
"Heh, jadi kau ingin bermain-main denganku?!Baiklah, aku akan mengikuti permainanmu!!"
Bukan Nathan namanya jika tidak bisa menemukan fakta di balik video yang di kirim padanya.
Meskipun ponselnya telah hancur berkeping-keping. Namun Nathan masih memiliki salinannya. Sadar ada kejanggalan pada video tersebut. Nathan pun mencoba menelusurinya dan itu adalah Video yang di ambil 15 tahun yang lalu.
Lagipula tidak mungkin jika Murten yang sudah meninggal 15 tahun yang lalu, tiba-tiba masih hidup di suatu tempat dengan penampilan yang tidak jauh berbeda seperti 15 tahun yang lalu.
Tidak ada kerutan pada wajahnya, ataupun uban yang tumbuh diantara rambut-rambut hitamnya. Video itu juga sedikit blur, dan setelah ditelusuri lebih jauh. Orang dalam video tersebut bukanlah Xiao Murten, namun orang yang wajahnya agak mirip dengannya.
Karena tidak mungkin orang yang meninggal dalam sebuah kecelakaan tiba-tiba bisa hidup kembali.
Nathan tidak akan lupa ketika dengan mata kepalanya sendiri, dia menyaksikan jasad ayah angkatnya yang terbaring di dalam peti di masukkan ke dalam tanah diperistirahatan terakhirnya.
Lagipula Nathan bukanlah orang bodoh yang mudah di tipu dan dibodohi.
Dia memang sempat syok dan dilanda dilemah berat karena pesan tersebut, namun akhirnya dia sadar, jika itu adalah perbuatan oknum-oknum yang ingin memisahkannya dan Aster.
Dan Nathan tidak akan tinggal diam. Dia akan memberikan pelajaran yang setimpal pada orang itu.
"Paman, aku tau kau ada di dalam. Sampai kapan Paman akan mengurung diri di dalam sana? Keluarlah dan cepat belikan aku es kacang merah, aku ingin makan es kacang merah." Rengek Aster sambil menggedor pintu ruang pribadi Nathan.
Nathan mendesah berat. Pria itu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Dan setelah pintu terbuka, sosok Aster yang sedang menekuk wajah lah yang pertama kali tertangkap oleh mata kirinya.
"Sampai kapan Paman akan mengabaikan ku? Sudah lebih dari 10 jam Paman mengurung di dalam sini, dan apa Paman tau bagaimana tersiksanya aku karena ingin makan es kacang merah." Tutur Aster sambil memanyunkan bibirnya.
Nathan mendengus geli. "Kenapa semakin hari tingkah mu semakin aneh saja. Seperti ibu-ibu yang sedang hamil muda." Ucapnya.
Aster pun tersentak kaget. Matanya membelalak sempurna. "Omo!! Jangan-jangan aku memang hamil muda!! Paman, tunggu di sini sebentar. Aku akan segera kembali." Aster beranjak dari hadapan Nathan dan bergegas menuju kamar mereka.
Nathan yang penasaran pun segera menyusul istri kecilnya itu. Dari jarak 5 meter Nathan melihat Aster yang membolak-balik calendar di menempel di dinding.
Wanita itu terlihat membekap mulutnya dengan kedua tangannya. Matanya membelalak berkaca-kaca, antara percaya dan tidak percaya.
"Aster, ada apa?" Tanya Nathan setibanya dia di dalam kamar.
Aster menoleh. Tanpa mengatakan apa-apa dia langsung berhambur ke dalam pelukan suaminya. "Paman, sepertinya kau akan segera menjadi seorang ayah." Aster mengangkat wajahnya dan menatap Nathan dengan mata berkaca-kaca.
Mata kiri Nathan memicing. "Maksudmu?"
"Aku belum bisa memberikan kepastian. Tapi aku sangat yakin. Jika tingkah aneh ku akhir-akhir ini karena aku sedang hamil muda. Aku sudah telat satu bulan, Paman."
"Benarkah?" Aster mengangguk.
"Tunggu, aku memiliki tes pack yang aku beli beberapa hari lalu. Aku akan memastikannya lebih dulu." Kemudian Aster pergi ke kamar mandi. Dia ingin memastikan apakah dia benar-benar hamil atau tidak.
__ADS_1
.
.
.
Ingin meledak rasanya dada Nathan saat ia mengambil benda yang diserahkan oleh Aster padanya. Ada dua garis merah sejajar di tengah benda tersebut. Raut wajah pria itu yang selalu dingin menunjukkan kegembiraan sekarang.
"Aster, itu?" Gumamnya tak percaya.
Aster mengangguk. "Ya Paman, aku hamil," kata Aster dengan mata berkaca-kaca. Perasaannya berkecamuk sekarang.
Setelah meletakan benda itu di meja rias Aster, jari telujuk tangan kiri Nathan kemudian mengangkat perlahan dagu Aster.
Diarahkan wajah cantik itu, dan dengan perlahan ia menunduk mengecup lembut bibir Aster. Dilum*tnya dengan penuh perasaan bibir mungil itu. Sungguh, Nathan tidak tahu harus berkata apa sekarang, semua perasaan senang, takjub, gembira bercampur menjadi satu.
Dan sekarang Aster mengerti alasan kenapa mood-nya sangat mudah berubah akhir-akhir ini, kenapa ia cepat lelah, dan menjadi sangat sensitif.
Semua itu karena ia sedang mengandung. Kehamilannya ini juga membuatnya tidak pernah ingin berjauhan dengan ayah dari janinnya itu.
Nathan mengakhiri ciumannya dan memandang wajah Aster dengan tatapan yang sulit di jelaskan. Sudut bibirnya tertarik ke atas memandang wajah cantik wanitanya.
