"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Villa


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan panjang dan melelahkan. Akhirnya mereka tiba di Busan. Nathan mengajak Aster dan Laurent untuk berlibur. Nathan ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama mereka berdua, Laurent terutama.


Nathan turun dari mobilnya begitu pula dengan Laurent dan Aster. Kini gadis cantik itu berada dalam gendongan sang ayah.


"Daddy, ini Villa milik siapa? Sangat bagus, banyak bunganya dan jauh dari keramaian, Laurent suka."


"Ini milik Mamimu, Nak. Villa yang Daddy siapkan sebagai kado ulang tahunnya tapi belum sempat Daddy berikan langsung padanya, karena keadaan saat itu." Tuturnya.


Dan sontak saja Aster menoleh dan menatap Nathan tak percaya. "Oppa, untuk apa kau membeli Villa ini untukku?"


"Karena kau memang layak mendapatkannya." Jawab Nathan.


Aster begitu terharu sampai rasanya dia ingin mencium Nathan jika saja tidak ada Putri kecil mereka. Tapi keinginannya itu harus dia kubur dan dia pendam karena tidak mungkin dia mencium Nathan di depan Laurent.


"Nanti kau akan mendapatkannya," bisik Nathan seolah mengerti apa yang Aster pikirkan.


"Kau selalu tau apa yang aku pikirkan. Oppa, kau sangat layak mendapatkan penghargaan." Aster mengerlingkan sebelah matanya pada Nathan.


Nathan mendengus berat. "Dan sebaiknya sekarang kita masuk dulu, kau dan Laurent pasti lelah." Aster mengangguk. Keduanya berjalan beriringan memasuki Villa tersebut.


Dan kedatangan mereka disambut oleh sepasang suami-istri yang Nathan percayai untuk menjaga dan merawat Villa miliknya. Nathan dan Aster langsung pergi ke kamar mereka yang berada di lantai dua Villa. Barang-barang mereka di bawa masuk oleh penjaga Villanya.


"Huwaaa..." Laurent langsung turun dari gendongan sang ayah saat mata beningnya melihat pemandangan yang sangat indah dari ruangan bernuansa putih tersebut.


Semua dinding di dalam kamar itu terbuat dari kaca sehingga mereka bisa melihat pemandangan yang ada di luar Villa. Namun warna dinding kaca bisa berubah putih dengan sendirinya hanya dengan sebuah remote kontrol.


"Mi, Dad, bagaimana kalau besok pagi kita bermain di danau itu? Laurent ingin memetik bunga di bukit dan bermain di sana juga." Ujarnya antusias.


Nathan menghampiri putri kecilnya lalu berlutut di depan gadis kecilnya itu. "Tentu saja, Nak. Laurent bisa melakukan apapun yang Laurent inginkan." Laurent tersenyum lebar. Gadis kecil itu pun segera berhambur memeluk sang ayah.


"Thank You, Daddy. Laurent sangat bahagia." Laurent melonggarkan pelukannya lalu mencium pipi kanan Nathan.


"Sama-sama, Nak. Sebaiknya sekarang Laurent mandi dulu sama Mami ya."

__ADS_1


Laurent menggeleng. "Aku sudah bosan mandi dengan Mami terus, bagaimana kalau sekarang Deddy saja yang memandikan Laurent?" Laurent menatap Nathan penuh harap. Nathan menatap putri kecilnya itu lalu mengangguk.


"Baiklah."


Sedangkan Aster hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah dan sikap manja putri kecilnya itu.


Tapi Aster bisa memakluminya karena selama ini Laurent kurang mendapatkan kasih sayang dari sang ayah mengingat jika mereka baru saja bertemu setelah sekian tahun.


Setelah menyiapkan pakaian ganti untuk putri kecilnya. Aster kemudian beranjak dan melenggang meninggalkan kamar. Wanita itu ingin membantu Bibi penjaga Villa menyiapkan makan malam.


"Jangan nakal, Sammy. Dari mana Ibu memiliki uang sebanyak itu untuk membelinya? Mainan yang kau minta itu sangat mahal, Ibu tau besok adalah ulang tahunmu, tapi tidak harus membeli mainan semahal itu sebagai kadonya."


