Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 98. Negara L


__ADS_3

Dua tahun yang lalu setelah Gulzar mengingat bahwa dia sempat memasangkan kalung di leher Eve yang mana di sana ada alat pelacak untuk mengetahui keberadaan Eve.


Gulzar sengaja melakukan hal itu walaupun dia tau bahwa akan selalu ada pengawal yang menjaga Eve baik dari dekat maupun dari jauh.


Kalung itu adalah harapan Gulzar bisa menemukan di mana keberadaan Eve namun semua itu sia-sia karena Eve ternyata menempatkan kalung itu berada di mansion Werawan.


Jadi, sampai sekarang baik Tala maupun Gulzar belum menemukan di mana keberadaan Eve.


“Pasti dia sudah besar sekarang dan sudah bisa berjalan.” Ujar Tala dengan lirih sembari memandang taman labirin bunga mawar.


Taman yang sengaja dibuat Tala untuk Eve, walaupun saat itu rasa egoisnya tinggi namun Tala tidak pernah lupa apa keinginan-keinginan yang Eve inginkan dan katakan kepadanya.


“Huh, kalian di mana?” Tanya Tala air matanya menetes karena sangat merindukan Eve dan sangat ingin melihat anaknya.


Selama kurang lebih dua tahun ini Tala tidak pernah nyenyak dalam tidurnya pikirannya selalu berkelana tentang Eve. Apakah Eve baik-baik saja, apa Eve bisa melewati kehamilannya seorang diri, dan apakah mereka berkecukupan atau tidak.


Eve benar-benar meninggalkan apa yang dia miliki selamanya bahkan gelar kedokterannya Eve sama sekali tidak membawa ijazahnya itu. Uang pemberiannya selama mereka menikah hanya sedikit Eve gunakan.


Eve bukanlah perempuan yang akan membeli banyak baju atau barang-barang bermerek seperti kaum sosialita.


Memiliki barang satu sesuai kebutuhannya sudah lebih dari cukup contohnya tas, tas yang digunakan Eve pun tas satu-satunya yang dimiliki oleh Eve.


Sederhana


Jika itu adalah wanita lain maka akan banyak barang-barang bermerek yang dibelikan mereka untuk memuaskan hasrat dalam diri yang ingin terlihat mewah dan elegan di depan semua orang.


Tapi, itu tidak berlaku bagi Eve. Sampai barang itu sudah tidak layak dipakai atau rusak Eve tidak akan menggantikannya.


Beli baju pun Eve hanya beberapa kali tidak lebih dari lima kali selama mereka menikah padahal uang yang diberikannya untuk belanja bulanan Eve sangat banyak lebih dari cukup.


Biasanya Adya atau ibu Dhara yang akan membeli barang-barang buat Eve, Eve selalu beralasan bahwa barang-barang yang dimilikinya saat ini lebih dari cukup atau alasan lainnya Eve lebih mementingkan pekerjaannya tidak mempunyai waktu untuk berbelanja atau tidak mau membuang waktu.


Dengan itu Eve tidak akan menolak dan memakai pakaian yang telah diberi oleh Adya dan ibu Dhara.


Setelah Tala pikir-pikir Eve bersifat sangat hati-hati kepadanya terutama menggunakan uangnya. Mungkin Eve tidak mau menambah kebencian Tala terhadap kepadanya saat mengingat bahwa keluarga Adwitya yang sudah ditolong malah ngelunjak kepada keluarga suaminya itu. Hal itu membuat Eve merasa tidak enak hati.


Di mansion keluarga Werawan sekarang terlihat tidak seceria dulu tidak ada Adya yang akan meramaikan suasana rumah walaupun kondisinya sangat mengkhawatirkan.


Wanita itu akan selalu memberikan senyumannya kepada semua orang agar orang-orang tidak mengkhawatirkan dirinya. Adya sangat tidak suka dikasihani.


Gurauan Eve dan Adya setiap kali mereka ada kesempatan untuk melakukan aktivitas bersama seperti memasak atau Eve belajar mendesain dari Adya dan ibu Dhara yang memang mempunyai bakat seperti desain sedangkan Eve mempunyai minat terhadap desain.


