
Airen dan Joha duduk di meja makan dnegan perasaan bahagia mereka, ‘kalian berdua harus makan banyak terutama kamu sayang.” Ujar Joha.
Airen menganggukkan kepalanya dan keduanya menatap ke arah Eve yang saat ini masih sibuk dengan makanannya.
Entah kenapa perasaan Joha merasa senang melihat Eve yang sangat lahap dengan makanan yang di makannya namun merasa khawatir juga karena Eve melihat Eve nantinya akan kekenyangan. “Eve ingat jangan kekenyangan nanti perutmu begah.” Ujar Joha dan Eve menganggukkan kepalanya.
“Jadi, kapan kalian akan memeriksa kandungan?” Tanya Eve kepada sepasang suami istri itu. Eve memaklumi melihat Joha yang terus menempel dengan Airen pasti sangat menyiksa dengan rasa mual yang dirasakan oleh Joha.
“Emmm mungkin nanti siang, apa kamu juga ingin memeriksa kandungan mu biar sekalian kita akan pergi berdua.” Celetuk Airen membuat Joha mengangkat kepalanya ke atas menatap ke arah Airen.
“Tidak bisa jika kalian berdua pergi ke mana-mana aku harus ada aku tidak akan membiarkan kalian hanya pergi berdua atau pergi sendiri.” Ujar Joha dengan posesif.
Airen menolehkan kepalanya heran menatap ke arah suaminya itu, “kamu lagi sakit jadi lebih baik kamu di rumah saja lagipula ada Cici yang akan menemani kita berdua.” Ujar Airen.
“Tidak tidak dan tidak. Sayang aku khawatir dengan kalian berdua apalagi aku hanya duduk diam di rumah dan membiarkan istriku dan adikku pergi ke dokter untuk memeriksa kandungan mereka sendiri pokoknya harus ada aku. Lagipula aku kan papi mereka jadi aku ingin memberikan dan mengikat batin mereka dengan aku.” Ujar Joha.
Eve yang mendengarnya menghela nafasnya, “aku rasa kak Joha semakin cerewet apa karena dirinya sendiri yang pria.” Ujar Eve membuat Airen menganggukkan kepalanya.
“Aku cerewet karena aku khawatir dengan keadaan kalian jadi tolong ya bayi-bayi ku kalian harus beritahu mami dan bunda kalian bahwa papi ingin selalu berada di dekat kalian.” Ucap Joha.
“Jika orang tidak tau mungkin mereka mengira bahwa kakak mempunyai dua istri.” Celetuk Eve dan lagi-lagi Airen menganggukkan kepalanya.
“Sayang kenapa kamu sedari tadi menganggukkan kepala terus.” Ujar Joha yang melihat Airen hanya menyetujui apa yang dikatakan oleh Eve mengenai sikapnya.
“Apa yang dikatakan oleh Eve memang benar adanya, ayo bumil satu kita pergi meninggalkan papi baru yang posesif dan cerewet itu.” Ajak Airen pergi kepada Eve meninggalkan Joha.
“Sepertinya akan sangat menyenangkan kita hamil bersama-sama seperti ini.” Celetuk Airen dengan bahagia.
‘Oh iya Eve apa kamu bisa menebak jenis kelamin bayi mu?” Tanya Airen penasaran karena dulunya juga menerka-nerka mengenai jenis kelamin bayinya.
“Emmmm aku pernah penasaran sih kak tapi nanti lihat saja pas pemeriksaan di tujuh bulan nanti.”
“Bukankah di usia empat bulan sudah bisa melihat jenis kelaminnya.” Ujar Airen dan Eve menganggukkan kepalanya.
“Kakak benar namun kemarin itu aku tidak mau aku ingin merahasiakannya namun karena di usia yang sekarang entah kenapa aku semakin penasaran heheh.” Ujar Eve dengan terkekeh.
Joha yang ditinggal oleh ibu hamil itu mendengus ketika ditinggalkan. Joha sengaja membiarkan kedua ibu hamil itu menikmati waktu mereka berdua.
