
Sekretaris Diego datang ke ruang istirahat Tala di sana sekretaris Diego melihat Tala sedang tiduran sembari tangannya di atas dahi matanya terpejam.
Sekretaris Diego menghela nafasnya lalu mengambil P3K untuk mengobati luka lebam di wajah Tala.
“Coba saja kalau ada Eve maka aku tidak akan repot mengobati lukamu. Kalau begini seharusnya aku jadi dokter saja. Siapa tau jika aku yang selalu bertemu dengan Eve akan membuat Eve jatuh cinta apalagi aku sangat tampan.” Ujar sekretaris Diego kepada Tala.
Tala yang mendengarnya membuka mata dan menatap tajam ke arah sekretaris Diego. “Shhh.” Tiba-tiba saja Tala mendesis ketika sekretaris Diego menekan kapas dan obat ke wajahnya.
Dengan wajah tanpa dosa dan rasa bersalahnya, “jangan melihat aku seperti itu aku takut nanti kamu akan jatuh cinta dengan ketampanan aku. Apalagi kan kamu ditinggal oleh kedua istrimu. Yang satu ditinggal pergi ke dunia lain sedangkan yang satu mau proses cerai dan tidak tau arahnya.”
Tala memutar bola matanya malas mendengar tingkat kepedean sekretaris Diego apalagi kalimat terakhirnya seolah mengatakan bahwa dirinya akan tidak normal sebagai laki-laki.
“Kalau kamu merasa tampan maka kamu tidak akan jomblo seperti sekarang, shhhh.” Ucap Tala datar dengan diselingi ringisan di wajahnya. “Ikhlas nggak sih ngobatinnya.” Tala kesal.
Sekretaris Diego mengedikkan bahunya, “sebenarnya ikhlas nggak ikhlas sih nanti jika aku tidak obati maka pekerjaan aku akan bertambah akibat kamu absen, jika diobati juga malas soalnya nggak ada akhlak.” Ucap sekretaris Diego enteng.
Tala tidak mau membalas perkataan sekretarisnya yang sangat kurang ajar dan tidak ada akhlak itu karena jika membalasnya maka akan panjang dan Tala malas sekali meladeninya.
“Kemarin pengawal Eve menemukan ponsel Eve retak di bawah meja sofa di ruang kerjanya. Dan sekarang asisten Kaivan berusaha memperbaiki ponsel itu dan mencari sesuatu di sana. Siapa tau bisa menemukan petunjuk.”
Tala membuka kedua matanya dan menatap tajam, “shhh.” Ringisan kembali dikeluarkan oleh Tala.
Sekretaris Diego tersenyum melihat Tala yang meringis akibat ulahnya, “lihat bahkan aku sudah mengobati mu tapi kamu malah memandang ku tajam. Jika kamu masih mendengar bersikaplah lunak dengan ku.” Ujar sekretaris Diego.
Melihat Tala mendesah pasrah, “aku curiga ada orang yang bermain di belakang atau ada musuh di dalam selimut apalagi melihat kejadian yang sangat janggal terutama saat Eve mengalami keguguran. Semua pelaku yang melakukannya berujung tragis seperti perawat gadungan kemarin.”
“Melihat keanehan Eve yang memaksa akan tetap bercerai dengan mu beberapa bulan yang lalu dan juga Eve yang terlihat menghindar ditambah Eve mengetahui bahwa dirinya saat ini tengah hamil. Tidak mungkin bagi seorang wanita secerdas Eve bersikap egois memisahkan anak dengan ayah kandungnya. Apalagi latar belakang Eve yang merupakan anak panti asuhan dan diadopsi oleh keluarga angkatnya. Itu tidak mungkin, pasti ada sesuatu dibalik itu makanya itu Kaivan mencari bukti sekarang.”
“Tapi, bisa juga karena Eve yang selama ini merasa sendiri dan sepi saat tau dirinya hamil dan takut bahwa nantinya dirinya akan berpisah dengan anak yang dikandungnya itu terlebih dengan sikap suaminya yang tidak ada akhlak membuat Eve merasa sudah tidak tahan jadi Eve lebih baik pergi.”
“Dari tadi kenapa kamu selalu memojokkan aku sahabat dan atasan mu itu siapa sebenarnya.” Dengus Tala kesal, ayo lah saat ini suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja dan sahabatnya ini malah memprovokasi dirinya dengan kata-kata dan wajah idiot menurut asisten Kaivan dan Tala.
