
Setelah selesai berbicara dengan anak semata wayang-nya Nabastala ibu Dhara dengan segera mengusap air matanya dan masuk ke dalam ruangan Eve kembali. Menghela nafas-nya dengan panjang saat menatap Eve yang hanya diam sambil berbaring menatap keluar jendela.
Di ruangan Eve hanya ada ibu Dhara dan Eve sendiri sementara ayah Davka pulang ke mansion kakek Werawan setelah mendapatkan telepon dari kakek Werawan terkait insiden yang menimpa cucu menantunya.
Ibu Dhara berjalan mendekat ke arah Eve dan mengambil bubur makanan yang sama sekali belum disentuh oleh Eve. “Sayang ayo kamu harus makan. Setidaknya untuk menguatkan dirimu jangan sampai kamu bertambah sakit.” Bujuk ibu Dhara kepada Eve.
“Maafkan ibu dan ayah karena kurang memberikan perhatianmu, maafkan ibu dan ayah yang membuatmu menjadi seperti ini. Jangan seperti ini kamu harus makan. Ibu tau memang tidak mudah karena ibu juga pernah merasakannya.” Isak tangis ibu membuat Eve menatap ke arah ibu Dhara.
Ibu Dhara yang melihat ada respon dari Eve memberikan senyuman menenangkannya sedangkan air mata Eve terus menganak. “Putri ibu jangan seperti ini, ibu sakit melihatnya. Ibu tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya.”
Ibu Dhara memeluk Eve dan mengelus rambutnya, “ibu tidak ingin kehilangan kalian berdua. Kamu dan Adya sangat berharga bagi ibu. Memiliki menantu seperti kalian membuat ibu sangat senang karena ibu tidak sendiri di mansion.”
“Kamu harus makan ya, lihat wajah ini sekarang sudah tirus dan mata cantik ini kurang bersinar. Setidaknya kamu memerlukan asupan energi buat menangis. Menangis dan bersedihlah sepuasnya tapi setelah itu ibu ingin melihat mata ini kembali berbinar dengan ceria dan mulut ini kembali tersenyum. Dan luapkan apa yang ada di hati ini kepada ibu.”
“Ibu tidak menganggap mu sebagai menantu tapi ibu menganggap mu sebagai putri ibu. Putri kandung ibu. Siapa pun yang menyakiti mu termasuk putra ibu sendiri bilang, ibu akan membantu mu. Tidak akan ibu biarkan putri ibu yang cantik ini mengeluarkan air mata kesakitan dan kesedihannya.”
Eve menangis dengan terisak mendapatkan perhatian yang tulus dari ibu Dhara. Tidak pernah terbayangkan bagi Eve bahwa dirinya mendapatkan mertua yang sangat baik. Bohong jika Eve mengatakan bahwa dirinya sudah tidak sanggup lagi dengan pernikahan ini.
Namun, Eve ingin lebih kuat lagi dan ingin merasakan lebih banyak perhatian dari ibu Dhara, ayah Davka, dan Adya kepada dirinya. Tidak masalah jika suaminya Nabastala yang bersikap acuh kepadanya yang terpenting selama dua tahun sebelum perjanjian itu berakhir dirinya ingin serakah untuk sekali lagi mendapatkan perhatian yang mungkin tidak akan pernah datang untuk kedua kalinya.
“Kamu mau kan makan sayang, ibu suapi ya.” Bujuk ibu Dhara lagi karena tidak ingin melihat ibu Dhara yang sudah menunjukkan perhatian kepada dirinya akhirnya Eve mengangguk walaupun sebenarnya dirinya sangat tidak ingin.
Ibu Dhara tersenyum melihatnya dan segera menghapus air mata yang jatuh di pipi Eve lalu mengambil mangkuk yang berisi bubur yang sudah dingin. “Tidak apa-apa kan kalau sudah dingin atau Eve mau ganti?” Tanya ibu Dhara dengan lembut.
Eve menganggukkan kepalanya dan menangis mendapatkan ketulusan dari seorang wanita paruh baya yang menjadi mertuanya. “Kamu tau ibu sangat senang dan bahagia memiliki menantu seperti mu begitu juga dengan Adya. Kalian adalah sama bagi ibu dan ayah. Siapa pun yang menyakiti kalian ibu dan ayah akan melindungi kalian dan mereka tidak akan berani.”
