"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Dia Adalah Kekuatanku


__ADS_3

Hari ini akhirnya tiba juga. Hari di mana Kakek Billy dan Kakek Hendy harus kembali ke luar negeri. Sedangkan Marta memilih untuk tetap tinggal dengan alasan dia masih ingin lebih lama di kota kelahirannya.


Gavin, Rio, Marta dan Nenek Xiao mengantarkan mereka ke bandara. Hanya Nathan dan Aster yang tidak bisa ikut.


Bukan karena tidak bisa, Aster masih belum bisa berjalan dengan benar karena kegilaan Nathan. Padahal sudah empat hari berlalu. Sedangkan Nathan harus bertemu seseorang untuk sebuah urusan.


Bosan mulai menghinggapi perasaan Aster. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain berguling di atas tempat tidurnya tanpa ada kejelasan apalagi hal menarik yang bisa dia lakukan.


"Uuuh~ aku bosan!" teriak Aster dengan nada sedikit meninggi.


Suaranya yang lumayan cempreng itu membahana di rumah keluarga Xiao yang sunyi senyap. Karena tidak ada seorang pun anggota keluarga yang ada di rumah, selain para pelayan yang sibuk dengan keperjaan mereka masing-masing.


Waktu masih menunjukkan pukul sembilan pagi, dan ia telah merasakan kejemuan yang amat sangat. Dan sekali lagi Aster ingin mengutuk Nathan yang sudah membuatnya terkurung di dalam kamar selama berhari-hari.


"Paman Nathan, kau benar-benar sangat keterlaluan!! Kau menyebalkan, sangat-sangat menyebalkan!!"


Namun sekeras apapun Aster berteriak, tentu suaranya tidak akan didengar oleh Nathan.


-


"Nathan Xiao!! Akhirnya kita bertemu lagi!"


Iris cokelat itu bertemu dengan iris hitam di depannya, dahi Nathan mengernyit. Ada seorang laki-laki bertubuh tinggi kelar, berkulit putih, dan berambut hitam legam. Mereka saling berhadapan dengan saling melemparkan tatapan tajam mematikan.


Sebenarnya bukanlah hal mengherankan saat ada seorang memanggil namanya. Oh ayolah, dia adalah Nathan Xiao, dan semua orang yang berasal dari dunia bawah sudah pasti tahu tentang dirinya.


Bahkan Nathan dan anak buahnya sudah sering terlibat baku hantam dengan orang yang tak jelas, dari mafia yang tak jelas, dan permasalahan yang juga tak jelas juga. Begitu lawannya memulai, maka Nathan akan langsung membalas dengan telak.


Begitulah kehidupan para mafia, mereka tak akan meninggalkan medan pertempuran walau lawan mereka tak ada kejelasan.


Terdengar sedikit bodoh memang, tapi juga jantan bukan? Hanya sedikit orang yang bisa bertahan dalam kehidupan seperti itu, kehidupan kejam dan penuh dengan pertumpahan darah, salah satunya adalah Nathan.


"Sebastian Zhong. Tidak disangka akhirnya kita bertemu dan saling bertatap muka secara langsung. Aku salut padamu, setelah bersembunyi bertahun-tahun seperti seorang pengecut, akhirnya kau berani menampakkan batang hidungmu juga."


"Apakah kau sudah memiliki kemampuan untuk melawanku?" Nathan menyeringai, menatap Bastian dengan seringai meremehkan.


"Kau memang tidak pernah berubah sama sekali, Nathan Xiao. Dingin, sombong, arogan dan bermulut tajam. Dan ketahuilah, kali ini aku kembali sebagai neraka mu!!"


"Benarkah? Bahkan aku masih bisa melihat ketakutan di matamu, dan kau masih begitu percaya diri untuk bisa mengalahkan ku? Sangat menarik."

__ADS_1


Bastian mengeram emosi. "Berhentilah bersikap sombong dan arogan, Nathan Xiao. Memangnya apa yang bisa kau lakukan jika aku sudah mengetahui kunci dari kelemahan-mu!! Aster Xiao, bukankah dia adalah kelemahan-mu?!"


"Kau salah, dia bukan kelemahan-ku, tapi dia adalah kekuatanku. Dan aku tidak akan segan-segan untuk meledakkan kepalamu jika kau sampai berani melibatkannya!!"


"Kita lihat saja, apakah kau bisa selalu melindunginya!!"


Doorrr...


Nathan melepaskan sebuah tembakan pada Bastian. Dan amunisi yang baru saja dia lepaskan bersarang pada perut sebelah kanan Bastian. Membuat pria itu meringis dan nyaris saja tumbang.


"Itu hanya sebuah peringatan kecil untukmu. Dan aku tidak bisa menjamin kau akan tetap hidup jika berani menyentuhnya!!"


"NATHAN XIAO, AKU AKAN MEMBUNUHMU!!"


Doorrr...


Tranggg...