“Jika aku sebagai Eve dengan kecantikan, kemolekan dan kecerdasannya maka aku akan langsung meminta cerai dan memilih lelaki lain yang banyak mengejar ku.” Ujar sekretaris Diego.
Tala menampar paha sekretarisnya dengan keras saat sekretaris Diego menekan dengan kuat luka lebam di wajahnya dengan kapas yang sudah dikasihi obat itu apalagi mendengar dari mulut sekretaris Diego yang memuji Eve.
__ADS_1
Sebagai suami tentunya Tala tidak terima, Tala merasa Tala harus menyembunyikan Eve dari para lelaki.
“Makanya bos ku jangan ke makan ego kalau cinta ya bilang cinta.” Ujar sekretaris Diego pedas berjalan pergi setelah selesai mengobati Tala.
“Oh iya sebentar lagi aku tidak akan jomblo lagi aku akan mengejar cinta princess Wendy.” Ucap sekretaris Diego sembari membayangkan wajah perempuan bernama Wendy.
Tala mengernyit mendengar nama perempuan yang disebutkan oleh sekretarisnya itu. Sepertinya aku pernah mendengar dan mengenalnya ucap Tala di dalam benaknya.
Eve saat ini sedang bersiap-siap untuk pergi ke klinik terdekat untuk memeriksa kandungannya karena dirinya habis dalam perjalanan jauh dan melelahkan.
Eve takut bahwa terjadi sesuatu dengan bayinya. Selama dua hari ini Eve merasa susah sekali untuk tidur selalu kepikiran Tala mantan suaminya.
Mungkin itu karena hormon kehamilannya, sesampainya di klinik Eve mendaftar lebih dulu dan menunggu antriannya.
Mengusap perutnya dengan pelan ketika melihat pemandangan di depannya yang menampilkan ibu-ibu hamil yang sedang menunggu bersama suaminya.
“Ayah juga pasti sangat ingin bersama mu sayang dan senang dengan keberadaan mu tapi kita tidak bisa bersama dengan ayah karena itu akan membahayakan mu. Bunda tidak ingin kehilangan anak bunda untuk kedua kalinya.” Ucap Eve di dalam hatinya. Eve sudah memutuskan bahwa anaknya kelak harus memanggilnya bunda.
“Nyonya Elakshi Feshika.” Panggil perawat wanita membuat Eve tersadar dari pemikirannya.
Eve masuk ke dalam ruang periksa kandungan. Di sana Eve melihat ada seorang dokter pria Eve merasa tidak nyaman dengan itu. Bukankah seharusnya dokternya adalah seorang wanita lalu kenapa sekarang menjadi seorang pria.
Eve menggigit bibir dalamnya cemas dan pikiran Eve melayang apakah Tala akan merasa cemburu jika yang memeriksa kandungannya adalah dokter laki-laki. Karena kata-kata dari pengawal Bee terlintas di dalam benak Eve bahwa sebenarnya Tala sangat memperhatikannya dan tidak menunjukkan kepadanya.
“Tuan muda sangat memperhatikan Nona muda bahkan pengawal laki-laki dan kami perempuan saja tidak boleh menatap Nona muda selama tiga detik. Itu adalah rahasia umum bagi semua pengawal Tuan muda. Bahkan alasan kami mengawali Nona muda dan menemani Nona muda juga karena Tuan muda tidak mau ada pengawal laki-laki yang berada cukup dekat dengan Nona muda.”
“Nyonya Elakshi, Nyonya.” Panggil dokter pria tersebut membuat Eve tersadar. Dokter tersebut tersenyum melihat Eve menatapnya dengan linglung. “Suster tolong bantu Nyonya Elakshi mari kita bicarakan di meja depan Nyonya.”
Eve duduk di kursi depan meja dokter pria tersebut, “sebelumnya maaf Nyonya perkenalkan saya dokter Lion Hardana panggil saja dokter Lay. Saya mengganti teman saya di sini karena teman saya ada urusan mendadak. Jadi, Nyonya Elakshi jangan khawatir.” Ucap dokter Lay.
