
Sesampainya di mansion Werawan Eve turun sambil mendorong kursi roda Adya. Adya sudah berusaha untuk menolaknya namun Eve bersikeras untuk itu. Sementara Tala yang selesai mengantar kedua istrinya langsung pergi ke kantor.
“Sayang kenapa kamu yang mendorongnya kamu bisa meminta tolong kepada pengawal atau pun pelayan.” Ucap ibu Dhara yang heboh saat melihat bahwa menantu keduanya mendorong kursi roda menantu pertamanya.
Eve menatap tersenyum ke arah ibu Dhara. “Tidak apa-apa ibu, Eve sangat merindukan kak Adya. Lagipula Eve sudah sembuh.” Ujar Eve kepada ibu Dhara sementara Adya hanya bisa pasrah karena dirinya sudah menyuruh agar Eve jangan mendorongnya.
“Percuma ibu memberi tahu menantu ibu yang cantik ini, Adya tadi sudah berulang kali menyuruhnya agar jangan mendorong kursi roda Adya, tapi ibu bisa lihat sendiri bukan.” Ujar Adya membuat Eve tertawa mendengarnya.
Ibu Dhara menggelengkan kepalanya lalu mengambil alih kursi roda Adya dari tangan Eve. “Sayang sudah kamu harus istirahat di ruang keluarga ibu sudah menyiapkan cemilan buat kedua menantu ibu.” Ujar ibu Dhara membuat Adya dan Eve tersenyum mendengarnya.
“Sudah lama sekali bukan kita tidak menghabiskan waktu bersama. Ibu sangat merindukannya.” Ungkap ibu Dhara Eve hanya diam dan tersenyum saja sementara Adya tertawa mendengarnya.
“Mulai sekarang kita akan melakukannya setiap hari dan sangat lama pastinya. Apalagi menantu ibu yang dokter cantik memerlukan waktu untuk penyembuhannya. Atau kita bisa piknik di belakang rumah dan menyuruh tukang untuk membuat rumah pohon.”
Ibu Dhara yang mendengarnya bersemangat. “Sayang kamu mau kan?” Tanya ibu Dhara kepada Eve dan Eve hanya mengangguk.
“Iyalah pasti Eve mau. Bagaimana kalau kita membuat daftar harian kita apa yang harus dilakukan.” Usul Adya dengan semangat. “Bibi bisakah Adya meminta tolong ambilkan pulpen dan pena berikan kepada Eve biarkan dia yang menulisnya.”
Ibu Dhara dan Eve yang mendengarnya tertawa. “Ibu kira kamu yang akan menulisnya ternyata kamu menyuruh Eve.”
“Tentu saja itu bukan aku. Ibu dan Eve juga tau bukan bahwa aku paling tidak suka menulis dan aku bukanlah orang yang detail.” Ucap Adya. Ibu Dhara hanya menggelengkan kepalanya mendengar jawaban dari menantu pertamanya ini.
“Ibu menyiapkan biskuit kesukaan kalian dan bolu. Yang satu rasa pandan dan satunya rasa coklat.” Ucap ibu Dhara menunjukkan biskuit dan bolu di depan meja lalu mengambil irisan dan diletakkan di atas piring.
“Ini makanlah sayang kamu harus makan banyak.” Ucap ibu Dhara dan memberikannya kepada Eve tidak lupa mengelus rambut Eve. “Dan ini untuk menantu ibu yang cerewet. Bolu coklat.” Ucap ibu Dhara sambil mencubit hidung mancung Eve.
Eve memakan bolu pandan yang diberikan kepadanya dan tersenyum menerima perhatian yang tidak pernah Eve bayangkan. “Kamu bisa bertahan untuk satu tahun lebih lagi Eve. Lihat mertuamu yang begitu penuh kasih sayang. Kesempatan tidak datang kedua kalinya.” Ucap Eve dalam benaknya.
Ibu Dhara dan Adya yang melihat Eve tanpa sadar meneteskan air matanya menatap Eve dengan sedih namun mereka berusaha untuk memberikan tatapan yang ceria. “Apakah bolunya sangat enak sampai kamu menangis terharu sayang.” Ucap ibu Dhara.
