
Pagi harinya Eve berjalan ke ruang makan untuk sarapan setelah sebelumnya dirinya bersiap-siap dengan pakaiannya yang rapi. Mata Eve menatap ke arah meja makan di sana belum ada siapa-siapa. Eve berpikir apakah dirinya terlalu kepagian sepertinya tidak saat Eve melihat jam yang yang melingkar di pergelangan tangannya.
Ada banyak makanan yang telah tersedia untuk sarapan di pagi hari ini. Eve dapat melihat juga ada sebuah rantang yang telah disiapkan. “Nona ini adalah sarapan untuk Tuan muda.” Ucap kepala pelayan memberitahukan kepada Eve terkait pesan dari ibu Dhara tadi kepadanya.
“Terimakasih bibi, seharusnya Eve yang memasak dan menyiapkan makanan sarapan untuk suami Eve. Maaf merepotkan bibi.” Ujar Eve dengan sopan. “Bibi apakah Eve boleh bertanya?” Tanya Eve kepala pelayan mengangguk dan tersenyum kepada Eve sebagai bentuk jawaban. Lagipula mana mungkin dirinya yang tidak menjawab pertanyaan dari menantu keluarga ini. Menurut kepala pelayan Eve adalah sosok yang baik dan rendah hati sesuai dengan kecantikan yang dimilikinya.
“Ibu dan ayah apakah mereka sudah sarapan?” Tanya Eve dengan lembut karena sudah sekitar lima belas menit lamanya namun Eve tidak melihat mertuanya pagi ini.
“Tuan dan Nyonya pagi-pagi sekali pergi ke kediaman Tuan besar Werawan Nona.” Jawab kepala pelayan sambil melihat mata Eve yang mendengar perkataannya terlihat sangat khawatir. “Jangan panik Nona Tuan besar sudah ditangani oleh dokter keluarga. Kesehatan Tuan besar akhir-akhir ini memang sedang tidak stabil Nona. Tuan besar hanya perlu istirahat yang cukup saja. Tuan dan Nyonya tidak mau mengganggu waktu istirahat Nona apalagi Nona baru pulang dari bulan madu dan hari ini Nona sudah bekerja. Jadi, jangan berpikir berlebihan Nona demi kesehatan Nona.”
“Terimakasih bibi.” Ucap Eve dengan pelan sambil memakan sarapan yang telah disiapkan untuknya. Pikiran Eve berkecamuk karena memikirkan banyak hal terutama yang terjadi selama kurang lebih dua minggu ini.
Eve berjalan keluar mansion setelah sebelumnya pamit kepada kepala pelayan dan mengambil rantang makanan yang telah disiapkan kepala pelayan untuk suaminya Tala. Dapat Eve lihat ada sebuah mobil yang lengkap dengan sopir serta seseorang yang membukakan pintu mobil untuknya. “Nona saya adalah pengawal dan sopir pribadi yang telah disiapkan Tuan muda untuk Nona.” Sapa pengawal tersebut sambil membungkukkan badannya.
Eve menganggukkan kepalanya dan memberikan senyumnya kepada seorang laki-laki dengan berbadan tegap yang akan menjadi pengawalnya tersebut. Sama seperti majikannya pengawal dan sopir yang sedang duduk di depannya tidak menunjukkan ekspresi apapun selain wajah datar mereka. Semuanya memiliki badan yang kekar dan tegap sangat terlihat bahwa orang-orang ini terlatih.
Mobil berhenti di pelataran sebuah perusahaan yang sangat besar di negara ini. Eve berpikir bahwa dirinya akan mengantarkan sarapan ini ke rumah sakit. “Mari Nona ikut saya.” Ucap pengawal tersebut Eve hanya diam dan mengikuti. Semua mata karyawan memandang ke arah Eve dengan tatapan yang berbeda-beda seperti mencemooh, mencibir, sinis, iri, tajam, serta takjub namun Eve menghiraukannya.
“Silahkan masuk Nona Tuan muda sudah menunggu.” Ucap pengawal tersebut kepada Eve dengan menundukkan sedikit kepala dan pandangannya.