Eve yang menganggukkan kepalanya saja tidak ada senyuman wajahnya datar. “Berdasarkan hasil pemeriksaan kondisi kandungan Nyonya saat ini menurun dilihat dari perbandingan hasil pemeriksaan terakhir yang saya lihat. Tolong kendalikan pikiran Nyonya jangan sampai stres dan kelelahan karena itu akan sangat membahayakan kandungan Nyonya.” Ujar dokter Lay.
“Apakah Nyonya mengalami gangguan makan atau ada keluhan lainnya?” Tanya dokter Lay.
Eve menggelengkan kepalanya, “untuk makan tidak ada masalah dokter dan saya juga tidak mengalami mual-mual semua sama seperti biasanya.” Ujar Eve datar.
__ADS_1
Entah kenapa dokter Lay yang mendengar kata sama seperti biasanya itu terdapat sebuah emosi yang tersirat. “Baiklah jika ada keluhan ini vitamin buat Nyonya silahkan ditebus di apotek ya. Saya harap pemeriksaan selanjutnya kondisi ibu dan janin lebih baik.”
Eve pamit undur diri untuk pulang namun sebelum itu Eve mampir ke apotek untuk membeli vitamin yang dibutuhkannya.
Di dalam rumahnya yang sederhana yang terdapat dua kamar tidur beserta kamar mandi dalam, dapur beserta kamar mandi, ruang tamu, ruang keluarga, dapur dan taman. Rumah satu lantai yang dibeli oleh Eve terasa sangat nyaman itulah yang Eve rasakan apalagi dengan pemandangan yang masih asri.
Eve saat ini sedang duduk bersantai di kursi goyang yang dibelikannya sembari memandang pemandangan melalui jendela rumah yang dibuka.
“Sayang, maafkan bunda sudah membuat mu dalam bahaya. Bunda akan berusaha untuk mengendalikan pikiran bunda agar kamu tidak terjadi kenapa-napa.” Ujar Eve sembari mengusap perutnya.
“Lihat bukankah sangat indah, nanti kamu akan bebas bermain di luar sana dengan pemandangan hijau ini nanti bunda akan mengajak kamu untuk berkebun. Bunda tidak sabar melihat kamu lahir ke dunia dan memanggil bunda.” Ujar Eve.
Saat ini Eve berusaha untuk menguatkan hati dan pikirannya.
...POV ON EVE...
Aku tau memang tidaklah mudah apalagi aku harus meninggalkan segalanya. Gelar yang aku raih dengan banyak rintangan, pekerjaan yang membuat aku nyaman bahkan aku adalah dokter yang tidak profesionalitas sekarang, berpisah dengan orang yang aku sayang dan memberi ku kasih sayang yang tulus.
Pergi jauh dari kehidupan orang-orang yang aku kenal. Siapa pun itu yang mengirimkan pesan tidak baik aku tidak apa jika itu membuat si pengirim merasa bahagia.
Karena aku tidak tau apa yang telah aku lakukan dulu baik di sengaja atau pun tidak bisa saja membuat orang tersinggung. Namun aku akan selalu berdoa kepada Tuhan agar bisa membuka hidayah kepadanya.
Aku memaafkan dengan mudah bukan untuk orang yang telah menyakiti ku atau membuat aku sedih namun itu semua untuk diriku. Aku ingin ketenangan dan kedamaian untuk diriku.
Aku akui untuk saat ini tak dapat aku kalahkan kesedihan hatiku banyak hal yang terjadi yang tidak bisa aku lupakan. Aku tak tahu jika “terbiasa sendiri” akan jadi lebih menakutkan dari apa pun.
Namun keadaan yang memaksa bahwa aku harus melewati kesendirian ini mau tidak mau aku harus berjuang untuk anak ku.
Selama ini aku sudah banyak menangis setiap hari hatiku terasa menyakitkan seperti ini karena aku terus menyimpan semuanya di hatiku dan sudah hidup seperti ini.
Aku tidak bisa berkata apa-apa karena banyak hal yang aku takutkan jika aku mengatakannya orang-orang yang aku sayang dan berada di dekat ku maka mereka akan menjauhkan aku lagi.
Aku takut ditinggalkan, aku takut dijauhi, aku takut karena itu lebih baik aku pergi meninggalkan dan menjauh.
Ditinggalkan dan dijauhi tidaklah menyenangkan.
__ADS_1
*Bersambung*