"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Adu Tembak


__ADS_3

"Ahhh."


Suara rintihan keluar dari sela-sela bibir Aster. Wanita itu meringis karena rasa ngilu pada paha dalamnya. Apa yang dia lakukan bersama Nathan semalam benar-benar membuatnya sangat kelelahan, dan wanita itu merutuki suaminya karena terlalu bersemangat.


Aster berjalan dengan sedikit mengangkang menuju meja makan. Dan cara jalannya tersebut membuat Laurent memicingkan mata dan bertanya-tanya.


"Mami, kenapa jalanmu aneh sekali? Mami baik-baik saja bukan?" Tanya Laurent memastikan.


Aster tersenyum miris mendengar pertanyaan putri kecilnya. "Ya, Princess, Mami baik-baik saja. Hanya sedikit nyeri karena jatuh di kamar mandi." Jawabnya berdusta. Tidak mungkin wanita itu mengatakan yang sebenarnya pada Laurent.


"Benarkah? Tapi Mami tidak terlihat baik-baik saja." Ucap Laurent sambil menatap Aster cemas.


"Aigo, kenapa kau ini semakin bawel saja sih? Sebaiknya Laurent makan dengan tenang, oke."


"Tapi, Mi. Di mana Daddy Nathan? Kenapa Laurent tidak melihat Daddy bergabung bersama kita?" Tanya gadis kecil itu penasaran.


"Eh, iya. Dimana Daddy-mu?" Ucap Aster kebingungan.


Aster baru sadar jika suaminya tidak ada di meja makan. Nathan juga sudah tidak ada di kamar. Dan yang menjadi pertanyaannya, kemana perginya suaminya tersebut.


"Mami, lihat ke belakang dulu. Mungkin Daddy-mu ada di taman belakang." Kemudian Aster meninggalkan Laurent sendiri di meja makan. Sampai akhirnya Sammy datang dan bergabung dengan gadis kecil itu.


Setibanya di sana. Aster juga tidak menemukan suaminya tersebut. Ternyata Nathan tidak ada di taman belakang. "Kemana perginya Paman Nathan?" Gumam Aster kebingungan.


"Nyonya, apakah Anda mencari Tuan?" Tanya Paman Nam yang kemudian di balas anggukan oleh Aster. "Beliau pergi dari pagi-pagi sekali. Tuan terlihat pergi dengan terburu-buru setelah mendapatkan telfon dari seseorang." Jelasnya.


"Pergi dengan terburu-buru?" Pria itu mengangguk. "Paman tau tidak kemana Nathan Oppa pergi?"


"Maaf, Nyonya. Saya tidak tau. Jika tidak salah dengar, Tuan akan pergi ke pelabuhan."


"Paman, tolong diapakan mobil untukku. Aku harus segera pergi ke sana. Firasat ku tidak enak."


"Baik, Nyonya."


Tanpa membuang waktu. Aster pun segera pergi ke pelabuhan untuk menyusul Nathan. Tidak lupa dia membawa senjata api untuk berjaga-jaga. Laurent ia titipkan pada Bibi Nam. Aster tidak bisa tenang sebelum melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Nathan baik-baik saja.


-

__ADS_1


Kedua pria itu tak bergeming dari tempatnya dengan posisi tangan masih membidik. Jemarinya tersimpan di pelatuk Beretta-nya.


Matanya menatap dingin pada sosok yang berdiri di hadapannya, seorang pria yang melakukan pose yang sama dengannya; membidik dengan Glock-nya yang kecil namun mematikan.


Nathan merasa tertipu. Dia pergi pagi-pagi sekali setelah mendapatkan telefon misterius dari orang yang tidak dia kenal. Dan ternyata hanya untuk menghadapi pria di depannya itu.


Nathan merasa tidak pernah memiliki masalah dengan pria itu. Tapi dia malah mengibarkan bendera perang dengannya. Yang artinya pria itu telah menggali kuburnya sendiri.


"Ternyata kau punya nyali juga untuk datang sendiri ke tempat ini. Aku pikir kau hanyalah seorang pengecut yang beraninya bersembunyi dibelakang anak buah mu saja." Ucap pria itu meremehkan. Masih mengacungkan Beretta-nya.


"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku? Bukankah kita tidak pernah memiliki masalah sebelumnya?!"


"Memang, tapi hari ini kita bermasalah. Aku sangat penasaran kenapa semua orang menyebutmu sebagai iblis bertangan dingin. Dan hari ini aku akan mematahkan pandangan orang-orang tentang dirimu, dan aku juga akan membuat mata kiri-mu bernasib seperti mata kananmu!!"


