
Seorang wanita baru saja menginjakkan kakinya di bandara Incheon, Korea Selatan.
Di lihat dari penampilannya, wanita itu tidak terlihat seperti wanita yang berasal dari kelas rendahan. Seluruh barang yang melekat ditubuhnya, dari kepala sampai kaki adalah barang bermerk terkenal.
Wanita itu menghentikan langkahnya, lalu melepas kaca mata hitamnya. Pandangannya menyapu ke segala penjuru arah. Sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk seringai tajam di bibirnya.
"Nyonya, saya datang untuk menjemput Anda. Bagaimana perjalanan Anda? Apakah menyenangkan?" Seorang pria membungkuk setelah menyapa wanita itu.
"Hn, biasa saja. Lalu di mana mobil jemputanku." Tanya wanita itu, angkuh.
"Jemputan Anda ada di luar. Mari, saya bawakan barang-barang Anda." Ucap pria yang menjemputnya.
Wanita itu berjalan angkuh meninggalkan bandara. Sebuah mobil sedan hitam mengkilat sudah menunggunya di depan bandara. Wanita itu masuk dan duduk di jok belakang, setelah orang yang menjemputnya membukakan pintu untuknya.
"Bagaimana keadaan gadis itu?" Tanya si wanita setelah duduk di kursi penumpang.
Pria yang duduk di samping pengemudi lantas menoleh. "Nona sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, Nyonya. Saat ini beliau kuliah di Universitas Seoul." Tuturnya.
"Dapatkan hak asuhnya, bagaimana pun caranya. Aster, harus jatuh ke tanganku!!"
"Tapi Nathan Xiao tidak tidak akan membiarkannya, Nyonya!! Dia tidak akan membiarkan Anda mengambil Nona Muda dari tangannya."
"Aku tidak peduli!! Aku adalah Bibinya, keluarga dan wali sahnya!! Adik kembar dari Ibu kandungnya. Aku lebih berhak atas dirinya."
"Dia bukan siapa-siapa, dia hanyalah orang asing. Dan lagipula aku tau tujuan dia yang sebenarnya mengadopsi, Aster. Karena Nathan Xiao mengincar seluruh harta peninggalan orang tuanya!!'
Pria itu menggeleng tidak setuju. "Itu sangat mustahil, Nyonya. Kita tahu sendiri jika Nathan Xiao adalah pria yang kaya raya. Dia memiliki harta yang melimpah, bahkan saat ini perusahaannya menempati posisi ketiga dari 10 perusahaan terbesar di seluruh daratan Asia!!"
"Sebenarnya kau ada dipihaku atau dipihaknya? Kenapa kau lebih membela dia dibandingkan aku, Nyonyamu!! Lagipula apa hebatnya bocah kemarin sore sepertinya??!
"Sebaiknya Anda jangan terlalu meremehkan dia, Nyonya. Dia bukanlah pria yang bisa diremehkan!! Lagipula kita masih belum tau seberapa besar kekuatan, Nathan Xiao!! Bahkan Mafia kelas kakap takut padanya," ujarnya memaparkan.
Wanita itu mendecih dan tak menggubris pria berkacamata itu. Siapapun Nathan Xiao, dia akan menghadapinya. Dibandingkan Nathan, ia lebih berhak atas Aster, karena dia adalah keluarga Aster yang sebenarnya.
-
Ketukan pada pintu mengalihkan perhatian Nathan dari tumpukan dokumen di depannya. Pria itu mengangkat kepalanya selama beberapa detik dan berseru, meminta orang itu untuk masuk.
"Ada apa, Dio?" Tanya Nathan tanpa menatap lawan bicaranya.
"Presdir, wanita itu telah kembali ... Riyana Jung, dia mendarat di Korea pagi ini."
__ADS_1
Gerakan tangan Nathan terhenti. Pria itu mengangkat wajahnya dan menatap pria yang berdiri didepannya. "Riyana Jung?" Dio mengangguk. "Lalu apa masalahnya?" Nathan kembali fokus pada dokumennya.
"Dia kembali untuk mengambil, Nona muda dari Anda Presdir."
Lagi-lagi gerakan tangan Nathan terhenti."APA?", Nathan memekik lumayan keras. Keterkejutan terlihat jelas dari mimik mukanya. Mata kirinya sedikit membelalak mendengar apa yang Dio katakan.
Dio mengangguk. "Kebetulan sepupu saya adalah supir yang menjemput wanita itu. Dia mendengar wanita itu berbincang dengan seorang pria yang saya ketahui bernama Denny Kim." Ujarnya menuturkan.
"Lalu apa lagi yang mereka katakan?"
"Wanita itu mengatakan jika dia adalah keluarga Nona yang sebenarnya, dia adalah walinya yang sah. Dia lebih berhak atas diri Nona daripada Anda. Dan dia akan melakukan apapun untuk merebut Nona dari tangan Anda, Presdir!!"
Nathan menutup dokumen-nya, tangan kanannya yang terkepal memukul meja denga dengan sangat pelan
"Oh, rupanya dia berusaha mengibarkan bendera perang denganku? Dia pikir dia siapa bisa mengambil Aster dariku, setelah menelantarkannya selama 10 tahun, kini dia kembali untuk mengambil hak asuh Aster? Sangat tidak masuk akal!!"
