"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Gara-Gara Tamu Bulanan


__ADS_3

"Huaa!! Aku sedang kesal setengah hidup!!"


Dengan serampangan, seorang wanita berambut coklat terang baru saja menghempaskan tas sandang bermerk miliknya di atas meja cafe dengan tampang yang sangat kesal.


Ia lalu mendaratkan pantatnya di kursi kosong di depan Tiffany sambil mewek-mewek dan bicara ngawur entah pada siapa. Beruntung cafe dalam keadaan sepi, sehingga tidak ada yang memperhatikan mereka berdua.


"Fanny!! Kau dengar tidak sih!" bentaknya pada teman berambut merah yang duduk berhadapan dengannya.


Tapi malang nian nasibnya, karena sahabatnya itu tersebut tidak menyahut dan tetap saja berbicara dengan telepon genggam yang berada di telingnya. Dan hal itu membuat Aster semakin kesal setengah mati.


"TIFFANY!!"


Tiffany berdecak sebal dan menatap sahabatnya itu kesa. "Ya, sudah, nanti kita lanjut ya. Ada anak ayam yang mau ku urus dulu. Bye, muah! Aku mencintaimu."


Aster terlihat semakin kesal saat dengan tenangnya, sahabat yang sangat dicintainya itu mengatakan bahwa dirinya adalah anak ayam.


"Ck, dasar Miss bar-bar! Kenapa pagi-pagi begini kau sudah marah-marah tidak jelas? Apa kau tidak tau jika aku sedang melangsungkan kencan darurat dengan kekasihku!! Jelas-jelas kau sedang tidak datang bulan, tapi kenapa bawaannya malah kaya emak-emak!" Oceh Tiffany panjang lebar.


Wanita berambut merah itu lantas membalas segala macam bentakan yang tadi diberikan padanya dengan lebih sadis.


Dan Aster hanya memanyunkan bibirnya mendengar Omelan sahabatnya itu. Tapi Aster tidak menjawab dan hanya diam sambil mewek, bukan balasan sadis dari Tiffany-lah yang membuatnya terdiam, tapi ada hal lain yang sangat susah untuk diungkapkannya.


Lama kelamaan matanya mulai terlihat memerah dan berkaca-kaca, diikuti oleh satu butir kristal bening yang mulai mengalir dipipinya.


Aster memanyunkan bibirnya dan mulai terisak kembali. "Heh, Aster kau ini sebenarnya kenapa? Sakit?" tanya Tiffany setengah panik saat tiba-tiba saja Aster menangis hingga terisak-isak.


"Ti-Tiffany, hiks... Bagaimana ini? Bagaimana dengan paman Nathan, bagaimana jika tiba-tiba aku ingin melakukannya?"


"Sebenarnya apa yang kau bicarakan? Aku benar-benar tidak mengerti?" tanya Tiffany sambil mengusap-ngusap punggung Aster dengan lembut.


"A-Aku sedang kedatangan tamu bulanan, dan parahnya lagi tamunya datang ketika kami melakukannya semalam. Bagaimana ini, Fanny-ya? Bagaimana jika tiba-tiba saja aku menginginkannya?"


Gubrak!


Tiffany nyaris saja terjatuh saat itu juga. Tidak menyangka kalau penyebab sahabatnya yang tiba-tiba bertingkah aneh hari ini adalah karena dia sedang kedatangan tamu bulanan, alias ha*d.


Dan rasanya Tiffany ingin sekali menyentil ginjal Aster setelat mendengar alasan yang membuat dia menangis dan uring-uringan tidak jelas. Tiffany pikir ada masalah apa, eh ternyata karena datang bulan di saat yang tidak tepat.


"Bukankah kalian masih bisa melakukannya setelah tamu-mu pergi?"

__ADS_1


"Iya, tapi bagaimana kalau aku tiba-tiba saja ingin melakukannya? Masa iya aku harus menahannya selama itu?"


Tiffany memukul kepala coklat Aster dengan sebuah sendok saking gemasnya. Bagaimana bisa sahabatnya ini memiliki pemikiran begitu me*um seperti ini.


"Lama-lama kau kulemparkan juga ke Sungai Han." Ucap Tiffany setengah geram. "Ada baiknya sekarang kita memesan karena aku sudah lapar!!" Ucap Tiffany melanjutkan.


"Huft, dasar sahabat tidak berhati." Aster merenggut kesal. Moodnya benar-benar buruk hari ini.


-


Nathan menutup mukanya dengan telapak tangannya dan tertawa geli saat mengingat kejadian tadi malam. Bayangan wajah Aster yang sedang kesal tiba-tiba melintas dibenaknya.


Pergulatan mereka semalam harus terhenti karena tiba-tiba Aster kedatangan tamu bulanan. Cairan merah keluar dari bagian Miss-nya ketika mereka sedang panas-panasnya.


