
Juan berjalan dengan langkah kakinya yang tegas serta dengan penampilannya yang rapi untuk masuk ke dalam mansion.
Kemarin Juan sudah mulai bekerja sesuai apa yang dikatakan oleh Tala dan asisten Kaivan kepadanya.
Di tangannya terdapat beberapa baju yang dibungkus dengan warna hitam agar tidak terkena debu.
Itu adalah baju buat Tala, Eve dan Orion. Tadi siang direktur menyuruhnya untuk mengambil baju seragam buat acara besok di hari ulang tahun Orion.
"Hai Juan." Sapa Geya yang sedang duduk di ruang keluarga sembari memegang majalah di tangannya.
Axel yang sedang tiduran di atas pangkuan Geya menolehkan kepalanya menatap ke arah Juan.
"Nona Geya Tuan Axel." Sapa Juan dengan memberikan senyuman dan menundukkan kepalanya sebagai dari bentuk sapaan.
"Apa yang kamu bawa? Apa itu baju buat kak Lizzy dan kak Tala besok?" Tanya Geya dan Juan menganggukkan kepalanya.
"Kamu letakkan saja di kamar Orion. Kamu tau kan kamar Orion di mana?" Juan kembali menganggukkan kepalanya. "Nanti aku akan beritahu kak Tala dan kak Lizzy."
"Baik Nona terimakasih." Lalu Juan segera pergi menuju ke lantai tiga.
Kamar Orion merupakan kamar Adya dulu dan Juan sudah diajak oleh asisten Kaivan mengenai seluk beluk mansion Werawan ini.
"Dia masih sangat bersemangat." Celetuk Geya setelah Juan naik ke atas tangga. Padahal bisa saja Juan naik lift namun Juan berpikir dia perlu berolahraga sedikit.
"Mungkin kak Tala belum memberikan pekerjaan yang berat dan dia masih baru bekerja. Dua hari." Ujar Axel dan Geya menganggukkan kepalanya.
"Aku harap dia tahan bekerja dengan kak Tala yang perfeksionis itu." Axel tertawa kecil mendengar perkataan Geya yang sepertinya terlihat kesal dengan Tala.
"Apa itu curhatan pikiran karena tertekan dengan pekerjaan yang diberikan dari kak Tala." Ujar Axel.
"Entahlah." Jawab Geya dengan acuh tak acuh.
"Kenapa kak Tala dan kak Lizzy nggak jadi pergi?" Tanya Axel dan Geya hanya mengedipkan bahunya tak tau.
Tangan Geya memainkan rambut lebat milik Axel dan Axel merasa nyaman dengan itu.
"Aku tidak bisa menebak keduanya karena kak Lizzy sedang hamil bisa saja kak Tala tanpa sengaja melakukan kesalahan sehingga membuat suasana hati ibu hamil itu buruk. Atau karena kak Tala berusaha keras membuat kak Lizzy untuk tidak jadi pergi."
"Misalnya...?" Tanya Axel.
"Tidak mungkin kamu tidak tau." Dengus Geya sembari menyentil pelan dahi Axel membuat Axel tertawa.
"Apa sekarang ratuku menginginkannya?" Goda Axel membuat Geya menatap Axel dengan datar hal itu semakin membuat Axel merasa gemas melihatnya dan mengecup bibir Geya yang berada di atasnya dengan mengangkat sedikit kepalanya.
Geya memukul pelan dada Axel sembari menatap tajam. "Nanti ada yang lihat." Gerutu Geya.
"Tidak perlu khawatir Nona saya akan diam." Ucap Juan menyahut dan tanpa sengaja melihat keromantisan pasangan suami istri yang baru itu.
Geya terkejut dan mengerutkan keningnya melihat Juan yang tiba-tiba sudah berada di lantai satu dan berjarak sepuluh meter dari mereka.
Geya berpikir keras, 'apa dia setipe dengan kak Kaivan?'
Juan sudah berjalan jauh setelah pamit kepada Geya dan Axel.
"Sayang aku akan cemburu jika kamu melihatnya seperti itu." Ujar Axel yang melihat tatapan Geya ke arah Juan yang sudah berjalan jauh.
