
"PAMAN!!"
Tubuh Nathan terhuyung kebelakang karena pelukan Aster yang begitu tiba-tiba. Gadis itu mengangkat wajahnya dan mengunci langsung manik kiri milik ayah angkat yang kini merangkap sebagai suaminya tersebut.
"Bagaimana pertunjukkan ku tadi? Hebat bukan? Wanita itu mencoba menjebak ku dengan berpura-pura terluka. Tapi dia tidak sadar dengan siapa dia berhadapan."
"Untuk itu kau perlu mendapatkan penghargaan." Jawab Nathan kemudian mengecup singkat bibir Aster.
Seakan tak rela Nathan mengakhiri ciumannya. Aster berinisiatif untuk mengambil alih ciuman tersebut.
Kedua tangan Aster mengalung pada leher Nathan, dan dengan senang hati ia menerima ciuman tersebut. Mata Nathan tertutup, begitu pula dengan mata Aster. Aster terlalu menikmati ciuman panas Nathan.
Kemudian Nathan mengakhiri ciumannya. Mereka harus melanjutkan perjalanan dan segera pulang.
-
"ARRRKKHHH..."
Riyana menghancurkan benda apapun yang ada di sekitarnya. Diluar dugaannya, ternyata Aster sangat sulit dikendalikan. Bahkan gadis lugu itu kini berubah menjadi seekor singa betina yang begitu mengerikan.
Pintu kamar Riyana tiba-tiba dibuka dari luar. Sosok pria masuk dan menghampiri wanita yang sedang mengamuk itu.
PLAKKK...
Tubuh Riyana terhempas kelantai setelah mendapatkan tamparan keras pada pipi kanannya. "Aaahhhh, Ayah apa yang kau lakukan? Apa kau ingin membunuhku?" Riyana memegang lengan pria yang tengah mencekiknya tersebut.
"Dasar tidak berguna, membawa kembali satu gadis saja tidak bisa!!"
Amarah pria itu pecah, berkali-kali dia menampar pipi Riyana dan menghantamkan kepalanya ke tembok. Setelah Riyana tidak berdaya,pria yang dipanggilnya 'Ayah' itu meninggalkan wanita itu begitu saja.
"ITU BUKAN SALAHKU!! KAU HANYA BISA MEMERINTAH DAN MENYALAHKANKU, JIKA KAU MEMANG MERASA MAMPU, MAKA LAKUKAN SENDIRI!!" Teriak Riyana penuh emosi.
Pria tua itu berbalik dan menendang wajah Riyana dengan keras. Akibatnya Riyana kehilangan dua gigi depannya, pelipis serta tulang pipinya robek dan mengeluarkan darah.
"Aahhh."
Kepala Riyana tertarik kebelakang karena jambakan pada rambutnya. "Kau sangat tidak berguna. Aku menyesal karena membiarkanmu tetap hidup. Aku tidak memiliki pilihan lain, selain mengirimu kembali ketempat itu!!"
Riyana menggeleng. "Tidak Ayah, aku mohon padamu, jangan kirim aku kesana lagi. Aku tidak mau disana lagi, tempat itu sangat mengerikan."
"Aku mohon berikan satu kali kesempatan lagi padaku. Aku pasti akan membawa gadis sialan itu padamu!!"
__ADS_1
Pria itu menyeringai dingin. "Baiklah, hanya satu kali kesempatan. Jika kau sampai gagal lagi, kau akan menanggung akibatnya!!" Dan pria itu pun pergi begitu saja.
Kedua tangan Riyana terkepal kuat. Dia benci dikendalikan seperti ini. Bagaimana bisa ayah kandungnya memperlakukannya seperti boneka. Ini tidak adil.
"Aster Jung, ini semua karena dirimu. Jika bukan karena dirimu, tua Bangka itu tidak mungkin membuatku seperti ini!! Lihat dan tunggu saja, aku pasti akan datang sebagai nerakamu!!"
-
"Bocah nakal, sampai kapan kalian berdua akan membuat susah hidup kami!!" Teriak Maya frustasi.
Hidupnya dan Ella kini sudah tak sama lagi seperti dulu. Jangankan untuk bermewah-mewah, untuk membeli makanan saja mereka sangat kesulitan. Ditambah lagi Gavin dan Rio yang terus-terusan memeras mereka berdua.
"Oh, ayolah Bibi, Nenek. Kalian berdua jangan pelit pada kami. Kami hanya minta sedikit uang tapi kalian malah mengatai ini dan itu pada kami."
"Sedikit kalian bilang? Kami sudah bangkrut dan kami jatuh miskin, dan sekarang kalian malah meminta uang pada kami?! Apa itu tidak keterlaluan?!" Bentak Ella penuh emosi.
"Kalau kalian memang tidak memiliki uang lagi, bukankah kalian masih memiliki beberapa barang mewah yang diuangkan? Itu saja kalian jual dan berikan uangnya pada kami."
