"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Menjanda Tiga Bulan


__ADS_3

Aster menemukan kembali cahaya dalam hidupnya yang sempat hilang, setelan Nathan kembali ke sisinya. Kesedihan tidak lagi terlihat dari sorot matanya, hanya kebahagiaan.


Wanita itu tengah memagut dirinya di depan cermin. Tubuh rampingnya dalam balutan dress hitam bermotif bunga yang trasparan pada kedua lengannya. Sedangkan rambut panjangnya di biarkan tergerai dan jatuh di atas punggungnya.


Polesan make up tipis serta satu set anting panjang kian menyempurnakan penampilannya. Aster benar-benar terlihat cantik dan anggun.


"Paman!!" Aster berseru saat melihat kedatangan Nathan dari pantulan cermin didepannya. Wanita itu kemudian berbalik dan menghampiri pria yang masih sangat dia rindukan itu. "Paman dari mana saja? Aku mencarimu,"


"Paman hanya keluar sebentar. Ayo kita sarapan, pelayan sudah menyiapkan banyak makanan kesukaanmu."


"Benarkah? Kebetulan sekali aku memang sedang lapar." Wanita itu tersenyum lebar.


Sejak kemarin, Aster dan Cris tidak lagi tinggal di hotel, Nathan memboyong mereka berdua untuk tinggal bersamanya di Villa miliknya. Villa itu Nathan beli sekitar 5 tahun yang lalu. Ketika pertama kali dia menginjakkan kakinya di London.


Dan selama ini Villa itu ditempati oleh Zhoumi. Nathan tidak bisa mempercayai orang lain. Hanya Zhoumi yang bisa Nathan percayai. Karena dia mengenal kakak sepupunya itu dengan sangat baik.


Langkah Nathan terhenti karena tarikan Aster pada lengannya. Saat Nathan menoleh, Aster menarik lehernya dengan mengalungkan kedua tangannya pada leher pria itu lalu mencium bibirnya.


"Morning Kiss,"


Nathan menyentil gemas kening Aster. Kemudian menarik tengkuknya dan balik menciumnya. Ciuman Nathan lebih panjang dan lebih menuntut dari ciuman Aster. Membuat wanita itu sedikit gelagapan menerima ciuman suaminya.


Tapi bukan Aster namanya jika tidak bisa mengimbangi ciuman Nathan. Kedua kaki Aster tidak lagi menapak di lantai, melainkan melingkari pinggang Nathan.


Semakin lama ciuman mereka semakin dalam dan menuntut. Aster pun semakin kwalahan menerima ciuman Nathan. Tidak hanya memagut dan menghisap saja, lidah Nathan mulai mengobrak-abrik isi dalam mulut Aster.


Menjelajahi setiap inci pada rongga mulutnya. Mengabsen satu persatu deretan gigi putihnya dan sesekali mengajak lidah Aster menari bersama.


Mereka tidak lagi berdiri. Nathan membaringkan tubuh Aster dengan dia yang menindih tubuhnya. Bibir Nathan mengecap setiap inci leher dan dada Aster, meninggalkan jejak merah tanda kepemilikan di sana.


Tapi sayangnya permainan mereka tidak bisa berlanjut ke tahap yang lebih dalam lagi. Karena tamu sialan yang datang sejak semalam.


"Bagaimana? Kau sudah puas?" Tanya Nathan sesaat setelah mengakhiri ciumannya. Aster mengangguk.


"Lebih dari puas. Akhirnya setelah menjanda selama 3 bulan, bibirku di manjakan lagi." Nathan mendengus geli. Dengan gemas dia menjitak kepala coklat Aster.


"Dasar kau ini, ayo keluar. Makanannya keburu dingin." Aster tersenyum kemudian mengangguk. Keduanya pun berjalan beriringan meninggalkan kamar.


.

__ADS_1


.


.


Setibanya di meja makan. Aster di buat bingung dengan keadaan di sana yang sepi. Meja makan masih kosong, tiga sosok yang juga tinggal bersama mereka tidak ada. Dan itu membuat Aster bertanya-tanya.


"Di mana Paman Cris dan yang lain?"


"Cris sudah kembali ke Korea, sedangkan Leon dan Dio tidak pulang sejak semalam. Dan mungkin saja baru kembali siang nanti."


"Lalu kakak sepupu Paman?"


"Jangan pedulikan dia. Maniak seperti dia memangnya ada di mana lagi jika bukan di lapnya. Dia sedang mengembangkan obat ciptaannya. Dan jika sudah di sana, dia tidak akan merasakan lapar dan haus."


"Ah, begitu." Aster mengangguk paham.


Dan sarapan pun hanya mereka lewati berdua saja. Karena semua orang sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing, kecuali Cris yang sudah kembali ke Korea.