Pertanyaan Eve yang 5W+1H membuat Adya dan ibu Dhara sangat gemas, kedua istrinya itu memang sangat akur.


Mengenai ibunya dan ayahnya sekarang mereka lebih banyak diam dan hanya menyambutnya dengan senyuman saja. Tala tau bahwa mereka sangat kecewa kepadanya mengenai keputusan Tala yang waktu itu memberikan surat perceraian kepada Eve dan berakhir dengan Eve yang menandatanginya.


Tala sudah mengakui segalanya apa yang dikatakan Tala mengenai pernikahan dirinya dengan Eve yang akan bertahan selama dua tahu saja semuanya Tala katakan kepada ayah dan ibunya itu.


Tidak ada kemarahan di wajah kedua orang tuanya mereka hanya diam dan menatap Tala dengan kecewa. “Sudahlah lagipula sudah berlalu.” Ucap ayah Davka sembari melihat ke arah lain.


Tala kala itu menundukkan kepalanya, “semoga Eve hidup bahagia dan menemukan kebahagiaannya. Ibu tidak apa-apa jika tidak melihat wajah cucu ibu biarkan saja cucu ibu bersama ibunya.”


“Jangan mencarinya lagi biarkan Eve hidup bahagia dengan pilihannya.” Tala mengangkat wajahnya menatap ke arah ibunya.


Mendengar perkataan ibunya bagaikan tersambar petir. Tala tidak terima Tala akan tetap mencari Eve dan anaknya. Tala tidak tau apakah anaknya laki-laki atau perempuan tapi apa pun jenis kelaminnya Tala menerima semuanya.


Tala akan berjuang kali ini dan akan membuat Eve hidup bahagia setelah Tala menemukan Eve dan anaknya. Tala tidak akan bersikap bodoh untuk ketiga kalinya.


“Ibu dengan dari Kai bahwa kamu akan pergi ke negara L lagi?” Tanya ibu Dhara membuat Tala membalikkan badannya menghadap ke arah ibunya.

__ADS_1


Tala merasa sangat sedih melihat sinar bahagia di mata ibunya meredup, ibunya pasti akan sangat kesepian. “Iya, ada perjalanan bisnis dan…” Tala menghentikan bicaranya.


Ibu Dhara juga sangat sedih melihat kehidupan putranya yang seolah hilang semangat, ibu Dhara tau bahwa Tala selalu minum obat tidur agar dirinya bisa tidur selama ini.


“Jika kamu berhasil menemukannya jangan memaksanya biarkan saja mengalir apa adanya. Jangan paksakan dia lagi.” Ibu Dhara mengingat bahwa dirinya dulu terlalu memaksakan Tala untuk menikahi Eve.


Pasti membuat Eve sangat tidak nyaman dan tersiksa selama tinggal di mansion Werawan walaupun dirinya memberikan kasih sayang penuh kepada Eve. “Biarkan dia bahagia dengan pilihannya.”


Ucapan itu selalu Tala dengar ketika Tala akan pergi ke perjalanan bisnis di negara L tempat di mana Eve menempuh pendidikannya dulu dan menghilang selama 8 tahun setelah mereka lulus.


Dan Tala akan selalu menjawab, “aku ingin memperjuangkannya dan mengganti rasa tidak bahagia itu sehingga membuatnya lupa bagaimana dia harus sedih.”


“Akhirnya kita bertemu lagi bro.” Ucap pria yang disapa akrab Jackson. “Padahal baru beberapa bulan yang lalu aku bertemu dengan mu.” Jackson adalah sahabat Tala dimasa kuliah dulu namun Jackson tinggal di negara S negara di mana dirinya dan Eve pergi berbulan madu dulu.


“Lihat kamu pasti mengingatnya lagi, padahal sudah dua tahun.” Ujar Jackson yang tau pikiran Tala. “Saat melihatku…” Bisik Jackson dengan percaya diri meledek Tala.


“Bagaimana keadaan keponakan ku Lily pasti dia sangat tertekan mempunyai ayah seperti mu.” Dengan tidak berperasaannya Tala membalasnya.