“Saat kalian bersedih dan sakit ibu juga merasakan hal yang sama. Walaupun tidak ada ikatan darah di antara kita tapi ibu merasa beruntung karena memiliki kalian. Kalian adalah anugerah yang dikasih oleh Tuhan buat mengisi hari-hari ibu dan ayah.”
Di kediaman kakek Werawan ayah Davka datang menghadap untuk memberikan informasi mengenai keadaan Eve. “Kenapa kak Davka datang ke mansion sore-sore ini tidak seperti biasanya.” Ucap adik dari ayah Davka yang tidak lain adalah paman Nabastala.
“Ayah.” Panggil ayah Davka kepada kakek Werawan yang sedang duduk di kursinya sambil menatap ke arah luar jendela.
Ayah Davka datang mendekat sambil membantu kakek Werawan untuk bangkit dari kursinya agar bersama-sama membicarakan masalah ini di sofa ruang kerja. “Apakah kamu sudah mengunci pintu dengan benar?” Tanya kakek Werawan dan mendapat anggukan kepala dari ayah Davka.
“Periksa terlebih dahulu seluruh ruangan.” Perintah kakek Werawan dan dengan segera ayah Davka mengambil sesuatu di brankas yang hanya bisa dibuka oleh kakek Werawan dan ayah Davka.
Selama hampir lima belas menit hanya ada keheningan, “semuanya sudah steril ayah.” Ucap ayah Davka lalu segera meletakkan barang yang digunakan untuk mensterilkan ruangan tadi ke brankas lalu menguncinya.
“Bagaimana keadaan cucu menantu Eve?” Tanya kakek Werawan langsung ayah Davka yang mendengarnya menghela nafas-nya dengan panjang.
“Memang ada seorang ibu yang merasa tidak terpukul melihat kenyataan bahwa sudah kehilangan bayi yang ada di dalam kandungannya.” Ucap ayah Davka dan mengingat bagaimana istrinya dulu memerlukan perjuangan yang sangat besar untuk kembali bangkit sampai mereka mendapatkan Nabastala.
Belum lagi setelah beberapa tahun mendapatkan Nabastala istrinya harus mengalami keguguran lagi berupa anak yang berjenis kelamin perempuan yang selalu diinginkan dinantikan dirinya dengan istrinya itu termasuk kakek Werawan.
Keadaan itu merupakan keadaan yang kelam bagi ayah Davka dan ibu Dhara dalam menjalani mahligai pernikahan apalagi rahim ibu Dhara harus diangkat karena keguguran itu. Beruntungnya waktu itu ada Nabastala kecil yang menjadi semangat buat istrinya dan juga dirinya.
“Apakah semudah itu keamanan mansion kalian yang untuk ketiga kalinya harus mengalami hal yang seperti ini.” Ucap kakek Werawan membuat ayah Davka hanya bisa diam dan mendengarkan.
“Ayah sudah katakan bahwa kalian harus benar-benar menjaga putri dari orang lain yang akan menjadi menantu kalian. Karena untuk masuk ke dalam keluarga Werawan tidaklah mudah. Tidak perlu dijelaskan lagi bukan bagaimana cucu menantu Eve.”
__ADS_1
“Ayah memilihnya dan kalian menyetujuinya. Kita semua sepakat untuk menikahkannya dengan Nabastala. Walaupun anak satu itu sangat keras kepala jika Nabastala begini terus maka suatu hari nanti kita tidak bisa mempertahankannya. Dia sangat cocok untuk masuk ke dalam keluarga Werawan dengan kerendahan hatinya.”
“Cepat segera cari tau prosesnya kenapa kalian sampai lalai menjaga cucu menantu Eve. Jangan sampai Nabastala melakukan gerakan terlebih dahulu. Walaupun dia terlihat cuek dan dingin tapi gerakannya sangat mematikan. Walaupun juga dia masih keras kepala kepada Eve namun dia akan melakukan apa pun siapa yang telah berani mengusiknya. Anak itu tidak bisa diprovokasi. Cepat segera lakukan dan ambil tindakan jika tidak itu akan sangat bahaya karena Nabastala tidak akan segan-segan untuk melakukan hal yang di luar batas manusia.” Ayah Davka hanya mengangguk dan mengiyakan perintah dari kakek Werawan.
