"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Cinta Sepihak


__ADS_3

Sebuah Lexus LC500 yang di kemudikan oleh seorang gadis, terlihat memasuki halaman luas sebuah mansion mewah yang memiliki tiga lantai.


Di belakang mobil mewah itu, sebuah Bugatti La Voiture Noire, juga terlihat memasuki halaman dan berhenti di samping mobil sport mewah yang di kemudian oleh gadis tersebut.


Pintu mobil di buka dari dalam. Sosok dara jelita yang tampak anggun dalam balutan dress hitamnya keluar dari mobil tersebut. Siapa lagi jika bukan Aster. Ya, Aster baru saja mendapatkan mobil baru impiannya.


"NENEK BUYUT!! LIHATLAH, PAMAN NATHAN BARU SAJA MEMBELIKAN MOBIL BARU UNTUKKU!!"


Hampir saja Nathan mengalami tuli dadakan karena ulah Aster. Gadis itu tiba-tiba saja berteriak, dan parahnya lagi dia berteriak tepat di dekat telinganya. Dan Nathan hanya bisa mengelus dada karena ulah putri angkatnya tersebut.


"HUAAA....!!"


Gavin dan Rio langsung terperangah melihat bagaimana mewah dan bagusnya mobil baru milik Aster. "Nunna, ini sangat bagus. Lain kali kami boleh meminjamnya, kan?" tanya Gavin tanpa menatap lawan bicaranya. Dia fokus pada mobil itu.


"Kalian tidak perlu meminjam mobil dariku. Karena Paman Nathan juga membelikan untuk kalian berdua. Itu, mobil kalian sudah tiba." Rio dan Gavin mengikuti arah tunjuk Aster.


Kedua mata mereka langsung membelalak, melihat dua mobil mewah memasuki halaman. Mobil itu sejenis dengan mobil milik Aster, hanya berbeda warna saja.


"Paman, sungguh itu mobil untuk kami?" Nathan mengangguk. "Huaaa..." Dan keduanya berhambur memeluk Nathan saking bahagianya.


Gavin dan Rio sungguh tidak menduga bila Nathan akan membelikan mobil baru untuk mereka. Dan impian mereka untuk memiliki kendaraan sendiri akhirnya menjadi kenyataan.


"Kalian bisa memiliki mobil itu dengan satu syarat. Kalian harus memberikan prestasi terbaik kalian, belajar dengan sungguh-sungguh dan jangan pernah mengecewakan Paman."


Kedua pemuda itu mengangguk. "Baik, Paman. Kami berjanji." Jawab keduanya dengan kompak.


"Aster Sayang, Nenek buyut di sini..."


"Ya Tuhan, Nenek buyut!!" Aster memekik keras melihat nenek Xiao tiba-tiba saja muncul dengan style masa kininya. Dan warna-warna cerahlah yang menjadi pilihannya.


Aster meringis ngilu melihat bagaimana penampilan nenek Xiao yang begitu menyilaukan mata.


"Nenek buyut, kenapa semakin hari penampilanmu semakin mengerikan saja?" komentar Aster melihat penampilan nenek buyutnya.


Nenek Xiao memperhatikan penampilannya sendiri dan mengerutkan dahi bingung."Kenapa? Nenek buyut rasa, tidak ada yang salah dengan penampilan Nenek buyut." Tuturnya.


Lalu pandangan nenek Xiao bergilir pada Nathan. "Nathan, mana kunci motor sportmu? Nenek mau jalan-jalan dengan motor itu." Nenek Xiao mengulurkan tangannya pada Nathan.


Nathan mendesah berat. Dia benar-benar tidak tau jalan pikiran nenek jaman sekarang. Bagaimana bisa penampilan dan perilakunya menyimpang jauh dari usianya. Jiwanya bisa begitu bergejolak layaknya anak muda.


"Aku sudah tidak memiliki motor sport lagi. Aku sudah lama menjualnya. Jika Nenek mau pergi, Nenek bisa meminta supir untuk mengantar kemana pun Nenek mau."

__ADS_1


"Dan sebaiknya ganti pakaianmu, kenakan pakaian yang lebih pantas!!" Nathan kemudian beranjak dari halaman dan pergi begitu saja. Keputusannya adalah hal yang mutlak dan tidak bisa di bantah.


.


.


Nathan menanggalkan long vest dan kemejanya dari tubuhnya, menyisahkan singlet putih yang melekat pas di tubuh kekarnya. Pria itu mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya lalu menyulutnya.


Kepulan asap putih keluar dari sela-sela bibir Kissable Nathan yang kemudian hilang tersapu angin.


Nathan berjalan menuju balkon kamarnya dan merasakan semilir angin senja yang sejuk membelai kulit terbukanya.


Nathan menumpukan kedua sikunya di pagar pembatas balkon. Sepasang mata coklatnya kembali menatap ke depan. Kembali menikmati pemandangan senja yang menyejukkan matanya.


"Paman,"


Perhatian Nathan seketika terlihkan oleh panggilan Aster. Pria itu menoleh dan mendapati gadis kecilnya tengah berjalan menghampirinya.


Tiba-tiba saja Aster menghentikan langkahnya dan menatap Nathan dengan tatapan damba, penuh kakaguman.


Melihat bagaimana panasnya Nathan dalam balutan singlet putihnya, membuat mata Aster tak bisa berhenti menunjukkan kekagumannya. Mata itu tak lepas sedikit pun, bahkan ketika dia sudah berhadapan dengan ayah angkatnya tersebut.


"Apa yang sebenarnya kau lihat?" Nathan mulai merasa risih dengan tatapan Aster yang serasa menel**janginya.


