
Yuk bantu Ramein new novel Author ini. Masih anget, Kasih like komennya ya 🙏🙏🙏🙏
-
-
Aster menghampiri Nathan yang sedang duduk di ruang keluarga. Pria itu terlihat Menutup Mata kirinya sambil menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. Nathan terlihat kacau, Aster tidak tahu apa yang terjadi sehingga membuat suaminya itu terlihat begitu berantakan.
"Paman, kau sudah pulang." tegur Aster setibanya dia di depan Nathan.
Pria itu membuka kembali matanya lalu menatap Aster yang berdiri tepat dihadapannya. "Tolong ambilkan air dingin untukku," pinta Nathan yang kemudian dipasangkan oleh Aster.
Selang 3 menit Aster kembali dengan air dingin yang Nathan minta. "Paman, ini air dinginnya." Aster menyerahkan air itu pada Nathan.
"Apa telah terjadi sesuatu?" Aster mengambil tempat di samping Nathan. "Kenapa kau terlihat begitu kacau, Paman?" tanya Aster penasaran.
"Sebuah insiden baru saja terjadi. Terjadi kecelakaan di tempat kerja, 1 orang tewas dan beberapa luka-luka." jelas Nathan.
Kedua mata Aster sedikit membelalak. "Lalu bagaimana keadaan mereka? Apa luka-lukanya parah?" tanya Aster memastikan.
Nathan mengangguk. "Beberapa dari mereka mengalami patah tulang, satu lagi kritis dan berada di ruang operasi. Perut sebelah kirinya tertusuk besi," jelas Nathan.
"Astaga bagaimana bisa terjadi hal semacam itu, Paman? Itu murni kecelakaan, atau ada yang melakukan konspirasi?"
"Salah satu orang yang aku percaya melakukan korupsi, sebagian dana masuk ke rekening pribadinya. Dia memilih bahan terburuk untuk proyek kali ini."
"Lalu bagaimana dengan orang itu? Apakah dia sudah ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara?"
Nathan menggeleng. "Penjara tidak akan cukup untuk bajing@n seperti dia. Dan masalah ini aku sudah serahkan pada, Leon." Jelas Nathan.
Jika penjara saja tidak cukup, itu artinya Nathan melakukan hukuman secara pribadi pada orang itu. Dan Aster tidak bisa menjamin, orang itu masih bisa bertahan atau tidak.
Aster menghela nafas panjang. "Sebaiknya sekarang kau mandi dulu, Paman. Setelah ini kita makan malam sama-sama," ucap Aster yang kemudian dibalas anggukan oleh Nathan.
"Baiklah, Sayang."
🌺
__ADS_1
🌺
Usai makan malam, Nathan langsung memisahkan diri dari istri dan anak-anaknya. Pria itu pergi ke ruang kerjanya, untuk menenangkan diri, mungkin.
Aster yang baru saja menidurkan Rey. Menghentikan langkahnya di ruang kerja suaminya. Dia melihat pintu ruangan itu tertutup rapat. Aster tahu jika Nathan tidak ingin diganggu untuk saat ini. Untuk itu dia tidak berniat untuk menemui Nathan apalagi mengganggunya.
Wanita itu melanjutkan langkahnya dan pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua. Dia akan menunggu Nathan di kamar, dan tidak ingin mengganggunya. Aster ingin memberikan waktu pada Nathan untuk menenangkan diri.
"Mami, boleh aku masuk?"
Perhatian Aster yang sedang sibuk dengan laptopnya teralihkan oleh suara cempreng seorang gadis kecil yang masuk ke dalam telinganya. Sontak ia menoleh dan mendapati Laurent berjalan menghampirinya.
"Tentu, Sayang. Mami pikir kau sudah tidur." Ucap Aster lalu menempatkan Laurent di samping dia duduk.
"Mi, sebenarnya apa yang terjadi pada Daddy Nathan. Dia terlihat buruk hari ini. Apa telah terjadi sesuatu?" Tanya Laurent penasaran.
Aster mengangguk. "Hanya sedikit masalah pekerjaannya, tapi kau tidak perlu cemas. Princess, kau mau di sini bersama Mami?" Aster menatap putrinya itu. Laurent pun mengangguk.
