"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Teror Di Kota


__ADS_3

Pembunuhan masal terjadi disalah satu Universitas di kota Seoul.


Gadis itu menahan napasnya dalam-dalam begitu ia selesai menonton sebuah berita di televisi yang sedang dia tonton saat ini.


Berita pada salah satu saluran televisi itu membuat bulu kuduknya merinding, sekaligus juga rasa takut yang tiba-tiba muncul di dalam benaknya.


Pasalnya bukan pertama kalinya Aster menonton berita mengerikan seperti itu di televisi, ini mungkin sudah yang kesekian kalinya, hanya saja kasusnya terjadi di tempat yang berbeda. Pertama di mall, kemudian di rumah sakit, dan sekarang di universitas.


Saat ini, Seoul sedang berada dalam keadaan mencekam, di bawah serangan teror. Pembunuhan masal terjadi di kota yang sama sebanyak dua kali berturut-turut dalam waktu sebulan ini.


Dan berita itu tentu saja menggemparkan semua orang, membuat orang-orang menjadi super was-was dengan keadaan sekitar mereka.


Sejak semalam, turun ke jalan pula menjadi hal yang menakutkan, anak-anak tidak bisa lagi pergi ke sekolah dengan perasaan yang aman, karena teror tersebut terjadi tanpa mengenal tempat dan waktu.


"Aster, apa yang kau lihat? Kenapa wajahmu tiba-tiba pucat begitu?" Tanya Nathan yang baru saja pulang kerja dan mendapati sang putri angkat tengah duduk termenung di ruang keluarga.


Aster mengangkat wajahnya kemudian menghampiri Nathan dan langsung memeluknya.


"Paman, baru saja telivisi menayangkan sebuah berita yang sangat mengerikan. Dan aku agak sedikit takut."


Nathan memicingkan matanya. "Apa itu? Pembunuhan masal?" Tanya Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Aster.


"Kali ini di Universitas Chung-Ang." Jawabnya.


"Aster, untuk sementara sebaiknya kau tidak kuliah dulu. Paman, tidak bisa tenang sebelum pelaku terornya tertangkap."


"Tidak perlu berlebihan, Paman. Semua akan baik-baik saja, lagipula tidak ada alasan bagi mereka untuk melakukan teror di Seoul University 'kan?"


"Tapi tetap saja, Aster!! Paman-"


Bibir Nathan lebih dulu di bungkam oleh Aster sebelum pria itu melanjutkan kalimatnya. Awalnya Nathan terkejut dengan tindakan gadis itu. Namun detik berikutnya ia bisa menerima ciuman tersebut, bahkan dia membalasnya.


Sama halnya Nathan. Aster pun merasa cemas dan tidak tenang. Namun dia mencoba untuk bersikap tenang. Dia tidak ingin membuat Nathan semakin mencemaskannya.


Memangnya siapa yang tidak takut dengan pembunuhan? Orang yang masih punya akal dan logika, pasti tidak menginginkan adanya hal tersebut di sekitar mereka. Lebih dari seratus orang menjadi korban dalam pembunuhan masal yang sudah terjadi.


Tidak diketahui siapa pelakunya, tapi semua orang berharap agar dalang dibalik teror mengerikan tersebut cepat diketahui dan di hentikan, jika tidak, mungkin akan ada lebih banyak lagi nyawa yang melayang di Seoul.


"Aku lapar. Paman, bagaimana kalau kita keluar cari makan? Aku ingin makan malam di luar." Rengek Aster sambil mengundang lengan Nathan.


Nathan mendengus. Sebuah jitakan mendarat mulus pada kepala Aster. "Baiklah, kau ingin makan malam di mana?" Tanya Nathan pada putri angkatnya.


"Play-Food Cafe," jawabnya antusias. "Tapi, Paman. Bisakah kau mengganti pakaianmu? Aku tidak suka Paman memakai kemeja ini, bagaimana kalau aku saja yang menyiapkannya untuk Paman?" Aster menatap Nathan penuh harap.

__ADS_1


Melihat ekspresi Aster membuat Nathan tidak tahan untuk tidak menjitak kepala coklatnya. Dan tanpa Aster mengatakannya pun, tentu Nathan sudah tau pakaian seperti apa yang Aster maksud.


"Hn, terserah kau saja."


Aster bersorak kegirangan. Gadis itu segera berlari menuju kamar Nathan yang ada di lantai dua.


Dan Nathan hanya menggeleng melihat tingkah putri angkatnya. Melihat senyum ceria di wajah Aster membuat hati Nathan menghangat.


.


.


.


"Wow, Amazing,"


Aster tak mampu berkedip sedikit pun ketika melihat Nathan keluar dari kamar dengan pakaian pilihannya. Sebuah tanktop putih yang di bungkus Long Vest hitam yang senada dengan celana jeans-nya.


Nathan terlihat begitu tampan dalam balutan pakaian pilihannya. Di tambah benda hitam bertali yang masih setia melekat di mata kanannya sejak 9 hari yang lalu membuatnya terlihat semakin cool dan misterius.