Banyak hal yang ada di dalam benak Eve di mana dirinya diperlakukan seperti seorang putri di keluarga Werawan dan seorang wanita yang istimewa bagi Nabastala namun Eve segera menghempaskan pikirannya karena tidak mungkin Nabastala yang membenci dirinya melakukan ini semua dengan tulus.
Mata Eve memandang ke arah depan di mana seorang pria yang sedang duduk di meja kerjanya sambil memegang pena dan mencoret-coret beberapa berkas yang ada di depannya. “Ini sarapan untukmu tadi kepala pelayan yang menyiapkannya. Segeralah sarapan.” Ucap Eve yang telah selesai menyusun meja sofa dengan sarapan yang dibawanya.
Tala hanya diam saja melihat hal itu mungkin Eve berpikir bahwa Tala tidak nyaman jika ada dirinya. “Aku izin pergi bekerja ke rumah sakit dahulu.” Ucap Eve lalu menghampiri Tala dan hendak mencium tangan Tala namun Tala tidak menggubrisnya.
Eve memberikan senyumnya kepada Tala melihat sikap dingin Tala kepada dirinya. “Baiklah aku pamit jangan lupa sarapan.” Pamit Eve lalu berjalan keluar dari ruangan Tala.
Setelah keluar dari ruangan Tala, Eve mengambil nafas sebanyak-banyaknya untuk menguatkan dirinya dan bertahan dengan sikap suaminya itu.
***
Eve sudah sampai di rumah sakit di sana Eve diarahkan menuju ke ruang pertemuan di mana akan diadakan acara perkenalan para dokter baru di rumah sakit ini.
Dengan memakai jas kebanggannya Eve terlihat sangat berwibawa dan elegan apalagi di tambah dengan wajah cantiknya. Eve menunggu dengan tenang menunggu namanya dipanggil oleh MC untuk memperkenal dirinya di hadapan para dokter di rumah sakit ini.
“Sekarang selanjutnya yaitu kita akan memperkenalkan dua dokter bedah baru di rumah sakit ini mereka adalah sepasang. Mari kita sambut dokter Caraka Arkatama dan dokter Elakshi Feshika dengan tepukan meriah.” Ucap MC tersebut dengan semangatnya.
Eve berjalan melangkah dan memberikan senyumannya kepada MC tersebut begitu juga dengan dokter bedah yang diperkenalkan berbarengan dengan dirinya.
__ADS_1
Entah kenapa Eve merasakan bahwa dokter bedah di sampingnya menatap dirinya dengan intens. “Ekhm, dokter Elakshi dan dokter Caraka silahkan memberikan pidato singkatnya jangan tegang. Emmm gimana kalau dimulai dari dokter Caraka dulu.” Ucap MC tersebut membuat dokter bernama Caraka tersenyum canggung karena ketahuan melihat dokter di sebelahnya.
“Halo perkenalkan saya adalah dokter Caraka Arkatama rekan-rekan boleh memanggil saya dengan dokter Raka dan mohon bimbingannya.” Ucap dokter yang bernama Caraka tersebut.
Tiba saatnya Eve memperkenalkan dirinya. Sedari tadi Eve sebenarnya bingung dirinya harus memperkenalkan dirinya sebagai nama keluarga seperti apa sementara dirinya tidak diterima di antara kedua nama besar tersebut. MC yang melihatnya menepuk bahu Eve hingga membuat Eve tersentak kaget.
“Halo perkenalkan nama saya Elakshi Feshika saya biasa dipanggil dokter Eve dan saya adalah dokter bedah.” Ucap Eve dengan suara lembutnya membuat Raka yang mendengarnya tersenyum senang.
Dalam benak dokter Raka bahwa Eve terlihat sangat cantik dan auranya keluar dari dalam. Dapat dilihat bahwa Eve adalah wanita yang baik dan lembut hatinya. Itu adalah kesan kedua dokter Raka melihat Eve.
Yang pertama adalah saat dokter Raka menolong Eve yang terkunci di dalam toilet saat waktu itu Eve sedang berbulan madu. Namun, sepertinya dokter yang barus diketahui namanya tidak mengingat dirinya.
Setelah acara perkenalan selesai semua dokter keluar dari ruangan auditorium tersebut. Dokter Raka yang melihat Eve keluar dari ruangan segera mengejarnya. “Dokter Eve.” Panggil dokter Raka kepada Eve dengan tersenyum lebarnya sementara Eve hanya diam dan menatap.