"Apa dia pikir aku akan membiarkannya?! Baiklah, kita lihat saja, aku atau dia yang akan memenangkan babak ini?! Karena sampai kapanpun, aku tidak akan melepaskan Aster!!"
"Lalu apa rencana Anda, Tuan?!"
"Lihat dan tunggu saja, apa yang bisa aku lakukan padanya!!"
Dio bergidik ngeri melihat sorot mata Nathan yang terlewat tajam. Meskipun hanya melalui mata kirinya, tapi itu lebih dari cukup untuk membuat bulu kuduknya berdiri.
BRAKKK....
"PAMAN, AKU DATANG!!"
Seolah mendaparkan oasis di tengah Padang pasir yang sangat tandus. Dio bisa bernapas lega setelah melihat kedatangan Aster. Dio pun berpamit pergi, meninggalkan Nathan dan Aster berdua diruangan tersebut.
Aster menghampiri Nathan kemudian duduk dipangkuan pria itu, Aster mengalungkan kedua tangannya pada leher Nathan sambil tersenyum lebar. "Ada apa dengan senyummu itu? Sepertinya kau sangat bahagia." Ucapnya.
"Paman, akhir pekan ini kampusku akan mengadakan perjalanan ke Pulau Jeju selama tiga hari. Bolehkah aku ikut ke sana bersama teman-temanku?" Tanya Aster dengan tatapan memohon.
"Bukankah aku sudah sering membawamu berlibur di sana? Jadi untuk apa kau harus ikut!"
Aster mendengus. "Paman ini bagaimana? Aku adalah mahasiswi baru, dan sebagai anak baru, aku harus bisa beradaptasi dengan orang-orang baru. Dan satu-satunya cara adalah dengan ikut perjalanan berlibur itu."
"Bagaimana kalau Paman tidak mengijinkanmu pergi?"
"Maka aku akan memaksa sampai Paman mengijinkannya!!"
__ADS_1
"Lalu untuk apa masih meminta ijin, jika endingnya tetap saja menggunakan pemaksaan?"
Aster terkekeh. "Supaya aku terlihat seperti gadis baik yang patuh." Jawabnya.
Dan sebuah jitakan mendarat mulus pada kepala coklat Aster. "Dasar kau ini." Nathan berkomentar sambil mencubit gemas hidung mancung putri angkatnya tersebut.
Aster terkejut saat tiba-tiba Nathan menariknya ke dalam pelukannya. "Kapan kau bisa bersikap dewasa dan tidak kekanakan seperti ini, hm?" Gumam Nathan semakin mengeratkan pelukannya.
Detik berikutnya bibir Aster mengurai senyum lebar. Aster mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Nathan. "Entah, mungkin selamanya aku akan seperti ini pada Paman, hanya pada Paman!!" Jawabnya.
Nathan menutup mata kirinya. "Aku tidak akan melepaskanmu apapun yang terjadi. Kau adalah putriku, dan selamanya kau adalah milikku. Aku tidak akan membiarkan orang lain merebutmu dari sisiku, tanpa terkecuali!!"
Aster mengerutkan darinya mendengar ucapan Nathan. Dari nada bicaranya, terdengar jelas jika Nathan begitu ketakutan akan kehilangannya.
"Paman tenang saja, aku tidak akan pergi kemana pun, aku akan selalu berada di sisi Paman, selamanya. Karena aku milik, Paman. Aku adalah putri Paman, dan orang yang tergila-gila pada Paman. Dan selamanya kita akan bersama."
"Kau berjanji?" Nathan melonggarkan pelukannya dan menatap Aster dengan serius.
Gadis itu mengangguk. "Ya, aku berjanji." Jawabnya meyakinkan. Sekali lagi Nathan membawa Aster ke dalam pelukannya. Memeluknya semakin erat. Nathan sungguh-sungguh tidak ingin kehilangan Aster. Dia terlalu menyayanginya.
-
Amanda, Ella dan Maya hanya bisa berbaring tengkurap karena luka cambuk pada punggung dan kakinya.
Entah apa alasannya, sampai-sampai Nathan memutuskan untuk melepaskan mereka. Pagi ini Nathan melepaskan mereka setelah hampir satu Minggu mengurung dan memberikan hukuman cambuk pada ketiganya.
"Aaarrkkhh, sialan!!! Semua ini karena rubah kecil licik itu!! Jika bukan karena dia , kita tidak mungkin di hukum seperti ini!!"
"Percuma kau berteriak dan memaki gadis kurang aja itu!! Itu tidak akan berefek apapun. Lagipula Nathan sudah terkena guna-guna rubah licik itu. Jadi akan percuma saja."
"Aku pasti akan menghabisinya!!",
"Berhentilah mengatakan omong kosong. Karena tak satupun dari usahamu ada yang membuahkan hasil, dia tetap saja lolos dan kita yang selalu sial. Sebaiknya kau segera pergi dari rumah ini setelah membaik. Aku muak melihat mukamu itu!!"
"MAYA!!"
"Cukup kalian berdua!!" Bentak Ella penuh emosi. "Tidak seharusnya kalian malah bertengkar. Seharusnya kalian bersatu dan pikirkan cara untuk membalas rubah betina itu."
"Karena selama dia masih ada di rumah ini, hidup kita akan terus seperti ini. Kita akan memiliki hidup normal, dan satu-satunya cara adalah dengan menyingkirkan dia. Kita, harus menghabisinya!!"
-
__ADS_1
Bersambung.