Eve yang termenung mengerjapkan kedua matanya dan melihat ibu Dhara serta Adya yang menatap ke arahnya dengan senyumannya. “Iya ibu ini sangat enak wajar menantu dokter ibu yang cantik itu terharu.” Ucap Adya lalu berpura-pura meneteskan air matanya.
Sehingga terjadilah gelak tawa di ruang keluarga karena ulah Adya. Kepala pelayan yang melihat mertua dan kedua menantu yang begitu akur menatap terharu dan tersenyum melihatnya. “Suasana kembali hidup.” Gumam kepala pelayan.
Lalu mata pelayan menatap ke arah Eve dan kepala pelayan yang melihatnya hanya bisa berdoa agar Eve bisa segera bangkit lagi setelah kehilangan bayi yang dikandungnya.
Kepala pelayan merasa buruk saat dirinya tidak begitu dengan cepat berada di sisi Eve sehingga membuat Eve jatuh. Dirinya sudah melihat layar CCTV seluruh mansion ini dan sudah memecat pelayan yang dengan sengaja membuat kecerobohan itu.
Namun, sayang saat dirinya mengetahui itu pelayan itu melakukan bunuh diri sehingga membuat kepala pelayan dan kepala pengawal kehilangan jejak dan hal itu membuat Tala murka karena tidak berhasil mendapatkan dalangnya.
Eve kembali ke dalam kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya sebelum makan siang. Di dalam kamar Eve hanya duduk termenung sambil mengelus perutnya. Air matanya jatuh ketika mengingat bahwa janinnya sudah pergi menghilangkannya.
“Apakah ibu dan ayah bertemu dengan cucu ibu di surga.” Ucap Eve dengan dirinya sendiri. “Ibu ayah tolong jaga cucu kalian di surga.” Isak tangis Eve. “Maafkan ibu sayang karena ketidakhatian ibu kamu tidak bisa melihat dunia.”
“Bahkan sebelum kakek dan nenek serta mama Adya mengetahuinya dan memberikan perhatiannya kepada kamu. Maafkan ibu yang ragu untuk memberitahukan keberadaanmu kepada mereka.” Eve mengusap air matanya.
Lagi-lagi dirinya tertidur karena lelah menangis saat dirinya terbangun dan bercermin di meja riasnya. Eve dengan segera mencuci wajahnya sebelum meriaskan matanya yang sembab untuk menyembunyikan mata sembabnya.
“Kamu harus tersenyum Eve jangan memperlihatkan wajah sedihmu. Ingat jangan sampai mereka bosan buat menghiburmu.” Ucap Eve dengan dirinya. Sungguh pikiran Eve sangat tidak sehat dan negatif.
Padahal ibu Dhara dan Adya tidak akan pernah bosan dan mengerti bagaimana perasaan Eve yang baru kehilangan bayinya. Untuk mendapatkan pikiran yang sehat tidak mudah bagi Eve sekarang.
Di ruang makan Eve disuguhkan dengan banyak makanan yang menjadi kesukaannya. “Sayang makanlah yang banyak ibu memasak makanan kesukaan mu hari ini.” Ujar ibu Dhara sedangkan Eve hanya tersenyum dan mengucapkan terimakasih.
__ADS_1
“Apakah kamu ingin berlibur?” Tanya ayah Davka kepada menantu keduanya itu. Eve menggelengkan kepalanya.
“Tidak terimakasih ayah, Eve hanya ingin di mansion saja dan meminta izin untuk kembali bekerja.” Ujar Eve.
“Tidak boleh.” Ucap Tala yang baru datang mendengar permintaan Eve kepada ayahnya. Tala sangat memahami bagaimana ayah dan ibunya yang akan menuruti keinginan Eve apalagi sekarang Eve mendapat dukungan dari kakek Werawan.
Eve yang mendengar nada suara yang dingin itu menundukkan kepalanya dan memegang sendok serta garpu yang ada di tangannya dengan keras. “Tala benar sayang kamu baru saja sembuh. Kamu istirahatlah terlebih dahulu. Ibu juga tidak setuju jika kamu kembali bekerja.” Ujar ibu Dhara.