-


Perjalanan Nathan dihentikan oleh sebuah Van hitam yang kini tengah menghadang laju kendaraannya. Tiga pria bersenjata keluar dari Van itu dan kemudian menghampiri mobil Nathan. Nathan terlihat tenang, namun tidak dengan Aster, wanita itu terlihat panik.


"Paman, bagaimana ini?! Sepertinya mereka memiliki niat buruk pada kita." Ucap Aster setengah panik.


Jika memang terjadi perkelahian, bisa saja Aster membantu Nathan, tapi itu tidak mungkin, dia memiliki masalah pada perutnya. Yang membuatnya tidak bisa bergerak dengan bebas untuk saat ini.


"Tenagkah dan tidak perlu panik. Lagipula mereka hanya sekumpulan cacing tanah yang langsung mati ketika diinjak oleh kaki."


"Jangan meremehkan lawan, Paman!! Apa kau tidak ingat jika kau hampir saja mati karena ulah musuh-musuhmu!!" Aster mulai tersulut emosi oleh ucapan Nathan.


Nathan mendengus berat. Sepertinya Aster masih sangat trauma dengan apa yang telah menimpanya tiga bulan yang lalu.


Nathan tersentak melihat kedua mata Aster yang tampak berkaca-kaca.


"Aster, jangan menangis. Kali ini Paman tidak akan membiarkan tubuh Paman terluka lagi. Paman berjanji."


"Aku hanya takut, Paman. Aku takut jika hal buruk sampai menimpamu lagi. Aku tidak ingin kehilangan dan terpisah jauh lagi darimu."


Nathan menggeleng. "Itu tidak akan, Sayang."

__ADS_1


Tidak ingin membuat Aster semakin cemas dan ketakutan, akhirnya Nathan pun memutuskan untuk tidak keluar dan menghadapi mereka. Masih ada cara lain untuk mengatasi cacing-cacing tanah itu.


"Ambil alih kemudi."


"Lalu Paman mau apa? Jangan bilang jika Paman akan~"


"Tidak, Paman memiliki sebuah rencana." Nathan mengeluarkan sebuah granat aktif dari sebuah kotak persegi yang ada di jok belakang mobilnya. "Jalankan mobilnya."


Mobil Nathan kembali melaju dengan kencang. Membuat ketiga pria itu terpental akibat terserempet mobil Nathan yang dikemudikan Aster. Dan saat itulah Nathan membuka kaca pada mobilnya lalu melemparkan granat tersebut ke arah lawan.


Granat itu meledak dan membuat lima orang menjadi korban. 3 orang di luar mobil, sedangkan dua lainnya di dalam mobil. Beruntung itu adalah jalanan sepi dan jarang di lalui, jadi tidak ada korban lain.


"Paman, apakah itu Bom? Dari mana Paman mendapatkannya?" Kaget Aster sambil menatap Nathan penuh selidik.


"Merakitnya sendiri. Granat itu sengaja Paman siapkan untuk menghadapi situasi terdesak. Sebenarnya kali ini tidak perlu melibatkan granat. Tapi melihatmu ketakutan membuat Paman tidak memiliki pilihan lain."


"Bagaimana aku tidak takut. Aku masih sangat trauma dengan apa yang menimpa Paman."


"Paman mengerti. Hentikan mobilnya, biar Paman yang mengemudikannya." Aster mengangguk. Mobil itu kembali melaju, dan kali ini giliran Nathan yang mengemudikannya.


-


Air liur Suketi menetes saat mata hitamnya melihat seorang pria tampan baru saja memasuki halaman luas sebuah rumah mewah yang memiliki dua lantai.


Hantu narsis itu mengeluarkan kaca dan alat make up nya lalu memoles wajahnya sebelum menampakkan dirinya di depan pria tampan itu.


Mengabaikan kedua suaminya yang sedang berdebat karena merebutkan dirinya. Suketi pun segera menghampiri pria tampan tersebut.


"Hai tampan, mau Suketi cantik temeni!!" Muncul tiba-tiba seperti hantu. Membuat pria tampan itu terkejut bukan main. Kedua matanya membelalak dan...


"SETAN!!" teriaknya histeris.


Kepala Suketi terkana timpuk oleh gagang sapu. Pria tampan itu yang pastinya adalah Cris memukul Suketi dengan sangat refleks, endingnya malah membuat bintang-bintang muncul di atas kepala Suketi. Suketi merasa pusing bukan main.


"Inilah tidak enaknya jadi hantu. Tidak bisa dipegang dengan sengaja. Tapi selalu terkena sial karena refleks, nasib-nasib. Sudah ah, Suketi mau pergi dugem dulu."


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2