Lagipula Joha sudah tidak merasakan mual lagi dan merasa bahwa badannya mulai terlihat segar.
Joha sudah memikirkan rencana yang ada di dalam benaknya sebelum dirinya dan Airen akan pergi ke rumah sakit. Joha akan mempersiapkan fotoshoot buat dua ibu hamil itu apalagi nanti usia kehamilan Eve akan menginjak tujuh bulan pasti akan sangat menyenangkan dan akan menjadi kenangan buat kedua calon bayinya rasanya dirinya sudah tidak sabar jika dipanggil papi.
Keponakannya yang berada di dalam kandungan Eve akan Joha anggap sebagai anaknya dan tidak akan Joha beda-bedakan dengan anaknya sendiri.
Baik Airen dan Joha sudah membicarakannya dan beruntungnya Airen berpendapat dengannya. Memiliki Airen membuat Joha merasa sangat bersyukur tiada habisnya kepada Tuhan karena Airen sangat baik.
__ADS_1
Apalagi mendengar cerita dari Airen bahwa dulu Ashi kurang mendapatkan kasih sayang dari ayah kandungnya sendiri. Rasanya hati nurani Airen tidak bisa menerima jika ada seorang anak kecil yang tidak tau apa-apa ditolak kehadirannya entah karena jenis kelaminnya atau tidak mempunyai ayah.
Joha tidak ingin keponakannya nanti merasa tidak mempunyai ayah dan tidak mempunyai sosok untuk dijadikan panutan terhadap sikap tanggungjawab atau gambaran bagaimana seorang laki-laki sejati seharusnya.
Joha akan berusaha memperbaiki dirinya untuk menjadi lebih baik buat anaknya kelak dan keponakannya.
Siang harinya Joha mengajak Airen untuk pergi ke rumah sakit yang ada di pusat kota Joha juga mengajak Eve sekalian nanti Joha ingin mengajak mereka untuk pergi jalan-jalan di taman kota.
Karena pastinya di sana akan banyak orang terutama anak-anak pasti akan membuat kedua ibu hamil itu merasa bahagia.
“Nanti kita akan pergi ke taman di pusat kota kalian pasti akan sangat senang.” Ujar Joha kepada kedua ibu hamil itu yang sedang duduk santai di kuris belakang.
Joha duduk di depan bersama dengan sopir yang akan membawa mereka. Mereka saat ini sedang menggunakan mobil Alphard berwarna hitam. Joha sengaja membelinya bahkan mobilnya baru datang siang tadi sebelum mereka berangkat.
Joha juga sudah menyuruh bawahannya untuk menyiapkan cemilan buat ibu hamil dan juga Cici sudah menyiapkan cemilan sehat berupa buah buat kedua ibu hamil untuk menemani perjalanan mereka.
Pastinya akan membuat mereka merasa sangat lapar dan Joha tidak akan membiarkannya apalagi nafsu makan Eve sangat besar namun hanya perut Eve yang membesar.
Kunyahan demi kunyahan mulut kedua ibu hamil itu tidak berhenti mengunyah, “pantesan saja aku merasa bahwa berat badan aku naik.” Celetuk Airen setelah selesai mengunyah keripik buah apel.
“Tapi bagaimana bisa kamu tau Eve bahwa aku hamil hanya mendengar cerita dari Cici padahal aku tidak merasakan tanda-tanda apa pun mengenai kehamilan ku.” Ujar Airen.
Mendengar perkataan Airen membuat Eve tertawa namun Eve tidak menjawabnya terlebih dahulu karena merasakan haus. “Kakak lupa bahwa sebelumnya aku adalah seorang dokter walaupun aku sudah beberapa bulan tidak bekerja sebagai dokter dan mengundurkan diri tentu saja ilmu yang ku pelajari selama kuliah hampir delapan tahun lamanya tidak membuat ku lupa. Selain itu mungkin karena aku sedang hamil dan hormon kehamilan aku juga sangat sensitif sehingga aku bisa mengaitkan antara ilmu kedokteran yang aku pelajari dan kepekaan aku.” Ujar Eve terkekeh.