Dan insiden itu membuat Aster marah-marah dan mendumal tidak jelas. Wanita itu benar-benar kesal setengah mati. Bahkan kekesalannya berlanjut sampai pagi hari ini. Aster terus saja mengoceh dan menyalahkan tamu bulanannya yang datang di waktu yang tidak tepat.


Tokk.. Tokk..


Nathan merubah duduknya menjadi tegak dan mempersilahkan orang itu untuk masuk. Dia tidak ingin terlihat konyol di depan bawahannya.


Seorang wanita lengkap dengan jas kerjanya terlihat meliukkan tubuhnya memasuki ruangan kerja Nathan. "presdir, tamu Anda telah tiba."


"Hn, persilahkan dia untuk masuk."


.


.


.


Xiao Empire adalah salah satu perusahaan besar dengan berjuta-juta saham di empat benua. Kemampuan dalam mempertahankan bisnis mereka patut diacungi jempol, tujuh turunan pun kekayaan mereka tak pernah habis.


Cabang perusahaan mereka sudah terkembang ke berbagai negara, bahkan dunia. Kesuksesan perusahaan yang bergerak di bidang minyak dan gas ini pun didukung oleh penerus yang kompeten, ulet, bertalenta dan berpandangan luas.


Meskipun dia bukanlah penerus yang sebenarnya, tapi pemilik sebelumnya telah mewariskan semua harta kekayaannya padanya. Seperti tertibkan durian runtuh, itulah yang dialami oleh Nathan setelah mendiang Xiao Murten mengangkatnya sebagai anak.


Dua orang pria melenggangkan kakinya memasuki ruang kerja Nathan. Mereka saling berjabat tangan sebelum Nathan mempersilahkannya untuk duduk.


Rencana kedatangan mereka berdua adalah untuk membahas mengenai kerjasama antara perusahaan mereka.

__ADS_1


"Tuan Xiao, saya membawakan hadiah kecil untuk Anda. Silahkan," pria itu memberikan hadiah yang dia maksud pada Nathan.


Nathan menerima hadiah itu lalu meletakkannya diatas meja. "Anda terlalu repot, Tuan Nam."


"Tidak, Tuan Xiao. Lagipula hanya hadiah kecil saja dan tidak seberapa harganya."


Dan selanjutnya perbincangan mereka di lanjutkan ke topik yang lebih serius. Mereka membahas mengenai rencana kerja sama antara perusahaan mereka.


Dan setelah hampir satu jam, mereka mendapatkan kesempatan. Kedua perusahaan besar itu akhirnya memutuskan untuk bekerjasama.


"Senang bekerjasama dengan Anda, Tuan Xiao."


"Semoga perusahaan kita saling menguntungkan."


"Tentu, Tuan. Kalau begitu kami permisi dulu." Kedua pria itu membungkuk dan kemudian melenggang pergi meninggalkan ruangan Nathan. Menyisahkan pria itu sendiri di dalam ruangan tersebut.


Nathan menyambar kunci mobilnya dan melenggang pergi. Dia hendak menjemput Aster, saat ini wanita itu berada di cafe yang letaknya tak terlalu jauh dari perusahaannya.


-


"PAMAN!!"


Tubuh Nathan terhuyung kebelakang karena pelukan Aster yang begitu tiba-tiba. Wanita itu mengangkat wajahnya dan menatap Nathan sambil menekuk wajahnya.


"Masih kesal, eh?" Aster mengangguk. "Lalu harus bagaimana biar kau tidak kesal lagi?"


"Cium aku," Aster menunjuk bibirnya. "Ayo, cium aku." Rengek Aster sambil memanyunkan bibirnya.


Nathan memperhatikan sekelilingnya dan mendesah berat. Dengan terpaksa Nathan mencium Aster seperti permintaannya. Namun ciuman itu tak lebih dari sepuluh detik.


"Kita lanjutkan nanti saat di rumah. Kenapa kau hanya sendiri, di mana sahabatmu itu?"


"Dia sudah pulang, dan aku ditinggal sendiri. Paman, aku masih kesal. Bagaimana kalau kau bawa aku jalan-jalan dan berbelanja ke mall. Ada tas, baju, aksesoris dan sepatu yang ingin aku beli."


Nathan menarik ujung hidung mancung Aster dan mengangguk mengiyakan. "Baiklah, terserah kau saja. Kau boleh meminta apapun yang kau inginkan."


"Paman, kau memang yang terbaik. Aku semakin mencintaimu." Aster berhambur memeluk Nathan.


Nathan tersenyum, pria itu mengangkat tangannya dan dengan senang hati membalas pelukan Aster. "Paman juga mencintaimu."

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2