
Hari terus berganti, detik berganti menit, siang berganti malam, hari berganti minggu dan begitu pun seterusnya. Aster masih setia mendampingi Nathan yang sedang terbaring koma tanpa ia tau kapan pria itu akan membuka kembali matanya.
1 bulan telah berlalu, namun belum ada tanda-tanda jika Nathan akan segera bangun dari tidur panjangnya.
Laki-lali itu mengalami luka yang cukup parah hampir disekujur tubuhnya. Selain luka di kepalanya, ada beberapa luka lagi yang membuat Nathan kehilangan banyak darah.
Banyak luka lagi yang menghiasi tubuh pria itu, dan salah satunya adalah mata kanannya yang hingga detik ini masih tertutup kasa. Kedua mata Nathan terkena pecahan kaca mobilnya. Namun kondisi mata kirinya tak separah mata kanannya.
Memang lukanya tidak berakibat fatal pada penglihatannya, namun butuh waktu untuk menyembuhkan mata itu.
Mata kanan Nathan mendapatkan sedikitnya 5 jahitan dibagian dalamnya dan 4 jahitan pada kelopak matanya. Di tambah lagi jahitan lamanya yang kembali terbuka.
Saat ini Aster sedang tidur sambil menggenggam tangan suaminya. Sudah satu bulan wanita itu tidak bisa tidur dengan nyenyak, tubuhnya terlihat lebih kurus dan wajah sedikit pucat.
Berkali-kali nenek Xiao membujuk Aster untuk pulang dan beristirahat dirumah, tapi wanita itu selalu menolaknya. Aster tidak hanya sendiri, ada nenek Xiao, Gavin, Rio, Cris dan Leon yang setia menemaninya.
Bahkan setiap malam Gavin dan Rio ikut menginap di rumah sakit bersamanya. Sedangkan Leon dan Cris hanya sesekali saja menginap di sana. Mereka memiliki banyak urusan yang harus di selesaikan. Terlebih Leon dan Dio bertanggung jawab penuh pada perusahaan Nathan.
"Sayang,"
Sentuhan pada bahunya sedikit mengusik tidur Aster. Perlahan wanita itu membuka matanya, terlihat nenek Xiao dan Cris berdiri disampingnya.
"Nenek Buyut, Paman, kalian berdua ada disini?" ujarnya lalu beranjak dari posisi membungkuknya.
"Sayang pulang ya! Kau terlihat lelah Cicit Nenek buyut yang paling cantik, jika melihatmu seperti ini terus. Pasti Paman Nathan akan merasa sedih! Pulang ya, Sayang." bujuk Nenek Xiao sambil mengusap rambut panjang Aster.
Aster menggeleng. "Tidak Nenek Buyut! Aku tidak bisa meninggalkannya, aku baik-baik saja! Jadi Nenek Buyut tidak perlu cemas!" tuturnya.
"Setidaknya kau harus makan dulu! Kau tidak boleh sampai jatuh sakit. Karena jika kau sakit lalu siapa yang akan menjaga Nathan?" Aster menatap Nathan sejenak sebelum bangkit dan berjalan menuju sofa diruangan itu.
Nenek Xiao dan Cris hanya bisa menatap sendu pada Aster. Mereka tau apa yang saat ini dirasakan olehnya saat ini. Nenek Xiao merasa jika Nathan sangat beruntung memiliki Aster disampingnya.
Dengan setia wanita itu menemaninya selama dia terbaring koma, Aster tidak pernah mau beranjak dari sisinya, bahkan satu detik pun.
Setiap malam mereka selalu mendengar Aster yang menangis sambil menggenggam tangan Nathan. Isakannya yang pilu membuat hati mereka bagaikan disayat-sayat, sangat berat berada diposisi Aster.
"Aster, makan yang banyak! Lihatlah tubuhmu kurus kering begitu!"
Aster terkekeh mendengar ucapan Cris, wanita itu mengangkat wajahnya menatap Cris dengan senyum jahilnya. "Apakah separah itu, Paman? Aku rasa tubuhku masih normal-normal saja, dan bukankah aku jauh lebih menarik dengan pinggang sekecil ini!" ujarnya.
Tukkk!!
Satu jitakan mendarat mulus dikepala coklatnya, Cris sungguh merasa gemas. Dan saking tidak tahan, kemudian dia menjitak kepala wanita itu.
"Menarik dari mana? Jelas-jelas kau mirip kerangka berjalan!" cibir Cris gemas.
