Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 190. Merasa Lelah


__ADS_3

Axel pulang dengan segera setelah mendapatkan kabar dari sepupu istrinya itu bahwa Geya sedang bersusah hati akibat tekanan dari kedua mertuanya itu.


Axel tidak habis pikir kenapa Geya mau datang sendiri tanpa dirinya. Ingin sekali rasanya Axel marah dan kesal apalagi Geya tidak izin kepadanya namun Axel berpikir lagi mungkin ada alasan dibalik sikap Geya seperti itu selalu saja Axel berpikir seperti itu setiap kali melihat Geya yang sedang bersedih, diam, atau menjadi murung. Axel berusaha untuk menjadi teman dan suami atau segalanya bagi Geya hanya itu yang bisa ia lakukan. Jika ia terbawa emosi menghadapi permasalahan rumah tangganya maka tidak akan ada habisnya dan tidak akan ada ujungnya.


Bukan berarti Axel melarang Geya untuk bertemu dengan kedua orang tua Geya sendiri akan tetapi ia tau bahwa kedua orang tua Geya akan memengaruhi Geya untuk bercerai dengannya.


Ia selama ini diam karena ingin menghargai dan melindungi hati dan pikiran Geya yang mudah rapuh. Sering kali ia melihat Geya menangis dan diam saat ia tengah berpura-pura tidur. Axel tidak berdaya melihat kekasih hatinya seperti itu.


Axel kesal dan marah akan dirinya sendiri karena dirinya tidak berdaya melihat Geya yang sedang sangat tertekan.


"Pasti sangat berat bagimu sayang." Ucap Axel mengusap lembut rambut Geya yang kini sedang tertidur.


Axel segera membersihkan diri dan mengganti bajunya dengan pakaian rumah.


Axel memeluk Geya yang sedang terlelap dalam tidurnya. Mamanya bilang bahwa Geya ketiduran karena lelah menangis.


Axel tidak memakai atasan untuk menutupi tubuh bagian atasnya ia hanya menggunakan celana boxer saja karena ia suka sekali suasana yang dingin apalagi habis mandi itu akan membantu membuatnya tidur lelap.


Geya bergerak perlahan dan mengerjapkan kedua matanya. Saat ia membuka matanya ia melihat dada bidang dan ada tangan yang melingkar di pinggangnya.


Ternyata suaminya sudah pulang. Geya menggerakkan kepalanya untuk melihat jam di dinding kamar ini baru jam 4 sore.


Geya menghela nafasnya pasti suaminya cepat-cepat pulang karena dirinya.


Geya berpikir bahwa ia sangat menyusahkan dan sangat merepotkan.


Air mata Geya kembali luruh Geya sering berpikir negatif begitu juga dengan perasaannya.


Axel terbangun karena merasakan pergerakan di dalam pelukannya itu.


Axel menundukkan kepalanya dan sedikit merenggangkan pelukannya dari tubuh Geya.


Axel melihat Geya kembali menangis dan Axel memeluk Geya lebih erat lagi untuk memberikan ketenangan.


Axel merasa was-was jika Geya membuka mulutnya Geya selalu mengatakan ingin bercerai saja setiap kali ia bertemu dengan kedua mertuanya itu. Axel tidak mau kehilangan Geya tidak akan pernah melepaskannya.


Kedua mertuanya dua tahun terakhir ini memang sering menghantui pernikahan mereka. Menyuruh Geya untuk bercerai karena Geya tidak kunjung hamil. Benar kata orang lima tahun pernikahan itu hal yang berat untuk dilewati karena masih banyak penyesuaian dan masih banyak belajar. Tapi, Axel yakin bahwa ia dan Geya akan hidup menua bersama walaupun tanpa anak sekalipun itu bukanlah masalah.


"Apakah sudah lebih baik?" Tanya Axel dengan lembut dan mengusap air mata Geya. "Lihat kata ini sangat sembab. Apa tidak sakit?" Tanya Axel dan meniup kedua mata Geya dan spontan Geya menutup kedua matanya menerima perlakuan lembut dari Axel.


Geya beruntung mendapatkan Axel sebagai suaminya jika itu orang lain mungkin tidak akan ada yang mau bertahan dengan Geya karena Geya didiagnosis kesulitan mendapatkan keturunan belum lagi kedua orang tuanya yang suka sekali ikut campur.


Dulu kedua orang tuanya begitu acuh padanya sampai Geya bersikap liar dan menjadi pengganggu untuk mencari perhatian dan agar diterima kedua orang tuanya tapi kenapa ketika dia sudah menikah kedua orang tuanya ingin ikut campur dalam urusan rumah tangganya.


Apakah dia sebenarnya bukan anak kandung kedua orang tuanya? Pikiran itu terlintas dalam benaknya dan akan ia ungkapkan kesedihannya kepada Axel. Tapi, Axel selalu mengatakan bahwa setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya dan Axel mengajarkan kepadanya bahwa dia tidak boleh durhaka kepada kedua orang tuanya.


