
Kepoin Yuk New Novel Author di akun ke 2 JESSICA_226
-
Suara burung berbunyi nyaring menyambut datangnya sang mentari di pagi yang cerah ini, berusaha untuk membangunkan setiap insan manusia yang masih nyaman terlelap di atas ranjang empuknya, supaya tidak melewatkan momen terindah yang tercetak jelas pada saat pagi hari seperti ini.
Disebuah kamar yang tidak bisa dikatakan biasa-biasa saja. Seorang wanita terlihat menggeliat dalam tidurnya. Disampingnya sosok tampan terlihat masih terlelap sambil memeluknya.
Kelopak matanya terbuka perlahan, memperlihatkan sepasang mutiara hazel yang sangat indah namun terlihat redup. Maklum, dia baru saja membuka matanya setelah terlelap sepanjang malam.
Wanita itu merubah posisinya, ia dan si pria kini tidur dalam saling berhadapan. Aster membuka mata terlebih dahulu kemudian mengamati wajah itu, benar-benar tampan.
Rasanya dari sekian banyak lelaki yang pernah ditemuinya, Nathan memang yang paling tampan. Wajahnya begitu indah dengan hidungnya yang mancung terpahat sempurna, rahangnya begitu tegas, rambutnya dicat warna blonde.
Aster mengangkat tangannya, jari-jari kecilnya menyentuh permukaan halus wajah Nathan yang matanya masih terpejam itu, jemarinya terus turun, kulit itu begitu halus, Aster tersenyum menikmati jarinya yang menjejak disana hingga perlahan sang empu membuka mata.
Aster sudah hendak menarik diri ketika tangannya dicekal, pergelangannya ditarik dan ia jatuh menimpanya.
"Aku sudah sepakat untuk tidak membuatmu tidak bisa berjalan lagi, jadi jangan menggoda atau aku akan mengajukan tuntutan padamu, Nona Xiao." Aster terkekah seraya menumpukan dagunya pada dada lebar Nathan.
"Jangan aneh-aneh Paman. Aku hanya menyentuh wajahmu, apa itu bisa disebut menggoda? Kau berlebihan" Aster kemudian bermain disana, membuat pola abstrak tepat di pipi dengan bibir Nathan yang selalu tampak menggoda di matanya.
"Karena itu aku, maka jawabannya adalah iya" Nathan mengecup bibir Aster lalu punggung tangannya, memeluk wanita yang terbaring diatasnya sangat erat. "Aku akan memelukmu seperti ini, setiap hari."
"Bukankah kau memang selalu memelukku seperti ini, Paman!!"
Mulutnya menyeru kata A lalu tertawa renyah."Benarkah, bagaimana mungkin aku tidak mengingatnya?" Aster mendecih. Dia hendak beranjak dari atas tubuh Nathan, namun di tahan oleh pria itu.
"Jangan pergi, tetaplah seperti ini."
Hening, Aster kembali sibuk mengamati pahatan yang terlihat begitu indah. Nathan menyamankan dirinya dan kembali terpejam.
Menikmati setiap sentuhan Aster pada wajahnya, rasanya Nathan ingin berterimakasih pada hembusan angin yang semakin membesar, itu membuatnya lebih merapatkan diri.
"Kau sangat tampan, Paman. Bahkan dengan benda hitam sialan ini." Bisik Aster, jari-jari lentiknya terus bermain di atas mata kanan Nathan.
__ADS_1
Lalu gerakannya semakin turun lagi. Gerakan jemari itu terhenti tepat dibawah bibir Nathan yang selalu menggoda dimatanya, sedikit Aster memajukan jarinya dan Nathan mencium jari lentik itu.
Nathan kembali membuka mata kirinya, menatap sebentar pada manik mata cantik di atasnya. "Tampan? Hal yang sangat tidak berguna, aku tidak butuh ketampanan." Ucap Nathan sambil terus menciumi jari-jari lentik wanitanya.
Aster mendengus. "Berhentilah bicara omong kosong, Paman. Sangat jelas jika semua lelaki menginginkan itu. Dasar pembohong!!" Ucapnya menegaskan.
Nathan terkekeh geli. Ditariknya tengkuk Aster dan sebuah ciuman mendarat mulus pada bibir tipis menggodanya. "Sayang, Menyingkirkan dulu. Paman mau mandi." Aster mengangguk. Kemudian dia beranjak dari atas tubuh Nathan.
"Ikut."
"Mau mandi bersama?" Aster mengangguk antusias.
"Baiklah, ayo." Dengan sumringah Aster pun menyusul Nathan ke kamar mandi
-
"Ahhh, kenapa kepalaku rasanya ingin pecah?" Marta mencengkram kepalanya yang serasa ingin pecah. Wanita itu mencoba bangkit dari berbaringnya. Marta terkejut saat mendapati dirinya berbaring di lantai.
