Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 141. Gara-gara Pesan


__ADS_3

Tala memencet bel apartemen di mana keluarga asisten Kaivan tinggal.


Tak menunggu berapa lama keluarlah asisten Kaivan dengan wajah bangun tidur dan rambutnya yang acak-acakan.


Melihat penampilan asisten Kaivan membuat Tala merasa heran hingga tanpa sadar kedua alisnya mengerut.


"Ada dengan wajah mu. Jangan memasang wajah seperti itu sudah tau jelek malah memasang tampang seperti itu."


Asisten Kaivan ingin sekali rasanya mencekik leher Tala. Sementara Eve hanya diam sana dengan Orion yang menyandarkan nyaman di dalam gendongan Eve.


"Silahkan masuk Nyonya muda dan Tuan muda Orion." Ucap asisten Kaivan mempersilahkan Eve dan Orion masuk tanpa memedulikan kehadiran Tala.


Eve masuk dengan ragu, "istri ku Yasmin sudah menunggu kedatangan Nyonya muda dan Tuan muda Orion." Melihat ada keraguan di dalam langkah Eve untuk masuk.


Tala menatap tajam ke arah asisten Kaivan. "Besok kamu harus sudah bekerja!" Seru Tala dengan kesal membuat asisten Kaivan membuka matanya lebar.


"Mana mungkin bisa begitu kamu sudah memberiku waktu selama 6 bulan untuk libur jika tidak ada hal yang penting itu pun kalau kamu tidak pikun." Asisten Kaivan mengingatkan Tala kembali akan perkataan bosnya itu.


"Berani sekali kamu bilang aku pikun, siapa kamu hah." Suara keributan di pintu apartemen terdengar saat Yasmin istri asisten Kaivan keluar dari kamar karena merasa sudah sangat lama sekali suaminya pergi semenjak bel apartemen berbunyi.


"Hai, aku Yasmin." Sapa Yasmin memberikan senyumannya kepada Eve dan juga Orion yang menatap ke arahnya dengan bulu mata yang berkedip lucu.


Yasmin menggandeng tangan Eve dan membawanya ke kamar di mana anaknya berada. "Jangan hiraukan mereka." Ucap Yasmin dengan lembut.


"Mereka memang tidak tau malu dan kekanak-kanakan." Ujar Yasmin menatap sinis ke arah suaminya dan Tala yang sibuk berdebat.


"Jangan sampai kalian membangunkan putra kecil ku jika dia terbangun maka aku potong aset kalian." Nada penuh ancaman namun ketenangan Yasmin keluarkan sehingga membuat asisten Kaivan dan Tala diam dan saling mengikuti satu sama lain.


Eve baru pertama kali melihat asisten Kaivan dan Tala berdebat seperti itu apalagi perdebatan sengit mereka tidaklah penting.


"Aku heran kenapa aku bisa menikah dengan dia." Gerutu Yasmin namun didengar oleh Eve sehingga membuat Eve mengerjapkan kedua buku matanya.


Yasmin yang melihat reaksi Eve atas perkataannya tertawa apalagi bulu mata Eve sangatlah mirip dengan bulu mata Orion. Wajar saja Eve kan ibunya.


"Selamat atas kelahiran mu." Ucap Eve.


"Terimakasih, jadi apakah sudah kamu lakukan atau sudah selesai?" Tanya Yasmin dengan tersenyum.


"Apanya yang dilakukan dan apa yang sudah selesai?" Tanya Tala.


"Ini adalah urusan wanita laki-laki tidak boleh tau." Ucap Yasmin dengan sengit membuat Tala menatap kesal.


"Apa!" Ucap Yasmin ngegas melihat Tala yang menatap dirinya dengan kesal.


"Tidak ada lembut-lembutnya padahal sudah menjadi ibu sangat berbeda sekali dengan Eve ku yang cantik dan lemah lembut." Membuat asisten Kaivan mencibir.


"Tapi sayang disia-siakan kalau aku jadi Eve aku sudah mencari pria lain agar Orion mempunyai ayah." Sungguh pedas sekali mulut Yasmin berucap. Wajah Yasmin yang sinis dan ucapannya yang pedas sangat mendukung sekali. Diam saja mungkin orang berpikir jika tidak tau maka akan mengira bahwa Yasmin sangat buruk perangainya.


"Eve apa aku boleh memanggilmu dengan Eve tanpa sebutan Nyonya atau Nona muda. Okay satu detik tidak menjawab berarti jawabannya adalah ia."


Asisten Kaivan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang istri.