"Dan aku jadi semakin menginginkan dirimu. Paman... Bagaimana kalau kita berkencan saja? Kau dan aku menjadi sepasang kekasih?"


Nathan menjitak kepala Aster dan membuat gadis itu meringis ngilu. "Sebaiknya kau fokus belajar saja, jangan memikirkan masalah kencan dan percintaan. Lagipula aku tidak mungkin mengencanimj!!"


"Kenapa?" Aster menatap Nathan dengan penuh tanya.


"Karena kita berdua adalah Ayah dan anak, lagipula aku terlalu tua untuk menjadi pasanganmu!!"


"Bukankah hanya Ayah dan anak angkat? Aku rasa itu bukan masalah. Lagipula banyak kok Ayah dan putri angkatnya akhirnya menikah." Aster begitu bersikeras.


"ASTER, CUKUP!!"


Aster sedikit terlonjak karena suara Nathan yang sedikit meninggi. Sorot matanya begitu dingin dan juga tajam, membuat Aster merinding.


Dan sepanjang dia mengenal Nathan, ini pertama kalinya Aster melihat Nathan membentaknya. "Ke-kenapa, Paman malah membentakku?" Suara Aster terdengar bergetar. Gadis itu menggigit bibir bawahnya dan kedua matanya tampak berkaca-kaca.


Nathan mendesah berat. Pria itu maju satu langkah ke depan, dan kemudian menarik Aster ke dalam pelukannya. Ia merasakan tubuh Aster yang sedikit gemetar, dan hal itu membuat Nathan menyesal setengah mati.

__ADS_1


"Maaf, Sayang. Bukan maksud, Paman ingin membentak mu. Paman hanya ingin membuatmu mengerti, Aster. Jika kita berdua tidak bisa memiliki hubungan lebih selain hubungan ini."


"Tapi aku sungguh-sungguh mencintai, Paman." Lirih Aster sambil menundukkan kepalanya.


Nathan melepaskan pelukannya dan menatap Aster dengan serius. "Aster, hentikan perasaan tak wajar mu itu!! Kita Ayah dan anak, tidak mungkin jika kita saling mencintai!!"


Aster menggeleng. "Bahkan tidak ada darah yang sama mengalir dalam tubuh kita. Jadi mana bisa kita di sebut sebagai Ayah dan anak?"Jawabnya.


"Aku tidak mungkin mencintaimu, karena seharusnya memang begitu."


"Tapi aku mencintaimu, Nathan Xiao. Dan aku tidak akan menikah kecuali denganmu!!!"


Nathan mengusap wajahnya dengan kasar. Berbicara dengan Aster memang membutuhkan kesabaran ekstra. "Keras kepala!!" Nathan beranjak dari hadapan Aster dan pergi begitu saja. Meninggalkan gadis itu sendiri dalam diam.


Tampak lelehan-lelehan bening mengalir dari pelupuk matanya yang kemudian jatuh dan membasahi wajah cantiknya.


Inikah yang dinamakan patah hati? Dan apakah rasanya memang sesakit ini? Aster memang belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta, dan sekalinya dia merasakan perasaan itu. Hatinya malah terluka.


Aster tak bisa menyalahkan Nathan. Tapi salahkan perasaan tak wajarnya itu. Dan bisakah yang dia rasakan itu sebagai cinta terlarang? Rasanya tidak mungkin, mengingat mereka berdua adalah orang asing.


"PAMAN TUNGGU!!"Seru Aster dan menghentikan langkah Nathan.


Aster berlari menghampiri ayah angkatnya tersebut. Tanpa berkata-kata. Aster berjinjit dan langsung meraup bibir Nathan, menciumnya dengan penuh penekanan. Dan apa yang Aster lakukan ini tentu saja membuat Nathan terkejut setengah mati.


Pria sampai membelalakkan kedua matanya. Terkejut Aster menciumnya. Alih-alih membalasnya, Nathan malah melepas paksa ciuman sepihak itu.


Tapi sepertinya Aster tak membiarkannya. Gadis itu tak hanya sekedar menempelkan bibir saja, namun juga melum** dan memagut bibir Nathan.


Dengan sekuat tenaga. Nathan mendorong tubuh Aster hingga ciuman itu terlepas. Sebuah tamparan keras mendarat mulus pada pipi kanan Aster. Dan saking kerasnya tamparan itu sampai-sampai membuat pipi Aster memerah.


"Kau benar-benar keterlaluan!!" bentak Nathan penuh emosi. Pria itu beranjak dari hadapan Aster dan pergi begitu saja. Tak lupa dia menyambar long Vest hitamnya yang ada di atas tempat tidurnya.


Aster menjatuhkan tubuhnya pada lantai yang dingin dan keras. Air matanya jatuh semakin deras membasahi wajah cantiknya. Tamparan Nathan memang sakit, tapi itu tidak sebanding dengan sakit di hatinya.


Sakit yang di akibatkan oleh cinta sepihak yang dia rasakan pada Ayah angkatnya. Aster tau dan dia sangat sadar betul jika yang dia rasakan itu memang salah, tapi dia tidak bisa memilih pada siapa dia harus jatuh cinta, karena cinta itu mengalir begitu saja.


Dan apakah Aster akan menyerah untuk mendapatkan pengakuan dari Nathan? Bukan, tapi balasan cinta Nathan? Maka jawabannya tidak, karena tidak ada kata menyerah dalam hidup Aster.


Lagipula putri angkat mana yang bisa menahan godaan pesona dari Ayah angkat seperti Nathan? Nathan adalah wujud sempurna dari seorang pria.


"Jangan pernah panggil aku, Aster Jung jika tidak bisa mendapatkanmu, Nathan Xiao!!"

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2