
Grepp....
Aster sedikit tersentak saat merasakan sepasang tangan yang memeluknya dari belakang. Sontak wanita itu menoleh, dan sebuah ciuman lembut langsung menyambutnya.
Nathan *****@* singkat bibirnya, tak lebih dari 20 detik. "Apa yang sedang kau lihat?" Tanya Nathan tak lama setelah ia melepaskan tautan bibirnya.
Wanita itu lantas menggeleng seraya menunjuk ke luar, dan yang Nathan lihat adalah kerlap-kerlip lampu kota yang bertaburan bak berlian. "Sama dengan, Seoul. London memang lebih hidup ketika malam hari. Oppa, bukankah pemandangan yang kita lihat saat ini sangat indah?"
"Kau menyukai pemandangan itu?" Aster mengangguk. "Bagaimana jika aku memberikan sesuatu yang lebih indah dari apa yang kau lihat saat ini?"
Sontak saja Aster mengangkat wajahnya dan menatap Nathan penuh tanya. Pria itu menyeringai, sebuah kalung emas putih menggantung di depan wajahnya dengan sebuah liontin cantik berbentuk kelopak bunga sakura, yang bertahtakan berlian dan permata.
"O..Oppa ini?"
"Aku melihatnya di pameran tadi. Dan aku pikir kalung ini sangat cocok untukmu." Ucap Nathan lalu memakaikan kalung itu di leher Aster.
Aster menatap pantulan dirinya dari dinding cermin di depannya. Jari-jari lentiknya merambah permukaan dadanya, lebih tepatnya pada liontin cantik itu. "Ini sangat cantik, Oppa terimakasih." Ucap Aster dengan mata berkaca-kaca.
Nathan tersenyum seraya mengangguk."Sama-sama, Sayang. Aku senang karena kau menyukainya." Kembali Nathan memeluk Aster.
Tak mau kalah dari suaminya. Aster pun mencoba memberikan sesuatu untuk Nathan. Wanita itu melepaskan pelukan Nathan kemudian berbalik, Aster kemudian memeluk leher Nathan, sambil sedikit berjinjit kemudian dia mengecup singkat bibir suaminya.
"Aku sudah selesai, tamuku sudah pergi. Mau melakukannya? Sudah satu Minggu lebih kita tak bercocok tanam."
"Kalau begitu jangan ditunda lagi, dan malam ini aku akan membuatmu menyerukan namaku hingga pagi." Ucap Nathan lalu mengangkat tubuh Aster bridal style dan membawanya menuju tempat tidur.
Nathan tak mungkin lagi bisa menolaknya, sementara dirinya memang sangat menginginkannya. Apalagi sudah lebih dari satu minggu senjata miliknya dianggurkan. Dan malam ini dia akan memuaskan dirinya dengan memakan Aster bulat-bulat.
-
Suara des@han yang berasal dari kamar berpintu elegan itu membuat Leon merinding sendiri. Niatnya ingin menemui Nathan dan menyampaikan hal penting padanya. Tapi dia harus mengurungkan niatnya untuk menemui sang atasan.
__ADS_1
Leon terus saja mondar-mandir di depan kamar Nathan sambil menggigit ujung kukunya. Dia bingung harus bagaimana sekarang. Nekat masuk lalu di habisi oleh Nathan, atau menunggu sampai mereka selesai dengan kegiatannya.
"AAAHHH...!!"
Leon terlonjak kaget mendengar pekikan keras dari dalam sana. Itu adalah suara Aster."Ahhh, Oppa lebih pelan sedikit. Ahhh.. Ahhh... Jangan terlalu cepat, kau membuatku AAHHH... Keluar berkali-kali!!"
"Jangan ada yang ditahan, Sayang."
Leon semakin merinding mendengar suara-suara mengerikan dari dalam sana. Dan tak tahan dengan suara yang dia dengar, akhirnya Leon ngacir pergi dan memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Tentang hal yang akan dia sampaikan bisa besok saja.
"Aish, mereka benar-benar pasangan gila!! Bisa-bisa aku jadi gila jika terus-terusan mendengar des@han dan rintihan mereka."
-
Brugg...
Nathan menjatuhkan tubuhnya di atas Aster setelah melakukan pelep@san. Keringat membanjiri tubuh keduanya. Napas Aster naik turun tak beraturan. Nathan mengecup singkat bibir Aster yang membengkak dan menatap dalam sepasang biner Hazel nya.