“Besok ayah akan datang untuk menjenguk cucu menantu.” Ucap kakek Werawan sebelum ayah Davka pamit mengundurkan diri dari ruang kerja kakek Werawan.
***
Tala berjalan dengan langkah kakinya yang tegas menuju ke ruangan Adya namun sebelum itu Tala melihat ruangan di sebelah Adya di mana ruangan Eve berada.
Terlihat bahwa Eve dan ibunya yang sedang berpelukan dengan Eve yang menangis dan ibunya yang berusaha menenangkan Eve. Tala yang melihatnya menatap datar dengan tatapannya yang tajam serta mengepalkan kedua tangannya di samping kiri dan kanan.
Di dalam ruangan Eve melihat ke arah pintu melalui kaca Eve bisa melihat bahwa Tala sedang melihat ke dalam ruangan lebih tepatnya ke arahnya. Besar harapan Eve bahwa Tala akan datang masuk untuk melihat dan menanyakan kabarnya.
Namun, itu semua sudah pupus saat Tala yang langsung pergi ketika matanya bertemu dengan dirinya. Eve menggigit bibir dalamnya dan mengeratkan pelukannya kepada ibu Dhara sambil meneteskan air matanya.
Mata Tala yang bertemu dengan Eve untuk beberapa saat segera mengalihkannya dan melanjutkan niatnya untuk menemui istri pertamanya karena tidak ada yang menjaga.
Adya mendengar suara pintu yang terbuka namun Adya tidak menggubrisnya karena Adya sudah tau pasti itu adalah suaminya Nabastala Affandra Werawan.
Tidak ada yang berbicara di antara keduanya jadi terciptalah keheningan yang terjadi di antaranya. Mata Tala melihat bahwa makanan yang dipersiapkan olehnya belum tersentuh sama sekali semenjak dirinya pergi untuk meredamkan emosinya.
Menghela nafasnya dengan dalam lalu berjalan mendekat ke arah Adya. “Apa yang kamu inginkan?” Tanya Tala dengan lembut. Tala tidak bisa membiarkan Adya mogok makan hanya karena dirinya yang tetap keras kepala tidak mau menjenguk Eve.
Adya yang ditanya seperti itu hanya diam dan memejamkan matanya. “Aku tau bahwa kakak tidak tidur, apa yang harus aku lakukan agar kakak makan makanannya. Jangan sampai membuat kakak sakit maka kebencianku terhadapnya akan bertambah. Kondisi kakak sedang tidak stabil.” Ucap Tala sambil menahan emosinya namun berusaha berbicara selembut mungkin.
“Apakah kamu akan mengabulkannya?” Tanya Adya menatap ke arah mata Tala yang sedang melihat ke arahnya.
“Aku ingin ruang aku dan Eve menjadi satu.” Pinta Adya kepada Tala. “Bukankah mudah untuk menurutinya bukan.” Lanjut Adya lagi.
Tala menghela nafasnya dengan panjang mendengar permintaan Adya, “baiklah aku akan mengabulkannya tapi tidak sekarang lusa. Karena memerlukan waktu. Sekarang kakak harus makan.”
Adya pun bangkit dan tidak banyak protes setidaknya Tala mengabulkan permintaannya agar dirinya bisa satu ruang dengan Eve. Adya ingin berada di samping Eve dikala dirinya merasa sedih sama halnya bagaimana Eve yang selalu ada untuknya memberinya semangat setiap harinya ketika mereka jauh.
Tala yang melihat Adya langsung menurutinya dengan mudah ketika permintaannya dikabulkan untuk satu ruang dengan Eve hanya diam. “Kenapa semua orang menganggapnya adalah orang yang penting.” Ucap Tala dalam benaknya.
Tala menyuapi Adya sesuap demi sesuap. “Apakah dia begitu berharga dari kesehatanmu?” Tanya Tala tanpa ada nada emosi di dalamnya sangat datar.
Adya menghentikan kunyahan setelah sebelumnya menelan terlebih dahulu. “Iya dia sangat berharga bagiku. Siapa pun yang menyakitinya maka dia harus menghadapi aku terlebih dahulu karena aku adalah kakaknya.”
“Termasuk kamu jika kamu menyakitinya maka aku akan melakukan yang aku mau sebagaimana kamu yang suka melakukan apa yang kamu mau kepadanya.”