Laurent melihat apa yang sedang dilakukan oleh sang ibu dengan laptop di pangkuannya. Dan ternyata Aster sedang menyelesaikan desain bajunya. Meskipun ia sudah jarang pergi ke Boutique secara langsung, tapi dia tidak pernah lepas tanggung jawab.
"Wow, ini sangat indah dan cantik. Apakah ini adalah hasil rancangan terbaru, Mami?"
"Sangat luar biasa. Oya, Mi. Kenapa kau tidak membuat gaun ini untuk anak seusiaku juga? Mungkin saja ada ibu dan anak yang ingin mengenakan gaun sama di sebuah acara?" Usul Laurent yang kemudian menjadi pertimbangan untuk Aster.
"Sepertinya bukan ide ya buruk, Princess. Baiklah, nanti Mami akan merancang untuk anak seusiamu. Ini sudah malam, sebaiknya kita tidur. Malam ini kau tidur di sini bersama Mami ya."
"Siap, Mami."
🌺
🌺
Nathan mengalihkan pandangannya saat mendengar suara dering pada ponselnya. Telfon dari Leon. Tanpa membuang banyak waktu, Nathan pun segera menerima panggilan itu.
"Ada apa?" Tanya Nathan to the poin.
"Bos, kami berhasil menangkap beberapa orang yang terlibat dalam insiden itu. Dan saat ini kami sedang menginterogasi mereka. Apa kau akan datang kemari untuk menginterogasinya langsung?"
"Lakukan saja, aku sedang tidak mood untuk pergi kemana pun!!"
__ADS_1
"Baiklah-baiklah aku mengerti. Ya sudah, aku tutup dulu."
"Hn."
Nathan meletakkan kembali ponsel itu di atas meja. Dia baru saja memutuskan sambungan telfonnya. Dia bisa menyerahkan semua pada Leon dan anak buahnya. Jika mereka saja bisa dipercaya, jadi untuk apa Nathan turun tangan sendiri?
Nathan bangkit dari duduknya dan melenggang pergi meninggalkan ruang kerjanya. Dia lelah dan mengantuk. Dan setibanya di kamar. Nathan melihat sebuah pemandangan yang membuat sudut bibirnya tertarik ke atas. Dimana dua bidadari tercintanya tengah terlelap tidur.
Pria itu menghampiri mereka tanpa suara. Takut jika kedatangannya malah mengusik tidur mereka berdua. Sebuah ciuman Nathan daratkan pada kening Aster dan Laurent secara bergantian.
Laurent hanya sedikit menggeliat ketika bibir lembut sang ayah mendarat pada keningnya. Sementara Aster langsung membuka matanya, ternyata wanita itu belum sepenuhnya tidur.
"Apa aku membangunkan mu?" Aster menggeleng.
"Kebetulan aku baru mau tidur. Kau terlihat lelah, Paman. Sebaiknya kau segera tidur, malam ini Laurent ingin tidur di sini bersama kita. Tidak masalah bukan?" Nathan menggeleng.
"Tidak sama sekali. Dia terlihat lelah, aku akan tidur di sampingmu saja." Ucap Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Aster.
"Baiklah."
🌺
🌺
Aster membuka matanya dan tidak mendapati Nathan berbaring disampingnya. Lalu pandangannya bergulir pada jam yang menggantung di dinding dan waktu baru menunjuk angka 06.30 pagi.
Wanita itu kemudian menyibak selimutnya dan berjalan kearah kamar mandi. Setelah mencuci muka dan menggosok giginya. Aster melenggang keluar untuk membuat sarapan. Dan ternyata Nathan ada di rumah dan tidak pergi kemana-mana. Pria itu sedang menikmati secangkir kopi di ruang keluarga.
"Aku pikir kau sudah pergi." Nathan mengangkat wajahnya dan mendapati Aster berjalan menghampirinya.
"Aku bangun lebih pagi. Tidak perlu masak pagi ini, aku sudah memesannya dari luar. Sebaiknya kau mandi dulu, bangunkan Laurent dan kedua bocah itu kemudian kita sarapan sama-sama."
Aster menatap Nathan kemudian mengangguk sambil mengurai senyum tipis."Baiklah, Paman." Ia pun beranjak dari hadapan Nathan.
-
-
Bersambung.
__ADS_1