
Setelah sambungan terputus Tala segera membersihkan dirinya agar bisa beristirahat dengan cepat.
Tepat setelah beberapa menit Tala masuk ke dalam kamar mandi Eve membuka matanya karena terbangun dengan suara dering ponsel yang terus berdering.
Eve membuka kedua matanya dan menatap ke sekeliling ruangan di mana dia tidak mengenalinya.
Eve dengan malas mengambil ponsel milik suaminya di sana tertera nama 'ibu negara'
Eve mengangkat telepon yang berdering itu. "Nabastala apa yang telah terjadi dengan Eve kamu pasti sudah membuat putri ibu terluka hatinya. Berani-berainya kamu memeluk wanita lain!"
Telinga Eve terasa berdengung mendengar pekikan dari ibu mertuanya itu.
"Kamu pasti sengaja tidak mengangkat telepon ibu ya awas kamu akan ibu buat perhitungan. Kenapa kamu diam saja hah jawab!"
Ibu Dhara berbicara dengan berapi-api merasa tidak terima dengan apa yang terjadi. "Cepat cari nama wanita itu akan ibu buat perhitungan karena sudah berani membuat putri ibu Eve yang baik hatinya menjadi seperti itu."
"Ibu." Panggil lembut Eve membuat ibu Dhara terdiam ketika suara lembut masuk ke dalam telinganya itu.
"E-Eve itu kamu?" Tanya ibu Dhara memastikan.
"Iya, Eve yang mengangkatnya kak Tala sedang berada di dalam kamar mandi." Jelas Eve.
"Sayang kamu baik-baik saja kan tangan mu tidak terkena kuman wanita gatal itu kan sayang?" Tanya ibu Dhara dengan khawatir sementara ayah Davka membawa Orion pergi dari kamar agar cucunya itu tidak mendengar granny-nya mengomel dan memarahi ayah kandungnya.
Bagaimana bisa tadi dirinya berprasangka buruk kepada mertuanya itu nyatanya kasih sayang dari mertuanya benar-benar tulus hingga tanpa sadar Eve meneteskan air matanya.
"Sayang kenapa menangis. Apa kamu kesakitan hah ceritakan kepada ibu apa Tala membuat mu sangat terluka?" Tanya ibu Dhara yang mendengar isakan dari menantunya itu.
"Apa wanita itu melukai mu? Jika ia kita harus melakukannya dan membawanya ke pengadilan. Berani sekali wanita gatal itu melukai menantunya yang cantik dan lemah lembut itu.
"Maafkan Eve." Ucap Eve meminta maaf.
"Sayang kamu tidak perlu meminta maaf yang salah di sini adalah Tala. Apa kamu sudah tidak tahan hidup bersama dengan Tala jika kamu ingin berpisah atau bertahan dengan Tala ibu dan ayah akan tetap mendukung mu atau kamu mau ibu memberikan hukuman buat Tala. Kamu mau ibu berikan hukuman apa?"
Mendengar perkataan dari ibu mertuanya yang selalu membela dirinya padahal yang dilalukan olehnya tadi sangat salah.
"Apa kamu mau ibu cemplungkan Tala ke dalam sumur dan membuat kepalanya berada di bawah dan kakinya diikat di terik sinar matahari? Itu adalah hukuman yang sangat baik buat Tala atau kamu mau ibu menggantung Tala di gerbang rumah lalu mencemplungnya di dalam minyak!"
Ibu Dhara masih berapi-api ingin memberikan hukuman kepada putranya itu dan Eve menangis mendengarnya.
"Ibu maafkan Eve terimakasih karena sudah membela Eve. Maafkan Eve karena telah membuat keluarga malu karena ulah Eve."
__ADS_1
"Sayang putri ibu jangan berkata seperti itu apa yang kamu lakukan sudah benar seharusnya kamu mencukur rambut wanita gatal itu sampai botak. Apa yang kamu lakukan tidaklah salah itu adalah benar."
"Ibu telah membuat istriku menangis lagi. Besok saja dia sudah sangat lelah jangan khawatirkan menantu ibu dia baik-baik saja Tala sudah menjaganya dan Tala akan selalu mendukung apa yang dilakukannya." Ucap Tala merebut ponsel dari tangan istrinya itu lalu mematikannya.
Tala memijat pelipis kepalanya mendengar perkataan ibunya yang ingin memberikan hukuman kepadanya.
"Sayang jangan menangis apa kamu tidak lelah hmmm?" Tanya Tala sembari berjongkok di hadapan Eve.
Tala saat ini hanya menggunakan selembar handuk tanpa memakai apapun di dalamnya.
Eve tidak menyadari bahwa Tala sudah keluar dari dalam kamar mandi.
"Sejak kapan di sini?" Tanya Eve mukanya sangat sembab.
"Kenapa terbangun tidurlah lagi." Tala mengusap rambut Eve dan merapikannya.
"Bagaimana bisa tidur jika telepon terus berdering." Ujar Eve dengan kesal sebenarnya bukan karena telepon Tala yang terus bersaing melainkan rasa kesalnya karena Tala tidak menceritakan apa yang terjadi kepada keluarga angkatnya.
