
Keesokan harinya Eve mengerjapkan kedua matanya. Entah kenapa Eve merasa bahwa pergerakannya terbatas begitu juga dengan pernafasannya namun terasa sangat hangat dan nyaman membuat Eve mendusel-dusel untuk mencari tempat yang nyaman.
Pergerakan Eve terhenti saat Eve merasakan bahwa kulitnya bersentuhan dengan kulit seseorang. “Siapa yang sedang memelukku?” Tanya Eve di dalam hatinya.
Sementara Tala yang merasa ada yang bergerak-gerak di dalam dekapannya ikut terbangun bukan hanya dirinya namun di bawahnya.
Apalagi sekarang keadaannya hanya menggunakan boxer dan orang yang dipeluk sambil ngedusel-dusel dirinya membuatnya geli.
Eve mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa sementara Tala juga melihat ke bawah pandangan keduanya bertemu dan saling diam.
Perlahan tangan Tala menempel di jidat Eve, “tidak panas lagi demamnya sudah turun.” Ujar Tala di dalam hatinya itu.
“Syukurlah.” Ucap Tala lalu menempelkan jidatnya dengan kening Eve. Eve bisa mendengar perkataan Tala dan hembusan nafas Tala yang terasa lega.
Tala kembali menjauhkan jidatnya dan membuka matanya menatap ke arah Eve yang hanya diam kebingungan.
Tanpa Tala sadari hormon paginya terasa bangkit apalagi dengan keadaan keduanya seperti ini membuat Eve terdiam dan tidak bisa berkutik.
Melakukan hubungan suami istri di pagi hari setelah sekian lama, Eve tidak akan menolak karena Eve berpikir mungkin ini untuk terakhir kalinya lagipula dirinya kemarin yang menolak takut melihat Tala melukai dirinya Eve tidak ingin melihat lagi. Eve tidak ingin melihat orang terluka karenanya.
Biarlah setelah ini menjadi urusannya jika dirinya hamil atau tidak tapi menurut Eve itu tidak mungkin Eve akan tetap bercerai sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat Tala.
Lagipula Eve sudah memutuskan akan pergi jauh dari orang-orang yang mengenalnya. Semakin lama dirinya di sini semakin tidak baik karena keselamatan orang terancam karena ada dirinya.
Sudah berapa kali mereka melakukannya sama seperti waktu di awal-awal dulu Tala tidak ada habisnya membuat badan Eve terasa remuk dan tenaga Eve semakin berkurang apalagi semenjak kemarin dirinya belum mengisi apa pun setelah makan siang.
Kerjaannya hanya menangis dan menangis.
Pelepasan Tala yang terakhir membuat keduanya terengah-engah Tala menatap wajah Eve yang lelah sembari memejamkan matanya dan memegang kedua lengannya itu.
Tala mengelap keringat di wajah Eve, ingin sekali dirinya melakukan lagi namun tidak tega melihat Eve dan kesadarannya kembali.
Tidak seharusnya dirinya melakukannya apalagi dalam kondisi Eve yang baru habis dari demam.
Eve sudah tidak peduli dengan Tala yang mengelap keringatnya karena Eve sudah sangat mengantuk dan baru beberapa detik selesai Tala melakukan pelepasannya yang terakhir Eve sudah jatuh tertidur.
Tala segera bangkit ketika melihat Eve sudah tertidur kembali. Tala melihat ke sekitar kamar dengan segera memungut pakaian dirinya dan juga Eve.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang itu artinya sudah 4 jam lamanya semenjak keduanya terbangun di pagi hari.
Entah apa yang merasuki dirinya hormon di pagi hari laki-lakinya sungguh berbahaya sampai membuatnya kelepasan. Tala mengingat bahwa dirinya mengeluarkan di dalam semuanya.
Tala membersihkan diri sementara Eve Tala biarkan tidur terlebih dahulu untuk mengisi energi karena ulahnya. Menyugarkan rambutnya, badan Tala tampak bugar dan wajahnya terlihat segar ketika keluar dari dalam kamar mandi.
Hormon maskulin menguar kental, jika Eve melihatnya mungkin akan terpesona walaupun biasanya Eve juga terpesona dengan pesona yang dimiliki suaminya itu.
Mata setajam elang Tala melihat ke arah tempat tidur di mana seonggok manusia yang sedang tidur dan hanya rambutnya yang kelihatan.
Tala mengatur suhu ruangan agar Eve merasa nyaman dan tidak membuka gorden kamar agar tidur Eve tidak terganggu.
Tala keluar dari dalam kamar dan melihat tidak ada siapa-siapa pun di sana lalu Tala berjalan dan melihat di atas meja pantry sudah ada sarapan yang sudah dibuat Tala meyakini bahwa itu adalah pengawal Bee.
__ADS_1
Karena perutnya sudah lapar Tala memakan makanan yang sudah dihidangkan dengan sandwich roti panggang dan susu untuk sedikit mengganjal perutnya nanti dirinya akan memasak untuk dirinya dan Eve itu yang ada dipikiran Tala setelah ini.