“Kita belum memperkenalkan diri secara pribadi sebelumnya.” Ucap dokter Raka membuat Eve kebingungan dibuatnya. “Apa dokter Eve tidak mengingat aku?” Tanya dokter Raka dengan menunjukkan dirinya.
Dokter Raka yang melihat hal itu menjelaskan. “Aku adalah pria yang menolongmu saat kamu terkunci di dalam toilet saat kamu berada di negara S, apa dokter Eve mengingatnya?” Tanya dokter Raka kepada Eve.
Eve yang mendengarnya mengingat dan memperhatikan wajah dokter bernama Raka tersebut lalu mengangguk kepada dokter Raka. “Iya saya mengingatnya, terimakasih karena waktu itu sudah menolong saya.” Ucap Eve dengan sopan.
“Bolehkah aku meminta imbalan atas pertolonganku kemarin?” Tanya dokter Raka hal itu membuat Eve terdiam kaku ketika mendengarnya.
Eve diam lalu menatap Raka yang masih dengan senyumannya, “maaf dokter Raka saya tidak bisa kita adalah rekan kerja. Terimakasih waktu itu karena sudah menolong saya, saya akan selalu beroda kepada Tuhan agar dokter Raka diberi kesehatan dan kenyamanan dalam menjalani hari-hari. Saya permisi.” Ucap Eve lalu berjalan meninggalkan dokter Raka yang terdiam mendengar perkataan Eve.
“Aku menemukan dia dan sekarang dia menjadi rekanku.” Ucap dokter Raka dengan dirinya sendiri karena merasa sangat senang bahwa doanya terkabul oleh Tuhan untuk bertemu dengan Eve kembali.
“Dia sangat cantik dan aku akan berusaha untuk mengambil hatimu dokter Eve.” Ucap dokter Raka yang optimis bahwa dirinya bisa mendapatkan hati seorang Elakshi Feshika.
“Baru hari pertama terlihat sangat menyenangkan.” Ucap dokter Raka dengan cerianya dan berjalan menuju ruang kerjanya yang tidak lain berada di samping ruang kerja Eve.
Sementara Eve yang berada di ruangannya dengan diam menata ruangnya saat mengingat sesuatu Eve menghentikan pergerakan tangannya saat dirinya lupa bahwa belum menjenguk Adya di ruangannya dan ini sudah siang.
Dengan segera Eve berjalan keluar hal itu berpapasan dengan dokter Raka. Namun, Eve tidak menggubrisnya sementara dokter Raka yang melihat Eve melewatinya begitu saja mengikuti langkah kaki Airell berjalan.
Sesampainya di ruangan Adya dan hendak mengetuk pintu Eve melihat bahwa ada Tala yang sedang menyuapi Adya di atas ranjangnya. Melihat hal itu membuat hati Eve tercubit dan mengurungkan niatnya untuk datang ke ruangan Adya agar memberikan waktu buat sepasang suami istri yang saling mencintai tersebut.
Dokter Raka yang melihatnya penasaran dengan apa yang dilihat oleh Eve sampai Eve tidak jadi mengetuk pintu ruangan tersebut. Dapat dokter Raka lihat ada sepasang laki-laki dan perempuan yang menampakkan bahwa lelaki itu dengan telaten menyuapi sang perempuan.
Dokter Raka mengernyitkan dahinya saat melihat lelaki itu yang membawa Eve malam itu setelah dirinya menolong Eve. Iya dokter Raka mengingatnya namun kenapa ada banyak pertanyaan yang ada di dalam pikiran dokter Raka.
__ADS_1
Di dalam kantin Eve memakan makanannya dengan hening dan sendiri dan dokter Raka yang melihatnya segera memesan makanannya untuk duduk di dekat Eve.
Dokter Raka meletakkan makanannya hal itu sempat menghentikan pergerakan tangan Eve yang menyuapi makanannya namun Eve tidak melihat dan mempedulikan kehadiran seseorang tersbeut. Karena menurutnya wajar jika ada orang yang duduk di kantin seperti ini apalagi ini adalah rumah sakit besar.
