya, dan p*nting yang lain dimainkan oleh salah satu tangannya hingga membuat benda itu mengeras.


******* panjang tak bisa lagi Aster tahan ketika punt*ngnya dikulum oleh bibir Nathan."Aaahhhh!!" Wanita itu menjerit tertahan ketika Nathan menggigit ujung punt*ngnya. Sakit namum terasa nikmat.


Beberapa tanda kepemilikan Nathan tinggalkan disekitar pay*dara Aster. Pay*arah itu tidak besar namun begitu pas digenggaman Nathan.


Setelah puas, Nathan kembali pada bibir Aster dan mel*matnya singkat. Bahkan jauh lebih singkat dari ciuman terakhir mereka.


Nathan menarik dirinya, mata kirinya mengunci manik hazmzel milik Aster. Nathan tersenyum tipis, jari-jari besarnya menghapus sisa air liur dibibir istrinya.


"Sudah hampir pagi, sebaiknya kau segera tidur. Aku juga manu tidur!" Nathan mengecup kening Aster cukup lama, tangan kanannya menyentuh wajah wanitanya lalu membantunya untuk berbaring.


Nathan menarik selimut yang ada dibawah kaki Aster dan menyelimuti sang wanita sampai sebatas dada. Sekali lagi, kecupan sayang Nathan daratkan pada kening Aster. Mereka tidur di satu ranjang yang sama.


Nathan dan Aster tidur dalam posisi saling berhadapan, mata mereka sama-sama terpejam dan dalam hitungan detik. Mereka sama-sama sudah masuk ke dalam mimpi.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2