Jackson, “…”


“Tentu saja putri kecil ku akan sangat bahagia dan bangga mempunyai ayah seperti aku, ahhh aku jadi sangat merindukannya.” Ujar Jackson sembari memikirkan wajah putrinya yang berusia dua tahun itu.


“Aku ingin mengajak mu ke suatu tempat di mana banyak perempuan cantik.” Ujar Jackson ke Tala.


Tala, “…”


‘Jelalatan’


“Hey, ada apa dengan wajah mu aku ini sudah tobat tau. Ini direkomendasikan oleh istriku sendiri. Dia sangat kasihan dengan mu dan sebagai ucapan terimakasihnya karena kamu telah membuatnya menerima dan bertahan bersama ku.”


Tala, “…”


“Apa ini sebagai ucapan terimakasih benar dari Daisy!?” Tala merasa sanksi rasanya memang tidak ada yang benar di antara sepasang suami istri itu.


Tala juga tidak menyangka bahwa mereka akan benar-benar menikah apalagi dengan Jackson yang terkenal playboy dan Daisy yang dingin namun digilai banyak pria termasuk Jackson yang ditolak beberapa kali dan mulai berubah untuk meyakinkan Daisy.


“Aku sangat cemburu jika Daisy membicarakan mu dan memikirkan mu makanya aku membantunya agar kamu bisa menemukan wanita untuk dinikahi dan tidak hidup selangsa seperti ini.”


Tala, “…”


‘Aku tidak semenyedihkan itu.’


“Apalagi putri kecil ku Lily ingin selalu video call dengan mu sebelum dirinya tidur membuat ku frustrasi.”


“Itu karena pesona aku sangat luar biasa tentunya.”


Jackson, “…”


‘Sudahlah dia memang tidak waras dari dulu daripada meladeninya lebih baik aku harus bisa mengajaknya pergi ke sana kalau tidak aku tidak akan mendapatkan jatah dari Daisy’


“Huh, sangat membosankan.” Celetuk Tala karena mereka saat ini sedang pergi ke pesta dari salah satu rekan bisnisnya. Tala datang sendiri karena asisten Kaivan saat ini tidak mau pergi takut meninggalkan Jasmine istri Kai yang saat ini sedang hamil tua lagipula Tala akan sangat melarangnya tentunya.


Sekretaris Diego saat ini sedang tidak bisa diajak karena sekretaris Diego akan selalu mual-mual saat bertemu dengannya itu karena Wendy sedang hamil. “Sepertinya anakku sangat tidak menyukai mu.” Itu yang dikatakan oleh sekretaris Diego kala itu.


Tala, “…”


Jadi, saat ini Tala hanya ditemani oleh Jackson beserta asisten dan sekretaris Jackson karena itu adalah rekan bisnisnya mereka.


“Apa kamu menginap di depan apartemen Eve lagi?” Tanya Jackson, Tala hanya diam saja.

__ADS_1


Tala, “…”


‘Cih, padahal sudah tau jawabannya kenapa malah bertanya.’


Tala memutar bola matanya malas. Setiap kali Tala pergi ke negara L maka Tala akan menginap di depan apartemen Eve siapa tau Tala bisa bertemu dengan Eve di sana walaupun belum pernah. Tala sengaja membeli apartemen di depan apartemen Eve tinggal selama kuliahnya.


Apartemen itu terawat karena sering dibersihkan oleh orang suruhan sahabat Eve yang juga seorang dokter tepatnya psikiater.


Pernah sekali Tala datang menemui sahabat Eve itu di tempatnya bekerja namun ketika Tala mengatakan tujuannya psikiater itu menampar wajah Tala hingga memerah. “Kamu pantas mendapatkannya jangan pernah mencari Eve lagi jika aku melihat bahwa kamu berada di sekitarnya dan mengganggunya lagi aku akan membuatmu tidak nyaman.”


Tala sudah menyuruh orang suruhannya untuk mengikuti psikiater itu namun sepertinya psikiater itu tidak tau di mana keberadaan Eve karena psikiater itu juga sedang mencari keberadaan Eve.


...***...


