
Tala membalikkan badannya ke arah kanan dan menenggelamkan kepalanya di sana membuat Eve merasa tidak nyaman dan geli.
"Menjauhlah." Ujar Eve namun bukan Tala namanya jika menuruti perkataan istrinya yang merasa kegelian saat jarak keduanya sangat intim.
Tala menggelengkan kepalanya dan Eve bisa mendengar suara kecupan dan merasakan kecupan itu di luar perutnya.
Lama lama Eve membiarkan saja karena percuma melarang suaminya itu lebih baik Eve mengalihkan fokusnya kepada bacaan.
Namun Eve merasakan kejanggalan saat merasakan bajunya basah dan badan Tala terlihat bergetar.
'Apakah dia menangis? Dia menangis karena apa?'
Eve menutup buku bacaannya dan meletakkan di atas laci samping tempat tidurnya lalu tangannya mengelus kepala Tala dengan rambut yang hitam legam dan panjang itu.
Tala yang merasakan sentuhan di atas kepalanya berusaha menetralkan emosinya dan merasa malu karena ketahuan oleh istrinya yang sedang menangis.
Tala berdehem untuk mengontrol suara yang akan dikeluarkannya supaya terlihat bahwa dia tidak menangis padahal tanpa disembunyikan Eve tau bahwa saat ini Tala menangis.
"Apa bunda sudah selesai dengan bacaannya." Tala berbicara dengan wajah yang disembunyikan di depan perut Eve.
"Kenapa menangis?" Tanya Eve.
"Tidak siapa yang menangis." Elak Tala karena merasa malu.
"Sudahlah percuma bertanya lebih baik tanyakan saja kepada rumput yang bergoyang." Ujar Eve membuat Tala mengeryitkan dahinya dan menatap ke arah istrinya.
Pandangan keduanya bertemu, "sudah ketahuan tapi masih saja mengelak."
Telinga Tala memerah karena merasa malu ketahuan menangis. "Kenapa menangis?" Tanya Eve tangannya tidak berhenti mengusap rambut Tala.
Eve ingin sekali memainkan alis suaminya yang sangat disukainya itu namun Eve merasa ragu.
Tala mengambil tangan Eve dan meletakkannya di wajahnya. "Ayah merasa bahagia karena bisa bersama dengan bunda lagi." Ujar Tala padahal bukanlah itu yang membuat Tala menangis.
"Jika ada orang yang berbohong maka hidungnya akan menjadi panjang seperti Pinocchio." Mendengarnya tak kuasa Tala menahan tawanya.
Out of the box
"Bunda terlalu banyak membaca dongeng sehingga terkontaminasi. Bukankah seharusnya yang mendapatkan sasaran itu adalah Orion."
"Jangan mengalih pembicaraan." Ujar Eve dengan datar Eve sungguh sangat penasaran apa yang membuat Tala menangis.
Sangat lah langka dan jarang Eve melihat laki-laki menangis. Setau Eve, Tala tidak akan menangis jika tidak merasakan kehilangan.
"Ayah sama sekali tidak bohong." Ujar Tala dengan meyakinkan.
Eve mengangkat kepala Tala dan hendak turun dari ranjang.
Tala menggenggam tangan Eve, "bunda mau ke mana? Apa bunda marah karena ayah tidak menjawab dengan jujur?" Tanya Tala dengan sendu.
Eve menatap ke arah Tala dan berusaha menerjamahkan setiap perkataan dan tindakan Tala.
Eve melepaskan genggaman tangan Tala hal itu semakin membuat Tala merasa ketakutan jika Eve marah dengannya dan menjauh darinya.
Hubungan mereka masih sangat awal untuk memulia kembali atas kesalahannya dulu jangan sampai mereka bertengkar hanya karena dirinya menangis.
Tala memeluk Eve dari belakang dan menenggelamkan kepalanya di punggung Eve. "Maafkan ayah." Ujar Tala dengan pelan.
"Ayah terlalu lemah sehingga menangis seperti ini. Apalagi jika bunda menjauh dan bersikap datar ayah sangat ketakutan jika suatu saat bunda pergi meninggalkan ayah dan benar-benar meminta pisah."
__ADS_1
"Ayah sangat mengenal karakter bunda jika sudah berkemauan maka bunda akan memperjuangkannya sampai benar-benar mendapatkan apa yang diinginkan."