“Walaupun aku bukan dokter kandungan namun bukan berarti aku tidak pernah mempelajarinya. Tapi, aku juga heran sebenarnya lho kak karena aku juga dulunya sangat tidak peka dan semenjak hamil menjadi sangat peka sekarang.” Ujar Eve bercerita.
Airen menganggukkan kepalanya setuju, “kak Airen memang tidak merasakan tanda-tanda kehamilan itu namun kak Joha yang merasakannya. Apa yang dirasakan kak Joha dan perubahannya disebut kehamilan simpatik.”
“Kehamilan simpatik, itu maksudnya apa Eve?” Pertanyaan polos Joha membuat Eve tertawa mendengarnya.
“Itu artinya bahwa kak Joha sangat mencintai kak Airen dan sangat menantikan kehadiran buah hati di dalam pernikahan kalian.” Ujar Eve menjelaskan dengan bahasa yang bisa dimengerti.
Pipi Airen merona mendengar perkataan Eve, bahwa Joha sangat mencintainya entah kenapa Airen masih merasa malu dengan itu. Airen tidak menyangka bahwa dirinya begitu sangat dicintai oleh sahabat sekaligus suaminya itu.
Di seberang bumi wajah Tala terlihat sangat pucat sudah hampir dua bulan ini bahkan Tala tidak bisa bekerja sama sekali karena mengalami muntah-muntah hal itu membuat pekerjaan sekretaris Diego semakin banyak membuat sekretaris Diego menggerutu dan menatap kasihan dengan keadaan Tala.
Berbeda dengan asisten Kaivan yang sibuk mencari di mana keberadaan Eve yang hilang ditelan bumi malah tertawa melihat penderitaan Tala.
Asisten Kaivan mengatakan kepada Tala bahwa itu disebabkan oleh bayi yang adalah di dalam kandungan Eve.
Tala bahkan merasa sangat kesal dengan apa yang dikatakan oleh asisten Kaivan, “sepertinya bayi di dalam kandungan Eve sangat membenci ayahnya karena keegoisan ayahnya sehingga membuat ibunya tersiksa.” Ingin sekali rasanya Tala menghajar wajah asisten Kaivan itu.
“Bagaimana kamu bisa tau?” Tanya sekretaris Diego dengan curiga kepada asisten Kaivan.
Asisten Kaivan yang mendapat tatapan curiga tersebut melemparkan tisu bekas mengelap makanan di sekitar bibirnya. “Dengar ya aku ini masih perjaka belum tersentuh oleh wanita mana pun. Lagipula kamu tau sendiri dengan pekerjaan aku mana mungkin si bos tidak membiarkan aku untuk mencari calon ibu buat anak-anakku.” Ujar asisten Kaivan sembari menyindir dan meledek Tala.
__ADS_1
Lihat kan bahkan sahabatnya ini sedang kurang sehat dan para sahabatnya sekaligus bawahannya itu malah meledeknya.
Bahkan bukan hanya karena dirinya yang terus memberikan tugas kepada asisten Kaivan melainkan hanya saja pria itu gila kerja. Sama halnya dengan sekretaris Diego namun akhir-akhir ini dirinya terus mendengar gerutuan sekretaris Diego karena dirinya yang sering tidak bisa masuk ke kantor.
Tala tentu saja sudah tau bahwa sekretaris Diego sedang jatuh hati dengan sekretaris Wendy bawahan Gulzar Adwitya.
Baik Tala, asisten Kaivan dan sekretaris Diego mereka bertiga se-frekuensi sama-sama tidak ada akhlak dan gila kerja.
Padahal banyak wanita yang tertarik kepada ketiganya namun ketiganya menutup mata dan telinga kepada wanita-wanita yang mendekati mereka. Ketiganya memang lebih tertarik dengan wanita yang sama sekali mengabaikannya.
Apalagi Tala yang sudah cinta mati kepada Eve namun sangat bodoh karena rasa egoisnya begitulah asisten Kaivan dan sekretaris Diego menyebutnya.