"Apa yang ibu dan ayah bicarakan kepadamu hmm? Kenapa tidak mengajakku?" Tanya Axel dengan lembut.


Lihat di mana lagi dia mendapatkan pria sebaik dan sesempurna Axel. Walaupun ia tau bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini kecuali Tuhan.


Didikan dari mama Nara memang patut diacungi jempol dan Geya mengagumi cara didikan mama Nara sehingga menghasilkan anak laki-laki yang baik dan sangat menghargai dan menghormati semua orang.

__ADS_1


Geya memeluk erat suaminya yang sedang tidak menggunakan baju tersebut. Wangi tubuh Axel memang sangat menenangkan baginya.


Axel hanya diam saja jika Geya tidak mau bercerita tidak masalah mungkin bukan sekarang. Toh, nanti jika Geya sudah siap maka Geya akan membicarakannya.


"Aku akan bertemu dengan seorang laki-laki pilihan ibu dan ayah."


Axel mendadak terdiam mendengar perkataan Geya. "Seperti biasa mereka akan menyuruh kita untuk bercerai."


"Axel, aku berpikir bahwa memang ada baiknya kita ber---"


Axel melepaskan pelukannya dan langsung mencium bibir Geya untuk menghentikan apa yang hendak Geya katakan.


Axel tidak mau mendengarkannya. Ini adalah permasalahan mereka selama berumah tangga tidak jauh dari anak.


Namun sangat keterlaluan jika kedua mertuanya itu sampai mencari laki-laki lain untuk Geya sedangkan dirinya masih saja sebagai suami dari Geya.


Axel tidak melepaskan ciumannya ia akan membuat Geya tidak bicara karena ulahnya.


Nafas keduanya terngah-engah akibat apa yang dilakukan keduanya. Axel kembali menyerang dan Geya hanya bisa pasrah atas apa yang dilakukan Axel kepadanya.


Ia tau bahwa akitivitas mereka ada emosi yang berusaha Axel tahan di dalam dirinya Geya bisa merasakannya.


Apalagi akhir-akhir ini Axel jarang mendapatkan nafkah batin darinya karena dirinya merasa semua yang dilakukan mereka hanya sia-sia saja saking Geya merasa putus adanya. Setiap mereka ingin melakukannya Geya akan menghentikannya di tengah jalan dan menangis keras hal itu membuat Axel harus menurunkan hasratnya dan menenangkan Geya.


Tapi, kali ini sepertinya Axel tidak peduli dengan penolakan dari Geya jika Geya ingin berhenti lagi.


Pelepasan demi pelepasan dilakukan oleh keduanya hingga jam sudah menunjukkan pukul 7 malam.


Mereka melewatkan makan malam. Tadi, Axel memang mendengar ada suara ketukan di depan pintu kamarnya dan itu suara mamanya namun sepertinya mamanya mengerti.


Axel melihat Geya yang tidak berdaya karena ulahnya segera menggendong Geya dan membersihkan tubuh Geya dan juga dirinya.


Geya yang merasa malas dan ingin memejamkan kedua matanya karena merasa sangat lelah menurut saja.


Axel mengganti sprei sebelum meletakkan Geya di sana lagi. Geya sedang menyandarkan tubuhnya di sofa kamar. Matanya terpejam, perutnya terasa sangat lapar sekarang namun ia malas.


Axel mengganti pakaian Geya dengan gaun malam milik istrinya itu. Melihat banyak karyanya ditubuh istrinya Axel puas melihat Geya yang tidak berdaya dan terkulai lemas karenanya. Berbanding terbalik dengannya yang energinya full akibat kegiatan yang mereka lakukan hampir 4 jam lamanya.


"Jangan tidur dulu sayang aku akan mengambilkan makanan untukmu." Ucap Axel dan mengecup kening Geya.


Axel memakai piyama tidurnya di ruang keluarga ia melihat mamanya sedang melakukan panggilan video Orion dan Galaksi.


"Halo keponakan paman." Sapa Axel membuat Orion dan Galaksi sangat senang.


"Paman bibi di mana? Kakak Lion dan Gala mau ke rumah nenek Nala besok. Sama Abang Kala juga." Ucap Galaksi dengan semangat membuat mama Nara dan Axel terkekeh.


"Kakak Jean tidak ikut?" Tanya Axel kepada Galaksi.


"Tidak tau. Gala sama abang Kala tidak mau ada kakak Jean. Nanti, bibi akan sibuk menguncir rambut kakak Jean dan tidak bermain dengan Gala dan abang Kala. Sebenarnya paman Gala juga tidak mau ada kakak Lion." Bisik Galaksi dengan suara cadelnya membuat Axel tertawa kecil begitu juga dengan mama Nara. Gala memang suka berlebihan ia hanya tidak ingin jika Geya terlalu sibuk dengan sepupu perempuannya itu dan menginginkan perhatian dari bibinya itu.