Anak laki-laki berusia 7 tahun itu terlihat menundukkan wajahnya, bulir-bulir air mata bercucuran membasahi wajahnya.


"Tapi selama ini aku tidak pernah meminta apapun dari kalian berdua. Dan aku hanya meminta mobil mainan dan kalian tidak mau menurutinya."


Ibu muda itu kemudian memeluk putranya dan menangis. Selama ini gaji bulanan yang dia dapatkan dari menjaga Villa untuk memenuhi kehidupan sehari-hari juga untuk pengobatan putri pertama mereka yang sedang sakit keras.


Aster yang melihat pemandangan itu tentu saja merasa tersentuh sekaligus tidak tega. Ibu satu anak itu terlihat menghampiri mereka berdua. Dia bersikap seolah tidak tau apa-apa.


"Aku Sammy," jawab anak laki-laki itu.


Aster tersenyum. Jari-jarinya memegang dagu Sean dengan senyum yang sama. "Bibi memiliki seorang putri yang sangat cantik. Bisakah Sammy menemaninya untuk Bibi?" Tanya Aster yang kemudian di balas anggukan oleh Sammy.


"Saya akan menemani putri Bibi." Jawabnya. Aster tersenyum lebar mendengar jawaban Sammy.


"Terimakasih tampan. Kalau begitu Bibi mau membantu Ibu Sammy menyiapkan makan malam dulu ya. Nanti kita makan malam sama-sama." Sean mengangguk mengiyakan.


.


.


.

__ADS_1


Hampir satu jam berkutat di dapur. Beberapa hidangan tersusun di atas meja. Beberapa diantaranya adalah makanan kesukaan Laurent.


Aster tau jika putri kecilnya itu agak pemilih dalam hal makanan, itulah kenapa dia sampai memasak beberapa menu berbeda.


Nathan, Laurent sudah duduk di tempatnya masing-masing. Hanya tinggal Aster. Nathan bingung kemana perginya istri cantiknya itu. Padahal dia yang tadi memanggilnya dan Laurent untuk makan malam.


Sampai akhirnya sosok yang dia cari muncul dari dapur bersama 3 orang dua dewasa dan satu anak laki-laki yang terlihat menundukkan wajahnya.


"Oppa, kau tidak keberatan bukan jika mereka bertiga ikut makan malam bersama kita?"


"Tentu saja tidak, duduklah dan ayo kita makan malam bersama."


"Kakak tampan, kemarilah dan duduklah disamping Laurent, oke." Aster dan Nathan menatap putri kecilnya itu dan tersenyum tipis.


Inikah kelebihan dari mereka. Meskipun berasal dari keluar terpandang, namun Nathan dan Aster tidak pernah membeda-bedakan kasta dan kedudukan. Di mana mereka semua orang itu sama. Baik kaya maupun miskin, sama sekali tidak ada bedanya.


Usai makan malam. Laurent langsung bermain bersama Sammy. Gadis kecil itu terlihat begitu senang karena memiliki teman bermain yang sebaya. Karena jarak usia mereka hanya 2 tahun saja.


"Oppa, lihatlah putri kita. Sepertinya dia sangat nyaman bermain bersama Sammy. Sammy adalah anak yang baik, dia bisa mengerti bagaimana cara harus bersikap pada anak yang lebih kecil darinya."


Nathan merangkul bahu Aster. Keduanya sedang memperhatikan Laurent dan Sammy dari kejauhan.


"Kau benar, dan melihat senyum di wajahnya membuat hatiku menghangat. Rasanya sangat luar biasa. Dan sekarang aku mengerti kenapa menjadi seorang Ayah rasanya begitu luar biasa."


Aster mengangkat wajahnya dan menatap Nathan dengan seringai nakalnya. "Laurent, sedang asik bermain. Bagaimana kalau kita mencuri waktu untuk bercocok tanam? Siapa tau setelah kembali dari sini kita bisa mendapatkan hasil lagi?" Ucap Aster sambil menatap Nathan penuh harap.


Pria itu mendengus berat. "Kenapa semakin hari, otak mesumu ini semakin parah saja?" Kemudian Nathan beranjak dan pergi begitu saja.


"Yakk!! Oppa, tunggu aku!!"


-


Bersambung.

__ADS_1



__ADS_2