
"ASTER!"
Aster yang baru saja tiba di kejutkan dengan teriakan seseorang. Sontak saja Aster menoleh dan mendapati seorang perempuan seumuran dengannya berlari menghampirinya.
"Aster sayang! Apa kabar?" Belum sempat Aster membuka bibirnya, tubuh Tiffany sudah lebih memeluknya di parkiran kampus barunya. Sudah lama Aster tak bertemu dengan teman masa kecilnya ini.
"Wow kau memanggilku 'sayang'?" Aster tersenyum jahil sembari balas memeluk sahabatnya itu.
Kemudian Aster mendekati telinga Tiffany dan membisikkan sesuatu pelan. "Hey hey, kau tidak malu apa berlari dan peluk-peluk aku di depan parkiran kampus seperti ini?"
Tiffany terkekeh setelah mendengar ucapan Aster. "Ah! Okay, kita masuk saja. Aku sudah tidak sabar mendengar banyak kisah darimu." Ujarnya.
Hari ini Aster tampak sangat cantik. Rambut sewarna tembaganya yang lurus sekarang dibuat sedikit bergelombang. Mata hazelnya tampak semakin bersinar dengan auranya yang dewasa.
Tubuh rampingnya dalam balutan dress selutut bermotif bunga setengah lengan. Banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka berdua. Apalagi para pria yang menatap minat pada Aster.
Aster memang memiliki paras yang sangat cantik. Di dukung dengan bentuk tubuh yang indah, kulit seputih dan sehalus porselen, rambut panjang sewarna tembaga, sepasang kaki jenjang yang indah, hingga membuatnya terlihat seperti boneka hidup.
Saking cantiknya dia, sampai-sampai Aster terlihat tak nyata.
"Oya, kapan aku kembali? Aku pikir kau masih berada di luar negeri."
"Aku kembali sekitar satu Minggu yang lalu."
"Lalu kenapa kau tidak menghubungi dan menemuiku?"
"Tidak sempat, aku terlalu sibuk. Aku memiliki sebuah projek yang sangat penting. Dan lebih penting dari urusan apapun yang ada di dunia ini.'
Tiffany memicingkan matanya. "Projek apa?" Tanya gadis itu penasaran.
Aster mengurai senyum misterius. "Projek mendapatkan cinta ayah angkat ku."
Sontak saja kedua mata Tiffany membelalak saking kagetnya. "WHAT!!" Tiffany memekik kencang dan membuat beberapa pasang mata kini menatap mereka. Namun mereka tak peduli, terutama Tiffany.
"Aster, apa kau sudah tidak waras? Astaga, Aster Sayang. Apa dunia ini sudah kehabisan stok laki-laki? Apa tidak ada yang lebih baik dari pada ayah angkat mu? Kau ini masih muda dan seperti berlian, tapi kenapa harus memilih pria tua sebagai pelabuhan hatimu."
Aster memicingkan matanya. "Pria tua?" Tiffany mengangguk. Aster mendengus berat. Ternyata Tiffany menganggap jika ayah angkatnya adalah pria tua yang tidak laku.
Dan Aster berani bersumpah, sahabatnya itu akan langsung pingsan setelah bertemu dengan ayah angkatnya yang super super tampan dan begitu menggoda.
"Jangan asal menyimpulkan sebelum kau bertemu dengannya!! Dan aku berani menjamin kau akan langsung klepek-klepek setelah bertemu dengannya."
__ADS_1
"Aku tidak yakin!!"
"Kalau begitu kita buktikan saja nanti!!"
"Baik, siapa takut!!"
-
Pria itu hanya menatap datar beberapa mayat yang tergeletak di tanah dengan lubang peluru pada kepala dan jantungnya. Darah menggenangi tubuh mereka, bahkan pakaian dan wajah pria itu pun tak luput dari darah.
Dari sekian banyak mayat yang bergelimpangan. Ada satu orang yang terlihat masih bernapas. Sambil merangkak, ia mencoba menghampiri pria yang berdiri sejauh dua meter di depannya.
Susah paya ia meraih kaki pria dengan sorot mata tajamnya tersebut. "Tu-Tuan, to-tolong ampuni saya. Bi-biarkan saya tetep hidup."
Pria itu menyeringai di balik masker hitamnya. Ia mencabut belati yang terselip di pinggangnya lalu mengarahkan pada leher pria didepannya tersebut.
"Tidak ada ampun bagi penghianat seperti kalian!! Dan imbalan yang setimpal dari sebuah penghianatan adalah kematian!! Bereskan mayat-mayat ini dan bakar jasadnya hingga menjadi abu."
"Baik, Tuan."
Pria itu masuk ke dalam mobil mewahnya yang terparkir tak jauh dari lokasi. Setibanya di dalam mobil. Pria itu melepaskan maskernya dan meletakkan asal. Mesin mobil dinyalakan. Dan dalam hitungan detik mobil itu melesat menuju keramaian kota.
