"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Ekstra Bab (Bag 48)


__ADS_3

Nathan memicingkan mata kirinya, melihat Aster kembali ke kamar dengan wajah muram. Iya Pun beranjak dari duduknya lalu menghampiri wanita itu.


Pernyataan tidak tahu apa yang terjadi sampai-sampai membuat Aster kesal itu. "Ada apa? Kenapa kelihatannya kau sangat kesal?" tanya Nathan.


Aster menoleh dan menatap sinis suaminya itu. "Tanyakan saja pada, Leon. Dan apakah Paman tahu, apa yang telah dia lakukan pagi ini?" nathan menggeleng. "Dia nyari saja membakar dapurku!!" ucapnya.


"Bagaimana bisa?"


"Tentu saja bisa karena dia ceroboh, dan hampir saja aku melempar nya ke jalanan jika saja dia bukan anak buahmu!!"


Nathan menghela nafas berat. Dan lagi-lagi Leon membuat ulah yang membuat Aster kesal Setengah Mati. Dan bukan rahasia jika mereka berdua seperti tikus dan kucing, dan hampir setiap hari ada saja hal sepele yang mereka perdebatkan.


"Sebaiknya berhenti marah-marah dan buatkan kopi untukku!!" pinta Nathan dan membuat Aster semakin kesal. Bagaimana tidak, bukannya menghiburnya Nathan malam memerintahnya.


"Tidak mau, buat saja sendiri!!"


BLAM...


Nyaris saja Nathan terkena serangan jantung dadakan karena ulah Aster. Wanita itu membanting pintu kamar mandi dengan sangat keras. Dan Nathan hanya bisa mengelus dada Seraya menghela nafas.


Pria itu beranjak meninggalkan kamarnya dan pergi ke dapur untuk membuat kopinya sendiri. Disini Nathan hanya memiliki satu pelayan, dan kebetulan pelayannya tidak masuk kerja hari ini.


.


Setibanya di dapur, Nathan melihat keadaan dapur yang seperti kapal pecah. Dan saat ini Leon sedang membersihkannya. Karena jika tidak kembali seperti semula, bisa-bisa Aster marah besar.


Nathan menghampiri asisten pribadinya itu, bukan untuk membantunya tapi karena dia ingin membuat kopi. Itulah alasan kenapa Nathan ada di dapur.


"Bos, Apa kau datang untuk membantuku?"


Sontak Nathan menoleh. "Tidak, aku datang untuk membuat kopi." jawabnya datar.

__ADS_1


"Bos, kau kan tidak memiliki pekerjaan. Bagaimanakah kalau membantuku sebentar?" usul Leon dengan mata berbinar-binar.


Nathan mengangkat bahunya Acuh dan pergi begitu saja setelah selesai membuat kopi. "Kau yang membuat kekacauan, jadi selesaikan saja sendiri." jawab Nathan tanpa menghentikan langkahnya.


Leon menghela nafas berat. Lagi pula mana mau Nathan membantunya. Toh itu bukan pekerjaan yang pantas untuknya, dia adalah seorang bos besar, memang tidak seharusnya dia bersih-bersih di dapur.


-


Aster baru saja selesai mandi, wanita itu memicingkan matanya karena tak melihat sosok Nathan berada di kamar. Kemudian Aster teringat sesuatu, Aster berpikir jika Nathan ada di dapur untuk menyeduh kopi.


Setelah berpakaian lengkap dan merias sedikit wajahnya. Kemudian Aster meninggalkan kamarnya dan pergi ke dapur untuk memastikan Apakah Nathan ada di sana atau tidak.


Dari arah tangga, master melihat binatang yang sedang duduk di ruang keluarga sambil menikmati secangkir kopi yang masih mengepul. Kemudian ia menghampiri suaminya itu yang sepertinya menghiraukan kedatangannya.


Apakah Nathan kesal padanya? Karena dia menolak membuatkan kopi? Ya, Aster rasa begitu. Wanita itu mengambil nafas panjang dan menghelanya. "Paman, kau marah padaku? Maaf aku tadi sangat kesal," ucapnya penuh Sesal.