Tala tersenyum miris mendengar jawaban dari Adya. “Dia tidak berhak untuk mendapatkan kasih sayang kamu. Ingat karena dia kamu menjadi seperti ini.”
“Berhenti untuk menyalahkan Eve ini bukanlah salahnya karena ini adalah kesalahanku yang begitu bodoh. Buktinya dia tidak begitu dengan mudah tertipu oleh pria itu.” Tepis Adya dengan tegas.
“Dia hanya haus akan perhatian yang tidak didapatkannya.” Lanjut Adya lagi membuat Tala hanya diam dan tidak ingin mendengarkannya karena menurut Tala yang salah dari semua ini adalah Eve.
Adya menatap Tala yang hanya diam menyuapinya. “Bisakah kamu bersikap lembut kepadanya dan tidak keras kepala.” Ucap Adya dan menghentikan pergerakan tangan Tala yang hendak menyuapinya.
__ADS_1
“Kita sudah membicarakan ini sebelumnya. Jangan terlalu banyak bicara kamu harus segera makan.” Ucap Tala tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Adya.
Keesokan harinya, kakek Werawan datang ke rumah sakit untuk menjenguk cucu menantunya yang kedua-duanya sakit. Tapi, sebelum datang ke ruangan Eve kakek Werawan datang ke ruangan Adya terlebih dahulu untuk berbicara dengan cucunya.
Tala yang baru keluar dari dalam kamar mandi melihat kakeknya yang dengan santai duduk di sofa segera mendekat dan menyalami kakeknya lalu duduk di sebelah kakeknya.
Kakek Werawan yang sedang berbincang-bincang santai dengan Adya terhenti ketika Tala yang mengambil tangannya untuk dicium seperti biasanya. “Apa yang membuat kakek datang kemari. Seharusnya kakek tidak perlu datang ingat kesehatan kakek jangan sampai kakek lelah.” Ucap Tala.
Kakek Werawan hanya mengangguk dan tertawa mendengar nada perhatian yang diberikan cucu kesayangan ini. “Tentu saja kakek harus datang menjenguk kedua cucu menantu kakek sedang sakit apalagi kakek baru saja kehilangan cicit yang sudah dinantikan kakek.” Ucap kakek Werawan sambil menepuk punggung Tala. “Dan kakek tidak akan mudah lelah hanya karena menjenguk cucu menantu.”
Adya hanya diam dan memperhatikan menatap kakek dan cucu itu dari tempat tidurnya. “Lagipula ada yang ingin kakek bicarakan kepada mu.” Ujar kakek Werawan, “mempunyai dua istri memang tidaklah mudah dan maaf jika kamu merasa sangat terbebani dengan itu. Kamu tau adalah alasan kenapa kakek serta ibu dan ayahmu dan juga istrimu yang meminta kamu untuk menikahinya itu harus kamu ingat tanpa kamu perlu tau alasannya.”
“Yang jelas dia adalah wanita yang baik dan bisa memberikan kebahagiaan. Bukan berarti Adya tidak. Semua yang kami lakukan untukmu adalah demi kebahagiaan mu. Tidak mungkin kami ingin menjerumuskan mu ke hal yang buruk kamu tau bukan bahwa kamu adalah cucu kesayangan kakek.”
“Kakek di sini ingin meminta mu untuk memberikan penjagaan yang ketat dan memperbanyak lagi penjagaan buat kedua istri mu terutama Eve.” Setelah mengatakan itu kakek Werawan langsung bangkit dari tempat duduknya.
“Kakek ingin bertemu dan menjenguk cucu menantu Eve. Kamu harus menjenguknya juga dan berikan perhatian kepadanya.” Ujar kakek Werawan. Sementara Tala hanya diam dan mendengarkan.
Adya yang berada di ranjang di bantu oleh pengawal kakek Werawan untuk duduk di atas kursi roda namun Tala mencegahnya dan memerintahkan jangan melakukannya dan biarkan saja dirinya.
Kakek Werawan menatap tersenyum ke arah cucunya. Lalu berjalan terlebih dahulu ke ruangan Eve.
Di ruangan Eve kini Eve terlihat sudah sangat rapi walaupun menggunakan baju pasiennya tidak mengurangi kecantikan Eve. Ibu Dhara yang tau bahwa mertuanya akan datang segera merapikan Eve dengan menyisir rambut Eve.