Marta memperhatikan sekelilingnya. Dia benar-benar tidur di lantai. Marta mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Dan kedua matanya lantas membelalak sempurna saat dia teringat sesuatu.
"Aaaaahhhh..."
"Bibi, ada apa? Kenapa kau berteriak?"
"A..apa di rumah ini ada hantunya? Se..semalam aku didatangi tiga hantu aneh, dan mereka sangat menyeramkan."
"Hantu?" Rio mengulang ucapan Marta. Wanita itu mengangguk.
"Ahh, pasti si Suketi dan dua suaminya. Itu benar Bibi, di rumah ini memang ada hantunya dan itu sangat menyeramkan. Dan mereka suka menampakkan diri pada orang baru di rumah ini." Tutur Gavin memaparkan.
"A..apakah hantu itu satu wanita dan dua laki-laki?" Tanyanya.
Gavin mengangguk. "Betul sekali. Dan sebaiknya kau berhati-hati. Jangan membuat masalah kalau tidak mau di ganggu terus oleh mereka. Sebaiknya Bibi cepat mandi, bibi bau ompol."
Dan ucapan Rio langsung menyandarkan Marta jika dia telah terkencing di celana. Hal itu karena dia sangat ketakutan setengah mati. "Aaakkhh...!! Ini semua karena hantu-hantu sialan itu!!"
-
__ADS_1
"Paman, lepaskan dulu Jas itu. Aku ingin kau mencoba long Vest ini dulu."
Nathan membuka kembali jasnya lalu menerima long Vest yang Aster berikan padanya. "Sangat pas ukurannya. Kapan kau membelinya?" Tanya Nathan.
Aster menggeleng. Kemudian wanita itu menghampiri Nathan dan berdiri tepat didepannya.
"Aku tidak beli, tapi menjahitnya sendiri. Karena aku ingin memberikan yang special untuk, Paman. Selamat ulang tahun suamiku tersayang." Ucap Aster dengan senyum mengembang lebar di bibirnya.
Nathan menarik lengan Aster dan mencium bibirnya. Sebelah tangan Nathan menekan bagian tengkuk Aster, sedangkan sebelah tangannya lagi memeluk pinggang wanita itu dengan erat.
Kelopak mata Aster tertutup perlahan, wanita itu mengangkat kedua tangannya dan kemudian mengalungkan pada leher Nathan. Ciuman Nathan yang semula lembut sekwtika berubah menjadi ciuman panas yang menuntut.
Namun ciuman itu tidak lebih dari 30 detik. Nathan tersenyum tipis. Di raihnya tengkuk Aster lalu membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Menjadikan kepala coklat Aster sebagai sandaran kepalanya.
"Terimakasih, Sayang. Kado ini sangat berarti untukku, dan ini menjadi kado terindah yang pernah aku dapatkan dariku, setelah mendiang anak kita pastinya."
Aster menutup matanya. Wanita itu mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Nathan. Hatinya menghangat, apa yang tidak bisa dia dapatkan dari orang lain. Selalu bisa Aster dapatkan dari Nathan, yakni sebuah kebahagiaan.
"Paman, aku lapar. Ayo kita sarapan." Nathan tersenyum dan kemudian mengangguk.
"Baiklah, Sayang," Nathan merangkul pundak Aster. Keduanya berjalan beriringan meninggalkan kamar.
-
Mobil yang ditumpangi oleh Nathan dan Aster dihadang oleh segerombolan orang tak dikenal. Tak main-main. Jumlah mereka lebih dari 30 orang.
Nathan tidak tau siapa mereka dan dari organisasi mana, sampai sosok Bastian hadir ditengah-tengah gerombolan tersebut.
Kepanikan mulai terlihat jelas di wajah Aster. Sedangkan Nathan tampak tenang meskipun kecemasan tersirat pada sorot mata tajamnya. Bukan hal lain yang Nathan cemaskan, namun Aster.
Jika terjadi hal buruk padanya, lalu bagaimana dengan Aster? Jumlah mereka tidak sedikit, sedangkan Nathan hanya sendiri. "Paman, bagaimana ini? Jumlah mereka sangat banyak." Ucap Aster yang tampak cemas.
"Hubungi Leon, dan beritahu dia jika kita membutuhkan bantuan darinya." Aster mengangguk. Dia pun segera menghubungi Leon seperti yang Nathan perintahkan.
Dan sementara itu... Di luar sana, Bastian terlihat menyeringai tajam ke arah Nathan. Dia yakin seyakin-yakinnya. Kali ini Nathan tidak akan lolos darinya, mengingat dia hanya sendiri.
"Nathan Xiao, kali ini tidak akan ku biarkan kau pergi dalam keadaan hidup-hidup!!"
__ADS_1
-
Bersambung.