"Hahaha! Kau terlalu berlebihan Paman, dan lihatlah aku sedang makan dengan lahap!" Aster berkata dengan parau.
Senyum dan tawa yang semula menghiasi bibirnya lenyap begitu saja digantikan isakan pilu yang menyayat hati. Aster hanya berusaha tegar di depan semua orang, ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan semua orang terutama di depan keluarganya.
"Aster, kau baik-baik saja?" Cris berlutut didepan wanita itu.
__ADS_1
"Hiks! Hiks! Bagaimana aku bisa baik-baik saja! Sedangkan laki-laki yang aku cintai sedang terbaring koma di sana, hatiku sakit melihatnya terluka! Aku rela menukar tempatku dengannya, hiks! Asalkan dia baik-baik saja!"
Semua orang yang ada di dalam ruangan itu menengadahkan wajahnya mencoba menghalau cairan yang menggenang dipelupuk matanya. Bahkan nenek Xiao sudah tidak bisa membendung air matanya. Ia pun ikut menitihkan air matanya.
Mereka ikut merasakan kepedihan hati Aster. Nenek Xiao menghampiri cicit kesayangannya itu dan membawa Aster ke dalam pelukannya.
"Kuatkan dirimu, nak! Pamanmu adalah laki-laki yang kuat, dia pasti bisa melewati semuanya!" ujar nenek Xiao sambil mengusap punggung Aster dengan gerakan naik turun. Nenek Xiao sesekali membuka kaca matanya dan menyeka air matanya.
"Paman!! Nunna!! Nenek Buyut kami datang!!"
Seruan itu mengalihkan perhatian semua orang yang ada diruang inap Nathan. Tanpa melihat siapa tamunya, tentu mereka semua sudah tau siapa mereka.
Gavin dan Rio masuk bersama Leon dan Dio. Ditangan Gavin dan Rio penuh dengan kantong berisi makanan dan minuman.
Rio meletakkan dua kantong ditangannya ke atas meja lalu mengelar tikar, kemudian Rio mengambil kantong-kantong itu dan meletakkan ditengah-tengah tikar yang digelar.
"Bocah! Sebenarnya kalian berdua ingin menengok Nathan atau kemping di rumah sakit? Memangnya harus ya membawa makanan sebanyak itu?" heran Cris melihat tingkah aneh Gavin dan Rio
"Tentu saja menjenguk Paman Nathan, bukan tapi menjaganya di sini! Dan soal makanan-makanan ini, itu bukan sebuah keharusan tapi sebuah kebutuhan. Kita membutuhkan makanan-makanan ini untuk bertahan hidup hyung!" ujar Gavin panjang lebar.
Cris mendengus panjang. Bicara pada Gavin dan Rio hanya akan membuatnya mengalami penuan dini. Bocah itu selalu membuatnya naik darah.
"Nenek Buyut! Lihatlah apa yang aku bawakan untukmu!" seru Rio lalu menunjukkan sebuah kartu pada Nenek Xiao.
Seketika kedua mata Nenek Xiao pun berbinar melihat kartu yang Rio tunjukkan padanya. Pemuda itu tau jika ia kebosanan sejak tadi. Dengan semangat masa mudanya, nenek Xiao menghampiri Gavin dan Rio kemudian bergabung bersama mereka berdua.
"Aku ikut!" seru Cris yang langsung bergabung dengan mereka bertiga.
Dalam hatinya Aster merada sedih, di saat semua orang berkumpul, Nathan malah terbaring koma. Sungguh, betapa Aster sangat merindukan kehadiran Nathan disisinya.
Aster merasa ada yang hilang dari dirinya sejak Nathan mengalami koma. Aster merindukan semua yang ada pada diri Nathan, kedua mata Aster kembali berkaca-kaca.
Dan entah sudah berapa banyak air mata yang dia teteskan sejak insiden mengerikan satu bulan yang lalu.
Beranjak dari posisinya, Aster menghampiri Nathan kemudian duduk disambilnya. Hati Aeter menjerit melihat kondisi suaminya saat ini.
Jari-jarinya mengusap kasa yang menutup mata kanannya, Aster menegadahkan wajahnya. Ia sudah tidak bisa menahan lajunya air matanya yang jatuh semakin deras.
"Kapan kau akan bangun, Paman? Aku sangat merindukanmu," ucapnya parau.
Aster menggenggam tangan Nathan kemudian menjatuhkan kepalanya disamping pria itu berbaring.
Aster ingin menutup matanya dan istirahat sejenak, bohong jika mengatakan ia baik-baik saja karena pada kenyataannya ia tidak pernah baik-baik saja.