-
Seorang pria bertubuh jangkung membukakan pintu untuk Nathan setibanya di di kantor. Pria itu 'Dio' berjalan mengekor di belakang atasannya tersebut.
Dua pria yang sedang menunggu di ruangan Nathan langsung berdiri saat melihat kedatangannya. Mereka membungkuk, begitu pula dengan Nathan. Kemudian Nathan mempersilahkannya untuk duduk.
"Langsung saja pada intinya." Ucap Nathan tanpa banyak basa-basi.
Keduanya pun langsung menyampaikan maksud dan tujuan mereka menemui Nathan. Rupanya mereka ingin mendapatkan kontrak kerja sama dengan perusahaan besar tersebut. Itulah kenapa mereka menemui Nathan secara pribadi.
"Memangnya keuntungan apa yang bisa kalian berikan padaku jika aku menerima kerja sama itu?"
Salah satu dari kedua pria itu memberikan sebuah map pada Nathan. "Anda bisa melihat dan membaca sendiri apa saja keuntungan dari kerjasama kita, Tuan Xiao."
Nathan membelanya sekilas lalu melemparkannya ke atas meja. "Aku tidak berminat. Terlalu bertele-tele dan tampak tak meyakinkan sama sekali!! Keluarlah, aku masih memiliki banyak kerjaan!!" Nathan mempersilahkan kedua tamunya untuk pergi.
"Tapi, Tuan Nathan. Tidak bisakah Anda mempertimbangkan dan memikirkannya terlebih dulu? Kami berjanji, jika Anda mau menandatangi kontrak kerja sama ini. Kami akan berikan banyak keuntungan pada perusahaan ini."
"Keluarlah!!" Pinta Nathan sekali lagi.
__ADS_1
Sadar usahanya untuk mendapatkan kontrak kerjasama itu sia-sia saja. Maka kedua pria itu memutuskan untuk pergi dan meninggalkan ruangan Nathan. Menyisahkan pria itu dan sang asisten.
"Bagaimana dengan hari pertama Aster di kampus barunya?" Nathan mengangkat wajahnya dan menatap Dio dengan serius.
"Nona langsung bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya. Bahkan, Nona muda bertemu dengan sahabat lamanya. Dia juga akrab dengan beberapa teman, dan bahkan saat ini dia menjadi salah satu gadis terpopuler di kampus barunya."
"Awasi dia secara penuh. Kirimkan beberapa Bodyquard untuk menjaganya. Suruh merela mengawasinya dari kejauhan."
"Baik, Boss."
"Apa lagi agendaku hari ini?"
"Satu jam lagi Anda harus menghadiri acara perjamuan makan siang dengan Tuan Lim,"
"Batalkan saja. Dan mulai sekarang dia dan putrinya tidak lagi di terima di perusahaan ini!! Sekarang kau keluarlah dan belikan kopi pahit untukku."
"Baik, Boss."
Nathan memijit keningnya yang terasa pening. Begitu banyak hal yang terjadi hari ini. Nathan meraih ponselnya yang ada di atas meja. Dia mengetuk sebuah pesan singkat pada Aster.
Dalam pesan singkatnya itu Nathan meminta supaya Aster tidak melewatkan makan siangnya. Nathan sangat hapal dengan kebiasaan buruk putri angkatnya tersebut. Aster sering kali melewatkan makan siangnya.
Ting...
Tak lama berselang sebuah pesan balasan masuk ke dalam ponsel Nathan. Aster mengirimkan sebuah foto di mana ia berada di kantin kampus bersama seorang pemuda tampan.
Dalam pesan itu. Aster meminta supaya Nathan tidak mencemaskan dirinya, dia tidak akan melewatkan makan siangnya lagi.
Penasaran siapa pemuda yang bersama putri angkatnya. Nathan memutuskan untuk menghubungi Aster. Panggilannya tersambung namun tidak ada jawaban, dan panggilan Nathan malah di tolak oleh gadis itu.
Ting...
Dan kemudian sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Nathan. 'Aku sedang bersama teman-temanku. Paman, maaf aku tidak bisa mengangkat telfonmu!!'
Nathan mendengus berat. Pria itu meletakkan ponselnya dengan asal dan mengacak rambut coklatnya dengan kasar. Entah kenapa dia merasa begitu kesal karena Aster lebih mementingkan teman-temannya dari pada dirinya.
Nathan menyambar jasnya yang ia letakkan di sandaran kursinya lalu melenggang pergi meninggalkan ruangannya. Tak lupa dia membawa kunci mobil mewahnya. Dan tujuannya adalah kampus Aster.
Di tengah langkahnya Nathan mengirim pesan singkat pada Dio, dan meminta asisten pribadinya itu menggantikan dirinya menghadiri pertemuan penting hari ini.
-
__ADS_1
Bersambung.