
Memiliki suami yang cacat tentu saja itu menjadi hal memalukan bagi sebagian wanita, sebagai wanita tentu Mereka ingin memiliki pasangan yang sempurna.
Berwajah tampan, hidup mapan dan bergelimang harta, fisik suami yang sempurna. Tentu itu menjadi impian bagi setiap wanita, tapi bagaimana jika suamimu adalah pria yang cacat?! Apakah kau masih bisa menerimanya dengan tulus?!
Sebagian wanita memandang pria bukan hanya dari fisik, tapi dari ketulusan. Tapi ada juga yang memandang mereka karena fisiknya. Karena memiliki suami yang tampan dan sempurna adalah hal yang paling membanggakan itu saja.
Tapi hal itu tidak berlaku bagi Aster, meskipun Nathan kini tidak lagi sempurna. Tapi Aster tetap menerima dan mencintai Nathan apa adanya, dia tidak pernah merasa malu ataupun minder berjalan dengan pria cacat seperti Nathan.
Mata kanan Nathan mengalami cacat permanen, yang tak mungkin pernah bisa untuk disembuhkan lagi. Dan Aster tidak pernah mempermasalahkannya. Apapun dan bagaimanapun kondisi Nathan, dia tetap menerimanya.
Disini mereka sekarang, Aster sedang membangun atau mengganti perban yang menutup luka-lukanya. Beberapa kali air mata tampak menetes dari pelupuk nya. Rasanya sangat Sakit melihat keadaan suaminya saat ini, dia tidak tahu seberapa menderitanya Nathan karena luka-luka di tubuhnya.
Nathan menatap Aster lalu menghapus air matanya. "Apa yang kau tangisi?!" tanya Nathan, Aster menggeleng. "Jika tidak ada Lalu kenapa kau menangis?!" tanya Nathan lagi.
"Aku hanya sedih melihat muka seperti ini, Paman. Luka-luka ini pasti sangat menyakitkan ya?"
Nathan menggeleng. "Tidak seberapa sakit, dibandingkan saat kau meninggalkanku hari itu." jawab Nathan.
Aster mempoutkan bibirnya. "Kenapa kau malah membahas kepergianku hari itu? Kau membuatku merasa bersalah lagi, Paman. Bisakah kita tidak usah membahas masa lalu apa pun lagi, karena masa depan kita yang indah sudah menanti di depan sana."
"Aku hanya bercanda, tapi Kenapa kau begitu serius sekali, Sayang?!" nathan menarik ujung hidung Aster saking gemasnya.
Lagi-lagi Aster Mempoutkan bibirnya."Tapi bercandamu tidak lucu, Paman!!" ucap Aster kesal.
Nanya hanya terkekeh. "Baiklah, Paman minta maaf, Sayang. Bisakah sekarang kau lanjutkan lagi." Aster mengangkut. Tak sampai 15 menit, Aster sudah menyelesaikan pekerjaannya. Semua luka luka di tubuh Nathan telah dibalut perban kembali, termasuk luka baru di mata kanannya.
"Daddy, Mami." perhatian keduanya teralihkan oleh kedatangan seorang bocah laki-laki berusia 2 tahun.
__ADS_1
Aster tersenyum lebar menyambut kedatangan Putra bungsunya. "Sayang, anak Mami sudah tampan dan harum." aster mencium Pipi Rey dengan gemas.
"Itu kalena Ley sudah mandi, Mami." jawab Rey dengan aksen cadel khas anak kecil.
Aster terkekeh. "Baiklah, Mami tahu kalau Rey memang sudah mandi." aster menarik ujung hidung Rey saking gemasnya.
"Mami sakit, kenapa kau selalu menindasku?" Rey mempoutkan bibirnya. Lalu Rey turun dari gendongan Aster dan menghampiri Nathan."Daddy, help, Mami menindasku lagi." adu bocah itu pada sang ayah.
Aster terkekeh geli. Putranya ini memang sangat menggemaskan. "Rey, Sayang. Memangnya siapa yang menindasmu, Nak. Mami hanya gemas saja padamu, siapa suruh kau begitu menggemaskan." Ujar Aster sambil menarik ujung hidung mancung Rey.
"Mami menindasku lagi, Mami itu sakit."
"Baiklah baiklah, Mami minta maaf, Sayang. Sini, Mami cium biar tidak sakit lagi." kemudian after mencium hidung dan pipi Rey secara bergantian.