"Kenapa?" Bisik mama Nara bermain-main dengan Galaksi. Galaksi diusianya yang 3 tahun sangat pandai sekali bicara dan sangat cerewet hingga tak jarang membuat Tala pusing dengan pertanyaannya. Galaksi sangat pencemburu sama seperti Orion namun Orion diajarkan oleh Eve dan Tala untuk pandai menempatkan diri jadi emosi Orion cukup stabil dibandingkan dengan Galaksi.

__ADS_1


"Kakak Lion mau mengajak Jeje Lily dan kakak Jean juga soalnya dan Cheesy juga. Gala dan abang Kala tidak suka." Bibir Galaksi dimajukan beberapa senti ingin sekali Axel mencomot bibir mungil itu dan mencubit pipinya.


Cheesy aka Chealsea. Itu adalah panggilan Gala untuk Chealsea dan semua orang mengikutinya.


"Sayang sudah ya paman mau mengambil makanan buat bibi dulu kasihan bibi belum makan."


"Kenapa bibi belum makan? Bibi halus dimalahi dan dijewel telinganya?" Ujar Galaksi.


"Kenapa didi begitu itu tidak boleh kata bunda dan mami. Benarkan bunda?" Tanya Orion kepada Eve yang berada di samping mereka.


"Kakak pintar benar sekali sayang." Ucap Eve.


"Gala tidak pintal. Bunda nggak sayang Gala?" Lihat Galaksi mulai protes dan cemburu jika salah satunya dipuji maka yang satunya juga harus.


Axel pergi ke dapur segera jika mendengar perdebatan Galaksi dan Orion maka tidak akan ada habisnya. Yang penting tadi dia sudah pamit sama keponakannya itu.


Mama Nara masih betah dan sangat senang mendengar perdebatan keduanya itu merupakan hiburan tersendiri. Setiap malam selesai makan malam ia akan menelpon satu persatu cucunya itu. Dan malam ini adalah jadwal ia menelpon Orion dan Galaksi.


Axel membangunkan Geya dengan menepuk pelan pipi Geya. Geya menggeram karena merasa terusik.


"Engghhhhhhh tidak mau." Rengek Geya dengan kesal. Axel tertawa kecil ia tau ini memang salahnya karena membuat istrinya itu tidak berdaya.


"Kamu harus makan sayang tadi kamu melewatkan makan siangmu dan ini sudah waktunya makan malam. Duduklah aku suapi ya." Ucap Axel dengan lembut.


Geya memejamkan kedua matanya dan membalikkan badannya ke arah yang berlawanan dengan Axel.


Axel memeluk Geya dan membisikkan sesuatu membuat Geya membulatkan kedua matanya dan merasa kesal langsung saja ia duduk Axel tertawa kecil melihatnya. Betapa lucu dan imutnya istrinya itu.


"Buka mulutnya aaaa." Geya membuka mulutnya namun matanya masih terpejam tidak mau dibuka. Kunyahannya sangat lama karena ia merasa tidak bersemangat.


"Ini baru lima suapan sayang kamu harus makan banyak." Ujar Axel, Geya menggelengkan kepalanya tidak mau ia sudah merasa kenyang dan tidak berselera makan.


Akhirnya Axel tidak mau memaksakan lagi namun Axel memberikan minuman dan ramuan herbal yang harus Geya minum rutin dua kali setiap harinya. Sebenarnya Geya sudah malas meminumnya namun apa boleh buat dia tidak mau mengecewakan mama Axel dan suaminya itu.


Axel menggendong Geya sehingga membuat Geya membuka kedua matanya dan dengan cepat melingkarkan kedua tangannya di leher Axel.


"Mau ke mana?" Tanya Geya dengan menyandarkan kepalanya di dada Axel.


"Ke kamar mandi kamu harus sikat gigi dan mencuci wajahmu dan memakai skincare. Kamu diam saja sayang biarkan aku yang melayani. Maafkan aku yang telah membuatmu lelah." Ucap Axel merasa bersalah.


Geya mendengus memikirkannya, "kamu memang keterlaluan."


Axel teratas lalu setelah itu tidak ada lagi yang berbicara Axel sibuk menggosok gigi Geya dan Geya tidak bisa berbicara karena itu.


Setelah hampir 30 menit lamanya akhirnya semua selesai juga. Geya kembali merasakan empuknya kasur.


Axel tertawa melihat Geya yang langsung memejamkan kedua matanya itu bahkan nafasnya sudah terdengar teratur.


Axel merapikan baju istrinya itu yang talinya melorot istrinya saat ini tidak memakai bra itu adalah kebiasaan istrinya saat malam dan saat akan tidur baik tidur siang ataupun malam.


"Ya Tuhan aku berharap padamu bahwa hasil kerja keras tadi bisa menghasilkan bayi di dalamnya. Berikan kami keturunan." Doa Axel lalu mengecup perut Geya yang ia singkap bajunya ke atas dan kembali menutupnya.

__ADS_1


Setiap malam Axel selalu berdoa dan juga setelah melakukan hubungan suami istri pasti dia akan selalu mencium perut Geya dan berbicara dengan perut Geya.


*Bersambung*


__ADS_2