"Ini sangat luar biasa. Dan rasanya aku masih tidak percaya jika tak lama lagi aku akan menjadi seorang Ayah." Ucapnya sambil menangkup wajah Aster.
Aster mengangguk. "Begitupula denganku, Paman. Ini memang sangat luar biasa. Terimakasih telah menyempurnakan hidupku." Aster berhambur ke dalam pelukan Nathan dan memeluknya dengan erat.
-
"Jika kau berhasil membawa Aster kembali ke tanganku. Aku akan langsung menikahkanmu dengan cucuku!!"
Mendengar janji Jung Hilman membuat Jordan langsung tergiur. Jordan yang memang telah menaruh hati pada Aster memutuskan penawaran Jung Hilman untuk bekerja sama dengannya.
Awalnya Jordan bingung kenapa tiba-tiba dia di panggil dan di undang oleh Jung Hilman untuk datang ke Mansion mewahnya. Jordan tidak mengenal siapa Jung Hilman, dan apa tujuannya mengundang dirinya.
Dan Jordan baru paham ketika Hilman menjelaskan semua padanya. Termasuk hubungan antara Aster dan Nathan.
Sadar ada peluang, maka Jordan akan memanfaatkan peluang itu dengan sebaik-baiknya. Dan memastikan jika hanya dia yang layak memiliki Aster.
"Memangnya siapa orang dalam video itu, Pak tua? Dan apakah dengan cara itu kita bisa membuat dia melepaskan Aster?"
Hilman menghisap kembali rokoknya. "Tentu saja, karena bocah itu sangatlah menyayangi pria dalam video itu. Bukan, lebih tepatnya orang yang saat ini hanya tinggal tulang belulang saja di dalam peti matinya."
"Jadi maksudmu, video yang aku kirim padanya itu adalah palsu?"
"Hh. Video itu aku ambil 15 tahun yang lalu. Dan orang dalam video itu hanya berwajah mirip saja dengan Xiao Murten. Karena aku pikir video itu akan berguna suatu saat nanti."
__ADS_1
Jordan bertepuk tangan. "Aku salut padamu, Pak tua. Ternyata kau lebih licik dan lebih cerdik dari yang aku pikirkan. Dan aku akan memberikan nilai 100 padamu."
"Kau terlalu banyak bicara. Sebaiknya kau pergi dari sini. Aku masih memiliki banyak urusan."
Jordan mendecih sebal. Padahal dia masih betah berlama-lama di mansion ini, tapi Hilman malah mengusirnya dan memintanya untuk pergi.
"Hayooo, si kakek nackal.." seru seseorang yang saat ini tengah duduk manis di atas rak buku Hilman sambil memakan jagung bakar kesukaannya.
Sontak saja Hilman mengangkat wajahnya dan..."HUAAA!!! SETAN!!" jatuh pingsan. Sedangkan sosok Suketi langsung menghilang setelah melihat Hilman jatuh tak sadarkan diri.
Suara tawanya yang begitu khas menggema di dalam ruangan bernuansa putih tersebut. Bahkan setelah sosoknya menghilang di balik kabut putih tipis.
-
Tangan kanan Nathan dengan lincah mengetik sesuatu pada laptopnya. Sedangkan tangan kirinya merangkul wanita yang sedang tertidur di pangkuannya, menyamankan wanita itu di dadanya dan sesekali mengecup puncak kepala wanita bermata hazel itu.
Paman Kim yang baru saja memasuki ruang kerja tuannya itu tak merasa heran lagi, karena pemandangan semacam ini memang sudah kerap terjadi.
"Tuan, saya mau melaporkan―"
"Sst. Jangan berisik, Paman, nanti dia terbangun. Dia baru saja tidur," tegur Nathan memberi teguran.
"Maafkan saya, Tuan." Sesal Paman Kim dan segera memelankan suaranya.
"Hn, ada apa?" Tanya Nathan dan menatap serius pria dihadapannya.
"JJ Corp. menyatakan ingin bergabung dengan kita pada proyek di Busan, Tuan. Dia baru saja menghubungi saya, dan menyatakan jika dia berminat untuk bergabung dengan proyek kita kita."
Nathan pun menyeringai puas. "Bagus. Bajingan tua itu pasti tidak akan bisa tidur malam ini. Salah satu rekan bisnisnya memilih bergabung dengan kita."
"Urus semuanya Paman, malam ini kau mungkin kau harus lembur. Hubungi, Leon, dan minta dia untuk membantumu."
"Baik Tuan, saya permisi dulu." Nathan mengangguk. Dia mengijinkan Paman Kim untuk meninggalkan ruang kerjanya.
Melihat wajah lelah Aster membuat Nathan merasa tidak tega. Pria itu mengecup lembut kepala wanitanya.
Kemudian Nathan mengangkat tubuh Aster bridal style dan membawanya ke kamar mereka yang ada di lantai dua. Punggungnya bisa sakit jika dia tidur dengan posisi yang tidak tepat.
Nathan membaringkan tubuh Aster dengan perlahan dan hati-hati. Seolah-olah tubuh Aster adalah benda pecah bela yang bisa hancur jika tidak diperlakukan dengan lembut.
Setelah itu menarik selimut yang ada di bawah kakinya, dan menyelimuti tubuh Aster sampai sebatas dada. Nathan tersenyum lembut. Di usapnya kepala Aster penuh sayang, sekali lagi sebuah kecupan dia daratkan pada kening wanita itu.
"Terimakasih karena telah menyempurnakan hidupku, Sayang. Aku berjanji akan menjagamu dan dia. Aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu."
-
__ADS_1
Bersambung.