Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 129. Cemburu!?


__ADS_3

Tala mengerjapkan kedua matanya ketika mendapatkan tatapan kesal dari istrinya itu.


"Siapa yang pamer bunda?" Tanya Tala membuat Eve merasa sangat kesal.


"Tidak tau " Ujar Eve dengan ketus. Saat ini ingin sekali Eve menusuk mata semua wanita yang ada di sini sedang memandang ke arah suaminya.


Apa para wanita itu tidak melihat bahwa ada seorang wanita di depan suaminya itu yaitu dirinya.


Apakah dirinya tidak kelihatan sampai mengabaikannya.


"Tadi, ayah lihat email yang dikirimkan asisten Kaivan yang sedang memamerkan anaknya." Ujar Tala sembari menyerahkan ponselnya ke arah Eve.


Eve melihat isi ponsel suaminya itu dan saat Eve melihatnya Eve merasa sangat senang. "Sangat lucu." Ujar Eve.


Tala yang melihat bahwa suasana hatinya sudah membaik merasa lega. Ada untungnya dirinya memberikan ponselnya ke istrinya itu.


Mata Tala memandang di sekitar dan Tala baru menyadari ada banyak pasang mata yang memang ke arah mejanya. Tala tidak mempermasalahkan itu.


Mata Tala menangkap ada seorang laki-laki yang sedang memandang ke arah Eve melihat hal itu membuat Tala kesal.


Sedangkan Eve tidak menyadarinya karena Eve fokus dengan ponsel yang diberikannya tadi.


Tala memandang tajam ke arah pria tersebut yang menatap ke arah istrinya.


Namun pria tersebut tidak menyadari ada seorang pria yang di depan wanita yang dikaguminya itu saat melihat Eve yang tersenyum manis memandang ponsel di tangannya.


Tala mengepalkan kedua tangannya seharusnya tadi dia membooking tempat es krim ini agar tidak ada yang melirik istrinya dengan pandangan yang kagum dan rasa ingin memiliki itu.


Padahal yang melihat Tala sangat banyak dan Eve hanya satu.


Pria itu dengan berani berjalan mendekat ke arah meja Tala dan Eve hal itu membuat Tala menatap memicing dengan pandangan tajamnya.


"Ekhm Nona." Panggil pria itu membuat Eve menolehkan kepalanya.


Eve mengernyitkan dahinya saat melihat seorang pria asing yang sedang tersenyum ke arahnya itu memanggilnya.


"Bolehkan saya berkenalan dengan Anda dan bertukar nomor." Pria itu sungguh sangat berani.


"Tidak boleh." Ucap Tala dengan tegas dan datar.


"Maaf Nona ini siapa Anda. Apakah dia kakak Anda?" Dengan beraninya pria itu mengatai Tala.


Eve yang mendengarnya menatap tak percaya dengan apa yang didengarnya.


Eve melirik ke arah suaminya dan melihat wajah suaminya. Suaminya terlihat tidak tua sama sekali.


Wajah suaminya itu sudah sangat masam. "Saya adalah suaminya bernai sekali dirimu menggoda istri saya." Tala sedang menahan amarahnya.

__ADS_1


Eve mengusap tangan suaminya yang ada di meja. "Maaf Tuan saya tidak bisa berkenalan dengan Anda karena saya sudah mempunyai suami Anda bisa melihatnya sendiri." Ucap Eve sembari menunjukkan cincin di jari manis tangan kirinya.


Eve memang sengaja mengatakan seperti itu karena melihat seluruh pandangan orang sedang menatap ke arah mejanya.


Sekalian Eve membalas rasa kesalnya tadi karena para wanita yang menatap ke arah suaminya dengan rasa memiliki Eve sangat tidak suka.


Tala yang melihat Eve menunjukkan dan mengakuinya sebagai suami dengan tegas merasa sangat senang dan suasana hatinya membaik.


"Kamu bisa mendengar sendiri pergi dari sini sebelum aku hancurkan dirimu." Ujar Tala dengan dingin.


"Oooh maafkan saya Tuan dan Nona saya kira Nona ini masih sendiri dan saya mengira bahwa Tuan adalah kakak dari Nona ini." Ucap pria itu dengan gugup saat tau dirinya sedang mengajak istri orang berkenalan.


"Huh apa aku terlihat sangat tua sekali atau matanya yang bermasalah." Gerutu Tala merasa kesal setelah kepergian pria itu.


Eve menatap ke arah suami ya sembari mengangkat kedua alisnya itu. "Iya kamu terlihat sangat tua."


Eve ingin menggoda suaminya itu apalagi akhir-akhir ini suaminya terus menggodanya hingga pipinya memerah karena merasa malu dan menyosor suka seenaknya.


"Ayah tidak tua bunda." Ujar Tala dengan kesal. "Apa bunda ingin ayah buktikan bagaimana perkasanya ayah. Bahkan ayah bisa membuat bunda menjerit-jerit setiap malamnya karena keperkasaan ayah."


Eve menutup mulut suaminya agar tidak berbicara melantur saat melihat pelayan yang berjalan mendekat ke arah meja mereka untuk mengantarkan pesanan mereka.


Eve menatap tajam dengan memelototkan matanya ke arah Tala. "Jangan berbicara sembarangan." Ucap Eve.