"Jangan kaget dengan istriku dia memang seperti itu orangnya. Dia adalah teman yang baik pastinya." Ucap asisten Kaivan menuju Yasmin dengan menjelaskan kepada Eve tidak lupa asisten Kaivan bermain mata dengan Yasmin.


"Siapa namanya?" Tanya Eve berjalan mendekat namun tidak berani untuk memegang sembari memegang sebelah tangan Orion.


"Kafin Wishaka Dirgantara artinya tampan dan bijaksana. Sedangkan Dirgantara adalah nama keluarga ku yang artinya angkasa raya."


"Nama yang bagus." Puji Eve dengan tulus saat asisten Kaivan menjawab pertanyaan Eve dengan antusias.

__ADS_1


"Iya, sangat bagus." Tala memutar bola matanya malas padahal Eve hanya mengatakan bagus tanpa kata sangat. "Semoga dia menjadi orang yang tampan baik secara fisik maupun pribadi dan orang yang bijaksana di angkasa raya ini aamiin."


......***......


Saat ini anggota keluarga Werawan sedang berkumpul di ruang keluarga sembari menemani Orion menonton TV walaupun Orion terkadang mengabaikan tontonannya saat merasa bosan.


Geya baru saja pulang dari kantor padahal jam pulang sudah menunjukkan pukul 9 malam.


"Aku pulang." Ucap Geya semua orang memandang ke arah Geya terutama Tala yang menatap Geya dengan tajam.


Geya hanya menyengir saja, "jangan mendekat bau mu seperti bau kaos kaki." Ucap Tala membuat Geya cemberut mendengarnya dan menghentakkan kakinya kesal.


"Sayang sana bersihkan dirimu dulu agar terlihat lebih segar dan nyaman. Apa kamu sudah makan, mau bibi panasin?"


"Iya bibi. Geya sudah makan mana mungkin Geya makan malam jam segini nanti badan Geya gendut." Perkataan Geya membuat tangan Eve berhenti memasukkan makanan ke dalam mulutnya padahal Eve saat ini sedang makan buah-buahan.


Selepas perginya Geya, Eve hanya terdiam. "Ibu, ayah Eve pamit pergi ke kamar dulu."


"Kamu pasti merasa lelah sayang istirahatlah Orion biarkan ibu dan ayah saja. Tapi, kamu harus susui Orion terlebih dahulu nanti ibu akan datang membawanya ke kamar ibu dan ayah." Eve menganggukkan kepalanya.


Tala juga mengekori Eve ke kamar dan bertanya-tanya kenapa Eve tiba-tiba ingin ke kamar.


Eve segera menyusui Orion beruntung anaknya dengan cepat menempel dengannya tanpa banyak drama yang harus dilakukan seperti biasanya.


"Dia sangat haus sekali aku jadi cemburu." Ucap Tala sembari bersandar di bahu Eve melihat Orion yang sedang meminum susu dari ibunya.


Eve sudah sangat malas untuk melarang atau pun berdebat dengan Tala untuk jangan melihatnya jika sedang menyusui Orion.


"Sayang pipi bunda menjadi merah." Tala mengajak Orion berbicara.


Tangan Orion memegang pipi Eve dan tersenyum saat Eve tersenyum ke arahnya.


Eve, "..."


"Pergilah." Usir Eve kepada Tala daripada mendengar Tala harus berbicara melebar ke mana-mana dan ujungnya pasti mesum.


"Nggak mau." Rengek Tala dan malah semakin menyandarkan kepalanya di bahu Eve.


Orion melepaskan mulutnya dan tangannya menyingkir kepala Tala dari Eve.


Orion seolah merasakan bahwa Eve sangat risih dengan Tala.


"No no no no."


"Aduh, sayang kenapa di cengkram sih muka ayah." Saat Orion ingin menyingkirkan kepalanya di bahu Eve.


Orion memeluk Eve dengan posesif entah kenapa akhir-akhir ini putranya itu sangat posesif kepada Eve.


"Bunda sepertinya kita perlu ke rumah sakit dan ke psikolog. Ayah merasa bahwa Orion akhir-akhir ini bersikap protektif sekali dengan bunda setiap kali ayah mau mendekat."


"Dia begitu karena tidak suka melihat ayahnya menempel dengan bundanya." Ujar Eve dengan datar.


"Na na na al ya ya ya."


"Iihhhhj gemes deh." Ucap Tala sambil mencubit pipi Orion hingga pipi Orion memerah.


"Sayangnya bunda." Ucap Eve saat melihat Orion yang matanya berkaca-kaca.