Ella mengambil sapu. Ella memukuli Gavin dan Rio dengan sapu tersebut. Mengusirnya keluar sambil berteriak dan memarahi mereka habis-habisan. Rio dan Gavin sukses membuat Ella dan Maya terkena mental.
"Pergi kalian dari sini..."
"Kalian jahat, baiklah-baiklah kami akan pergi. Tidak perlu di usir juga. Dan ... Untuk cincin berliannya terimakasih."
"KALIAN PENCURI!!"
-
Aster membuka perban yang sejak seminggu lalu kembali membabat mata kanan Nathan. Lebih tepatnya setelah Nathan melukainya dengan sengaja. Mata itu terlihat baikan dari sebelumnya, setelah Nathan rutin memeriksakannya.
"Paman, sebaiknya kali ini jangan sampai terjadi pendarahan lagi. Kau dengar sendiri apa kata dokter bukan, kau akan kehilangan bola matamu dan bisa-bisa kau mengalami cacat permanen jika tidak bisa merawatnya dengan baik."
"Hn, memangnya kenapa kalau mata ini sampai cacat? Apa kau tidak ingin memiliki suami dan ayah angkat yang cacat?!"
"Apa yang Paman katakan. Cintaku pada Paman sangat tulus dan murni, cintaku tidak memandang fisik dan usia. Bahkan aku bisa tulus mencintai Paman meskipun usia kita terpaut 10 tahun."
Nathan mendengus geli. Sebuah jitakan mendarat mulus pada kepala Aster. "Kenapa kau jago sekali ngelesnya? Dasar rubah licik."
Aster terkekeh geli mendengar julukan Nathan padanya. Entah kenapa jika Nathan yang memanggilnya terdengar sangat sexy dan menggoda. "Paman, aku perban sekarang atau nanti?"
"Biarkan terbuka dulu. Lagipula aku tidak pergi kemana pun." Jawabnya.
__ADS_1
Aster mengangguk. "Baiklah kalau begitu. Aku mandi dulu, oke."
Nathan menarik lengan Aster hingga gadis itu jauh didalam pelukannya. Sebelah tangannya menggenggam tangan Aster. "Bagaimana kalau kita mandi bersama?" Nathan mengecup singkat bibir Aster.
Gadis itu mengangguk. "Bukan ide yang buruk."
.
.
.
Mereka mandi di dalam satu bathub yang sama dengan Nathan memangku Aster didepannya. Nathan mengosok punggung terbuka Aster pengan perlahan.
Meskipun ini pertama kalinya ia dan Nathan mandi bersama. Namun ia tak merasa canggung sedikit pun. Bahkan Aster begitu menikmati setiap sentuhan tangan dan bibir pria yang kini telah resmi menjadi suaminya.
"Paman, aku pikir ini hanya mimpi. Terkadang aku masih tidak percaya jika kita telah resmi menjadi suami-istri."
Nathan tak menjawab karena sibuk mengecupi bahu dan punggung Aster. Perut Aster mengencang saat merasakan sesuatu yang keras di bawah sana, itu adalah senjata milik Nathan yang kelak akan merubah hidup dan masa depannya.
"Ke apa wajahmu memerah, Sayang?" Ucap Nathan setelah berbisik.
"Milik Paman, bangun. Apakah itu artinya kita harus bercocok tanam!" Aster menoleh dan menatap Nathan dengan tatapan polos penuh tanya.
Nathan menggeleng. "Tidak, kita baru bisa melakukannya setelah kau lulus kuliah. Aku tau kau masih belum siap."
"Tapi bagaimana jika aku mengatakan sudah siap? Apa Paman akan melakukannya?"
Lagi-lagi Nathan menggeleng. "Tidak sebelum waktunya. Lagipula ada saatnya kita memang harus melakukannya. Yang bisa kita lakukan sekarang tidak lebih dari sekedar ciuman, tidur dan mandi bersama. Untuk selebihnya, kita masih tidak bisa melakukannya."
"Alasannya?"
"Masa depanmu masih panjang, Aster. Dan aku tidak ingin menjadi suami dan Ayah angkat yang tidak tau diri."
"Kau masih kuliah dan aku tidak ingin melakukan sesuatu yang kelak akan merugikanku. Aku pasti akan melakukannya, dan malam pertama kita akan terjadi setelah kau lulus kuliah."
Aster tersenyum dan menangis haru mendengar ucapan Nathan. Ia tau jika Nathan tidak mungkin menghancurkan masa depannya. Dan Aster menghargai keputusan ayah angkatnya tersebut.
"Terimakasih karena mau bersabar, Paman. Tapi percayalah, jika Aster ini hanya milikmu seorang. Hanya kau yang bisa memiliki apapun yang ada di dalam diriku,"
Nathan mengangkat dagu Aster dan kemudian mencium singkat bibirnya. "Aku selalu mempercayaimu, Aster Xiao."
__ADS_1
-
Bersambung.