Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 140. Kenapa Tidak Sedari Awal


__ADS_3

Gulzar hendak melangkah masuk ke dalam mobilnya namun terhenti saat mendengar namanya dipanggil.


"Kak Zee." Panggil Eve membuat Gulzar menoleh ke arah sumber suara.


Ternyata mobil Eve tepat berada di depan dirinya dan Geya tadi berbicara.


"Eve..."


Eve memberikan senyumannya kepada Gulzar namun Gulzar sama sekali tidak memberikan reaksi.


"Kamu kenapa berada di sini?" Maksud dari Gulzar adalah kenapa Eve harus menunggu di basement dan tidak masuk langsung ke kantor atau ke ruangan Tala.


Gulzar masih belum tau mengenai gangguan jiwa yang dialaminya. "Karena akan pergi lagi." Jawab Eve seadanya.


"Aku melihat tadi." Terang Eve, "namun jangan khawatir aku sama sekali tidak mendengar pembicaraan kalian."


"Apa aku boleh tau kenapa kak Zee dan Geya memutuskan hubungan pertunangan kalian?" Eve berusaha akrab lagi dengan Gulzar walaupun sepertinya Gulzar masih tetap saja dingin baik kepada dirinya maupun orang lain.


"Ada masalah." Jawab Gulzar membatasi diri.


Eve menganggukkan kepalanya, "kak Zee masih sama seperti dulu..." Ujar Eve sembari memberikan senyuman.


"Kalau tidak ada masalah mana mungkin kalian memutuskan hubungan pertunangan hahah."


"Apa kak Zee sudah mulai mencintai Geya?" Tanya Eve dan Eve bisa sedikit melihat ekspresi dari Gulzar.


"Aku dulu berharap bahwa kak Zee bisa menemukan seseorang yang tepat untuk menjadi tempat ternyaman kak Zee bercerita dan berkeluh kesah dan orang itu adalah Geya."


"Walaupun Geya dulu bersikap tidak baik kepadaku tapi aku yakin Geya adalah orang yang tulus."


"Apa karena putusnya hubungan kalian karena aku?" Pertanyaan yang ingin Eve tanyakan sedari awal.


"Tidak. Ini sama sekali tidak ada hubungannya." Terang Gulzar dengan tegas agar Eve tidak merasa bersalah atau berpikir bahwa karena hadirnya dirinya yang membuat masalah.


"Lalu karena apa?"


Gulzar memandang Eve dengan dalam tidak bisa dipungkiri bahwa di dalam hatinya masih mengagumi Eve semakin bertambah usia Eve semakin terlihat dewasa namun itu hanya sebatas kagum saja sekarang.


"Karena sedari awal aku terlambat menyadarinya." Jawab Gulzar dengan mata yang bergetar.


"Kenapa terlambat menyadarinya?" Eve masih sangat penasaran sepertinya dirinya bisa berubah menjadi wartawan.


"Karena ada seorang wanita dulu yang masih bersemayam dalam pikiran dan hati ku." Ucap Gulzar dengan memandang Eve penuh arti.


"Apa itu aku!" Tanya Eve sembari mengangkat kedua alisnya. Gulzar hanya diam tidak menjawab.


"Aku bercanda kak Zee." Ujar Eve tersenyum, "jadi tadi kak Zee mengungkapkannya." Eve menyimpulkan diri sendiri terkait dengan apa yang dilihatnya dan jawaban dari Gulzar.


"Tapi, bukankah sangat terlambat jika baru sekarang. Kenapa tidak sedari awal." Membuat Gulzar menatap ke sepupu angkatnya itu dengan intens.


"Jika aku jadi Geya maka aku akan bertanya seperti itu dalam benakku atau kepada orangnya langsung."


"Lalu apa alasan mu pergi dan menandatangani surat perceraian dulu padahal kamu sangat mencintainya walaupun dulu dia tidak bersikap baik kepadamu?"


"Itu karena diriku sendiri dan tentu saja ada faktor luar lainnya."


"Kenapa dia tidak seperti dirimu yang bisa dengan mudah menerima dan memaafkan Tala." Ujar Gulzar.


"Karena Geya bukan aku dan aku bukan Geya. Lagipula sekarang sudah ada Axel. Pasti tidak mudah bagi Axel untuk sampai dengan hubungan mereka saat ini." Rasanya sakit mendengar jawaban dari Eve.


"Seperti yang aku bilang bahwa ini tidak ada sangkut pautnya dengan Tala alasan aku menerima begitu saja menandatangani surat perceraian itu."


"Itu karena diriku sendiri, perasaan rasa rendah diri dan mudah ditindas sehingga aku berpikir lebih baik pergi daripada membuat orang yang aku sayangi menderita karena aku." Walaupun Eve berbicara sambil tersenyum namun Gulzar yang mendengarnya merasa tak berdaya.