'Dasar tidak tau malu dan tidak tau tempat'


"Seharusnya bunda jangan menutup mulut ayah seperti itu." Seru Tala di dalam hatinya sudah tersenyum penuh kemenangan bahwa gayungnya akan bersambut.


"Lalu harus bagaimana?!" Tanya Eve sembari menyendokkan es krim untuk dimasukkan ke dalam mulutnya.


'Gotcha.' Sorak Tala dalam hati kegirangan.


"Bunda ingin tau baiklah jika bunda mau tau." Secepat kilat Tala mendekat ke arah Eve dan mencium bibir Eve dan sedikit menggerakkan bibirnya sebentar.


Semua orang yang dari tadi memandang keduanya nampak syok. Ada yang merasa malu melihatnya karena tidak percaya mereka akan melihat live langsung. Jiwa jomblo mereka meronta-ronta dan semakin mendamba.


"Manis." Ujar Tala di depan bibi Eve dan memandang Eve dengan tatapan nakalnya ke arah Eve.


Eve yang masih nampak syok menatap Tala tidak percaya. Ini lebih memalukan dari perkataan Tala yang tidak disaring tadi.


Tala dengan wajah tanpa berdosanya memakan es krim miliknya dengan memandang Eve tersenyum.


Tampak wajah Eve memerah entah karena malu atau menahan marah dengan apa yang dilakukan oleh Tala kepadanya.


Namun dari lubuk hatinya Eve merasa puas saat melihat para wanita yang melihat ke arah mereka juga nampak syok. Eve seolah menegaskan bahwa mereka tidak akan pernah bisa mendapatkan Tala.


Sementara Tala menatap ke arah pria yang juga menatap mereka dengan tidak percayanya.

__ADS_1


'Dia hanyalah milikku bukan milik orang lain siapa pun tidak berhak atasnya selain aku.'


......***......


Malam ini Tala mengajak Eve untuk makan malam di luar tadinya Tala juga ingin mengajak Orion namun sepertinya ibu dan ayahnya tidak membiarkan dia membawa cucu mereka.


Bahkan ibunya itu menyuruh untuk jangan pulang saja dan menginap di hotel sambil mengerlingkan matanya ke arahnya tadi.


Tala tau maksud dari apa yang dilakukan ibunya kepada dirinya pasti ibunya mendukung bahwa mereka akan menambah cucu untuk mereka.


Sementara Eve merasa berat meninggalkan Orion karena permintaan suaminya namun mertuanya sepertinya enggan berpisah dengan cucu mereka.


Eve mengalah dan mencoba mengerti bahwa mertuanya begitu sangat menyayangi cucu mereka dan Eve merasa bersalah karena sudah menjauhkan cucu dari kakek dan neneknya.


"Jangan bersedih seperti itu. Orion pasti akan baik-baik saja. Lagipula kita bisa membuatnya lagi untuk menemani Orion." Ujar Tala dengan genit untuk menghibur Eve yang sedih berpisah dengan anaknya.


Memang waktu Eve dan Orion berkurang hari ini karena ibunya terus menempel dengan Orion dan dirinya membawa Eve ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan rutin dan malam ini dirinya mengajak Eve makan malam.


Eve memutar bola matanya malas kenapa ucapan Tala tidak jauh dari itu.


"Jadi, bagaimana apa bunda mau menginap di hotel atau kita pulang?" Tanya Tala ketika mereka sudah sampai di restoran.


"Pulang saja." Eve merasa kurang nyaman jika berada di luar rumah.


Tala hanya mengangguk saja menurutnya mau di luar atau pun di tempat lain bukanlah masalah selagi bersama dengan Eve.


Penampilan Eve malam ini mampu membuat Tala terpikat dengan gaun berwarna peach yang sangat serasi dengan warna kulitnya yang seputih salju.


Eve memandang ke sekitar ruangan ada banyak orang yang sedang makan malam di restoran ini.


"Apakah bunda merasa nyaman?" Tanya Tala dan merasa khawatir bahwa Eve tidak menyukai tempat makan malam yang dipilihnya.


"Ini sangat nyaman terimakasih." Membuat Tala merasa sangat senang dan percaya diri. "Tapi boleh memberikan saran."


Tala menganggukkan kepalanya, "tentu saja apa pun bunda yang minta Ayah akan berusaha untuk mengabulkannya tapi tidak untuk berpisah atau menyuruh ayah untuk menjauh.


"Akan lebih nyaman jika hanya berdua." Tala yang mendengarnya menatap Eve dengan berbinar. "Dan di tempat yang jauh dari keramaian."


Padahal yang dimaksud Eve, "terlalu banyak orang membuat tidak nyaman." Buat Eve yang kurang menyukai banyak orang di sekitarnya membuat Eve merasa gugup dan cemas bersamaan.


"Baiklah lain kali ayah akan membookingnya, bahkan jika bunda menyukai restoran ini maka ayah akan membelinya sekarang."


Kenapa jadi membeli restoran sih pembicaraannya padahal Eve mengungkapkan perasaan dan pikiran yang tidak nyaman. Maksud dari Eve akan lebih baik makan di mansion saja.


Apalagi lagi lagi Eve melihat banyak pasang mata para wanita yang menatap ke arah Tala dengan mata genit mereka.


'Apakah mereka tidak pernah melihat laki-laki.' Kesal Eve di dalam hatinya.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2