"Ayah benar-benar sangat menyesal karena telah berbuat yang kurang baik dan sering mengabaikan bunda dulu. Ayah menangis karena kesalahan ayah di masa lalu kepada bunda dan ketakutan ayah di masa sekarang dan masa depan bahwa bunda akan meninggalkan ayah."
"Apapun yang terjadi baik dan buruk tolong kasih tau ayah apa yang bunda sukai dan kurang suka dengan ayah maka ayah akan memperbaikinya."
"Tapi, jangan tinggalkan ayah apalagi pergi jauh dari ayah." Ucap Tala sembari menggelengkan kepalanya.
Suara Tala terdengar lirih namun masih bisa Eve mendengarnya.
Eve melepaskan pelukan Tala namun Tala malah mempererat pelukannya.
Hal itu membuat Eve merasa jengah Eve sudah tidak tahan lagi. "Lepaskan." Ujar Eve namun Tala tidak mau.
Oh tidak, "lepaskan jika tidak aku akan pipis di sini." Ujar Eve dengan datar membuat Tala reflek merenggangkan pelukannya.
Eve langsung berjalan ke kamar mandi dan mengunci pintu untuk berjaga-jaga agar Tala tidak masuk mengikutinya.
Tala mengerjapkan kedua matanya merasa heran namun itu adalah istrinya.
Tala berpikir bahwa Eve akan mengabaikan perkataan dari lubuk hati dan dalam pikirannya dengan menjauh darinya. Namun istrinya itu ternyata hanya ingin pergi ke kamar mandi.
Apakah Eve yang kelewatan aneh atau dirinya yang saat ini terlalu berpikir berlebihan.
Tala menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan duduk di atas ranjang sembari memandang pintu kamar mandi.
Tak lama Eve keluar dari dalam kamar mandi setelah Tala mendengar suara kunci yang dibuka.
Eve hanya menatap Tala dengan sekilas lalu kakinya bukan ke arah tempat tidur melainkan keluar kamar.
Melihat hal itu membuat Tala menjadi khawatir apakah istrinya marah sehingga membuat Eve harus keluar kamar.
Eve menatap ke arah pergelangan tangannya dan memandang ke arah Tala. "Haus." Hanya satu kata setelah itu Eve pergi meninggalkan Tala.
Kenapa istrinya menjadi irit berbicara hal itu membuat Tala bertanya-tanya di dalam benaknya.
Eve kembali di dalam kamar dengan membawa botol minuman berukuran dua liter.
"Sayang udah kembali." Ujar Tala berjalan mendekat dan memeluk Eve.
Eve sungguh merasa heran dengan Tala padahal dirinya hanya pergi sebentar dan Tala malah menempel dengannya apalagi mereka berada dalam satu ruangan.
"Ihh lepasin mau tidur." Keluh Eve.
"Ya sudah kita tidur." Tala lagi-lagi menggendong Eve ala bridal style padahal jarak antara dirinya dan tempat tidur tinggal beberapa langkah.
Tala meletakkan Eve di atas tempat tidur dan menutupi tubuh Eve dengan selimut lalu Tala menjauh untuk mengambil remote control untuk meredupkan cahaya.
Eve sudah bersiap untuk tidur namun Eve membuka lagi matanya saat merasakan ada pergerakan di sampingnya.
Kini Eve tidur dengan Tala yang memeluknya wajah Tala sudah berada di dadanya sekarang. "Kenapa bunda terbangun lagi?" Tanya Tala.
"Bisa tidak jangan menempel seperti ini." Ujar Eve dengan datar.
Tentu saja Tala menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Ayah sangat nyaman jika sedang memeluk bunda seperti ini apalagi tidak ada Orion."
Tala memejamkan matanya saat jari jemari Eve memainkan kedua alisnya bibir Tala tersenyum.
"Apa bunda sebegitu menyukainya." Ujar Tala membuat pergerakan jari Eve terhenti.
__ADS_1
"Tadi, apa yang kalian bicarakan?" Tanya Eve dengan penasaran.
Tala membuka kedua matanya dan menatap Eve dengan berbinar. Ini baru pertama kalinya Eve menanyakan dan merasa penasaran dengannya.
"Masalah pekerjaan dan kapan akan kembali ke negara K." Jawab Tala apa adanya.