"Huh, sepertinya dia setipe dengan kak Kaivan. Setelah melihat Kevin yang setipe dengan kak Diego kini Juan juga sama." Ucap Geya dengan tidak mengerti.
"Apa mereka mengikuti kak Kaivan dan kak Diego atau memang pada dasarnya mereka seperti itu." Geya terus berbicara karena tidak habis pikir.
Jika memang begitu berarti Juan dan Kevin akan sangat menyebalkan.
"Sayang aku akan cemburu jika kamu berbicara tentang laki-laki lain." Ini lagi Axel dalam mode merajuk ala anak kecil.
__ADS_1
Geya menatap ke arah Axel menghela nafasnya. "Jangan seperti Orion malu sama Orion kalau merajuk seperti ini." Ucap Geya sembari mencomot bibir Axel yang tampak maju.
......***......
"Selamat ulang tahun anak ayah dan bunda." Ucap Tala mengecup pipi Orion yang sudah terlihat rapi dengan pakaiannya.
"Bu bu bu na na na...?" Tanya Orion dengan terbata-bata.
"Bunda sebentar lagi ke sini sayang bunda masih di kamarnya. Ayo sekarang kita keluar princess Jean sudah menunggu." Tala menggendong Orion di sebelah kanannya.
"Tapi, kita harus menemui bunda dulu."
"Sayang kamu sudah siap belum?" Tanya Tala yang menunggu di atas ranjang sembari bermain dengan Orion.
Eve sedang berada di ruang pakaian dan Eve tidak memperbolehkan Tala masuk.
"Sudah." Jawab Eve membuat Tala menoleh.
Melihat Eve yang tampak sangat cantik dengan gaun panjang berwarna biru muda tentunya tidak terlalu membentuk dengan jelas tubuh Eve membuat Tala terpana.
"Bagaimana penampilanku? Apakah ada yang aneh? Atau ini tidak cocok?" Tanya Eve dengan khawatir jika ia merasa menyesal jika kemarin dia tidak datang untuk mencobanya.
Tala berjalan mendekat ke arah Eve lalu memegang kedua bahu Eve, "bunda sangat cantik rasanya ayah tidak rela jika bunda keluar ayah ingin menyembunyikan bunda dari dunia takut nanti laki-laki lain melihat bunda dan tertarik dengan bunda."
Pipi Eve memerah mendengarnya dan menjadi salah tingkah sembari memukul pelan dada Tala.
Lalu mata Eve menatap ke arah Orion yang sedang menatap mereka berdua yang sedang berpelukan.
Eve dengan segera melepaskan pelukannya dengan keras membuat Tala bingung.
Namun kebingungan Tala terhenti saat melihat tatapan anaknya yang sepertinya tidak suka jika dia memeluk bundanya.
"Orion, bunda juga milih ayah." Ujar Tala. "Sini biarkan ayah saja yang menggendongnya."
"Sayang nanti bunda lelah, kan di dalam perut bunda ada adik bayi nanti adik bayinya sesak." Bujuk Tala membuat Orion mencebikkan bibirnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Baiklah-baiklah Orion tetap di gendong bunda tapi sebentar saja ya. Orion tidak mau kan bunda merasa lelah hmmm." Ucap Tala dengan lembut sembari menatap mata Orion dan Orion menganggukkan kepalanya entah karena mengerti atau tidak.
Tala tersenyum melihatnya dan Eve hanya diam dia sudah biasa melihat keposesifan suaminya itu. Putra dan suaminya berebut perhatiannya dan keduanya cemburu satu sama lain.
Orion terlihat sangat senang dengan bermain balon-balon sabun yang ditiup oleh Kevin. Bukan hanya Orion melainkan ada Lily dan Jean yang juga tertawa girang beserta anak lainnya.
"Sepertinya Kevin sangat pandai berbaur dengan anak-anak." Celetuk Jackson.
"Hey Tuan kamu melupakan istriku yang juga pandai berbaur dengan anak kecil." Ujar Axel membuat Jackson memutar bola matanya malas.
"Lihatlah istriku Geya dia sangat cantik. Ah rasanya tidak sabar nanti kami punya anak.", Ucap Axel menatap Geya dengan penuh cinta.