"Kenapa jadi manja banget sih." Tala sedang mode on cemburunya.

__ADS_1


Eve mengernyit mendengarnya, "dia masih bayi dan wajar kalau dia manja bukan seperti seseorang." Cibir Eve.


"Na na na Je Je Je." Ucap Orion.


"Baiklah kita video call princess Jean." Padahal tadi kata ibu mertuanya Orion sudah video call dengan sepupunya itu.


"Halo adik kakak." Sapaan Joha membuat Eve tersenyum. Joha memperlakukannya seperti anak kecil namun Eve sangat suka.


"Pi pi pi pi pi pi." Celotehan Orion membuat Joha tertawa.


"Papi sangat merindukan pangeran papi tadi kenapa Orion tidak datang bersama dengan granny dan grandpa padahal Jean sudah menunggu kakak Orion."


Tala duduk di samping Eve dan Orion dengan anteng sembari mendengar percakapan dan obrolan istri dan iparnya itu.


Tala merasa kagum dengan Eve yang bisa mengerti bahasa bayinya Orion dan Jean. Sepertinya dirinya harus belajar bahasa bayi apalagi nanti hasil kerja kerasnya setiap malam dan tadi pagi berbuah.


Tala beranjak dari tempat duduknya dan mengambil ponselnya lalu menyuruh ke asisten dan sekretarisnya untuk mencari kursus tempat di mana bisa belajar bahasa bayi.


Asisten Kaivan dan sekretaris Diego mendesah saat membaca pesan Tala. "Apalagi yang dia pikirkan?" Gumam asisten Kaivan.


"Apa yang sedang kamu lihat?" Tanya Yasmin dengan memasang wajah curiganya ke sang suami. Selama melahirkan Yasmin masih sangat sensitif dan sering merasa curiga dengannya kata dokter yang merawat istrinya bahwa Yasmin sedang mengalami baby blues. Tak jarang Yasmin akan menangis tiba-tiba sehingga membuat asisten Kaivan bingung harus bagaimana.


Yasmin terkadang manja, manis, galak, kesal, dan penuh kecurigaan kepadanya.


"Sayang kamu mengagetkan aku saja. Si anak ayam menyuruh ayah untuk mencari tempat kursus bahasa bayi."


"Ouw baguslah kamu harus ikut kelas itu juga." Membuat asisten Kaivan menganga tak percaya mendengan penuturan istrinya itu.


Dia tidak seaneh si anak ayam yang selalu saja ada kelakuannya yang bikin orang pusing.


"Kenapa aku harus ikut?"


"Kenapa kamu bilang." Lihat Yasmin mulai kesal membuat asisten Kaivan meringis.


"Iya iya aku ikut sayang." Ucap asisten Kaivan sembari memeluk Yasmin untuk menenangkan istrinya itu. Emosi Yasmin biasanya akan mereda jika dia peluk.


'Awas saja kamu anak ayam, kurang kerjaan sekali malam-malam mengirim pesan seperti itu membuat orang dalam masalah saja' Gerutu asisten Kaivan.


"Kenapa kamu mendesah begitu keras apa kamu malas mendengar aku berbicara!"


Sekretaris Diego dengan perlahan meletakkan ponselnya di sampingnya. Akhir-akhir ini Wendy memang sangat sensitif itu karena kehamilannya.


Kenapa perempuan itu sangat sensitif. "Tidak sayang." Ucap sekretaris Diego dengan cepat. "Aku tadi habis baca pesan dari anak ayam."


"Memangnya dia kenapa lagi?" Tanya Wendy yang sudah biasa melihat Tala yang suka berulah.


"Mencari tempat kursus belajar bahasa bayi." Memikirkannya saja membuat sekretaris Diego lelah. Apa ada ya tempat kursus seperti itu.


"Itu sangat bagus kamu harus ikut Tala juga. Kata mu kamu ingin menjadi ayah yang sempurna dan terbaik nantinya."


Kenapa harus dia yang ikut sekretaris Diego menyesal mengatakannya kepada Wendy.


Sekretaris Diego mencium perut Wendy dan berbisik di depan perut Wendy seolah sedang berbicara hal yang serius dengan bayi di dalam kandungan istrinya itu.


"Apa yang kamu katakan padanya? Awas saja kamu bilang dan gibahin aku makan banyak dan badan aku sudah mulai lebar."


Semua menjadi serba salah padahal tadi mereka baru saja habis mesra-mesraan.


Ini semua karena ulah anak ayam itu. Dasar tidak ada akhlak.

__ADS_1


__ADS_2