"Lalu apa jawabannya?" Tanya Eve kembali karena dirinya sudah benar-benar siap jika harus kembali ke negara K.
"Ayah bilang kalau bunda sudah mau kembali ke negara K kapan pun ayah akan siap membawa bunda kembali."
Eve merasa tersentuh dengan apa yang dikatakan oleh Tala kepadanya karena Tala memikirkan dirinya.
"Jika selamanya tidak mau bagaimana?" Pancing Eve dengan pertanyaan.
"Itu tidak menjadi masalah selagi bunda merasa bahagia dan nyaman serta ayah selalu bersama bunda." Jawab Tala dengan santai.
"Lalu bagaimana dengan pekerjaan?" Tanya Eve lagi. Dirinya tidak mau egois hanya karena dirinya suaminya mengabaikan pekerjaannya. Tanggungjawab seorang presiden direktur cukup besar karena ada banyak karyawan yang menumpang hidup di dalam perusahaan suaminya.
"Ayah mempunyai banyak orang kepercayaan yang sudah ayah latih kesetiaannya termasuk sekretaris Diego, asisten Kaivan dan ada satu lagi yang baru membantu mereka bekerja selama ayah tidak ada."
"Mereka sudah mempunyai keluarga masing-masing dan istri mereka bukanlah orang sembarangan."
Tala mengernyitkan dahinya bagaimana Eve bisa tau. "Bagaimana bunda bisa tau ayah tidak pernah membicarakan mereka?" Tala mulai memasang insting curiganya.
Eve memutar bola matanya malas demi menutupi keceplosan ya. "Tadi ibu yang menceritakannya."
Tala mengangguk kepalanya mengerti. "Tidak apa-apa ayah punya beberapa untuk membantu ayah jika mereka memilih membantu mertua mereka di perusahaan keluarga istrinya. Lagian sudah seharusnya mereka memimpin perusahaan keluarga mereka sendiri sedari dulu."
Memang benar kedua sahabatnya itu mempunyai latar belakang yang sama dengannya namun mereka lebih memilih bekerja untuknya.
Kalian tau apa jawabannya saat Tala menanyakan kenapa memilih bekerja untuknya daripada perusahaan mereka.
Mereka menjawab bahwa mereka kasihan dengan Tala yang merupakan seorang pewaris tunggal yang harus mengelola perusahaan sendiri yang sangat berbeda dengan mereka mempunyai saudara untuk membantu meneruskan perusahaan keluarga.
"Ayah senang bercerita seperti ini sebelum tidur bersama dengan bunda." Ungkapan perasaan Tala lontarkan kembali.
Eve bisa melihat pandangan mata Tala menatapnya dengan berbinar dan penuh rasa cinta sangat berbeda dengan dulu waktu sebelum mereka berpisah sangat misterius.
Jangankan untuk bertatap seperti ini Tala dulu sangat menghindari dirinya.
"Apa alasan menghindar dulu?" Tanya Eve dengan spontan sembari menatap mata Tala.
"Karena ayah takut bahwa ayah akan lemah saat menatap mata bunda."
"Dari dulu perasaan ini hanya untuk bunda dan tidak tergantikan." Ungkap Tala dengan meletakkan tangan Eve di dadanya di mana jantungnya berdebar dengan cukup kencang.
"Lalu bagaimana dengan kak Adya?" Tanya Eve penasaran.
Mengingat istri pertamanya itu membuat mata Tala meredup sebentar karena sejujurnya Tala juga sangat merindukan Adya namun mereka sekarang berada di dalam dunia yang berbeda
"Kak Adya. Saat berdua ayah selalu memanggilnya seperti itu. Sedari dulu ayah selalu memanggilnya dan menganggapnya sebagai kakak."
"Apa alasannya kalian menikah jika hanya menganggap seperti itu? Bukankah tidak adil bagi kak Adya?"
Tala tersenyum istrinya ini memang sangat lembut hatinya dan betapa bahagianya saat dirinya dulu melihat Eve begitu dekat dengan Adya.
Malah mereka seperti adik kakak. Namun tentu saja kedekatan keduanya membuat Tala merasa cemburu karena dirinya yang tidak bisa berdekatan dengan Eve begitu dekat.terlwbih lagi Tala saat itu sedang mencari dalang dibalik masalah yang terjadi dalam rumah tangganya.
"Karena..."
__ADS_1
*Bersambung*