Ulang tahun Orion hanya mendatangkan orang terdekat saja dan diadakan di taman mansion Werawan.
"Dasar ngebucin." Cibir Jackson.
Gulzar hanya diam saja dan tidak banyak bicara. Di hatinya masih ada Geya namun sayang Geya sudah milik orang lain.
Tala menatap ke arah Gulzar yang hanya diam dan kosong.
Axel memang benar-benar memperlakukan Geya sebagai ratu di dalam hatinya itu terbukti bagaimana perilaku Axel terhadap Geya.
"Kenapa aku jadi iri sama Orion yang dicium terus sama Geya." Ucap Axel menatap ke arah Geya yang mencium pipi Orion karena merasa gemas. "Lihat Jean sama Lily saja mendapatkannya."
Tala memukul pelan punggung Axel yang sibuk dengan perasaannya dan pikirannya yang membuat orang merasa jengah mendengarnya.
Axel segera bangkit dari bangkunya setelah mendapatkan pukulan pelan di punggungnya dari Tala.
__ADS_1
Wajah Axel terlihat serius sehingga membuat semua perhatian para pria menatap ke arah Axel dengan bingung tidak hanya itu para ibu-ibu muda juga menatap ke arah Axel.
"Gawat." Ucap Axel dengan keras menghentikan Geya yang sedang sibuk bermain dengan Orion, Jean, Lily dan beberapa anak lainnya.
Semuanya penasaran dengan apa yang akan diucapkan Axel selanjutnya.
"Kenapa Axel?" Tanya Geya menghampiri Axel dan Gulzar langsung menatap ke arah Geya yang terlihat khawatir dan merasa cemburu dengan itu..
"Sayang." Panggil Axel dengan mesra dia sengaja mengeraskan suaranya membuat Gulzar sadar bahwa Geya sudah menjadi miliknya dan Geya sudah mencintainya.
"Axel jangan bikin panik." Ucap ibu Dhara.
"Sayang." Panggil Axel sembari memegang kedua pipi Geya dengan tatapannya yang serius. "Kamu belum mencium ku hari ini."
Tala menganga tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Axel. Sudah membuatnya sangat penasaran dan bikin tegang hanya mendengar kalimat bucin dari Axel.
Jackson tersedak dengan air liurnya. Asisten Kaivan dan Joha menggelengkan kepalanya tak percaya, Diego tertawa miris menahan kekesalan kepada Axel.
Kevin memegang pipinya dan Juan yang melihat semua ekspresi para pria yang bermacam-macam tertawa hanya dengan kekonyolan yang dilakukan oleh Axel.
Yasmin dan Daisy berteriak histeris sembari tertawa sehingga membuat anak dari Wendy dan Diego kaget dan terbangun dari tidurnya dan menangis.
Wendy menatap ke arah Axel dengan tajam begitu juga dengan Diego.
Eve dan Airen hanya tertawa lucu melihat tingkah Axel. Sungguh benar apa yang dikatakan Tala bahwa Axel sangat tengil.
Geya memerah wajahnya karena malu melihat kelakukan suaminya yang tidak tau tempat.
Hanya satu orang yang tidak menunjukkan ekspresi yaitu Gulzar.
"Bukan Axel kalau tidak tengil." Celetuk ibu Axel membuat para pasangan paruh baya tertawa mendengarnya.
"Axel kau...." Ucap asisten Kaivan menahan geraman.
Keheningan itu pecah dengan berbagai macam suara ada yang tertawa terbahak-bahak, ada yang nelangsa, ada yang mengomel, dan ada yang nangis tentunya anak-anak.
......***......
Tala, "..."
'kenapa aku harus beripar dengannya!'
Asisten Kaivan, "..."
'Ingin aku tenggelamkan bocah tengil itu!'
Sekretaris Diego "..."
'Kenapa aku serius mendengarnya padahal sudah tau bahwa dia....sudahlah'
Joha, "..."
'Tidak ada yang waras orang-orangnya'
Lalu memandang miris ke arah Tala
Jackson, "..."
'Aku merasa menyesal mendengarnya dengan serius'
Kevin, "..."
'Aku seperti remaja labil yang mendengar kebucinan Tuan Axel'
__ADS_1
*Bersambung*