"Ibu benar-benar ya suka sekali mengganggu." Gerutu Tala kepada ibunya itu. "Maafkan ibu ya sayang ibu pasti sangat khawatir dengan mu karena dia sudah menganggap mu sebagai putrinya sendiri bahkan aku terasingkan."
Eve menggelengkan kepalanya. "Kenapa tidak menjelaskan semuanya padaku?" Tanya Eve dengan dingin.
"Tentang keluarga angkat ku." Ujar Eve dengan dingin.
Tala menghela nafasnya panjang saat ini dirinya hanya menggunakan selembar handuk dan sepertinya Eve sudah tidak sabar dengan jawabannya.
Lalu Tala memandang Eve dengan tersenyum. Eve yang melihatnya memicingkan matanya dia tau apa maksud dari senyuman dan tatapan Tala.
"Apa imbalannya jika ayah menjelaskannya."
"Jika tidak mau menjelaskan ya sudah aku bisa mencari tau sendiri." Tidak mudah sekarang membujuk Eve apalagi Eve terlihat mulai percaya dengan dirinya sendiri.
"Baiklah jangan memasang wajah seperti itu nanti ayah akan tergoda untuk menerkam bunda."
Eve langsung menyilangkan kedua tangannya di dada. Respon yang ditunjukkan Eve semakin membuat Tala merasa gemas dan ingin melahap istrinya itu.
Padahal mereka sudah melakukannya sampai menghasilkan Orion namun istrinya itu masih terlihat malu.
"Ayah tidak mau menjelaskannya karena mereka tidaklah penting untuk dibahas." Ucap Tala dengan santai.
Eve mengernyitkan dahinya. "Karena mereka semua masalah yang terjadi dalam rumah tangga kita hampir hancur dan ayah beruntung karena berhasil menemukan bunda dan Orion."
__ADS_1
"Lagipula ayah berpikir bahwa bunda tidak mau mendengar lagi tentang keluarga angkat bunda karena bunda sudah menemukan keluarga kandung bunda sendiri."
"Ap-apa maksud mu?"
"Maksud ayah adalah selama kita tinggal bersama yang membuat kekacauan adalah keluarga angkat bunda sendiri."
"Mereka yang membuat bunda keguguran dan membunuh orang yang telah membantu mereka menjalankan rencana mereka agar semuanya bersih."
Eve terdiam dengan apa yang dikatakan oleh Tala kepadanya. Matanya kembali menangis. "Jangan mengeluarkan air mata untuk mereka lagi jika bunda menangis untuk mereka maka ayah akan semakin marah dan membuat perhitungan kepada mereka lebih banyak lagi."
"Mereka beruntung karena ayah menahannya dan itu semua demi sepupu angkat bunda Gulzar Adwitya yang telah membuat sepupu ayah Geya jatuh cinta dengannya."
"Ayah tidak mau membuat hubungan keduanya semakin memburuk karena masalah yang menimpa kita dan mereka tidak ada sangkut pautnya."
"Mereka juga yang telah membuat kak Adya merenggang nyawa dan meneror bunda saat itu."
"Ayah sudah mencari tau segalanya tapi belum menemukan titik terang saat itu. Tapi, saat melihat ponsel bunda semua begitu mudah dan akhirnya ayah memenjarakan mereka."
"Karena itukan bunda memilih pergi dan kekeh meminta cerai dari ayah."
Eve merematkan jari-jari tangannya di atas sprei merasa tidak percaya bahwa keluarga angkatnya melakukan hal yang sejahat itu kepadanya.
Tala menggenggam kedua tangan istrinya dan mengelusnya dengan lembut. "Kenapa mereka melakukan itu apa sebegitu bencinya mereka kepadaku."
"Bah-bahkan aku sangat tulus menganggap mereka sebagai keluarga dan selalu menuruti apa yang mereka mau walaupun aku tidak suka."
Tala memandang sedih istrinya itu. "Jangan bersedih seperti ini hati ayah terluka melihatnya. Ayah sudah berjanji dengan kakak ipar tidak akan pernah membuat bunda mengeluarkan tetesan air mata kesedihan lagi. Mereka bukanlah keluarga."
"Apa salahku..." Ujar Eve dengan lirih bagaimana bisa keluarga angkatnya melakukan itu kepadanya apalagi sampai merenggut nyawa manusia.
Anak pertama yang di dalam kandungannya sama sekali tidak bersalah dan masih belum melihat dunia bahkan dirinya baru menikmati masa hamil dan sudah kehilangan.
Mengingat saat dirinya begitu terpukul akan kehilangan anaknya dan menganggap bahwa dia sudah lalai dalam menjaga anaknya membuat hati Eve tersayat saat mengingat momen itu.
Ada satu lagi fakta yang belum Tala ceritakan mengenai kedua orangtua angkat Eve. Bahwa dalang dibalik kecelakaan orangtua angkat Eve adalah keluarga dari paman dan bibi sendiri.
Jika dia menceritakan mungkin hati istrinya akan semakin hancur dan Eve akan terus menangis. Sudah cukup Eve menangis malam ini.
Orang-orang yang tamak akan menjadi gila jika itu berkaitan dengan harga dan tahta bahkan mereka rela melakukan apa pun untuk mendapatkannya bahkan sampai membunuh saudara mereka sendiri.
*Bersambung*
__ADS_1