Tala dengan segera menyelesaikan masakannya dan berjalan ke arah kulkas untuk melihat isi kulkas ternyata bahan masakan sangat lengkap.
Sementara di dalam kamar Eve yang terbangun karena suara dering ponsel dengan malas Eve mengangkat tombol jawab telepon tersebut tanpa melihat apakah itu ponsel miliknya atau bukan dan tanpa melihat siapa yang menelpon.
“Halo.” Suara Eve parau dengan mengangkat telepon tersebut dan memperbaiki selimut ketika bahunya merasakan dinginnya AC.
Dengan posisinya yang masih tiduran dan memejamkan matanya, sedangkan seseorang di seberang sana terdiam dan menatap pasangan paruh baya beserta seorang wanita yang sedang terbaring lemah.
“Tuan, Nyonya dan Nona Adya, sepertinya Nona Eve ada bersama Tuan Tala.” Ujar sang asisten Tala ke pada kedua orangtua dan istri pertama dari CEOnya itu.
“Halo ini siapa?” Tanya Eve, asisten tadi mengaktifkan loud speaker agar semua orang yang ada di ruangan itu mendengar bahwa ini benar-benar Eve.
Ibu Dhara, ayah Davka dan Adya yang terbaring lemah merasa lega. “Saya asisten Tuan muda, Nona muda.” Jawab Asisten tersebut dengan sopan.
“Oh ini ponselnya kak Tala maafkan aku. Aku kira ponsel aku yang berdering, aku akan memanggil kak Tala.” Ujar Eve.
“Kenapa sangat gelap, ouh badan aku pegal-pegal semua.” Gumam Eve yang didengar oleh semua orang di seberang telepon.
Eve berusaha turun dari tempat tidur, rambutnya sangat acak-acakan apalagi di kulitnya penuh dengan bercak kemerahan karena ulah Tala kepadanya pagi tadi.
Tala yang baru teringat bahwa ponselnya berada di dalam kamar segera mengambilnya karena merasa khawatir asistennya akan menelponnya dan mengganggu tidur Eve.
Saat Tala membuka pintu kamar, Tala mendengar suara benda jatuh dengan sangat keras membuat Tala segera menghidupkan lampu kamar.
Ternyata di sana Eve terjatuh dari tempat tidur saat ingin berpijak dan tergelincir dengan selimut yang melilit di seluruh tubuhnya.
Eve melihat ke arah Tala yang berjalan ke arahnya sembari meringis sedangkan ponsel yang ada di tangannya terjatuh.
Eve sangat ketakutan karena ponsel Tala terjatuh dan si pemilik melihatnya menggenggam ponsel tersebut.
Wajah Tala sangat datar dan menatap Eve dengan kesal lalu segera menggendong Eve untuk diletakkan kembali ke atas tempat tidur. “Maafkan aku.” Ujar Eve sambil menunduk. “Aku tidak sengaja menjatuhkan ponselmu.” Eve baru benar-benar sadar.
Sementara Tala menatap ke arah Eve. “Kenapa tidak memanggil aku?” Tanya Tala tajam ke Eve yang menunduk.
Eve mengangkat wajahnya lalu menurunkan lagi kepalanya membuat Tala merasa gemas. Entah gemas kesal karena Eve tidak melihatnya ketika berbicara biasanya Tala jika ada orang yang ingin berbicara harus menatap satu sama lain dan itu adalah kesopanan atau gemas karena melihat Eve merasa malu entahlah hanya Tala yang tau.
“Tadi, aku baru mau memanggilmu tapi aku jatuh. Ini semua gara-gara kamu, aku menjadi lemas.” Gerutu Eve kesal lalu melihat tatapan Tala Eve kembali menciut.
Sementara di seberang sana ponsel milik asisten Tala direbut oleh ibu Dhara dan menempel dekat dengan telinga ibu Dhara.
Ibu Dhara merasa penasaran dengan apa yang dilakukan oleh menantu dan anaknya di sana. “Tunggu sebentar aku akan menyiapkan air hangat agar badan mu merasa lebih nyaman.” Ujar Tala ke Eve.
Sementara Eve hanya diam dan sudah lupa bahwa telepon masih tersambung dengan orang seberang sana yang mendengar kepo.
Eve memandang punggung Tala yang menghilang di balik pintu kamar mandi. “Kalau bukan gara-gara kamu aku tadi sudah mandi dai seperti serigala yang lapar saja.” Ujar Eve menggerutu.
Mata ibu Dhara membulat dan berbinar lalu menatap ke arah Adya dan ayah Davka yang juga mendengarnya lalu jari telunjuk ibu Dhara tiba-tiba diletakkan di depan bibirnya agar tidak berisik sehingga mereka bisa mendengar dengan leluasa pembicaraan suami istri tersebut.
Adya terdiam dan memikirkan banyak pertanyaan di dalam benaknya, “apa mereka berbaikan?” Tanya Adya dengan dirinya sendiri, “apa mereka sedang berakting?” Adya tidak bisa mempercayai keduanya setelah apa yang dirinya dengarkan kemarin.
