"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Rasanya Sangat Nikmat


__ADS_3

Nathan hanya bisa menatap heran pada Aster yang tidak mau menyentuh makanannya sama sekali.


Aster mendorong piring berisi nasi dan lauk itu dan menolak untuk memakannya, dia lebih memilih memakan mangga muda dan beberapa potong buah semangka.


Mata kiri Nathan menyipit heran. Sepanjang dia mengenal Aster, ini pertama kalinya Nathan melihat Aster menyentuh buah yang namanya semangka. Bahkan dia memakannya dengan sangat lahap.


"Paman, kenapa kau terus melihatku seperti itu? Aku tau, jika aku ini cantik, jadi berhenti menatapku seperti itu."


"Apa kau salah minum obat pagi ini?" Sontak saja Aster mengangkat kepalanya dan menatap Nathan penuh tanya.


"Maksud, Paman?"


"Kau memakan semangka? Rasanya aneh melihatnya, bukankah kau adalah orang pertama yang menyatakan jika kau adalah pembenci water melon familly nomor satu di dunia? Dan sekarang kau malah memakannya?!"


Aster berdecak sebal. "Sebaiknya Paman jangan banyak berkomentar. Aku mau makan atau tidak, itu tidak ada hubungannya dengan Paman!!"


"Dan sampai kapan Paman akan membiarkan nasi di piring Paman menunggu untuk di makan?" Omel Aster yang berakhir dengan sebuah sendok mendarat pada kepala coklatnya. "Paman, sakit!!"


"Kenapa semakin hari kau malah semakin bawel saja?" Aster mempoutkan bibirnya, wanita itu terus saja menggerutu tidak jelas. Entah kenapa Nathan bisa semenyebalkan ini, terkadang!!!


DUAARR...


Perhatian keduanya teralihkan oleh suara dentuman keras yang berasal dari halaman depan kediaman mereka. Nathan dan Aster saling bertukar pandang. Keduanya pun bergegas keluar untuk melihat apa yang terjadi.


Setibanya di luar. Nathan melihat dua penjaganya tengah membekuk seorang pria yang di duga sebagai penyusup. Nathan meninggalkan Aster dan menghampiri mereka bertiga.


"Tuan, kami menemukan pria ini tengah merakit sesuatu di depan pagar. Sepertinya dia berencana untuk membunuh kita semua dengan bom rakitan."


Nathan mencengkram rahang pria itu. Membuatnya mau tidak mau harus mengangkat wajahnya. "Katakan, siapa orang yang sudah menyuruhmu?!" Tanya Nathan menuntut.


Pria itu menggeleng. "Aku tidak akan memberitahumu!!" jawabnya tegas.


"Oh, kau menantang ku rupanya!! Bawa dia keruangan bawah tanah. Kuliti tubuhnya, congkel matanya, cabut kuku dan giginya. Paksa dia untuk berbicara."


"Baik, Tuan!!" Sedangkan pria itu terus saja meronta. Mencoba untuk melepaskan diri. Berbagai umpatan keluar dari mulutnya.


Nathan berbalik dan menghampiri Aster yang tengah menatap ngeri padanya. "Paman, kau sangat mengerikan. Tidak salah jika kau di juluki sebagai Iblis oleh musuh-musuhmu!!" Ujar Aster sambil menyipitkan matanya dan memanyunkan bibirnya.


Nathan mendengus geli. Entah kenapa melihat Aster seperti ini membuatnya tidak tahan untuk tidak mencium bibirnya.


Tubuh Aster tertarik ke depan dan menempel sempurna dengan dada Nathan. Dan selanjutnya yang dia rasakan ada sentuhan lembut dan basah bibir Nathan yang kini menguasai bibirnya.

__ADS_1


"Terlalu berbahaya jika berciuman di sini. Semua orang bisa melihat kita." Aster mengangguk. Dan keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam rumah.


-


"Uhhh, kenapa malam ini rasanya begitu dingin dan errr... Seram..!!"


Leon memegang tengkuknya yang terasa berat. Bulu kuduknya berdiri karena ngeri.


Entah kenapa suasana kantor malam ini berbeda dari malam-malam sebelumnya, di mana angin berhembus lebih kencang dan bisikan-bisikan aneh seakan mengganggu dirinya.


Leon menyapukan pandangannya ke segalan penjuru arah. Namun tak ada hal aneh yang terlihat oleh matanya. Selain kehampaan dan kabut tipis di luar akibat hujan yang baru saja meninggalkan bumi.


"Halo tampan, kau bilang penasaran denganku!!"


"HUAAA...!!! MAKNYA SETAN!!" Leon terjengkang kebelakang.


Leon berteriak dan melemparkan air putih yang ada di atas meja kerjanya pada wajah sosok perempuan berambut panjang dan bergaun putih di depannya. Dan siapa lagi sosok itu jika bukan Suketi.