"Mami juga harus mencium Daddy, bukankah Daddy juga sedang sakit. Jika Mami menciumnya, pasti Daddy akan langsung sembuh." tutur Rey.
"Tapi Rey maunya tidur sama, Mami."
"Baiklah, Mami akan menemanimu sampai tertidur. Caa, pamit dulu pada Deddy."
Rey menghampiri Nathan lalu mengatakan jika Iya ingin tidur. Sebelum pergi, Rey mencium mata kanan Nathan yang tertutup perban, sambil berkata.
"Ya Tuhan, tolong sembuhkan mata Daddy Nathan. Rey sangat sedih melihat mata Deddy seperti ini, tuhan kabulkan doaku ya. Aku hanya ingin Daddy bisa melihat dengan sempurna seperti orang lain."
Air mata Aster dan Nathan tidak bisa terbendung lagi, mereka terharu mendengar kata-kata Rey. Doa Rey begitu tulus. Dan rasanya mereka masih tidak percaya, jika bocah berusia 2 tahun seperti Rey bisa mengucapkan kata-kata yang begitu mengharukan.
Aster memeluk Putra bungsunya itu sambil menangis. "Karena Rey, yang mendoakannya. Pasti mata Daddy Nathan akan segera sembuh," suaranya terdengar Parau. Seperti menahan tangisnya agar tidak pecah.
__ADS_1
Nathan mengusap kepala Rey sambil tersenyum lembut. "Terima kasih untuk doanya, Nak. Deddy, sangat terharu mendengarnya." kemudian Nathan mencium kening putranya. Dalam kamar Hanya menyisakan Nathan setelah kepergian Aster dan Rey.
Tiba-tiba Nathan menangis, dia menduga bila putranya itu memberikan perhatian yang begitu lebih padanya. Padahal usia Rey 2 tahun, tapi dia malah berhasil membuatnya terharu.
-
Setengah jam kemudian Aster kembali dan menghampiri Nathan di kamar mereka, natan baru saja mengakhiri panggilan teleponnya. Aster tidak tahu siapa yang menghubungi suaminya itu, tapi sepertinya itu adalah hal penting.
Nathan balik lalu menghampiri istri cantiknya itu. "Apakah dia sudah tidur?!" tanya Nathan.
Aster mengangguk. "Dia baru saja tidur. Oppa, apakah tahu apa yang diucapkan sebelum tidur?" Nathan menggeleng. Aster tersenyum simpul sambil berkaca-kaca. "Dia memohon pada Tuhan, agar matamu bisa sembuh dan normal kembali."
Aster terisak pelan dalam pelukan Nathan. "Dia benar-benar membuatku terharu, Oppa. Usianya masih kecil, tapi dia memiliki hati yang sangat Tulus. Aku pangkas pakai ibunya, karena telah melahirkan Putra yang begitu hebat."
Nathan memeluk Aster dengan erat, sambil sesekali mencium kepala coklatnya. "Kau telah melahirkan dua anak yang begitu hebat, Rey danau Laurent adalah anak-anak kebanggaanku. Terima kasih telah memberikan anak yang begitu sempurna, Sayang." Nathan Menutup Mata kirinya.
"Kita sama-sama bangga, Oppa. Tuhan telah menghadiri sebuah anugerah yang begitu luar biasa pada kita berdua." Ucap Aster yang kemudian di balas anggukan oleh Nathan.
Baik Laurent maupun Rey, mereka berdua adalah kebanggaan Nathan dan Aster. Harta paling berharga yang Tuhan berikan pada mereka berdua. Harta yang lebih berharga dari apapun yang ada di dunia ini.
"Kau terlihat lelah, Sayang. Sebaiknya kau tidur juga. Aku juga mau tidur sebentar, kepalaku masih agak pusing." Ucap Nathan sambil memegangi kepalanya.
Aster mengangguk. Dia tidak menolak ataupun membantah ucapan suaminya. Karena sebenarnya dia juga mengantuk. Beberapa hari ini Aster sering merasa kelelahan, padahal dia tidak melakukan aktifitas yang terlalu berat.
Dia merasa ada yang salah dengan tubuhnya. Dan dia berencana menemui dokter untuk memeriksakan keadaannya.
-
__ADS_1
Bersambung.