
Eve memperhatikan bagaimana lincah pengawal Bee yang sedang memasak untuknya namun lama kelamaan tatapan mata Eve menjadi kosong.
Tanpa Eve sadari bahwa Eve sedang meneteskan air matanya.
Pengawal Bee yang menolehkan kepalanya menatap tatapan kosong dari Eve menjadi iba.
Berjalan perlahan untuk mendekat ke arah Eve dan menepuk bahu Eve dengan pelan sembari memperlihatkan senyumnya kepada Eve agar Eve merasa tidak kepergok dirinya habis menangis.
Eve terkesiap ketika ada sebuah tangan yang menepuk bahunya pelan. "Nona jangan melamun nanti Nona kerasukan." Ujar pengawal Bee dengan candaan yang canggung.
Eve terkekeh melihatnya lalu Eve mengusap air matanya di pipi. "Maafkan aku karena aku menangis pasti membuatmu tertekan untuk menghiburku." Ujar Eve.
"Jadilah dirimu sendiri tidak perlu tertekan okay santai saja. Dengan kamu begini saja sudah cukup menghiburku." Ucap Eve tersenyum
Pengawal Bee tersentuh dan merasa kagum oleh perkataan yang dilontarkan Eve kepada dirinya.
"Nona jangan terlalu memuji saya orangnya sangat kaku." Ucap pengawal Bee dengan canggung serta menetralisir rasa malunya karena dipuji oleh Eve.
Melihat pengawal Bee yang malu lagi lagi membuat Eve terkekeh. "Bau apa?" Tanya Eve ketika hidungnya mencium bau gosong.
Keduanya menoleh menatap ke arah kompor pengawal Bee yang lupa dengan segera berjalan ke arah kompor untuk mematikan kompor.
Eve yang melihat kecerobohan pengawal Bee tertawa lucu dan mengibur.
"Nona muda maaf ayam gorengnya sedikit gosong." Ujar pengawal Bee sambil melemaskan kedua bahnya ketika melihat ayam gorengnya gosong.
Eve masih tertawa melihat tingkah pengawal Bee sedangkan pengawal Bee yang melihat Eve tersenyum lepas juga ikut tersenyum dan merasa sangat bangga akan dirinya karena berhasil menghibur Eve.
Di dalam hati pengawal Bee maka nanti ketika dirinya berkumpul di markas bersama dengan pengawal lain maka pengawal Bee bertekat akan menceritakan dan menyombongkan dirinya karena berhasil membuat Eve tertawa lepas.
"Mereka pasti bakalan iri melihat aku membuat Nona muda tertawa dan melihat kecantikan Nona muda yang berkaki lipat jika tertawa dan tersenyum. Sayang sekali aku tidak bisa memotret Nona muda." Batin pengawal Bee.
"Maafkan aku Bee." Ujar Eve sambil mengelap sudut air matanya. Eve tidak menyangka bahwa pengawal Bee sungguh ceroboh.
"Apa Nona bisa makan tanpa ayam goreng?" Tanya pengawal Bee yang tau kesukaan Eve bahwa setiap harinya harus makan ayam apapun masakannya asal ada ayam ketika Eve makan.
"Coba aku lihat ayamnya." Pinta Eve ketika melihat ayam yang hampir gosong itu. "Ini bisa dimakan kok tinggal buang saja mana yang tidak bisa dimakan. Letakkan saja di sini." Ujar Eve.
"Tapi, Nona..."
"Bee tidak baik membuang makanan banyak orang yang kelaparan di luar sana dan banyak orang yang menginginkan dan mengidamkan makan ayam di luar sana tapi karena tuntutan ekonomi membuat mereka tidak bisa dengan sesukanya untuk membeli makanan yang mereka inginkan."
Pengawal Bee lagi lagi merasa kagum dengan pemikiran dan kerendahan hati Eve.
"Baiklah Nona saya letakan di sini. Saya mau melanjutkan masak nasi goreng dulu sepertinya nasi sudah masak Nona." Ujar pengawal Bee.
"Pakah masih lama?" Tanya Eve
Pengawal Bee menolehkan kepalanya ke belakang "tunggu lima belas menit lagi Nona nasi goreng sudah siap. Tapi, kalau Nona sudah lapar Nona bisa makan mie goreng yang telah saya buatkan tadi."
Eve menatap ke arah mata pengawal Bee melihat. Eve tidak menyadari bahwa mie goreng sudah ada di depan matanya. "Kalau begitu jangan masak lagi ini sudah lebih dari cukup aku tidak kuat untuk menghabiskan segalanya atau kamu mau masak lagi untukmu." Ujar Eve.