Dokter Raka berdeham untuk mendapatkan perhatian dari Eve sementara Eve hanya melihat sekilas dan fokus dengan makanannya. “Kenapa dokter Eve tidak jadi masuk tadi?” Tanya dokter Raka dan benar saja dokter Raka mendapatkan perhatian Eve. Dalam benak Raka ouw jadi begini cara menarik perhatianmu.
Namun Eve tidak menjawabnya dan melanjutkan makanannya yang hanya sesendok lagi. Lalu Eve berjalan pergi dari tempat duduknya setelah meminumkan minumannya dan mengantarkan bekas makanannya untuk ditempatkan di atas meja dengan piring yang kotor.
“Kenapa dia sangat dingin sekali dan matanya terlihat penuh kesedihan.” Ucap dokter Raka yang melihat Eve berjalan keluar dari kantin sampai dokter Raka tidak bisa melihatnya lagi.
Setelah makan siang Eve berusaha menguatkan hatinya dan berdoa bahwa semoga saja Tala sudah tidak ada di ruangan Adya. Bukan karena apa Eve merasa sangat lemah dan tidak berdaya apalagi di sini dia adalah orang baru dan orang ketiga di pernikahan mereka.
Namun doa Eve tidak terkabul melihat Tala yang baru keluar dari ruangan Adya dan membuat tatapan keduanya terpaku. Tala yang melihatnya segera meninggalkan Eve namun berhenti untuk memperingati Eve. “Jangan pernah kamu mengadu kepada Adya atau ibu sama ayah.” Ingat Tala dengan dingin.
Sementara Eve menghela nafasnya dengan banyak mendengarnya, “kamu tenang saja aku tidak akan memberitahukan siapa pun karena ku bukanlah orang seperti itu. Jadi, jangan khawatir.” Ucap Eve sedangkan Tala tidak peduli dengan itu.
Sementara di sudut lain ada sepasang mata yang melihat interaksi antara Eve dan Tala, semakin mendengar perkataan di antara keduanya yang sangat dingin semakin membuat dirinya penasaran dengan hubungan keduanya.
Namun sepertinya mereka tidak baik-baik saja saat melihat interaksi keduanya. Dokter Raka hanya memperhatikan dan Tala yang berjalan menatap dokter Raka yang juga menatap dirinya.
Tala sempat berhenti sejenak karena dirinya seperti pernah bertemu dengan dokter yang memakaikan snelli di tubuhnya. Namun, bagi Tala itu tidak lah penting dan bisa saja itu hanya pemikirannya saja.
Di dalam ruangan Adya setelah mengetuk pintunya dan diperbolehkan oleh Adya, Eve dengan segera masuk dan tersenyum kepada Adya dan mendapatkan balasan seperti itu.
“Eve kamu datang seharusnya kamu tidak perlu datang kamu pasti sangat sibuk dengan pasienmu.” Ucap Adya kepada Eve.
“Tidak apa-apa kak, aku sama sekali tidak sibuk karena ini baru hari pertama aku bekerja baru besoknya aku mendapatkan pekerjaan aku.” Ucap Eve menjelaskan.
“Namun kamu harus beristirahat nanti kamu lelah dan sakit bagaimana aku tidak mau kamu juga terbaring seperti aku ini.” Ucap Adya menjelaskan kekhawatirannya.
“Kakak tenanglah aku akan baik-baik saja dan aku sangat kuat.” Ucap Eve menenangkan Adya.
“Iya kamu sangat kuat semoga kamu selalu dilindungi Tuhan dan selalu bahagia.” Ucap Adya mendoakan Eve sementara Eve hanya mengaminkan saja.
“Bagaimana kata dokter kak?” Tanya Eve, “kapan kakak akan pulang, kasihan ibu pasti sangat kesepian dan kakek jatuh sakit. Kakak harus segera sembuh biar kakek juga sembuh.” Ucap Eve entah kenapa dia berbicara seperti itu tapi Eve merasakan bahwa kakek Werawan Sangat menyayangi Adya.
“Iya adikku sayang. Nanti kalau aku sudah sembuh kita akan pergi ke rumah kakek Werawan dan memasakkan makanan untuknya dan menemaninya bercerita.” Ucap Adya sambil mengingat wajah kakek Werawan yang juga baik untuknya selain ibu Dhara dan ayah Davka serta Tala.
*Bersambung*
__ADS_1