Nathan membelokkan peluru yang melesat kearahnya hanya dengan sebuah pisau komando. Nathan sudah menduganya jika Bastian pasti akan melancarkan serangan balik padanya.


Kedua mata Bastian membelalak saat sebuah pisau komando melesat kearahnya dan dalam kecepatan tinggi.


"Aaahh." Bastian meringis, pisau itu menancap pada bahu kanannya.


Bastian pun jatuh terkulai karena luka tembak di perut dan luka pada bahu kanannya. Sedangkan Nathan meninggalkan Bastian begitu saja.


Pria itu pun akhirnya tak sadarkan diri. Dan hal terakhir yang dia lihat adalah kedatangan seorang anak buahnya yang berlari menghampirinya.


-


Sebuah Bugatti La Voiture Noire baru saja memasuki halaman luas sebuah mansion mewah berlantai tiga. Seorang pria tampan dalam balutan setelan jas hitam mewah, baru saja keluar dari balik kemudi.


Pria itu berjalan masuk dan kedatangannya disambut oleh seorang kepala pelayan yang pastinya adalah Kim Dan.


"Tuan, Anda sudah kembali. Dari pagi Nona terus uring-uringan, beliau berteriak dan menyumpahi Anda dengan berbagai sumpah serapahnya."


Pria itu 'Nathan' terlihat menghela napas. Dia tau apa alasan Aster begitu kesal. "Hn, aku akan menemuinya." Paman Kim mengangguk, lalu memberikan jalan pada Nathan untuk lewat.


-

__ADS_1


Cklekk...


Dengan enggan Aster memutar lehernya saat mendengar decitan suara pintu di buka. Raut wajahnya yang sudah suram, semakin suram melihat siapa yang datang.


Nathan melepaskan jasnya lalu menghampiri sang istri tercinta. "Aku dengar dari Paman Kim kau terus saja uring-uringan tidak jelas. Ada apa, hm?" Nathan mengangkat dagu Aster lalu mengecup singkat bibir tipisnya.


Aster mendecih sebal. "Masih tanya lagi, seharusnya Paman tau apa alasanku uring-uringan dari pagi. Aku bosan Paman, aku sudah seperti tahanan, dan aku ingin menghirup udara segar di luar." Ujar Aster setengah merengek.


"Baiklah, ayo kita ke taman belakang." Nathan mengangkat tubuh Aster bridal style dan membawanya menuju taman belakang.


Cuaca hari ini tidak terlalu terik, jadi mereka bisa bersantai sejenak di sana. "Paman, apa ini tidak terlalu memalukan? Lihatlah, para pelayang memperhatikan kita."


"Memangnya kenapa? Mereka harus terbiasa."


Dan sementara itu...


Marta yang baru saja kembali dari Bandara langsung di suguhi sebuah pemandangan yang sukses membuat hatinya terbakar. Dia kesal sekaligus cemburu melihat bagaimana cara Nathan memperlakukan Aster. Pria itu begitu manis padanya.


Tangan Marta terkepal kuat. Kekesalan benar-benar terlihat dalam binar matanya. Dia tidak tau setan apa yang sudah merasuki Nathan sampai-sampai dia lebih memilih perempuan seperti Aster, padahal yang jauh lebih baik dari dia itu banyak.


"Menyebalkan, kenapa mereka harus selalu mengumbar kemesraan sih?!" Keluhnya kesal. Namun tidak ada sahutan, karena memang tidak ada siapapun di sana. Hanya dirinya sendiri.


Ditanam, Aster terlihat begitu bahagia setelah terkurung selama 4 hari, akhirnya bisa menghirup udara segar lagi. Bodoh, kenapa tidak dari kemarin-kemarin saja dia meminta Nathan membawanya keluar kamar.


"Aster, Paman memiliki sesuatu untukmu."


"Benarkah? Apa itu?" Tanya Aster begitu antusias.


Nathan merogoh saku celananya lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil yang di dalamnya terdapat sebuah kalung berlian dengan kelopak bunga mawar sebagai liontin-nya.


"Selamat ulang tahun, Sayangku. Maaf, aku tidak bisa memberikan kejutan yang lebih baik dari ini." Ucap Nathan penuh sesal. Bukannya Nathan tidak bisa, pesta meriah hanya akan mengundang petaka mengingat seberapa banyak musuh yang dia miliki di dunia ini.


Aster menggeleng. Wanita itu menghapus air matanya dan langsung berhambur ke dalam pelukan Nathan. "Tidak, Paman. Ini sudah lebih dari cukup untukku. Terimakasih karena selalu mengingat hari ulang tahunku, dan memberikan hadiah terindah setiap tahunnya. Sekali lagi terimakasih."


"Sama-sama, Sayang." Jawabnya berbisik.


Nathan melepaskan pelukan Aster. Kedua tangannya menangkap wajah wanitanya. Lalu sebuah ciuman mendarat mulus pada bibir ranum tipisnya. Dan melalui ciuman itu, Nathan ingin agar Aster tau, seberapa besar cinta yang dia miliki untuknya.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2