
Kepoin juga new novel Author yang ganti judul menjadi "SUGAR BABY" (Gairah Cinta Pria Kesepian). Like koment di tunggu 🤗🤗
-
Suara denting piano mengalun lembut membawa pria itu dalam kedamaian yang begitu menenangkan. Di sini, dia dalam ruangan yang tidak terlalu besar, dia menatap dengan lembut seorang wanita yang tengah memainkan pianonya dengan begitu syahdu.
Pria itu berdiri diambang pintu dengan kedua tangannya dia masukkan ke dalam saku celana bahannya, dan dengan tenang mengikuti alunan piano itu sampai akhir.
"Kau semakin mahir saja, dari hari ke hari."
Seruan kekaguman itu membuat si wanita menolehkan kepalanya, seketika dia tersenyum labe mendapati pria itu berdiri diambang pintu seraya memberinya tepuk tangan yang meskipun terdengar cukup sumbang karena hanya ada mereka berdua dalam ruangan itu.
"Paman, sejak kapan kau berdiri di sana, dan kenapa aku tidak menyadari kedatangan mu?" Tanya wanita itu yang pastinya adalah Aster. Aster berjalan menghampiri Nathan.
"Sejak awal… dan bagaimana kau bisa menyadari kedatanganku, sedangkan kau begitu menghayati permainanmu. Dan sudah tidak diragukan lagi, kau memang berbakat," Ucapnya dengan bangga membuat Aster tersipu malu.
Dengan gemas Aster memukul lengan Nathan dengan kepalan tangannya. "Yaaaa, jangan memujiku seperti itu. Paman membuatku malu saja." Pipi wanita itu terlihat memerah karena menahan malu.
Nathan mendengus geli. "Sikap malu-malu seperti itu sangat tidak cocok dengan wanita bar-bar sepertimu!!"
Aster mendecih kesal. "Dasar menyebalkan!!" Dan pergi begitu saja. Nathan terkekeh, sikap wanitanya itu terkadang memang sangat menggemaskan.
"Aster tunggu!!"
.
.
.
Senja memerah di sebuah pantai pribadi. Angin membawa punggung air beriak bergulir, tersusun menjadi serangkaian gelombang yang bergulung dan pecah di bibir pantai, menghapus segala yang tertinggal di pasir.
Suara burung-burung terbang rendang menggema di antara tebing-tebing di sebelah timur.
Nathan berdiri memandangi laut lepas, merasakan pasir basah di sela-sela jarinya.
Matanya menatap lurus batas cakrawala, biru bercampur kemerahan dan mentari semakin turun. Air laut terasa begitu dingin, tetapi jiwanya terasa hangat. Begitu hangat hingga ia menikmati setiap hela napasnya.
"Paman...."
Mata laki-laki itu menangkap sepasang kaki indah milik wanita yang kini berdiri disampingnya. Aster datang sambil membawa sebuah botol kecil putih berisi cairan kemerahan. Gelembung sabun.
"Bagaimana kalau kita bermain gelembung sabun ini?"
"Kau sendiri saja." Aster mengangkat bahu dan bersikap acuh. Dia sudah memprediksi jika Nathan akan menolak ajakannya untuk bermain.
Kemudian Aster meniup gelembung sabunnya dan tertawa lepas. Semilir angin menerbangkan rambutnya yang dikucir kuda. Senyumnya begitu lepas, seperti samudra tanpa batas.
Nathan tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Hatinya menghangat melihat senyum indah ceria wanitanya, karena senyum itu lebih berharga dari apapun yang ada di dunia ini.
Tak ingin melewatkannya. Nathan segera mengabadikannya dalam bidikan ponselnya juga terekam dalam sebuah video. Nathan memasukkan kembali ponsel itu ke dalam saku celananya kemudian beranjak menghampiri Aster.
"Berikan gelembung sabun itu, Paman juga ingin meniupnya." Aster tersenyum. Dengan senang hati dia memberikan gelembung sabunya pada Nathan.
