
Nathan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Saat ini dia sedang bertaruh dengan waktu. Bukan hanya nyawanya saja yang dipertaruhkan, tapi juga orang-orang yang ada di kota.
Nathan melirik kebelakang melalui ekor matanya. Saat dirasa sepi, Nathan menambah kecepatan pada mobilnya, hingga menyentuh kecepatan penuh. Mobil sport yang Nathan kendarai melesat bagaikan peluru.
Dia tidak bisa membuang waktu lagi, karena waktu yang dia miliki sudah semakin menipis. Hanya tersisa lima menit lagi, jika dia sampai terlambat, maka semua akan berakhir. Dia bisa kehilangan nyawa dan tubuhnya hancur berkeping-keping.
Nathan menyipitkan mata kirinya. Jika dia berhasil melewati jalan sempit itu, maka waktu yang dia butuhkan untuk tiba di lokasi akan lebih singkat lagi. Dengan mengandalkan skill mengemudinya, Nathan akan mencobanya.
Roda bagian kiri sedikit terangkat, meskipun terlihat mustahil. Tapi Nathan berhasil melakukannya. Dan hanya satu langkah lagi untuk meledakkan bom tersebut.
Nathan menghentikan mobilnya dan dia berlari menuju bibir tebing. Rencananya Nathan akan membuang bom itu ke dalam tebing yang kedalamannya mencapai ratusan meter. Karena memang hanya itu satu-satunya tempat yang paling aman.
Dan tak lama setelahnya terdengar suara ledakan keras dari bawah sana. Membuat bebatuan didinding tebing berhamburan dan hancur menjadi kepingan-kepingan kecil.
"Akhirnya." Nathan menjatuhkan tubuhnya dengan lemas.
Dia merasa lega, dan setelah perjuangan panjangnya. Akhirnya dia berhasil menyingkirkan bom tersebut. Dan langkah selanjutnya yang perlu Nathan ambil ada menemukan orang itu dan kemudian menghabisinya.
-
Gyutt...
Kedua tangan Aster terkepal kuat. Sepasang Iris Hazel nya berkilat tajam. Seseorang baru saja membuat masalah dengannya.
Dari CCTV, Aster bisa melihat dengan jelas siapakah orang yang baru saja menghancurkan desain terbarunya. Dan orang itu tak lain dan tak bukan adalah Elisa, desainer yang selama ini telah menjadi saingannya.
"Wanita ini sudah membuat masalah dengan orang yang salah. Jika dia berfikir bisa menyingkirkan ku dari kompetisi dengan cara murahan seperti ini, maka dia salah besar. Lihat saja, bagaimana aku akan membalas dan menghancurkannya!!"
Amy menghampiri Aster dan mencoba menenangkannya. Sahabat yang merangkap sebagai partner bisnisnya ini sedang dikuasai emosi.
"Tenangkan dirimu dulu, Aster. Sama-sama kita pikirkan bagaimana mengatasi ular betina itu. Jika kau menghadapinya dengan emosi, maka kau tidak bisa mendapatkan hasil terbaik." Ujar Amy menasehati.
Aster menarik napas panjang lalu menghelanya perlahan. Memang benar apa yang Amy katakan. Jika dia menghadapi wanita itu dengan Emosi, maka hasilnya akan sama saja.
"Kau tenang saja, aku masih bisa mengontrol emosiku. Aku akan mengerjakan ulang, pastikan tidak seorang pun menggangguku. Aku harus segera menyelesaikannya, waktu kita sudah tidak banyak lagi."
__ADS_1
Amy mengangguk. "Aku mengerti. Sebaiknya kau fokus saja pada desain mu, yang lain serahkan padaku." Amy menepuk bahu Aster dan kemudian meninggalkannya begitu saja.
Aster menutup dan mengunci pintu ruangannya. Dia harus fokus dan tidak boleh membiarkan sesuatu yang tidak penting mengganggunya. Aster akan membuktikan pada Elisa, jika desainer baru pun bisa meraih hasil terbaik dari usaha dan kerja kerasnya.
-
Rasa bosan mulai menghinggapi perasaan Laurent. Hari ini benar-benar menjadi hari yang sangat panjang dan melelahkan baginya. Gadis kecil nan cantik itu merasa jika hari ini merupakan hari tersial baginya.