“Suamimu benar sayang. Untuk sekarang kamu tidak boleh bekerja kamu fokus saja dengan kesembuhanmu. Bukan berarti kami di sini melarang kamu dan tidak membebaskanmu hanya saja kami meminta kepadamu untuk beristirahat terlebih dahulu.” Ujar ayah Davka memberikan pengertian kepada Eve sementara Eve hanya diam dan mengangguk.
Adya hanya diam dan mendengarkan lalu matanya menatap ke arah Tala yang sedang duduk di seberang sana tepatnya di samping ibu Dhara. Di dalam benak Adya tidak bisakah Tala berbicara lembut kepada Eve.
Tala yang melihat Adya memperhatikannya dengan tajam dan wajah kesalnya hanya mengangkat kedua alisnya dan Adya yang melihatnya memutar bola matanya malas. “Sayang ayo lanjutkan makannya.” Ucap ibu Dhara.
Eve mengangguk dan diam sambil memakan makanannya dengan pelan. “Sayang apakah kamu ingin menambah lagi ini makanannya masih banyak.” Ujar ibu Dhara yang melihat makanan di piring Eve sudah habis dan Eve tadi hanya mengambil sedikit.
“Tidak terimakasih ibu, Eve sudah kenyang. Terimakasih atas hidangannya, bolehkah Eve kembali ke kamar.” Izin Eve dan diangguki oleh ayah Davka dan ibu Dhara.
Hari-hari yang dijalani Eve hanya berdiam diri di mansion mengisi hari-harinya dengan jadwal yang telah dibuatnya bersama dengan ibu Dhara dan Adya.
Tidak ada yang tau bahwa Eve dan Tala sudah pisah ranjang. Yang mereka tau dan lihat bahwa Tala memasuki kamar dirinya dengan Eve sedangkan kenyataannya Tala tidur di ruang kerjanya.
Eve berpikir bahwa Tala jijik dengannya dan tidak sudi untuk menyentuhnya lagi karena ketidakhatiannya dalam menjaga bayi di kandungannya.
“Kakak mau ke gereja lagi?” Tanya Eve saat melihat Adya dengan pakaian rapinya.
Adya yang melihat Eve tersenyum. “Iya aku mau ke gereja apakah kamu mau ikut?” Tanya Adya dan Eve hanya menggelengkan kepalanya. “Kalau begitu aku pergi bye Eve sayang.” Ucap Adya.
“Oh iya aku lupa, kamu saja ya yang bilang bye Eve.” Ucap Adya dengan cepat segera pergi meninggalkan Eve yang terdiam. Eve mengerjapkan kedua matanya dan mengulum bibirnya merasa gelisah.
“Bagaimana aku harus kasih taunya.” Gumam Eve gelisah. “Tapi, nanti dia marah lagi kepadaku jika aku tidak memberitahukan dan tidak tau ke mana kak Adya pergi.”
Tala yang hendak keluar dari kamarnya terhenti melihat Eve yang berdiri di depan pintu kamar. “Apa yang sedang kamu lakukan?” Tanya Tala dengan wajah datarnya membuat Eve terkejut dan mengusap dadanya.
“Kamu mengagetkan ku saja.” Ucap Eve dengan spontan kalimat yang diucapkan Eve terlihat santai dari biasanya dan sama seperti dulu. Tala hanya menatap dengan datar. “Maafkan aku.” Ucap Eve menggigit bibir bawahnya.
Saat Tala hendak melangkahkan kakinya Eve menahan Tala. “Tunggu.” Tahan Eve kepada Tala sehingga membuat Tala membalikkan badannya ke arah Eve. “Kak Adya tadi meminta izin untuk pergi ke gereja dan menyuruhku.” Ucap Eve tanpa menatap wajah Tala.
“Dasar tidak sopan, aku di depan mu bukan di bawah.” Ujar Tala sehingga membuat Eve menghela nafasnya dengan pelan lalu mendongakkan wajahnya untuk melihat wajah Tala namun sayang Tala sudah membalikkan badannya dan hendak pergi.