Pengawal Bee menggelengkan kepalanya "tidak Nona saya sudah kenyang." Ucap pengawal Bee.
"Apa kamu tadi ingin memasak makanan yang aku sebutkan tadi?" Tanya Eve dan pengawal Bee menganggukkan kepalanya.
Eve menepuk dahinya. "Apakah Nona sedang sakit kepala?" Tanya pengawal Bee dengan khawatir.
"Tidak aku baik-baik saja."
Pengawal Bee mengangguk dan menatap ke arah Eve dengan dalam. "Nona jika ada yang ingin diceritakan cerita saja saya siap mendengarnya dan tidak akan memberitahukan kepada siapa pun." Ucap pengawal Bee membuat Eve mengangguk.
"Sekarang ayo kita makan." Ujar Eve dengan semangat.
"Aku tau Nona muda saat ini sedang tidak baik-baik saja aku berdoa agar Nona muda bisa bersabar dan lebih kuat lagi " Ucap pengawal Bee dalam batinnya.
Eve menghabiskan makanan yang disajikan untuknya. Pengawal Bee beranjak pergi ke kamar mandi setelah sebelumnya sempat meminta izin kepada Eve.
__ADS_1
Dari jauh pengawal Bee melihat punggung Eve yang bergetar karena menahan tangis. Pengawal Bee sengaja meminta izin ke kamar mandi karena ingin memberikan ruang buat Eve meluapkan hatinya.
"Pasti sulit apa yang dialami Nona sekarang ini." Ujar pengawal Bee yang memandang punggung Eve.
Eve beranjak dari kursi dapur dan segera mencuci piring bekas makanannya.
Pengawal Bee yang melihat Eve hendak mencuci piring segera berjalan cepat menghampiri.
"Nona tolong jangan lakukan biar saya saja." Ucap pengawal Bee yang segera mengambil sabun cuci piring.
Eve tersenyum melihat kesigapan pengawal Bee. "Tidak apa-apa Bee biarkan aku saja lagian dulu aku sudah terbiasa melakukan sendiri." Ujar Eve.
"Tidak boleh Nona harus menjaga tangan Nona bagaimana nanti kalau tangan Nona lecet tidak bisa saya bayangkan betapa marahnya Tuan muda kepada saya nanti." Ujar pengawal Bee membuat Eve merasa penasaran namun Eve tidak berani untuk bertanya dan tidak mau membuat dirinya besar kepala jika dalam diam Tala memperhatikannya.
"Sebaiknya Nona nonton TV sambil menunggu makanan turun ke dalam.lambung dan pencernaan bisa mencerna dengan baik begitukan Nona." Ujar pengawal Bee Eve menganggukkan kepalanya dan menuruti perkataan pengawal Bee.
Eve duduk di sofa dengan TV yang dinyalakan namun Eve tidak menonton sama sekali pikirannya melayang.
POV ON EVE
Aku selalu bertanya-tanya setiap apa yang dilakukan Tala kepadaku.
Terkadang tingkah lakunya membuat aku bingung dan tidak mengerti sama seperti sekarang ini.
Di pikiran aku sekarang bahwa Tala masih sangat marah dengan aku karena aku gagal menyelamatkan nyawa kakek.
Setiap mengingat kakek aku akan menangis satu orang yang aku sayangi telah berkurang karena dipanggil oleh sang Tuhan.
Apa yang aku lakukan selalu saja salah di mata orang. Kenapa orang tidak bisa melihat ketulusanku.
Aku tidak suka dengan pemikiran negatif yang hinggap di kepalaku ketika aku sedang down.
Rasanya sangat sesak dan menyakitkan.
Ingin aku bagikan beban ini tapi aku tidak mau orang akan merasa risih jika mendengar ceritaku yang tidaklah usai ini.
Sama sepertiku yang terkadang lelah dengan semua yang telah terjadi namun aku harus bertahan.
Aku menatapnya dengan senyuman. "Bee menurutmu..." Aku menjeda apa yang ingin aku katakan kepadanya dan dia dengan sabar menungguku untuk bercerita.
"Kenapa aku di sini?" Tanya aku kepada pengawal Bee.
Pengawal Bee menatap bingung ke arah ku. "Mungkin ini adalah tempat yang nyaman bagi Nona." Jawabnya aku hanya tersenyum getir.
"Apa kamu tau kapan pertama kali aku ketemu kak Tala?" Tanya aku kepadanya tentu saja dia menggelengkan kepalanya. Walau begitu aku suka dan ingin bercerita dengannya.
