
"SUKETI!!"
Aster tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya dengan kemunculan Miss K yang begitu tiba-tiba. Bagaimana tidak terkejut, entah dari mana munculnya si Miss K tiba-tiba saja nangkring di atas mobil Hilman sambil memakan jagung bakar.
Suketi menyodorkan jagung bakar itu pada Aster."Cantik, kau mau?" Tawar hantu gaul bin narsis itu.
"Kau makan sendiri saja. Jika ingin muncul, bisa tidak, tidak usah mengejutkan orang? Bagaimana kalau aku sampai jantungan?!" Sinis Aster sambil menatap Miss K itu dengan kesal.
"Hihihi..."
Aster meringis mendnegar tawa Miss K yang begitu khas tersebut. Sedangkan Hilman merasakan bulu kuduknya langsung berdiri."Aster, kau bicara dengan siapa? Dan kenapa di sini terasa sangat menyeramkan?"
"Tu," Aster menunjuk sosok Suketi yang sedang nangkring di atas mobil dengan dagunya. Hilma mengikuti arah pandang Aster dan....
"SETAN!!!" histeria Hilman sebelum akhirnya jatuh pingsan.
Aster mendengus berat. Aster mencoba membangunkan Hilman dengan kakinya, tapi tidak ada respon dari pria tua itu. Wanita itu mendecih. "Dasar menyebalkan!!"
Aster masuk ke dalam mobil Hilman dan meninggalkan pria itu begitu saja. Sedangkan Miss K masih tetap asik nangkring dia tas mobil sebelum akhirnya menghilang entah kemana.
Sepertinya Miss K memang sangat hobi pulang pergi Indo-Korea. Dan semua itu semata-mata dia lakukan agar bisa bertemu dengan Oppa-Oppa tampan asal negeri ginseng tersebut. Choi Siwon contohnya. Suketi memang sangat menggilai Oppa Oppa tampan.
.
.
.
"PAMAN!! AKU PULANG!!"
Suara Aster memantul dan memenuhi setiap inci di seluruh penjuru ruangan. Tapi tidak ada sahutan, tidak seorang pun di rumah selain para pelayan dan beberapa bodyquard yang berjaga di depan pintu.
Wanita itu memicingkan kedua matanya."Kemana perginya semua orang?" Ucapnya kebingungan. Kemudian Aster menghampiri Paman Kim yang sedang memarahi seorang pelayan karena melakukan kesalahan yang bersifat merugikan.
"Paman, kemana perginya semua orang? Kenapa rumah sangat sepi? Apa Paman Nathan masih belum pulang?"
"Apakah Tuan tidak menghubungi Nona jika beliau pergi ke luar negeri dan baru kembali Minggu depan."
"APA?! PAMAN NATHAN PERGI KE LUAR NEGERI?!" Aster memekik kencang, membuat Paman Kim mau tidak mau harus menutup telinganya.
Paman Kim mengangguk. "Benar, Nona. Sesuatu yang darurat baru saja terjadi, dan hal itu mengharuskan Tuan untuk pergi ke sana."
"Dengan siapa dia pergi? Dan kemana Paman Nathan pergi?"
"Dengan Tuan Leon, dan mereka pergi ke Sidney."
__ADS_1
-
Aster baru saja menginjakkan kakinya di Bandara Udara Sidney 'Australia'. Bandara Sydney merupakan salah satu bandara tertua di dunia yang beroperasi secara terus menerus, dan tersibuk di Australia.
Tanpa mengulur banyak waktu. Aster langsung terbang ke Sidney setelah mengetahui jika Nathan sedang berada di sana.
Dan kedatangan Aster tentu saja di ketahui oleh pria itu karena Paman Kim langsung memberitahunya. Bahkan saat ini Nathan sudah berada di bandara untuk menjemputnya.
"What's the purpose of your visit?"
Aster terlihat sangat gugup saat pria petugas imigrasi menanyakan maksud kedatangannya.
"Uhm, I...."
"On vacation. She is my wife." Sahut sebuah suara tiba-tiba.
Aster menoleh. Kedua matanya langsung berbinar setelah melihat siapa yang datang. Aster meninggalkan kopernya dan berlari menerjang tubuh Nathan.
"Paman, aku merindukanmu." Rengek Aster sambil memeluk Nathan dengan erat.
Nathan mendengus. "Bahkan belum genap sehari kita tidak bertemu." Aster melepaskan pelukannya dengan mendorong tubuh Nathan sambil memanyunkan bibirnya.
"Paman, kau sangat tidak romantis. Seharunya kau juga berlagak dan bersikap seolah-olah kita sudah lama tidak bertemu." Tuturnya.
Sebuah jitakan mendarat mulus pada kepala coklat Aster. Wanita itu meringis sambil mengusap kepalanya yang baru saja di jitak oleh Nathan.