Eve kembali menahan Tala namun tidak berbicara melainkan menggenggam ujung jas yang dikenakan Tala sehingga membuat Tala menoleh ke samping untuk melihatnya. Sementara Eve sangat gelisah namun ia harus mengatakannya. “Apakah sekarang aku boleh bekerja ini sudah satu bulan.”
Tala hanya diam mendengarkan lalu berkata. “Terserah kamu.” Jawab Tala dan hal itu membuat Eve tidak puas mendengarnya kenapa sih lelaki di depannya suka sekali berbicara terserah.
“Apakah kamu mengizinkannya?” Tanya Eve sekali lagi dan jawaban Tala sama hanya menjawab terserah. “Bisakah jangan jawab terserah.” Ucap Eve menaikkan nada volume suaranya karena merasa kesal lalu dengan segera Eve menutup mulutnya tidak percaya.
Tala membalikkan badannya dan menatap Eve dengan tatapan tajamnya dan wajah datarnya. “Sekarang kamu sudah berani.” Ujar Tala dengan datar.
Eve menundukkan kepalanya dan mengucapkan kata maaf dan sedikit menampar mulutnya. “Coba kamu ulangi.” Perintah Tala.
Eve memejamkan matanya sebelum mengulangi apa yang ingin dikatakannya. “Bisakah kak Tala mengijikanku untuk kembali bekerja.” Cicit Eve.
Tala memajukan tubuhnya lebih dekat kepada Eve sehingga membuat Eve terpojok di dinding. “Aku di depan bukan di bawah.” Ujar Tala dengan dingin.
__ADS_1
Eve yang mendengarnya kembali merasa kesal. “Kamu juga begitu waktu tadi aku meminta izin kamu tidak membalikkan badanmu.” Ucap Eve sambil menunjukkan wajah kesalnya namun kembali menciut saat melihat tatapan Tala. “Maafkan aku.”
Tala memajukan wajahnya bahkan hidung keduanya sudah bersentuhan dan Eve yang melihatnya menahan nafas dan memejamkan matanya. “Maaf ibu tidak melihatnya.” Ucap ibu Dhara yang hendak memanggil Eve agar segera turun.
Kedua suami istri itu menoleh ke arah ibu Dhara yang sudah memejamkan matanya. “Ibu tidak melihatnya kalian boleh melanjutkannya.” Ujar ibu Dhara dan segera membalikkan badannya untuk berjalan ke arah dapur lagi.
Wajah Eve memerah karena kepergok oleh ibu mertuanya walaupun sebenarnya tidak terjadi apa-apa. Sedangkan Tala melihat ekspresi wajah Eve yang memerah, “kamu boleh bekerja tapi tunggu satu minggu lagi.” Ujar Tala lalu segera pergi dari hadapan Eve.
Eve yang ditinggalkan Tala dengan jawaban yang diinginkannya tersenyum sumringah bahwa minggu depan dia diperbolehkan lagi untuk bekerja.
Di ruang makan Eve datang terakhir wajah Eve masih memerah. “Sayang ibu dengar bahwa kamu minggu depan akan kembali bekerja apakah itu benar?” Tanya ibu Dhara dan Eve hanya menganggukkan kepalanya.
Ibu Dhara hanya mengangguk saja. “Baiklah jika itu keinginanmu. Kamu harus hati-hati ya dan jaga kesehatanmu agar kamu bisa segera kembali bekerja.” Ini bukanlah kedua kalinya Eve meminta untuk bekerja melainkan sudah berapa kali jadi ibu Dhara dan ayah Davka tidak melarangnya karena Tala sendiri yang telah mengizinkannya.
Mereka tau bahwa menantunya ini merasa sangat bosan di mansion dan kebahagiaan menantu mereka ada pada pasiennya.
Satu minggu sudah berlalu sesuai yang dikatakan Tala kepadanya bahwa dirinya hari ini boleh bekerja. Dari pagi Eve sudah sangat bersemangat karena hari ini dirinya akan bekerja kembali.