Setelah banyak pertimbangan akhirnya Eve mengiyakan permintaan dari Joha kakaknya itu untuk pergi ke negara L berkunjung ke makam kedua orangtuanya. Apalagi ada hari peringatan kematian kedua orangtuanya.


Apalagi Jean sudah sembuh dan kedua bayinya itu tentu saja sudah bisa naik pesawat terbang dan pergi jauh.


Selain itu Eve juga ingin mengajak Orion untuk jalan-jalan ke tempat di mana Eve sukai dulu bersama dengan putranya itu.


Hidup hanya dengan Orion terasa lengkap dan Eve merasa sangat bahagia sekarang apalagi Orion tumbuh kembangnya sangat baik. Putranya itu cukup gembul dan hal itu membuat Eve sangat gemas begitu juga dengan Jean ingin sekali Eve menggigit pipi Jean dan Orion.


Eve merasa sangat bersyukur selama ini Orion jarang menangis bahkan anaknya itu cenderung pendiam namun sangat usil ke adik sepupunya Jean.


“Apakah kamu yakin ingin menjual apartemen mu?” Tanya Joha ke adiknya mereka saat ini sedang sarapan di mansion Abraham setelah kemarin siang tiba di negara L.


“Iya kak.” Jawab Eve sembari menyuapi Orion namun anak laki-lakinya itu malah mengambil sendok dari bundanya itu.


“Baiklah kalau begitu kamu di mansion saja.” Ujar Joha membuat Eve mengangguk pasrah ke kakaknya lagipula sepertinya Eve mengalami jet lag.


“Aku akan membawa Orion juga bersama Airen dan Jean.” Lagi, lagi Eve hanya mengangguk saja.


Joha tau selama ini bahwa satu-satunya sahabat Eve akan menyuruh orang untuk membersihkan apartemen milik Eve. Sebelum Joha bertemu dengan pembelinya Joha akan bertemu dengan sahabat Eve tersebut.


Kini Joha sudah berada di dalam apartemen milik Eve mereka sudah bertemu dengan pembelinya Joha saat ini menggandeng tangan Orion sedangkan Jean berada di dalam gendongan istrinya itu.


Orion tidak mau di gendong semenjak Orion bisa berjalan sangat susah untuk menggendong Orion. Jadi, Joha membiarkan Orion berjalan di depan dan Joha akan memantaunya. “Hati-hati sayang.” Membuat Joha menghela nafas sembari menggelengkan kepalanya.


“Sepertinya kakak Orion sangat senang.” Ujar Airen kepada bayinya Jeha. “Sayang sepertinya Jean sedang pup.” Ucap Airen ke Joha.


“Kalau gitu segera bersihkan Jean dulu sebelum dia menangis.” Ujar Joha sembari memberikan tas kecil yang berada di dalam tas ransel di punggungnya.


“Aku dan Orion akan menunggu di sini.” Airen menganggukkan kepalanya.


Di saat Joha sedang sibuk menyiapkan barang-barang akan diberikan kepada istrinya itu Orion berjalan mendekat ke arah lift mengikuti langkah kaki orang di depannya.


Orion sangat lincah dan pria yang melihat ada bayi di dalam lift bersamanya menatap kaget dan penuh tanda tanya apalagi melihat wajah Orion.


Pria tersebut tidak lain adalah Tala, Tala merasa pernah melihat wajah mungil yang sangat menggemaskan sedang menatapnya itu. “Yayayayay.”


‘Sepertinya dia mengira bahwa aku adalah ayahnya, siapa yang dengan ceroboh membiarkan seorang anak kecil sendirian.’


Orion mengangkat kedua tangannya minta di gendong dan dengan reflek Tala menggendong Orion. “Di mana orangtua mu?” Tanya Tala ingin sekali mencium pipi bulat itu namun dirinya tidak boleh sembarangan apalagi Tala baru selesai makan kulit bayi kan sensitif.


Orion memegang wajah Tala dan menampar-namparnya karena merasa sangat senang membuat Tala meringis. Matanya sangat memikat seperti mata Eve, “mungkin paman sudah sebesar diri mu.”


 


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2