__ADS_1


Jika saja keluarganya tidak setamak dan tidak sebenci itu kepada Eve maka Eve tidak akan tenggelam dengan rasa rendah diri dan tertindas.


"Maafkan aku." Ujar Gulzar.


"Semua sudah berlalu kak Zee sama sekali tidak masalah. Aku sudah memaafkan mereka lagipula apa yang dilakukan oleh seseorang pasti punya alasan."


Hati Eve begitu besar dan lapang hal itulah yang membuat Gulzar semakin mengaguminya.


"Maaf sudah mengganggu kak Zee." Pamit Eve segera karena sudah merasakan perasaan yang mulai kurang nyaman.


Gulzar hanya melihat saja saat melihat Eve masuk ke dalam mobil yang ditemani oleh dua pengawal.


Tak lama kemudian Gulzar melihat Tala dan Orion berjalan mendekat ke arah mobil di mana Eve berada.


"Bunda sayang maaf karena sudah membuat mu menunggu lama tadi ayah harus mengganti popok Orion."


Tala memberikan Orion kepada Eve karena dia memahami bahwa istrinya itu pasti sangat merindukan putra mereka.


Orion mendusel-dusel di dada Eve pertanda bahwa anaknya itu meminta susu kepada Eve.


"Dia juga pasti sangat merindukan mu." Terang Tala sembari mengusap kepala putranya itu.


Eve menyiapkan dirinya untuk menyusui Orion. "Jangan melihat." Ujar Eve dengan tegas dan menatap tajam ke arah mata suaminya itu saat Tala ingin melihat bagaimana Orion menyusu dengan Eve.


Kedua pengawal berusaha menuliskan pendengaran dan penglihatan mereka itu adalah hal yang harus mereka lakukan jika mengawali Tuan muda dan Nyonya muda.


Tala hanya menyengir saja, "tadi berbicara apa dengan Gulzar?" Tanya Tala.


Eve mengerutkan keningnya, "jika sudah tau kenapa masih bertanya." Keluh Eve tidak mungkin Tala tidak tau melihat betapa posesifnya apalagi Tala baru saja melihat iPad di tangannya dan di ujung ekor mata Eve, Tala terlihat seperti membaca sesuatu.


"Bunda ini kenapa sangat menggemaskan sekali sih." Ujar Tala dengan gemas.


Eve menatap tajam ke arah Tala dengan kesal, apa Tala sudah tidak tau malu lagi apalagi tadi Eve melihat ada senyuman di tahan di wajah pengawal Ai dan pengawal Bee.


"Mereka akan bersikap tuli dan buta jika kita melakukan hal yang baik apalagi seperti ini cup." Tala sekilas mengecup bibir Eve membuat wajah Eve menjadi datar.


Tangan Orion keluar dan memegang bibir Eve lalu mengusapnya dengan tangan kecilnya sepertinya putra kecilnya tidak terima.


Tak lama setelah itu Orion melepaskannya dan membuka penutup lalu menatap ke arah ayahnya.


"No no no no no." Ucap Orion dengan terbata sembari memeluk Eve dan menyandarkan kepalanya di bahu Eve dengan manja.


Orion seolah mengatakan bahwa Eve hanyalah miliknya. "Tapi, sayang sebelum ada kamu bunda adalah milik ayah dan selamanya."


Orion menggelengkan kepalanya pertanda tidak setuju. Orion mencium seluruh wajah Eve dan membuat Eve tersenyum senang dan membalas apa yang dilakukan oleh anaknya itu sehingga membuat Orion tertawa dan merasa senang.


"Kenapa setiap kali ayah mencium bunda, bunda tidak membalasnya seperti yang bunda lakukan kepada Orion." Tala merasa cemburu dengan anaknya sendiri.


Tala berusaha mengambil Orion dari pangkuan Eve namun Orion malah menggenggam erat baju Eve dan bergerak-gerak gelisah karena tidak mau bersama dengan Tala.


Eve mencubit pinggang Tala dengan kuat sampai Tala dibuat meringis. "Jangan memaksa nya." Eve sangat kesal sekali.


Eve memeluk Orion dan Orion mambalas pelukan Eve. "Na na na na al." Celoteh Orion kepada Tala.


"Huh ayah seperti diduakan oleh kalian." Dengus Tala dengan kesal namun Eve dan Orion tampak tidak peduli dengannya sehingga semakin menambah kecemburuannya.


......***......


Geya kembali ke ruangannya setelah selesai menenangkan dirinya.


Geya mencari ponselnya dan ternyata terselip di bawah buku dan berkas yang dikerjakannya tadi.


Terdapat satu panggilan dari sepupunya Tala dan beberapa panggilan dan pesan dari tunangannya Axel.