Tala yang melihat Eve bersenandung ceria saat dirinya keluar dari dalam kamar mandi menatap Eve dengan wajah datar dan diamnya.
Eve masih sibuk dengan riasan di wajahnya senyum di wajah Eve tidak pernah pudar tanpa menyadari bahwa Tala sudah selesai dengan mandingnya. Saat Eve membalikkan badannya Eve mengerjapkan kedua matanya saat melihat Tala yang sedang mengusap rambutnya.
Eve dengan segera berjalan ke ruang ganti untuk mengambil setelan kerja Tala dan memberikan padanya lalu pergi dari kamar setelah itu. “Huft.” Ucap Eve dengan nafas leganya dan merutuki kebodohannya.
Eve masuk ke dalam kamar yang di depannya di mana kamar itu adalah kamar milik Adya. “Kakak Eve masuk ya.” Ucap Eve setelah sebelumnya mengetuk pintu kamar Adya dan mendengar sautan dari pemilik kamar.
“Kak Adya sudah rapi ayo kak aku akan mendorong kursi roda kakak. Aku menyayangi kakak jadi kakak harus semangat untuk sembuh.” Ucap Eve memberikan semangat kepada Adya.
Adya hanya tersenyum senang mendengarnya selama dua minggu ini kesehatan Adya kembali menurun dan dalam seminggu Adya harus berapa kali ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan.
Eve tau bahwa melakukan begitu banyak pemeriksaan sangat melelahkan. “Eve sayang kakak, kakak harus semangat biar nanti kita memasak menu baru lagi.” Ujar Eve sambil mendorong kursi roda Eve.
Saat itu berpas-pasan dengan Tala yang baru keluar dari dalam kamarnya dan Tala melihat Adya yang didorong oleh Eve. “Aku saja yang mendorongnya.” Ujar Eve lalu segera mengarahkan kursi roda Adya untuk masuk ke dalam lift.
Tala hanya diam dan memperhatikan dan tidak ikut masuk ke dalam dan Tala memilih untuk turun menggunakan tangga saja.
“Wajahmu terlihat lebih cerah apakah kamu merasa sangat senang karena akhirnya kamu diperbolehkan bekerja?” Tanya Adya yang melihat pantulan wajah Eve yang tidak berhenti tersenyum.
“Iya Eve sangat senang karena akan bertemu dengan pasien Eve lagi serta bertemu dengan keluarga yang pasiennya Eve tangani. Bagi Eve mereka adalah healing buat Eve.” Jawab Eve dengan semangat mendengarnya membuat Adya senang dan hatinya membaik.
“Aku senang jika kamu senang tapi ingat kamu harus menjaga kesehatanmu ya ibu dokter.” Ucap Adya.
Tala yang melihat kedua istrinya keluar dari dalam lift dari tangga yang sedang bercakap-cakap sambil tersenyum dengan bahagianya. “Huh sesenang itu kah.” Gumam Tala di dalam hatinya entah kepada Eve atau Adya hanya Tala yang tau.
“Kak apakah Eve boleh tau apa yang kak Adya doakan setiap pergi ke gereja?” Tanya Eve penasaran karena Adya hampir tidak pernah absen untuk pergi gereja walaupun akan melakukan pemeriksaan rutinnya di rumah sakit.
“Kamu, ibu, ayah, dan Tala.” Jawab Adya
Eve senang mendengarnya. “Jangan lupa kan kakak juga harus mendoakan kakak. Eve juga akan terus berdoa kepada Tuhan agar kakak bisa segera sembuh dan ada keajaiban yang diberikan Tuhan kepada kakak.” Ucap Eve yang tidak pernah luntur.
“Kita sama-sama tau bahwa tidak ada kesempatan buat aku untuk sembuh hanya menunggu waktu saja aku dipanggil oleh Tuhan. Dan aku berharap kamu bertahan hidup bersama Tala dan kalian akan hidup bahagia selamanya dan memberikan cucu buat ibu dan ayah lagi." Ucap Adya di dalam hatinya sambil mengelus tangan Eve yang berada di pegangan kursi rodanya.
*Bersambung*
__ADS_1