Lantas Nathan mengangkat wajahnya dan menatap Aster yang berdiri tepat dihadapannya. Nathan menggeleng."Aku tidak marah, apalagi kesal padamu. Hanya saja ada beberapa masalah yang membuatku tidak tenang."


Aster memicingkan matanya."Masalah? Memangnya masalah apa? Apa itu ada hubungannya dengan proyekmu Disini?"


Sebenarnya bukan hanya Nathan yang merasa lapar, tapi Aster juga. Itulah kenapa dia langsung mengiyakan ajakan Nathan tanpa banyak berpikir. Karena Ashar sangat kelaparan.


.


Di tengah perjalanan, Aster dan Nathan di hadang oleh sekelompok pria yang tampak mencurigakan. Salah satu dari mereka menghampiri mobil Nathan dan berpura-pura meminta pertolongan karena ada yang mengalami kecelakaan.


Dan sementara itu...


Nathan dan Aster yang mengetahui trik murahan semacam itu menurut saja, mereka berdua akan mengikuti permainan mereka. Nathan dan Aster bukanlah orang bodoh yang mudah untuk tertipu permainan murahan seperti itu.


"Tuan, Nyonya, tolong di sana ada yang mengalami kecelakaan. Bantu membawanya ke rumah sakit."

__ADS_1


"Kalau begitu segera bawa orang itu kemari, kebetulan jok belakang sedang kosong." pinta Nathan.


"Baik, Tuan tunggu sebentar."


"Cih, dasar trik murahan. Mereka pikir kita berdua orang bodoh.Paman, kita ikuti saja permainan mereka. Aku ingin melihat apa yang sebenarnya mereka inginkan." Nathan mengangguk.


Nathan dan Aster memandang dua orang yang sedang menggotong seorang yang berlumur darah. Bahkan hanya melihat dari penampilannya saja, mereka tahu jika orang-orang itu adalah kelompok perampok.


Diam-diam Aster melirik ketiga orang itu dan memperhatikan gerak-gerik mereka. Aster juga melihat sebuah senjata api terselip di pinggang masing-masing.


Percaya rencananya berjalan mulus, ketiga orang itu pun segera menjalankan rencananya. Mereka mengeluarkan senjata yang terselip di pinggang masing-masing lalu menodongkan pada Nathan dan Aster secara bersamaan.


"Serahkan harta benda kalian, jika ingin tetap hidup!!" pinta salah seorang dari ketiga orang itu.


"Cih, dasar b*jingan bodoh. Benar-benar cari mati rupanya!!" Gerutu Aster.


Aster menarik lengan pria yang menodongkan senjata padanya hingga setengah badan pria itu masuk ke dalam mobil. Tanpa ampun Aster memukul pria tersebut dan terakhir dengan menggunakan lututnya. Hal yang sama juga di lakukan oleh Nathan.


Satu orang yang berdiri di luar langsung tumbang setelah timah panas yang Nathan lepaskan menembus kepalanya. Aster mendorong pria yang mendorong kan senjata tadi hingga tersungkur. Wanita itu keluar dari dalam mobil, sebuah tendangan telak mendarat pada wajah dan kepalanya.


Aster menggunakan pria itu sebagai tameng ketika beberapa orang datang menyerangnya. Alhasil tubuh pria itulah yang tertembak oleh rekannya sendiri, tak main-main, sedikitnya 7 tembakan mendarat mulus pada tubuhnya.


Lalu Aster mengambil alih senjata milik pria tersebut dan balik menembaki 3 orang yang tadi berusaha untuk mengeroyoknya, mereka tumbang, Aster dan Nathan bisa menyelesaikan para perampok itu diwaktu yang nyaris bersamaan.


Nathan dan Aster bukanlah orang yang lemah. Berani mencari masalah dengan mereka sama saja dengan mengantarkan nyawa sendiri pada Iblis.


"Cih, dasar manusia-manusia menjijikkan!!" Gerutu Aster sambil melihat mayat-mayat itu dengan jijik.


"Sudahlah, biarkan saja mereka jadi makanan anjing liar di sini. Ayo, kita sudah mengeluarkan banyak tenaga, dan aku sudah sangat lapar." Ucap Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Aster.


Keduanya melanjutkan perjalanan mereka yang sempat tertunda. Mereka sudah melewatkan waktu sarapan lebih dari 15 menit.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2