.
.
.
Setibanya di Villa pribadi milik Nathan. Aster langsung mendaratkan tubuhnya pada kasur super nyaman di kamar utama. Sekujur tubuhnya terasa lelah dan sakit semua. Perjalanan panjang Seoul-Sidney memang menguras tenaga dan pikirannya.
"Mandilah dulu, setelah ini akan ku minta seseorang menyiapkan sarapan untukmu. Kau pasti sudah lapar." Nathan meletakkan koper Aster di samping balas sebelah tempat tidur.
Benar kata Nathan. Aster memang sudah sangat-sangat kelaparan, apalagi dia harus melewatkan waktu sarapannya selama satu jam. Dan sekarang cacing-cacing di dalam perutnya sudah menggeliat-geliat minta segera di isi.
Setelah mandi dan sarapan. Aster pergi ke taman belakang untuk menikmati berbagai bunga cantik yang tumbuh subur di sana. Mulai dari bunga mawar, bunga Daisy, dan masih banyak lagi. Selain bunga, ada juga danau buatan yang begitu sejuk dan asri.
"Paman, kenapa kau pergi tiba-tiba dan tanpa memberitahuku?" Aster menoleh, menatap pria yang duduk disampingnya.
"Sesuatu yang mendesak terjadi, dan aku tidak memiliki banyak waktu untuk menghubungimu."
"Memangnya masalah apa itu? Kenapa sampai harus kau sendiri yang pergi ke negeri ini?"
__ADS_1
"Kecelakaan kerja. Beberapa pegawai ku di larikan ke rumah sakit dan lima orang tewas. Ternyata ada yang mengkorupsi dana proyek, hingga keselamatan pekerja tidak diperhatikan."
"Lalu di mana orang-orang itu sekarang? Apakah di kantor polisi?"
"Bukan, tapi di dalam laut. Aku membantai mereka dan membuang jasadnya ke dalam laut."
"APA?!" Aster memekik dan membelalakkan mata saking kagetnya. "Paman membunuhnya?!" Sekali lagi Aster memastikan.
"Memangnya hukuman apa yang layak bagi orang seperti mereka? Bukankah setiap tetes darah harus dibayar dengan darah? Dan nyawa harus di bayar dengan nyawa!!"
Aster merinding. "Kau sangat mengerikan, Paman!!" Nathan mengangkat bahunya dan bersikap acuh. Sudah menjadi prinsip hidup Nathan, jika nyawa harus di bayar dengan nyawa.
"Paman, kau mau kemana?"
"Ayo, aku akan membawamu keliling kota. Banyak tempat menarik di sini."
Seketika mata Aster berbinar setelah mendengar ucapan Nathan. Dengan begitu antusias Aster bangkit dari kursinya lalu memeluk lengan terbuka Nathan dengan erat. Aster sungguh sudah tidak sabar ingin melihat keindahan kota Sidney.
.
.
.
Australia adalah salah satu bagian dunia yang ingin sekali di lihat dan dikunjungi oleh Aster. Sudah sejak lama dia ingin pergi ke sana dan menikmati keindahan negara kanguru tersebut.
Setelah puas berjalan-jalan dan menikmati keindahan kota, dan melihat perkebunan anggur yang sangat luas di Hunter Valley. mereka memutuskan untuk menyaksikan keindahan matahari terbenam berwarna keemasan di Sydney Harbour Brigde.
Ya, Kota Sydney di Australia memang menawarkan banyak tempat wisata yang menjadi daya tarik para pelancong. "Setelah sekian lama, akhirnya impianku untuk berada di negeri ini menjadi kenyataan." Aster menoleh, menatap pada Nathan yang juga menatap padanya.
Nathan menarik tengkuk Aster dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Kepala Aster bersandar pada dada bidang Nathan. Mereka menikmati suasana senja yang mulai terbenam di garis horizon.
"Anggap saja perjalanan kali ini sebagai perjalanan bulan madu kita."
Aster mengangkat wajahnya. "Apakah itu artinya Paman sudah menginginkanku untuk hamil!"
"Jika Tuhan memang menginginkanmu untuk hamil, kenapa tidak?!"
"Lalu Paman ingin memiliki anak laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki ataupun perempuan bagiku sana saja. Itu tidaklah penting, yang penting kalian sehat."
"Kalau begitu kita harus lebih sering lagi melakukannya supaya aku bisa cepat hamil!!"
Nathan mendengus. Dengan gemas dia menjitak kepala Aster. "Dasar m*sum." Alih-alih marah. Aster malah terkekeh, wanita itu berhambur ke dalam pelukan Nathan. Mereka kembali menikmati senja di ujung barat sana.
__ADS_1
-
Bersambung.