
Malam harinya adalah waktu makan malam dan ibu Dhara datang ke kamar Eve untuk mengetuk pintu kamar menantu dan anaknya itu.
“Eve, Tala apakah ibu bisa masuk?” Tanya ibu Dhara, Eve yang sedang membaca buku segera meletakkan bukunya di samping nakas.
“Masuk saja ibu.” Jawab Eve.
Ibu Dhara membuka pintu lalu melihat ke arah Eve, “sayang ada apa dengan kening mu kenapa sampai diperban?” Tanya ibu Dhara panik dan khawatir.
Eve tersenyum melihat wajah khawatir yang ditampakkan oleh mertuanya itu. “Eve sudah tidak apa-apa ibu tadi tidak sengaja Eve terjatuh dari tempat tidur dan vas bunga yang ada di atas nakas terjatuh menimpa kening Eve.”
Ibu Dhara memegang wajah Eve perasaan ibu Dhara sangat khawatir. “Bagaimana bisa apa Tala berbuat jahat ke kamu?” Tanya ibu Dhara.
Eve menggelengkan kepalanya pertanda bahwa ini bukanlah perbuatan dari Tala melainkan ada sangkut pautnya dengan Tala.
“Ceritakan ke ibu bagaimana kejadiannya dan Tala di mana?” Tanya ibu Dhara yang tidak melihat batang hidung anaknya itu.
Ibu Dhara merasa kesal dengan anaknya yang tidak menemani Eve yang sedang sakit dan tidak bisa banyak bergerak itu. “Kak Tala sudah mengobatinya ibu, nanti Eve ceritakan di bawah. Kak Tala sedang berada di ruang kerjanya.” Jelas Eve agar ibu Dhara tidak salah paham kepada suami dinginnya itu.
Tala yang berada di ruang kerjanya segera ke kamar setelah melihat bahwa jam sudah menunjukkan waktunya makan malam.
Namun, saat Tala baru membuka pintu samar-samar Tala mendengar ada suara dua orang yang sedang berbicara. Yang satunya sedang berusaha menenangkan dan satunya terlihat sangat khawatir didengar dari nada suaranya.
Ruang kerja milik Tala memang kedap suara jika pintunya ditutup jadi jika ada yang berbicara di kamarnya tidak akan terdengar.
Kedua wanita yang sedang asyik bercerita itu menolehkan kepalanya menatap ke arah Tala yang baru keluar dari ruang kerjanya itu.
Tatapan tajam dan nyalang didapatkan Tala dari ibu Dhara, “kamu ini kenapa asyik bekerja terus padahal istri lagi sakit dan tidak bisa bergerak ke mana-mana. Kerja apa sih apalagi kamu libur dan punya sekretaris dan asisten yang rajin dan cekatan.” Omel ibu Dhara.
“Kenapa ibu mengomel ketika melihat Tala terus?” Ujar Tala dengan santainya berjalan ke arah ibunya itu.
“Kamu seharusnya lebih perhatian lagi ke istrimu lihat dia tidak bisa bergerak dengan bebas karena kakinya lagi terkilir sedangkan keningnya kejatuhan vas bunga. Seharusnya kamu mengajak istrimu mengobrol atau menikmati waktu bersama agar dia tidak bosan sehingga membuat keningnya seperti ini.” Cerocos ibu Dhara.
Tala memijat pelipisnya pusing mendengar ibunya yang terus mengomel. “Ibu jarang-jarang lah mengomel dan kesal supaya nanti hipertensi jarang naik juga. Kan biasanya orang yang sudah paruh baya sangat mudah hipertensi.” Ujar Tala.
Ibu Dhara mencubit pinggang putranya yang sedang berdiri tersebut karena merasa kesal. “Kamu menyumpahi ibu ya dasar. Sudah sekarang gendong istrimu dan bawa dia ke ruang makan. Semua sudah menunggu di sana. Jangan lupa ibu menunggu klarifikasi bagaimana kening putri ibu terluka.” Ucap ibu Dhara setelah itu langsung meninggalkan kamar.
Tala dan Eve bertatap muka satu sama lain, ibu Dhara yang masih berada di tengah pintu menolehkan kepalanya menatap ke arah menantu dan anaknya yang saling bertatatapan itu. “Nanti dilanjutkan saja tatapannya, cepat segera turun semua orang sudah menunggu.” Ucap ibu Dhara dengan nada suara yang sudah biasa seperti biasa.
“Jangan membantah ibu akan menunggu dan membimbing kalian sampai ke meja makan cepat.” Perintah ibu Dhara dan menatap ke arah putranya itu yang masih diam saja.
__ADS_1
Tala menggendong Eve ala bridal style dan Eve mengalungkan tangannya di leher Tala dan menundukkan kepalanya karena merasa malu apalagi mereka sangat begitu dekat.