"Sampai kapan kau akan menatap, Paman seperti itu? Lihatlah, bola matamu hampir saja keluar." Nathan menyentil kening Aster saking gemesnya.


Gadis itu terkekeh. Aster mengusap keningnya yang baru saja disentil oleh Nathan. "Siapa suruh Paman sangat tampan dan begitu mempesona." Gadis itu mengalungkan kedua lengannya pada leher Nathan.


Aster memicingkan matanya. "Memangnya kenapa? Bukankah mereka sudah biasa melihat kita seperti ini." Tuturnya.


"GAVIN, RIO!! KALIAN BENAR-BENAR KURANG AJAR!!"


Perhatian Aster dan Nathan teralihkan seketika. Keduanya menoleh pada sebuah pintu bercat coklat yang ada di dekat tangga. Itu adalah kamar Maya.


Baik Nathan maupun Aster, mereka sama-sama tidak tau apa yang tengah di lakukan oleh Gavin dan Rio pada dua orang yang ada didalam ruangan tersebut.


Aster melepaskan pelukannya pada Nathan kemudian berlari menuju kamar Maya, diikuti Nathan yang berjalan mengekor di belakangnya.


"GAVIN!! KAU SUDAH BOSAN HIDUP YA?!" teriak Maya penuh emosi.


Dan setibanya mereka di dalam. Aster dan Nathan di suguhi sebuah pemandangan yang lebih dari cukup untuk mengocok perut mereka. Maya dan Ella yang sedang dalam keadaan tidak berdaya, dikerjai habis-habisan oleh mereka berdua.


Gavin dan Rio melukis tubuh mereka 'Ella dan Maya' hingga terlihat seperti badut, apalagi dengan hidung tomat dan wig warna warni.


"Yakk!! Berhenti memotret, sialan!!! Kau sudah bosan hidup ya?!" Maya berteriak sekali lagi.


Tangannya terikat jadi Maya tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah menerima apa yang kedua pemuda itu lakukan padanya. Begitu pula dengan Ella.

__ADS_1


"Diam-lah, Bibi!! Apa kau tidak tau seberapa cantiknya dirimu saat ini?!" Ucap Rio.


"Kkyyyaaa... Postinganku langsung mendapatkan jutaan like dan ribuan koment dalam waktu kurang dari satu menit." Gavin berseru bangga.


"Hahaha... Pantas saja, kau menawarkan jasa badut gratis." Rio mengomentari sambil tertawa terbahak-bahak.


"Kalian benar-benar keterlaluan!! Kalian semua bocah setan!!!"


Nathan dan Aster sama-sama mendengus. Mereka tidak mau terlalu ambil pusing sama kelakuan mereka berdua. Bahkan Nathan tak berniat menegur apalagi menghentikan mereka berdua. Nathan menepuk bahu Aster, memberi kode pada gadis itu dan mengajaknya keluar.


.


.


.


Mobil sport hitam yang di kemudian oleh Nathan melaju sedang pada jalanan kota yang legang. Nathan sengaja mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang karena ingin menikmati perjalanannya bersama Aster.


Di sampingnya, Aster tengah menikmati pemandangan kota melalui kaca mobil yang dibiarkan terbuka.


Aster menutup matanya, merentangkan sebelah tangannya ketika sejuknya angin menerpa wajah cantiknya. Aster sangat menyukai perjalanan seperti ini, apalagi itu bersama Nathan. Karena ia bisa menciptakan begitu banyak moment indah bersama ayah angkatnya tersebut.


"Aster, apa yang kau lakukan?" Kaget Nathan ketika Aster tiba-tiba saja berdiri sambil merentangkan tangannya. "Turun sekarang juga, itu berbahaya!!" Peringat Nathan namun di abaikan oleh Aster.


Aster menoleh pada Nathan. "Tenanglah, Paman!! Aku akan baik-baik saja, lagipula kau mengemudikan mobilnya juga tidak terlalu kencang."


Dan Nathan hanya bisa mendengus pasrah."Keras kepala!!" Gadis itu terkekeh geli melihat ekspresi Nathan yang sedang kesal.


Mobil Nathan tidak lagi melaju di jalanan perkotaan yang padat kendaraan dan penuh dengan gedung-gedung tinggi pencakar langit. Melainkan jalanan


CKITT....


Nathan melakukan rem mendadak karena adanya sebuah pohon tumbang tepat di tengah jalan. Hingga mau tidak mau pria itu harus turun dari mobilnya begitu juga dengan Aster.


Dan diluar dugaan. Sedikitnya sepuluh orang tiba-tiba keluar dari balik semak-semak dan menodong mereka dengan senjata api dan senjata tajam.


Tak ada ekspresi panik sedikit pun pada raut wajahnya. Nathan terlihat begitu tenang, namun tidak dengan Aster. Aster panik? Tentu saja, dia sangat-sangat panik sekarang.


"Paman, bagaimana ini?"


"Tutup matamu dan coba-coba membukanya. Kau tidak boleh melihat apa yang seharusnya tak kau lihat!! Paman akan membereskan mereka dengan segera!!"


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2