__ADS_1


Geya melihat ke arah jarum jam masih tersisa lima belas menit lagi jam istirahat akan habis.


"Halo sayang kamu ke mana kenapa tidak mengangkat teleponnya. Kamu baik-baik saja kan?" Dari suaranya Geya bisa mendengar bahwa betapa khawatirnya tunangannya itu kepadanya.


"Maafkan aku. Aku baik-baik saja." Jawab Geya menahan perasaan ingin menangisnya.


Axel mendengar suara tunangannya itu yang sedikit bergetar, "aku kira kamu tidak baik-baik saja karena sangat merindukan aku seperti aku merindukan mu sangat." Axel berusaha untuk bercanda dengan Geya.


"Ada yang ingin aku ceritakan." Ucap Geya, Geya tidak mau ada kesalahpahaman di antara mereka dan melukai Axel yang tulus mencintainya itu.


"Maka aku akan mendengarkan dengan senang hati."


"Apa kamu tidak sibuk?" Tanya Geya karena tadi Axel mengatakan bahwa dia akan sangat sibuk hari ini.


"Iya aku sangat sibuk tapi sibuk merindukan dan memikirkan mu." Axel memang penuh dengan gombalan.


"Berhentilah membual." Terdengar suara tertawa dari Axel yang membahana.


"Aku serius apa kamu tidak percaya!" Seru Axel.


"Iya aku percaya." Lebih baik cepat mengatakannya kalau tidak tunangannya itu akan mengungkapkan perasaannya terus menerus dan memberikan kejutan-kejutan romantis untuk membuktikan perkataannya.


"Sesibuk apa pun kamu adalah prioritas aku." Ujar Axel dengan serius, "apa kamu sudah makan?"


Geya tidak menjawab karena dirinya memang belum makan. "Kamu juga apakah sudah makan?"


"Aku baru mau makan dan pesanan ku baru saja sampai." Axel tidak akan makan jika belum mendengarkan kabar tentang tunangannya itu karena merasa khawatir.


Inilah alasan kenapa Geya harus menelpon balik Axel karena Geya sudah sangat memahami Axel tidak akan makan jika tidak mendengar kabarnya saat mereka berjauhan seperti ini karena memikirkannya.


"Aku juga baru mau makan dengan bekal yang kamu berikan tadi." Mendengarnya membuat Axel merasa senang.


"Ya sudah ceritanya nanti saja sebaiknya kita makan apalagi jam istirahat mu sudah semakin habis jangan sampai kamu sakit."


"Aku mencintai mu dan aku percaya padamu sampai ketemu besok pagi sayang."


Geya menatap layar ponselnya walpaper ponselnya adalah foto mereka berdua yang memasangnya adalah Axel sendiri.


"Terimakasih sudah membuatku nyaman dengan pengertian mu." Ucap Geya berbicara dengan menatap walpaper ponselnya.


Geya akan menceritakan apa yang terjadi hari ini kepada Axel karena Geya tidak ingin menghancurkan kepercayaan Axel kepadanya. Dan yang dilakukan oleh Geya adalah untuk hubungan mereka.


Geya belajar dari permasalahan sepupunya Tala saat Tala mengatakan bahwa dia merasa tidak dihargai oleh Eve karena Eve sangat tertutup dan jarang berbicara dengannya saat Geya mengatakan kenapa Tala bersikap dingin kepada Eve.


Namun, sepupunya juga mengatakan bahwa dirinya seharusnya menerima apa adanya mengenai Eve dan lebih aktif dari Eve mengingat Eve sangatlah tertutup.


Hal ini lah yang Geya terapkan dalam menjalin hubungannya dengan Axel tentang apa pun.


Geya teringat dengan apa yang dilakukan dan dikatakan Gulzar kepadanya tadi.


'Kenapa tidak sedari awal kak Zee mengatakannya'


"Tidak Geya walaupun sedari awal kamu tidak boleh memikirkannya kamu sudah mempunyai tunangan sekarang." Ujar Geya menyadarkan dirinya.


Hal yang paling Geya tidak sukai jika berjauhan dengan Axel bahwa dia bisa kapan saja tanpa sengaja bertemu dengan Gulzar.


Geya memang berusaha untuk menghindar Gulzar demi menjaga perasaan Axel dan perasaan dirinya yang masih belum kuat.


Geya suka jika Axel lebih perhatian dan sangat memahaminya serta memberikan kabarnya baik kesehariannya.


Tentu saja hubungan mereka tidak semulus seperti yang orang pikirkan untuk sampai ke tahap mereka saling memahami satu sama lain ada banyak Lika liku dalam hubungan mereka.


Geya beruntung memiliki Axel yang sabar dan mengubahnya ke arah yang lebih baik.

__ADS_1


Axel di mata Geya sangat sabar


*Bersambung*


__ADS_2