Ibu Dhara membalikkan badannya dan tersenyum melihat anak dan menantunya itu. “Biarkan ibu saja yang menutup pintu kamarnya.” Ujar ibu Dhara dan Tala hanya diam menuruti saja.
Ketiganya sampai di dapur ayah Davka dan Adya sudah berada di bawah menunggu ketiganya dan melihat bagaimana Eve yang sedang berada di dalam gendongan Tala itu.
Tala mendudukkan tubuh Eve di kursi sebelahnya, Eve masih menundukkan kepalanya karena merasa malu apalagi jika Eve sedang malu maka pipinya akan merona.
“Sayang kenapa kamu menunduk. Tala coba ambilkan makanan buat Eve.” Ujar ibu Dhara dengan memanggil menantu keduanya pakai nama.
Eve yang mendengar perkataan dari ibu Dhara segera mengangkat kepalanya, “Tidak ibu jangan seharusnya Eve yang seperti itu.” Ujar Eve lalu segera berdiri namun karena lupa untuk kedua kalinya membuta Eve kembali memekik kesakitan.
“Sayang kamu harus hati-hati, kakimu sedang terkilir jangan banyak bergerak dulu atau nanti dia akan bertambah bengkak.” Nasihat ibu Dhara khawatir kepada menantunya ini.
Tala menghela nafasnya panjang lalu memutar badan Eve agar mengarah ke arahnya dan mengangkat sebelah kaki Eve yang terkilir untuk diletakkan di atas pahanya.
Ibu Dhara, ayah Davka, Adya, dan kepala pelayan terkejut melihat aksi dari Tala yang baru pertama kali menunjukkan perhatiannya di hadapan mereka semua bukan hanya Eve saja.
Eve menundukkan kepalanya malu setelah melihat semua orang menatap ke arahnya dan Tala dengan wajah terkejutnya. Menarik kakinya pelan ketika Tala melihat dan sedikit mengusap kakinya yang terkilir.
Tala yang melihat bahwa Eve menarikkan kakinya menatap tajam ke arah Eve. “Kebiasaan selalu ceroboh.” Ujar Tala yang tidak seperti biasanya berbicara lembut kepada Eve apalagi ini di hadapan semua orang.
Ibu Dhara menatap ke arah ayah Davka seolah mengatakan bahwa, ‘benarkan apa yang ibu bicarakan’ ayah Davka yang melihat tatapan ibu Dhara tersebut menganggukkan kepalanya.
Ada orang yang tidak kalah senangnya dengan ibu Dhara yaitu Adya sendiri, Adya merasa bahwa dia meninggal dunia hari ini pun akan merasa tenang jika perkembangan hubungan keduanya semakin membaik.
“Ekhm.” Ayah Davka berdeham melihat pemandangan menantu kedua dan anaknya itu.
Tala yang baru menyadari apa yang dilakukannya menjadi terdiam hampir saja tangannya ingin menurunkan kaki Eve yang terkilir itu dengan cepat karena merasa malu seperti melakukan sesuatu hal yang memalukan.
Tala berusaha bersikap biasa aja dan menurunkan kaki Eve perlahan walaupun pandangan ketiganya merasa sangat senang dengan apa yang dilakukannya.
Eve menatap malu ke arah ibu Dhara, ayah Davka, dan Adya bahkan kepala pelayan yang senyam-senyum sendiri. “Mereka pasti berpikir bahwa hubungan kami semakin membaik.” Ujar Eve di dalam hatinya.
Sebenarnya Eve merasa senang jika mereka berpikir seperti itu tentang hubungan mereka yang semakin membaik melihat sikap Tala kepadanya. Namun, Eve merasa bersalah bahwa sebenarnya hubungan mereka masih jauh untuk dikatakan baik.
“Biarkan bibi saja yang mengambil makanan untuk Nona muda Eve.” Ucap kepala pelayan, ibu Dhara sebenarnya tidak rela jika yang melakukannya adalah kepala pelayan namun melihat sikap Tala yang sudah kembali seperti semula dan tidak mendengarnya bahkan saat ini Tala sudah sibuk dengan makanan yang ada di piringnya.
“Dasar suami tidak peka.” Ucap ibu Dhara menatap ke arah putranya itu, Tala tau apa yang dipikirkan ibunya hanya dengan melihat tatapan kesal ibunya itu.
__ADS_1
Tiga puluh menit kemudian semuanya sudah selesai dengan hidangan makan malam mereka. Ibu Dhara menyuruh Tala untuk menggendong Eve ke ruang keluarga karena ibu Dhara ingin menanyakan lebih detail mengenai kening Eve yang terluka itu.
Ayah Davka dan Adya masih belum menyadari bahwa kening Eve sedang terluka itu. Ibu Dhara yang mendorong kursi roda menantu pertamanya itu dan mereka kini semua sudah duduk.
“Apakah kaki mu sudah terasa baikan Eve?” Tanya Adya yang belum menegur sapa Eve semenjak Eve kembali dari mansion.