Aster tampak begitu bahagia. Dia berlarian kesana, kemari untuk meletupkan gelembung-gelembung tak berwarna itu, sambil sesekali tertawa lepas.
Tiba-tiba Aster diam terpaku. Ia merasakan pusing yang luar biasa pada kepalanya, apapun objek yang dia lihat seolah terbelah menjadi dua. Semakin lama kesadarannya semakin menipis, hingga akhirnya...
"ASTER!!"
__ADS_1
Aster jatuh tak sadarkan diri. Nathan membuang gelembung sabunya begitu saja dan segera menghampiri Aster.
Nathan meraih kepala Aster ke dalam pelukannya. Tubuhnya sedikit demam, tanpa membuang banyak waktu, Nathan pun segera mengangkat Aster dan membawanya kembali ke Villa.
.
.
.
"How is the condition?" Nathan menatap dokter yang baru saja memeriksa Aster.
"Nothing to worry about, your wife is fine. He's just tired." Jawab dokter itu.
Nathan pun menghela napas lega setelah mengetahui ternyata Aster baik-baik saja. Setelah mengantarkan dokter itu keluar. Nathan menghampiri Aster di kamarnya. Pria itu duduk di samping Aster berbaring dan mendesah berat.
"Paman," panggil Aster dengan suara lemahnya.
"Sayang, kau sudah sadar? Apakah ada yang kau keluhkan?" Tanya Nathan memastikan.
Aster mengangguk. "Kepalaku sangat pusing. Dan semua yang kulihat seperti terbelah menjadi dua." Tuturnya.
"Istirahat, minum obat dan makan yang banyak. Paman, ke dapur dulu untuk membuatkan bubur untukmu. Setelah ini kau harus minum obatmu, oke." Aster mengangguk.
Nathan tersenyum. Pria itu beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja. Pria itu beberapa kali menghela napas panjang. Aster kelelahan sampai jatuh sakit, dan Nathan harus bisa lebih memperhatikannya lagi.
-
BUKKK...
Tubuh Riyana jatuh tak sadarkan diri setelah seseorang memukul tengkuknya dari belakang. Kemudian dua orang pria mengangkat tubuhnya dan memasukan ke dalam sebuah Van hitam.
Pria yang ada di dalam Van itu langsung mengikat tubuh Riyana dan menutup mulutnya dengan lakban.
"Tentu saja benar, bahkan wajahnya sama persis dengan orang yang ada di foto ini."
"Baguslah, kita akan mendapatkan banyak bonus dari Boss karena berhasil membawa wanita ini padanya."
"Kau benar sekali, dan kita bisa bersenang-senang dengan Lolita-Lolita cantik itu."
"Yupss.."
.
.
.
Riyana membuka matanya. Ia terkejut saat mendapati dirinya berada di sebuah tempat asing dalam keadaan kaki dan tangan terikat kuat. Riyana mencoba berteriak namun suaranya tidak mau keluar.
Samar-samar Riyana mendengar derap langkah kaki seseorang yang berjalan mendekat. Wanita itu menyipitkan matanya ketika sebuah cahaya menyilaukan masuk dan menerangi ruangan gelap itu, bersamaan dengan terbukanya pintu hitam tersebut.
Seorang pria dengan seringai tajamnya menghampiri Riyana dan membuat mata wanita itu membelalak saking kagetnya.
Orang itu membuka lakban yang menutup mulut Riyana hingga dia bisa kembali bersuara. Dengan keras dia menyebut nama pria itu.
"Cris?!"
"Kau masih mengingatku rupanya, Riyana Jung?"
__ADS_1
"Kau~bukankah seharusnya kau sudah mati? Kenapa kau masih hidup?"
"Karena Tuhan lebih menyayangiku. Itulah kenapa hari itu Tuhan mengirimkan seseorang untuk menyelamatkanku yang berada di ambang hidup dan mati."