"Menurutmu apa kak Tala menyukaiku tidak mencintaiku?" Tanya aku lagi dan dia terdiam cukup lama.
Aku menghela nafasku. "Waktu itu saat aku masih SHS aku dan kak Tala satu angkatan." Aku melihat ekspresi dan sorot mata penasaran di mata Bee.
"Apa kamu percaya bahwa aku sangat populer di sekolah?" Tanyaku kembali dan dia dengan cepat menganggukkan kepalanya membuatku tersenyum.
"Menurutmu kenapa aku sangat populer di sekolah?" Tanyaku kembali.
"Nona sangat cantik dan sangat baik hati." Jawabnya dengan cepat. "Siapa pun akan sangat menyukai Nona dan orang-orang akan iri dengan apa yang Nona miliki. Nona cantik di luar dan juga cantik di dalam serta otak Nona sangat jenius."
"Apa kamu percaya bahwa dulu aku sangat arogan?" Tanya Aku kembali kepada Bee aku lihat dia diam sebentar untuk menjawab pertanyaanku ini.
Aku sudah bisa menebak bahwa karakternya memang sangat berhati-hati baik bertutur kata dan tindakan walaupun diselingi dengan kecerobohannya.
"Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan tidak ada manusia yang sempurna yang terpenting adalah masa sekarang dan masa depan." Itu adalah jawaban yang bijak dari Bee dan aku tersenyum.
"Kamu benar. Menurutmu kesalahan apa yang tidak bisa dimaafkan?"
Pengawal Bee masih memikirkannya aku seperti memberinya sebuah ujian kuis di malam hari. Tapi, aku senang dan ingin berbagi cerita lewat pertanyaan yang aku ajukan agar aku bisa merasa sedikit lega.
"Tidak ada kesalahan yang tidak bisa dimaafkan Nona itu semua tergantung kepada manusia itu sendiri. Tuhan saja memaafkan bagaimana manusia tidak." Jawabnya.
__ADS_1
Aku akui jawab yang diberikannya padaku sangat cukup bijak. "Lalu menurutmu apa yang harus dilakukan jika ada kesalahan yang harus diluruskan sedangkan orang itu tidak mau mendengarkan?" Kembali aku bertanya dan ingin berbagi pikiran dengan Bee.
"Pasti ada sebuah alasan dan pasti ada pembenaran di dalam diri pribadi orang tersebut untuk membenarkan apa yang ada di benaknya. Sama seperti ketika ada seseorang melakukan kesalahan."
"Menurut orang itu mungkin tindakannya sudah benar dan ini adalah yang terbaik tapi belum tentu menurut orang lain yang melihatnya." Ujar Bee.
Aku merasa puas dengan jawaban bijak setiap perkataan yang menjadi kalimat yang telah dilontarkan oleh Bee.
"Jika ada kesalahan yang telah dilakukan maka kita harus meminta maaf dan memperbaiki kesalahannya dan meluruskannya."
"Tapi, jika itu tidak berhasil dan tetap keras pada pemikirannya maka...pilihannya adalah melepaskan Nona." Ucapan Bee membuat aku tertegun.
"Kita tidak perlu menjelaskan kita seperti apa karena sebagus apapun dan sepersuasif apapun kita menjelaskannya jika orang itu tetap membenci atau tidak menyukai kita maka biarkan tetap seperti itu."
"Yang terpenting adalah bahwa kita sudah menunjukkan usaha kita dan sudah semaksimal kita sisanya biarlah waktu dan Tuhan yang akan memperbaiki segalanya serta mengetuk hatinya.."
"Bee menurutmu kenapa aku bertanya terus kepadamu?" Tanyaku untuk terakhir kalinya sebelum aku memulai cerita masa lalu yang bagaikan kenangan indah sekaligus kelam.
"Karena Nona mencari jawaban untuk bertukar pikiran agar pikiran lebih terbuka." Jawab pengawal Bee.
"Ceritanya akan panjang jika aku bercerita tapi sepertinya memang sudah waktunya aku sedikit berbagi cerita itu." Ucapku sambil menyadarkan kepalaku di sandaran sofa.
"Dulu waktu SHS aku adalah pacar kak Tala." Aku lihat ekspresi wajahnya yang masih dengan khidmat mendengarkan. Aku menerka-nerka ekspresi dari wajah pengawal Bee.
"Sepertinya kamu sudah tau." Ujar ku ketika melihat Bee hanya diam.
"Saya masih mendengarkan Nona dan tidak ingin memberikan reaksi yang berlebihan agar Nona bisa merasa nyaman." Ujarnya dia sangat pandai sekali berbicara.