Aster merasa pusing yang luar biasa dan sekujur tubuhnya terasa sakit, tulang punggungnya rasanya ingin patah namun Aster berusaha menahannya dan mengatakan pada semua orang jika ia baik-baik saja.
"Sayang,"
Baru saja Aster menutup matanya namun sentuhan pada kepalanya dan suara rendah seseorang yang berbisik di telinganya membuat mata hazel itu terbuka seketika. Aster mengangkat wajahnya dan...
"PAMAN!"
__ADS_1
Aster segera membekap mulutnya, kedua matanya berkaca-kaca melihat Nathan telah membuka kembali matanya. Dan seruan keras Aster mengalihkan perhatian semua yang ada di ruangan itu.
"Nathan, akhirnya kau membuka matamu juga!" Seru Nenek Xiao sambil menyeka air matanya.
"Berapa lama aku terbaring koma, Nek?" tanya Nathan pada neneknya.
Nenek Xiao mendesah panjang. "1 bulan lebih dua hari! Kami lega melihatmu akhirnya bangun juga!"
Dari Nenek Xiao, lalu pandangan Nathan bergulir pada Aster. Mata kirinya menangkap wajah sembab wanitanya, wajahnya terlihat pucat dan Aster lebih kurusan dari satu bulan yang lalu.
Nathan menatap sendu wajah cantik yang berurai air mata itu. Nathnman mengangkat salah satu tangannya memberi kode pada Aster agar mendekat.
Ketika hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba Aster merasakan pandangannya mengabur dan semua yang ada disekelilingnya berputar, kepalanya terasa seperti dihantam batu besar sampai akhirnya...
"Aster//Nunna!!"
Bruggg!!
Semua memekik. Aster jatuh pingsan. Dan dengan sigap Cris menahan tubuh Aster sebelum jatuh menghantam lantai.
Menyaksikan hal itu membuat Nathan menjadi sangat panik, tanpa banyak berfikir Nathan mencabut selang infusnya kemudian turun dari ranjang inapnya, dan apa yang Nathan lakukan membuat semua orang panik.
"Nathan apa yang kau lakukan?" pekik Cris.
"Cepat! baringkan Aster di sana , Gavin cepat panggilkan dokter!"
"Nathan, keadaanmu belum stabil! Kau baru saja bangun dari tidur panjang, seharusnya kau lebih memikirkan kondisimu!" tegur Nenek Xiao menasehati.
Nathan menoleh menatap Nenek Xiao tajam penuh intimidasi. Meskipun hanya melalui mata kirinya saja namun cukup membuat bulu kuduk nenek gaul itu berdiri.
"Seharusnya yang kau cemaskan itu bukan aku, tapi Aster!" ujar Nathab kelewat datar.
Natha baru saja bangun dari tidur panjangnya, tanpa memikirkan kondisinya sendiri. Ia menghampiri Aster yang tiba-tiba kehilangan kesadarannya.
Tak berselang lama, Gavin datang bersama Dokter yang akan memeriksa keadaan Aster. Dokter itu terkejut melihat Nathan telah bangun dari komanya, dan sebelum memeriksa keadaan Aste. Dokter itu lebih dulu memeriksa kondisi Nathan.
Dan sebuah keajaiban! Pria itu dalam kondisi yang sangat baik dan tidak ada yang salah dengan kondisi fisiknya bahkan Nathan dapat berdiri dengan tegap meskipun baru mengalami tidur panjang.
Berbanding balik dengan kondisi Nathan, kondisi Aster jauh lebih memprihatinkan, selain kurang tidur dan makan tidak teratur, gadis itu juga mengalami dehidrashi parah.
Cris dan Nenek Xiao menceritakan semua pada Nathan tentang keadaan Aster selama satu bulan dia mengalami koma tanpa ada yang terlewatkan.
Dan Nathan tidak dapat membendung kesedihannya dan rasa bersalahnya setelah mendengar cerita mereka berdua. Nathan tidak mungkin bisa memaafkan dirinya sendiri jika hal buruk sampai menimpa wanitanya itu.
Nathan memandang sendu pada Aster yang masih terbaring tak sadarkan diri. Dan memangnya suami mana yang tidak sedih melihat keadaan istrinya yang lemah, terlebih lagi itu karena dirinya.
Nathan duduk di samping Aster. Kedua tangannya menggenggam tangan Aster yang terasa dingin. "Sayang, cepat bangun. Kau jangan membuatku takut."
-
Bersambung.
__ADS_1