Nathan menatap pria itu dengan seringai meremehkan. "Sepertinya kau tidak sadar dengan siapa kau berhadapan. Kau sudah mencari masalah dengan orang yang salah, Bung." Ucap Nathan dingin.


"Sombong, dan tidak lama lagi aku akan menutup mulut sombong-mu itu untuk selama-lamanya!!"


"Omong kosong, jika kau memang mampu. Sebaiknya buktikan dan jangan hanya menjadi tong kosong saja. Dan lagipula anak kemarin sore sepertimu mencoba mencari masalah denganku? Sangat mengejutkan!!"


"Kau…" pria itu mengeram dan semakin mengeratkan genggaman pada Beretta-nya. Ucapan Nathan memancing emosinya. Pria itu melirik anak buahnya. "Tunggu apa lagi, habisi bedebah ini!!"


Suara tembakan beruntun terdengar menggema bersama jatuhnya beberapa pria setelah terkena terjangan senjata di tangan Nathan. Pria itu tidak membiarkan satu pun dari mereka yang ia biarkan tetap hidup.


Mata kirinya yang tajam membidik seluruh objek disana, tangannya terulur mengarahkan peluru untuk membasmi para musuh yang bergerak kearahnya. Tidak hanya satu dua orang saja. Mereka menyerang Nathan secara berkelompok.


Dor


Dor


Dor


Dor


Banyak tembakkan terdengar, ledakan di depan sana membuat senyum mengejek terpantri di bibir sang Bos Mafia. Nathan menghabisi mereka dengan cara membabi buta.


Meskipun dia hanya sendiri, namun Nathan berhasil melumpuhkan lebih dari jumlah lawan. Mayat-mayat terlihat bergelimpangan di tanah, aroma besi berkarat yang begitu kuat langsung berkaur di dalam indera penciuman.

__ADS_1


"Sial!! Ternyata dia bukanlah orang yang bisa diremehkan!!" Ucap pria itu sedikit geram.


Sadar posisinya mulai terpojok. Pria itu pun memikirkan cara untuk melarikan diri. Dan kesibukan Nathan dalam menghadapi anak buahnya pun segera dia manfaatkan untuk bisa kabur dan melarikan diri dari sana.


"Mau kabur ke mana kau?" Tapi sepertinya Nathan tidak membiarkannya untuk pergi.


Pria itu kemudian mengarahkan senjatanya pada kaki pria tersebut. Dua tembakan Nathan lepaskan pada kedua kaki pria yang hendak kabur tersebut.


"Brengsek!! Apa yang kau lakukan eo?" Bentaknya marah.


"Kau pikir kau bisa kabur dariku setelah membuat masalah denganku?" Nathan menghampiri pria itu setelah menghabisi seluruh anak buah pria tersebut. "Kau hanya sendiri sekarang, semua anak buahmu sudah mati!!"


Sadar hidupnya sudah ada di ujung tanduk. Pria itu pun langsung menjatuhkan tubuhnya dan berlurut di depan kali Nathan. Memohon supaya Nathan tidak membunuhnya.


"Tuan Xiao, saya bersalah. Saya sudah salah dengan meremehkan Anda. Tolong ampuni saya dan jangan membunuh saya." Pinta pria itu memohon.


"Sayangnya tidak ada maaf untuk manusia sepertimu!!" Sahut seseorang dari arah belakang. Sontak keduanya menoleh dan mendapati Aster berjalan menghampiri mereka.


"Aster, sedang apa kau di sini?" Kaget Nathan melihat kedatangan wanita itu.


"Tentu saja untuk menyusul mu!! Karena aku pikir sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi. Dan sebaiknya orang seperti dia jangan di beri hati!!" Tutur Aster.


Kedua mata pria itu membelalak melihat Aster mengangkat senjata di tangannya dan mengarahkan pada kepalanya. Pria itu menggeleng. Memohon supaya dia tidak di bunuh. Tapi....


Dorrr..


Tubuh itu ambruk begitu saja setelah timah panas yang berasal dari senjata di tangan Aster menembus kepalanya.


Wanita itu menghabisi pria di depannya tanpa beban. Meskipun banyak pasang mata yang menyaksikan insiden berdarah tersebut. Namun tak satupun dari mereka ada yang berani bersuara apalagi melaporkan Nathan pada pihak berwajib.


Mereka tidak ingin menanggung resiko dan mendapatkan masalah dari pria bermarga Xiao tersebut.


"Ayo kita pulang." Ucap Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Aster. Mereka pulang dengan mengendarai mobil masing-masing.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2