__ADS_1
“Apa secepat itu?” Bukan karena Adya tidak merasa senang melihat jika Tala dan Eve kembali berbaikan hanya saja Adya takut percaya bahwa ini hanyalah drama yang dibuat oleh mereka seapik mungkin untuk mengkelabui orang di sekitar mereka.
Tala keluar dari dalam kamar mandi dan berjalan ke arah Eve yang sedang memijat bahunya dan sesekali memutar peregangan di lehernya dengan memutar.
“Apakah badan mu sangat pegal dan sakit?” Tanya Tala ke Eve membuat ibu Dhara merasa penasaran untuk mendengar kelanjutannya.
Sementara sang asisten terkadang menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal mendengar obrolan suami istri di seberang sana apalagi melihat ibu Dhara, ayah Davka, dan Adya yang mendengarnya.
Sang asisten merasa sangat malu dan apalagi dirinya yang belum menikah bukankah seharusnya telepon itu dimatikan saja. Bagaimana nanti jika Tuan muda marah dan memotong gajinya sudah cukup selama ini dirinya merasa tersiksa dengan tugas yang diberikan yang terkadang tidak masuk akal jika berhubungan dengan seseorang.
“Jika kamu ingat untuk tidak melakukannya berkali-kali.” Ucap Eve kesal sekaligus merasa malu setelah dirinya mengatakan itu.
Tala tanpa banyak berbicara menggendong Eve ala bridal style membuat Eve meronta. “Turunkan aku nanti jatuh.” Ucap Eve.
“Jika kamu banyak bergerak maka akan jatuh.” Ujar Tala ke Eve yang terus meronta, Tala merasa heran dengan stamina Eve yang begitu kuat jika meronta-ronta.
“Jika kamu terus meronta maka aku akan melakukannya lagi bukankah di dalam kamar mandi belum.” Ucap Tala tajam dan menantang membuat Eve terdiam.
Sementara ibu Dhara bersorak kegirangan sehingga membuat Eve dan Tala terkejut mendengar suara tersebut.
Lalu mata tajam Tala menatap ke arah Eve, dan Eve yang baru ingat bahwa sambungan telepon belum terputus dari sang asisten merasa nyawanya hilang. “Ayah mereka sedang membuat cucu buat kita.” Sorak ibu Dhara kegirangan.
Sang asisten menggigit jarinya, “habislah aku nanti, Tuhan selamatkan nyawaku.” Ujar sang asisten merasa cemas.
Tala melihat ke arah ponselnya yang tergeletak di atas lantai dapat Tala lihat bahwa layar ponselnya sudah retak.
Eve dengan reflek menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Tala, “maafkan aku, aku lupa memberitahu mu bahwa tadi asisten mu menelpon dan aku hendak…”
“Aku tau.” Potong Tala membuat Eve melipatkan bibirnya.
Tala tidak menghiraukan ponselnya yang tergeletak dan membawa Eve ke kamar mandi lalu menurunkannya di atas closet. “Mandilah.” Ujar Tala lalu keluar dari dalam kamar mandi dan menutupnya.
Eve yang ditinggalkan oleh Tala menutup wajahnya yang sudah merah seperti kepiting rebus karena merasa sangat malu. Bagaimana nanti dirinya jika bertemu dengan sang asisten suami dan ibu Dhara. Eve juga bisa menebak pasti di sana ada ayah Davka dan juga Adya.
Tala mengambil ponselnya lalu mematikan sambungan telepon tersebut. Ibu Dhara mengulum senyumnya sembari memberikan ponsel yang ada di tangannya ke pemiliknya.
Tala keluar dari kamar dan mencium bau gosong langsung saja Tala pergi ke dapur dan melihat masakannya tadi. “Huh.” Helaan nafas kasar Tala keluarkan ketika melihat masakannya yang sempat ingin ditinggalkannya sebentar menjadi gosong.
Mau tidak mau Tala akhirnya memasak kembali, Tala sudah belajar memasak bersama dengan sang asisten semenjak dirinya menikah untuk kedua kalinya. Itulah mengapa terkadang Tala di hari libur tetap bekerja.
Selain untuk menghindari Eve, Tala ingin menambah kemampuan memasaknya dengan belajar dari sang asisten yang jago masak.
Mengingat asistennya Tala akan memberikan hadiah. Sementara di ruang rawat Adya ibu Dhara heboh dan sangat bersemangat.
“Sayang ibu akan memberimu hadiah mobil yang kamu inginkan.” Ujar ibu Dhara ke sang asisten yang sudah dirinya anggap sebagai anaknya itu.
Sang asisten tentu saja sangat senang dan berbinar walaupun nanti apa hukuman yang diberikan oleh sang Tuan muda itu adalah urusan nanti dan dirinya harus fokus dengan kesenangannya mendapatkan hadiah dari sang ibu negara dari Tuan mudanya itu yang terkadang sangat menyebalkan.
*Bersambung*
__ADS_1