Asisten Kaivan juga sangat menyukai Eve saat pertama kali melihatnya jika dirinya pertama kali bertemu dengan Eve maka asisten Kaivan tidak akan pernah melepaskan Eve.
Namun, bagi asisten Kaivan bukanlah tipenya untuk mendapatkan atau merebut orang yang sangat dicintai sahabatnya. Apalagi asisten Kaivan bisa melihat dengan jelas bahwa Eve juga sangat mencintai Tala dan sangat menyesali apa yang dilakukannya dulu.
Gulzar duduk termenung di kursinya tadi dirinya baru bertemu dengan Geya untuk berbicara empat mata dengan wanita itu yang sudah menjadi mantan tunangannya tersebut mengenai hubungan keduanya.
“Ada apa kak Zee bukan Tuan Gulzar?” Tanya Geya dengan gugup dan formal kepada Gulzar.
Gulzar semakin menatap tidak suka kepada Geya ketika Geya berbicara formal kepadanya dan memanggilnya dengan sebutan tuan dan juga pakai nama awalannya bukan nama panggilan yang seperti biasa itu lakukan.
“Jangan membatalkan pertunangan kita lagipula itu akan membuat hubungan di antara kedua keluarga menjadi buruk.” Ujar Gulzar datar.
Geya menatap ke arah Gulzar masih ada sangat cinta untuk Gulzar namun Geya tidak ingin egois tujuannya adalah menyatukan Tala dan Eve jika dirinya sudah menemukan Eve.
“Maafkan saya Tuan Gulzar saya tidak bisa hubungan ini tidak bisa dilanjutkan lagipula hubungan di antara kedua keluarga sudah rumit. Saya tidak mau menambah kerumitan itu lagi jika melanjutkan hubungan ini. Permisi saya harus segera pergi karena ada pekerjaan yang menanti.” Ucap Geya.
Gulzar yang mendengarnya mengepalkan kedua tangannya lalu ketika Geya berjalan melewatinya Gulzar memegang tangannya. “Apa ini karena Tala dan Eve?” Tanya Gulzar.
Geya melihat tangannya yang di pegang oleh Gulzar dan melepaskannya, “hal itu memang ada kaitannya namun itu bukan lah alasan utama saya lagipula saya tidak mau memaksakan orang untuk mencintai saya. Tujuan saya adalah menemukan kak Eve dan menyatukan kak Eve dan kak Tala.”
“Hal yang dipaksakan akan berujung tidak baik. Dan tolong jangan menghubungi saya lagi atau mengajak saya untuk bertemu karena hubungan kita sekarang bukanlah siapa-siapa.”
Memikirkan percakapannya dengan Geya membuat Gulzar berada dalam tekanan apalagi dirinya harus mencari tau di mana keberadaan Eve. Gulzar merasa sangat khawatir dengan keadaan Eve.
Tiba-tiba Gulzar mengingat sesuatu bahwa dirinya pernah memasang kalung di leher Eve waktu Eve sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri sehabis pulang dari pantai.
Di dalam kalung itu ada GPS yang dipasang oleh Gulzar. Kenapa Gulzar baru mengingat dan menyadarinya.
Saking sibuknya mengurus masalah yang diperbuat oleh Harsha dan kedua orangtuanya serta ketidakstabilan perusahaan membuat Gulzar lupa akan kalung yang dipasangkan di leher Eve.
Harsha dan kedua orangtuanya sudah dimasukin ke dalam penjara hal itu sudah disepakati oleh Gulzar dan Tala.
Sebenarnya ingin sekali Tala menyiksa mereka namun mengingat bahwa Tala tidak ingin memperumit hubungan Geya yang sangat mencintai Gulzar walaupun Geya sudah memutuskan hubungan pertunangan mereka.
__ADS_1
Namun besar harapannya bahwa Geya memikirkan kembali karena Tala merasa yakin dan percaya kepada Gulzar bahwa Gulzar adalah laki-laki baik untuk Geya.
*Bersambung*