“Cucu menantu.” Ucap kakek Werawan ketika masuk ke dalam ruangan Eve. Sementara Eve yang melihatnya menatap kakek Werawan dengan penuh tanda tanya. “Jangan memasang wajah seperti itu kakek tau bahwa kakek sangat tampan.” Ucap kakek Werawan dengan terkekeh.
Eve yang sejak tadi terdiam membulatkan matanya saat dirinya mengingatkan sesuatu. Kakek Werawan memeluk Eve dan mengatakan sesuatu kepada Eve. “Rupanya kamu masih mengingat kakek.”
Mata Eve berkaca-kaca melihat kakek Werawan yang baru pertama kali bertemu semenjak dirinya menikah dan menjadi bagian dari keluarga Werawan. “Kamu harus kuat, kamu ingatkan waktu pertama kali bertemu kakek akan membantumu jika kamu merasakan kesulitan. Bahkan jika cucu kesayangan kakek menyakitimu.” Bisik kakek Werawan yang masih memeluk Eve.
Lalu kakek Werawan melepaskan pelukannya. “Jangan menangis lagi setelah hari ini kamu harus bangkit. Bunga akan kembali bersemi setelah mengalami musim gugur. Kakek akan selalu berada di sisi mu.” Ucap kakek Werawan lalu kembali memeluk Eve dan berbisik. “Jika kamu sudah tidak tahan kamu bisa meminta tolong kepada kakek maka kakek akan mengabulkannya.”
Eve meneteskan air matanya mendapatkan perhatian yang tidak terduga dari kakek Werawan yang sebelumnya dirinya tidak pernah bertemu semenjak dirinya menjadi menantu.
Eve berpikir bahwa kakek Werawan tidak ingin melihatnya karena dirinya adalah istri kedua dari cucunya. Namun ternyata dirinya salah dan Eve kini mengerti kenapa kakek Werawan baru sekarang menunjukkan dirinya. Ini hanyalah dirinya dan kakek Werawan yang tau.
Sementara Adya dan Tala yang masuk ke ruangan Eve hanya menatap ke arah ranjang bagaimana kakek Werawan dan Eve yang sedang berbincang.
Adya sangat senang melihatnya bahwa kakek Werawan begitu sangat sayang kepada Eve bukan hanya kepada dirinya. Ibu Dhara dan ayah Davka juga sangat senang.
Setelah mendapat kunjungan dari kakek Werawan Eve menunjukkan perubahannya yang semulanya Eve harus dirawat selama satu minggu menjadi lima hari dan hal itu membuat Adya, ibu Dhara dan ayah Davka merasa sangat senang melihatnya.
Apalagi selama di rumah sakit Adya dan Eve satu ruangan membuat Adya yang suka sekali berbicara terus mengajak Eve berbicara dan menceritakan seuatu yang lucu kepada Eve untuk menghibur Eve.
Kini hari ini adalah hari di mana Eve sudah diperbolehkan pulang begitu juga dengan Adya. Sebenarnya Adya sudah diperbolehkan pulang oleh dokter tiga hari yang lalu namun Adya ingin terus bersama dengan Eve dan masih ingin dirawat.
Tidak ada yang bisa menolak permintaan dari menantu keluarga Werawan itu termasuk Tala. “Aku senang bahwa kita sudah pulang ke mansion.” Ucap Adya dengan wajah bahagianya. Eve menganggukkan kepalanya dan tersenyum mendengarnya.
“Kita akan menghabiskan waktu bersama-sama dan aku selama di rumah sakit banyak sekali menonton acara masak-masak dan sudah aku unduh.” Tala hanya diam mendengarkan perbincangan di antara kedua istrinya itu. Selama di dalam perjalanan obrolan itu didominasi oleh Adya sedangkan Eve hanya diam dan menyahut seadanya saja.
__ADS_1
Tapi, bagi Adya itu sama sekali tidak masalah yang penting dirinya bisa mengobrol dengan nyaman dan Eve bisa menunjukkan reaksi dan ekspresinya. Adya tau bahwa memang tidak begitu mudah melewatinya namun Adya ingin menjadi kakak yang baik buat Eve sebelum dirinya tidak ada lagi di dunia ini.
*Bersambung*