"Huaaa.. Tampan, kenapa kau sangat jahat?! Lihatlah karena ulahku, wajah cantik Suketi jadi basah. Make up tebal Suketi jadi luntur, bulu mata anti badai yang Suketi pakai hampir terlepas. Ahhh, Suketi jadi tidak cantik lagi!!"


Alih-alih merasa ngeri lagi, Leon justru merasa geli. Bagaimana bisa ada hantu yang mengeluh seperti itu. Dan apa tadi? Make up tebal yang luntur, bulu mata anti badai yang hampir lepas, bahkan dia bilang jika dia tidak cantik lagi.


Rasanya Leon ingin sekali menggaruk muka Suketi yang putih itu dengan jari kakinya. Bagaimana bisa ada hantu aneh bin nyeleneh seperti Suketi.


"Tentu saja Suketi yang cantik bin bahenol ini adalah hantu sungguhan. Lihat saja kaki Suketi yang tidak napak di tahan."


Leon langsung melompat ke atas meja."La-lalu kenapa kau tiba-tiba nongol di depanku? Apa kau tidak tau kalau aku hampir jantungan karena ulahmu!!"


"Hihihi!!!"


"Mana tertawanya menyeramkan lagi. Hus, hus, hus, pergi sana. Jangan lama-lama di sini. Kau membuatku hampir terkencang di celana.*


"Hihihi!!"


"Tertawa lagi."


"Suketi pergi dulu ya, Tampan. Dan sampai berjumpa lagi. Suketi harus mengikuti fashion show dulu. Bye, bye. Hihihi!!"


Leon pun langsung lemas seketika. Dia tidak tau mimpi buruk apa yang baru saja dia alami. Bertemu dengan hantu aneh bin ajaib seperti Suketi.


Dan Leon berharap itu adalah pertemuan pertama dan terakhir mereka. Karena Leon tidak ingin bertemu lagi dengan mahluk menyeramkan dan aneh seperti Suketi.

__ADS_1


-


Malam semakin larut, namun Nathan masih tetap terjaga. Mata kirinya yang tak tertutup apa-apa menatap lurus pada langit malam yang gelap.


Kusen jendela kembali menjadi tumpuan. Udara dingin berhembus, bersamaan dengan angin malam yang membawa asap yang keluar dari sela-sela bibirnya, yang kemudian keluar melalui jendela, lalu menghilang dan tersapu angin malam.


Sampai saat ini sudah batang ketiga yang kubakar. Itu adalah rokok ketiga yang Nathan bakar dalam kurun waktu satu jam.


Jam dua pagi adalah waktu yang rawan untuk tetap terjaga, menurut nenek Xiao. Saat pikiran-pikiran sepanjang hari berkumpul menjadi satu, menyisakan ringkasan cerita yang meminta untuk dipikirkan.


Seharusnya Nathan sudah tidur pulas saat ini, tapi mata tidak sanggup diajak berkawan. Itulah kenapa dia masih tetap terjaga meskipun jam dinding sudah menunjuk angka 01.30 dini hari.


"Paman, kenapa belum tidur?"


Pria yang memakai celana panjang hitam dan kaos songket ketat itu lantas menoleh. Terlihat Aster beranjak dari tempat tidurnya. Wanita itu berjalan menghampirinya.


Nathan menarik lengan Aster dan menempatkan wanita itu di depan dia berdiri."Kenapa kau malah bangun?" Sebuah kecupan-kecupan kecil Nathan berikan di leher Aster.


"Uhhh, Paman hentikan." Membuat dia mend*sah berat.


"Kenapa? Aku pikir kau menyukainya." Bisik Nathan dan sekali lagi mengecup leher jenjang itu.


"Uhhh... Paman, kau membuatku basah lagi."


"Memangnya kenapa? Bukankah kau selalu menyukainya, dan lagi pula aku selalu menyukaimu yang basah." Tuturnya.


"Uughh... Aaahh... Aaaahhh.." Aster terus saja mendesah ketika sebelah tangan Nathan meremas pay*dara kanannya dengan kain sutra yang menjadi penghalangnya. "Aaahhh, Paman."


"Wow, kau sudah basah, Sayang." Gumam Nathan ketika jarinya merasakan sesuatu basah pada bagian Miss Aster. "Keluarkan, Sayang. Teruslah mendesah dan sebut namaku. Hhmm, kau menikmatinya?"


Aster merasakan bagian Miss nya seperti terkena sengatan listrik ketika jari Nathan memainkan cl*tnya.


Bahkan kedua kakinya serasa lemas hingga Aster nyaris saja terjatuh dari posisi berdirinya, jika saja Nathan tidak segera mengangkat tubuhnya bridal style dan membawanya masuk ke dalam.


"Aku ingin memasuki mu lagi malam ini."


"Bukankah tadi siang sudah?"


"Sayangnya aku masih belum puas."


"Baiklah, terserah Paman saja. Toh rasanya sangat nikmat, jadi bagaimana mungkin aku bisa menolaknya!!"

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2