"Kak Tala bilang bahwa dia jatuh cinta pada pandangan pertama kepadaku." Ucapku tersenyum ketika mengingat kenangan itu.
"Bukan hanya kak Tala tapi ada banyak siswa-siswa yang mengejar dan ingin dekat dengan ku bahkan siswa dari sekolah lain dan juga mahasiswa."
"Mendapatkan banyak perhatian dan rasa kagum mereka kepadaku membuatku sangat senang."
"Tapi, di antara banyaknya aku memilih kak Tala menjadi pacarku saat itu." Aku terkekeh lucu jika mengingat alasan pertamaku menerima kak Tala.
"Dulu dia sangat penurut dan selalu berada di sampingku walaupun sering aku manfaatin dan aku bohongi. Apapun yang aku lakukan dia selalu menerima dengan lapang dada dan menjadi orang pertama yang selalu ada untukku."
"Aku juga bilang kepadanya diawal bahwa aku menerimanya menjadi pacarku karena aku sudah bosan dengan banyaknya siswa-siswa yang mengejar aku waktu itu. Dengan tidak berperasaannya aku mengatakan bahwa aku terpaksa menerimanya jadi pacarku."
Aku melihat reaksi dari pengawal Bee yang masih dengan senantiasa mendengarkan ceritaku.
"Apa yang aku katakan kepadanya waktu pertama kali kami jadian tidak membuatnya mundur dan dia menerima segala apa yang aku lakukan kepadanya asal semua yang dilakukan aku dan apa yang dirasakan aku, aku harus menceritakan segalanya kepadanya dan memintaku jangan dipendam."
"Aku yang mendengarnya waktu itu merasa tersentuh karena perkataan tulus itu namun aku malah menunjukkan sikap sebaliknya karena aku tidak mau dia tau bahwa saat itu hatiku sangat berdebar dan setiap kali aku bersamanya merasa sangat nyaman itu adalah alasan kedua kenapa aku menerimanya menjadi pacarku."
"Lama-lama aku merasa semakin tergantung dengannya awalnya aku ingin memanfaatkannya karena ketulusannya pada akhirnya aku kalah dan menyerah dengan perasaanku."
"Aku takut dia mengetahui sesuatu bahwa aku sebenarnya adalah anak yang diadopsi oleh keluarga kaya. Aku takut dia menjauhiku dan meninggalkanku hingga aku semakin jauh dengannya dan mencari sebuah kesenangan baru."
"Dia semakin bingung dengan sikapku. Aku yang selalu menghindar dan menyembunyikan sesuatu darinya bahwa yaitu latar belakangku karena aku tidak mau dia mengetahuinya."
"Tapi, aku percaya kepadanya apa pun yang aku lakukan dia pasti akan memaafkannya dan akan menerimaku kembali pulang kepadanya."
"Aku semakin sombong dan aku juga semakin haus akan perhatian dari orang lain. Kesenangan baru itu aku menemukannya dan dia adalah mahasiswa kedokteran."
"Aku sangat senang dengan ilmu kedokteran dan aku sering pergi bersama mahasiswa kedokteran itu."
"Tapi, suatu hari dia menemukanku dengan mahasiswa kedokteran itu dan dia sangat marah dan perlahan mulai menjauhiku."
"Aku bingung saat itu kenapa dia begitu marah padahal ini bukanlah pertama kalinya dia melihatku berjalan dengan laki-laki lain."
"Dan sampai saat ini pun aku tidak tau dan aku juga dengan egois, sombong dan mengatakan bahwa dia pasti akan memintaku untuk kembali namun hingga hari itu tiba hari di mana hari kelulusan aku. Hidupku berubah segalanya orang tua angkat ku meninggal dunia karena kecelakaan."
"Padahal hari itu aku ingin menjelaskan kepadanya dan ingin mengatakan sesuatu kenapa dan apa yang membuat aku melakukan itu kepadanya serta aku ingin menanyakan kenapa dia begitu marah ketika aku pergi bersama mahasiswa kedokteran itu."
"Hidupku berubah dan akhirnya aku pergi dari negara ini untuk berkuliah di kedokteran begitulah akhirnya aku berhasil menjadi dokter bedah." Ucapku mengakhiri cerita panjang itu.
__ADS_1
Tidak semuanya aku ceritakan karena masih ada yang aku tutupi yaitu mengenai lingkup pertemanan ku yang mana menjadi salah satu alasan utama kenapa aku memilih menjauh dan menghindar dari Tala saat itu.
*Bersambung*