"Siapa orang itu?! Siapa orang yang telah menyelamatkanmu?!"
Cris menyeringai tajam. "Memangnya perlu ya kau mengetahuinya? Kau pasti akan bertemu dengan orang itu saat waktunya telah tiba. Nikmati saja waktumu di tempat ini, karena mulai hari ini. Gedung tua ini akan menjadi tempat tinggal barumu."
"Yakk!! Cris, kau mau kemana? Br*ngsek, jangan tinggalkan aku sendiri!! Baj*ngan, kembali dan cepat lepaskan aku. CRIS!!"
-
Setelah beristirahat penuh. Akhirnya keadaan Aster perlahan membaik. Demamnya sudah turun dan dia sudah bisa beraktifitas lagi seperti sedia kala. Saat ini wanita cantik itu tengah merangkai bunga-bunga yang dia petik dari taman belakang.
Selain bunga mawar, ada juga Bungai Daisy dan beberapa jenis bunga lainnya. Aster menatanya di sebuah vas yang kemudian dia letakkan di meja-meja yang ada di seluruh ruangan, termasuk meja makan.
Wanita itu menoleh, setelah mendengar seseorang yang sedang menuruni tangga. Senyum di bibirnya terkembang lebar melihat siapa yang datang.
Aster meletakkan bunganya dan kemudian menghampiri Nathan. "Paman, kenapa hari ini kau begitu tampan?" Kedua tangannya mengalung pada leher pria bermarga Xiao tersebut.
"Ini pujian atau sogokan? Aku tau kau menginginkan sesuatu, Nyonya Xiao." Nathan mendekatkan wajahnya dan kemudian mencium singkat bibir Aster.
"Bagaimana Paman bisa tau?"
"Karena aku mengenalmu dengan sangat baik," jawabnya sambil menarik gemas ujung hidung Aster.
"Paman sudah rapi, memangnya Paman mau pergi ke mana? Boleh aku ikut?"
Nathan menggeleng. "Sebaiknya kau tetap di rumah saja. Paman hanya pergi sebentar untuk memeriksa sebuah proyek."
"Berapa lama Paman pergi?"
"Tidak lama, kurang dari 3 jam."
"Itu sih lama, Paman~ikut ya?" Rengek Aster memohon.
Nathan mendesah berat. "Kau harus banyak-banyak istirahat. Besok saat keadaanmu lebih baik, Paman akan mengajakmu jalan-jalan."
"Sungguh?" Nathan mengangguk. "Baiklah."
Nathan mengecup kening Aster dan pergi begitu saja. Dan setelah kepergian Nathan, Aster pun merasa hampa, pasalnya dia hanya sendiri di Villa sebesar ini. Aster berbalik dan hendak pergi ke kamar, namun tiba-tiba...
"Huaaa....!!!"
"Kkyaaa, SETAN!!" Aster menyabar vas yang ada di atas meja lalu melemparkan ke muka sosok itu yang pastinya adalah Suketi. "YAKK!! SETAN GILA, BISA TIDAK KAU TIDAK USAH MEMBUATKU JANTUNGAN, HAH!!" amuk Aster pada sosok Suketi.
"Hihihi,"
"Malah tertawa lagi. Ngomong-ngomong bagaimana bisa kau tiba-tiba saja muncul di sini?" Aster menatap Suketi kebingungan.
"Karena aku hantu dengan pasport berbagai negara."
"Hah, jadi hantu memiliki pasport juga. Seperti apa bentuknya?"
"Tarraa..." Suketi menunjukkan semua pasport yang dia miliki pada Aster. Aster meringis ngilu, dia yang manusia bahkan tidak memiliki pasport sebanyak itu. "Suketi mau jalan-jalan di Sidney, hihihi..."
"Huft, terserah kau saja." Aster beranjak dari hadapan Suketi dan pergi begitu saja.
"Yakkk!!! Cantik, tunggu Suketi yang bahenol ini.."
__ADS_1
-
Bersambung.