Ibu Dhara yang hendak menanyakan lebih detail mengenai kening Eve terpaksa mengurungkan niatnya itu menunggu Adya selesai berbicara dengan Eve.
“Sudah baikan kak, kak Tala tadi yang membantu mengompres dan mengolesi salep di kaki aku.” Jawab Eve dengan jujur. Eve sengaja berkata seperti bukan bermaksud untuk memberitahukan bahwa sekarang Tala sudah perhatian dengannya tidak, Eve hanya ingin agar ayah Davka, ibu Dhara, dan Adya tidak memprotes lagi akan perhatian Tala yang sama sekali tidak ada kepadanya itu.
“Eve kenapa dengan kening mu dan kenapa aku baru menyadarinya?” Tanya Adya yang melihat kening Eve yang diperban.
Ayah Davka yang juga sama sekali tidak menyadarinya melihat ke arah kening menantu keduanya itu. “Ibu sebenarnya sudah dari tadi ingin menanyakan secara rinci apa yang menyebabkan kening Eve sampai terluka.” Ujar ibu Dhara lalu memandang kesal ke arah putranya itu.
Eve memegang telinga sebelah kanannya karena merasa bingung memilih kata yang tepat dan takut salah jika dirinya menceritakan asal muasal jadinya. Eve tidak ingin Tala terpojokkan karena penjelasan yang Eve utarakan.
Eve melirik ke arah Tala untuk melihat reaksi dari suaminya itu, “apa ibu melihat bagaimana Eve tadi di meja makan kurang lebih seperti itulah kronologinya.” Ujar Tala yang tidak ingin banyak bicara.
Ibu Dhara yang mendengar perkataan putranya itu dan berada dekat duduknya yaitu di samping Tala segera mencubit paha Tala. “Ibu.” Rengek Tala melihat ibunya sudah mulai mencubit dirinya itu.
“Ibu kan ingin menanyakan kronologinya lebih jelas kalau tidak bisa bercerita ya sudah jangan bercerita biarkan Eve saja.” Ujar ibu Dhara membuat ayah Davka dan Adya menghela nafasnya dan berpikir akan semakin panjang sampai mereka mendengar Eve menjelaskannya nanti.
Eve merasa tidak tega melihat Tala yang mendapat cubitan itu, “Ibu biarkan Eve yang menjelaskan ya.” Ucap Eve dengan lembut.
“Tadi, waktu kak Tala masuk ke kamar kak Tala tidak menyadari bahwa Eve sudah terbangun tadi Eve sempat tidur maaf ya ibu.” Ujar Eve merasa tidak enak hati karena biasanya Eve akan melarang orang untuk tidur di sore hari.
“Eve lihat kak Tala masuk sambil berbicara sendiri dan kemudian kak Tala tertawa sendiri Eve pikir kak Tala ada masalah maafkan Eve karena berpikir seperti itu lalu Eve bertanya apakah kak Tala ada masalah atau tidak.” Jelas Eve.
Eve menjeda ceritanya lalu mengambil nafas dengan gugup karena takut salah berbicara karena pemilihan kosa katanya itu. “Lalu kak Tala pergi ke ruang kerjanya dan tiba-tiba Eve mendengar suara kak Tala yang mengaduh dan barang bergeser.” Ujar Eve. Waktu Tala menyerempet benda yang Eve sebut bergeser itu pintu ruang kerja Tala belum tertutup rapat.
“Eve yang merasa khawatir segera datang untuk melihat dan memastikan apakah Tala baik-baik saja lalu Eve lupa bahwa kaki Eve sedang terkilir sehingga Eve terjatuh dan menyenggol vas bunga akhirnya jadilah seperti ini.” Ujar Eve.
Ibu Dhara menatap prihatin ke arah menantunya itu, “tapi, sekarang Eve sudah baik-baik saja karena kak Tala dengan sigap membantu dan mengobati Eve.”
“Sayang ibu merasa bersyukur bahwa Tuhan mengirimkan malaikat sebaik kamu di rumah ini.” Ujar ibu Dhara merasa bersyukur.
Menurut ibu Dhara bahwa menantunya ini tidak peduli dengan keadaannya sesakit apa pun tapi dengan sigap membantu orang tanpa memikirkan keadaannya. “Tapi, lain kali jangan seperti itu lagi. Jangan lupa bahwa saat ini kaki mu masih sakit tidak boleh digerakkan terlebih dahulu. Kamu diam bukan berarti kamu egois dan tidak peduli dengan orang lain, malah jika keadaan kamu seperti ini akan membahayakan kamu. Jadi, ingat ya jangan pernah lupa bahwa kamu juga sakit dan lihatlah keadaanmu terlebih dahulu.” Ujar ibu Dhara memberi nasihat.
Eve yang mendengar perkataan dari ibu Dhara merasa tersentuh dan matanya sudah berkaca-kaca. Ibu Dhara yang melihatnya segera memeluk Eve.
__ADS_1
*Bersambung*