"Apa maksudmu akan berhenti mencintaiku di tanggal 30 Februari, Paman?" Tanya Aster meminta penjelasan. "Apa itu artinya selama ini kau tidak mencintaiku dengan sungguh-sungguh?! Katakan, Paman. Hiks, jadi selama ini kau tidak benar-benar mencintaiku?!"
"Tunggu dulu, Aster. Aku belum selesai dan jangan salah paham dulu."
"Siapa yang salah paham, kau sendiri yang mengatakannya. Kau tadi bilang akan berhenti mencintaiku di tanggal 30 Februari."
"Dasar bodoh!! Di kalender tidak ada tanggal 30 Februari." Jawab Nathan dan membuat tangis Aster pecah, bahkan wajahnya langsung memerah karena malu. Dia baru sadar jika memang tidak ada tanggal 30 di bulan Februari.
"Huaaa... Memalukan sekali, Paman kau jahat!!!"
Nathan lantas terkekeh. Kemudian dia menarik Aster ke dalan pelukannya. Bagaimana bisa wanitanya ini begitu polos sampai-sampai tidak menyadari jika di kalender tidak ada tanggal 30 pada bulan Februari.
"Kenapa kau polos sekali, Sayang. Bahkan kau tidak peka jika tidak ada tanggal 30 pada bulan Februari." Ucap Nathan sambil menghapus air mata Aster. Wanita itu menekuk wajahnya, Nathan benar-benar menghancurkan Moodnya.
__ADS_1
"Dasar menyebalkan!!!"
"Maaf. Sebaiknya sekarang kau langsung tidur, kau pasti lelah. Aku keluar dulu sebentar, ada hal penting yang harus aku bicarakan dengan Leon." Nathan mengecup kening Aster dan meninggalkannya begitu saja.
Aster memang sudah mengantuk. Percintaannya dengan Nathan beberapa saat lalu telah menguras banyak tenaganya. Dan dia ingin tidur lebih awal. Masa bodoh dengan Nathan, Aster masih kesal setengah mati pada suaminya itu.
-
"Bos, tadi aku ingin menemui mu. Tapi tiba-tiba aku sakit perut jadi aku urungkan. Aku ketiduran setelah meminum obat."
Leon terpaksa berbohong pada Nathan. Karena jika dia mengatakan yang sebenarnya bisa-bisa pria itu menggantungnya hidup-hidup. Memang tidak seharusnya dia mendengarkan sesuatu yang mengerikan seperti itu tadi.
"Apa yang ingin kau sampaikan padaku?"
"Tunggu sebentar, Bos. Kau bisa melihatnya secara langsung. Aku menemukan keganjilan dalam proyek itu. Dan ternyata dugaan ku benar, ada penghianat dan itu orang dalam. Dia bekerja sama dengan orang Rusia itu, dan ingin membuat nama baikmu hancur Bos."
"Jadi ada seekor kecoa yang ingin bermain-main dengan Singa?! Baiklah, kita ikuti saja permainannya. Awasi saja terus mereka, tapi jangan lakukan apapun tanpa intrupsi dariku. Aku ingin melihat sampai dimana rencana mereka."
"Siap Bos, laksanakan. Tapi Bos, aku memiliki masalah pribadi saat ini dan bisakah kau membantuku?"
Nathan memicingkan mata kirinya dan menatap Leon penuh tanya. "Memangnya masalah apa?" Tanya Nathan penuh selidik. Melihat reaksi Leon membuat Nathan sedikit curiga.
"Anu, Bos. Itu, aku kehabisan uang. Bisakah aku meminta gaji ku bulan ini di muka? Aku ingin membeli sesuatu tapi uangku tidak cukup." Leon merasa tidak enak.
"Jadi itu masalahnya. Aku akan mentransfernya padamu besok pagi. Anggap saja itu sebagai bonus karena kau sudah bekerja dengan baim bulan ini. Kau istirahatlah, ini sudah malam."
Kemudian Nathan bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja. Sedangkan Leon langsung berjingkrak kegirangan di dalam sana. Dia akhirnya bisa membeli salah satu kucing liar incarannya di Garden Bar.
-
Bersambung.
__ADS_1