Begitu banyak hal yang terjadi hari ini, dan semua diluar dugaannya.
Laurent menghampiri Rey yang sedang bermain dengan Baby sister nya. Bocah laki-laki berusia 2 tahun itu tampak kegirangan melihat kedatangan sang kakak. Bahkan dia mengulurkan tangannya, seolah-olah meminta di gendong oleh Laurent.
"Adik, kau itu sangat gendut. Jadi mana kuat Kakak menggendong mu. Kita bermain saja ya."
"Noona, dimana Mami? Rey, ingin bertemu Mami."
"Mami,dia masih belum pulang bekerja. Rey, sabar dulu ya. Mami nanti pasti juga pulang. Kita main dulu saja, oke." Bocah laki-laki itu mengangguk.
Laurent memang sangat dekat dengan Rey, dia sangat menyayangi adik kecilnya itu. Dan dia sangat bersyukur karena orang tuanya memberikannya seorang adik yang sangat lucu dan menggemaskan.
-
Leon berseru dan segera menghampiri Nathan. Pria itu datang dalam keadaan terluka. Leon tidak tau apa yang menimpa Nathan sampai-sampai dia bisa terluka seperti ini.
"Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa sampai terluka seperti ini?"
"Aku sempat hilang kendali saat dibelokkan tajam. Mobilku menghantam pohon yang ada disisi jalan sebelum akhirnya terguling dan kemudian meledak. Beruntung aku bisa keluar dari rongsokan itu tepat waktu. Jika tidak, entah bagaimana nasibku saat ini."
"Sebaiknya kita ke rumah sakit saja. Lukamu terlalu parah dan butuh perawatan, dan sepertinya mata kananmu pun mengalami pendarahan lagi."
Nathan tidak mengatakan apapun. Pria itu berjalan menuju mobil Leon yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri, tapi semakin lama Nathan merasakan pandangannya semakin mengabur, tiba-tiba semua menjadi gelap dan akhirnya Nathan tak sadarkan diri.
"Bos!!"
.
__ADS_1
"Uhhh..."
"Oppa, kau sudah sadar?!"
Orang pertama yang Nathan lihat saat dia membuka mata kirinya adalah Aster yang berurai air mata. Lalu pandangan Nathan menyapu, dia berada di ruangan serba putih dengan aroma khas yang menyengat.
"Dimana ini?"
"Rumah sakit, kau jatuh pingsan dan Leon menghubungiku. Sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kau bisa sampai terluka parah seperti ini?"
"Aku mengalami kecelakaan tunggal, aku hilang kendali dan kemudian mobil ku menabrak pohon. Kemudian terguling beberapa kali sebelum akhirnya meledak."
Aster mendesah berat. "Kenapa kau selalu mengemudi dengan ugal-ugalan. Jika sudah begini, lalu siapa yang patut untuk disalahkan?! Sebaiknya kau istirahat saja, lukamu terlalu parah dan Dokter menyarankan supaya kau dirawat saja."
"Tapi~"
"Tapi apa lagi?! Aku tidak mau mendengar penolakan!!"
Nathan mendesah berat. Berdebat dengan Aster memang tidak ada gunanya. Toh pada akhirnya dia juga yang akan kalah. Lebih baik mengalah saja, daripada masalahnya akan berbuntut panjang.
"Kenapa tidak tidur? Dan berhentilah menatapku seperti itu!!"
"Berisik!!"
Aster mempoutkan bibirnya. Bagaimana bisa Nathan mengatainya berisik? Atau mungkin kepala Nathan semakin pusing setelah mendengar ocehannya?! Ya, Aster rasa memang begitu.
"Kalau begitu, Paman istirahat saja. Aku keluar dulu." Aster bangkit dari duduknya kemudian meninggalkan Nathan begitu saja.
Tiba-tiba dia merasa lapar. Dan Aster berencana untuk pergi ke kantin rumah sakit sebentar untuk membeli kue atau makanan ringan namun mengenyangkan. Dia terlalu malas makan, makanan berat.
Harganya sangat mahal tapi tidak terlalu mengenyangkan. Lebih baik makanan murah tapi berkualitas bagus, tang terpenting adalah bisa membuatnya kenyang. Dan Aster tau dimana dia bisa mendapatkan makanan seperti itu.
-
Bersambung.
__ADS_1