Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 43. Kegagalan Pertama di Ruang Operasi Menyelamatkan Pasien


__ADS_3

Tala mendekat ke arah Geya dan menatap Geya dengan tatapan tajamnya sehingga membuat Geya sangat ketakutan.


Ayah Davka yang melihat anaknya menatap keponakannya dengan tajam melihat juga ke arah Geya yang sudah menunduk sambil merematkan kedua tangannya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Tala dengan dingin kepada Geya.


Geya semakin menundukkan kepalanya dan menjawab pertanyaan Tala dengan hanya gelengan kepala.


"Apa yang sebenarnya terjadi Geya?" Tanya Tala dengan menaikkan intonasi bicaranya kepada Geya.


Ayah Davka yang melihat bahwa anaknya sedang terbawa emosi segera menepuk bahu Tala untuk menenangkannya.


"Tala tenanglah terlebih dahulu kamu jangan membuat Geya ketakutan seperti itu lihat dia sangat gemetar." Ujar ayah Davka mengingatkan.


Tala hanya diam dan menatap Geya yang menunduk dengan dingin dan tidak berani menatap ke arahnya.


Tala yakin insiden yang terjadi ada sangkut pautnya dengan kedatangan Geya.


"Kamu baru datang pertama kali ke mansion setelah kakek menginap di mansion ibu dan ayah. Dan kedatangan mu membuat masalah yang besar."


Geya mengangkat kepalanya dengan mata yang berkaca-kaca sambil menggelengkan kepalanya. "Apa kakak menganggap aku adalah biang masalah atau kehadiranku akan selalu membuat masalah" Ujar Geya merasa sangat sakit hatinya ketika mendengar perkataan Tala.


Tala hanya diam, "Geya sudahlah jangan dengarkan kakak sepupu mu kamu tau kondisi sekarang tidak baik-baik saja." Ucap ayah Davka menenangkan keponakannya itu.


"Jangan berpura-pura dan jangan memasang wajah menyedihkan mu itu. Terlalu drama, kenapa apakah kamu sakit hati dengan perkataan ku." Ujar Tala dengan dingin.


Geya menggigit bibirnya dan menahan tangisnya. "Apa kakak pikir aku ingin membuat kakek seperti ini. Aku sangat menyayangi kakek sama seperti kak Tala menyayanginya." Ujar Geya dengan beruraian air mata.


"Aku tidak ingin membuat kakek seperti ini. Ini bukan salahku ini bukan salahku. Kenapa kakak menyalahkan ku." Ucap Geya.


"Karena kamu memang patut disalahkan." Ucap Tala dengan dingin dan sarkastik.


Geya mengangkat kepalanya kaget kata-kata yang diucapkan Tala memang adalah kata-kata yang sering diucapkan oleh ibunya kepada dirinya. Tapi, ketika Tala mengatakan kepadanya langsung hati Geya sangatlah hancur dan sangat sedih mendengarnya.


"Nabastala Affandra Werawan sebaiknya kamu diam dan duduk dengan tenang. Ini bukanlah saatnya saling menyalahkan dan kita harus berdoa dengan operasi yang dijalani dan ditangani oleh Eve." Ucap ayah Davka.


Tala yang mendengar ucapan ayah Davka dengan memanggil nama lengkapnya langsung diam dan duduk.


Jika ayah Davka sudah memanggilnya seperti itu berarti ayah Davka sedang menahan emosinya untuk tidak marah kepadanya dan dirinya sudah kelewatan menurut ayah Davka itu yang Tala bisa mengerti.


Memang selama ini ayah Davka tidak pernah marah kepadanya dan sangat menyayanginya namun bukan berarti hal yang dilakukannya semua benar namun biasanya ayah Davka akan menenangkan dan mengingatkannya dengan penuh kelembutan.


Tala sangat menghormati dan menyayangi ayah Davka dan ingin menjadi seperti ayah Davka yang sangat baik dan bijaksana sebagai seorang suami bagi ibu Dhara dan ayah bagi Tala.


Di dalam ruang operasi yang sudah berjalan dua jam lamanya Eve berusaha untuk menyelamatkan kakek Werawan namun semakin ia berusaha jantung kakek Werawan semakin melemah.


Dokter Raka yang melihat Eve penuh dengan keringatan dan wajah khawatir segera menenangkan. "Fokuslah dokter Elakshi dan kembalilah tenang seperti biasanya." Ujar dokter Raka.


Eve kembali memfokuskan dirinya untuk menyelamatkan kakek Werawan dibantu dan kerjasama sesama rekan sejawatnya.


"Dokter tekanan darah menurun." Ucap dokter anastesi yang memantau.


Eve melihat ke layar monitor dengan penuh cekatan Eve berusaha tetap fokus melakukan apa yang harus dilakukannya namun semuanya terjadi begitu saja ketika irama monitor berbunyi nyaring dengan satu nada yang panjang.


Eve memandang ke arah monitor dan kakek Werawan. "Tidak kakek harus bertahan." Ujar Eve ingin melanjutkan lagi namun segera ditahan oleh dokter Raka karena sudah tidak memungkinkan untuk menyelamatkannya.


"Apa yang kamu lakukan dokter Raka. Aku harus menyelamatkannya segera." Ujar Eve menatap ke arah dokter Raka dengan tatapan kosongnya.

__ADS_1


"Kakek harus bertahan." Ujar Eve.


"Hentikan dokter pasien sudah tidak bisa diselamatkan." Ujar dokter Raka.


Dokter anastesi hanya diam saja kali ini mereka gagal menyelamatkan pasien dan pasien ini adalah pendiri rumah sakit ini.


"Lepaskan aku. Dokter tolong perhatikan dan pantau lagi kondisi pasien segera dan kasih tau saya." Ucap Eve tanpa mendengar perkataan dari dokter Raka.


Dokter Raka dan beberapa orang di sana menatap ke arah Eve dengan prihatin. "Tolong dokter Elakshi hentikan. Pasien sudah tidak bisa diselamatkan lagi." Ujar dokter Raka.


Namun Eve masih tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh dokter Raka hingga membuat dokter Raka harus menaikkan intonasi suaranya dan memanggil dengan nama akrab. "Eve hentikan."


Eve memandang ke arah dokter Raka dengan mata berkaca-kaca lalu memundurkan tubuhnya sambil membekap mulutnya tidak percaya.


Untuk pertama kalinya Eve gagal dalam menyelamatkan nyawa pasien yang ditanganinya selama dirinya berada di ruang operasi dan pasien itu sendiri adalah orang yang sangat disayanginya.


"Sadarlah aku mohon." Ucap dokter Raka dengan lirih menatap ke arah Eve.


Eve bangkit dari duduknya dan segera keluar dari ruang operasi. Dokter Raka yang melihat kepergiaan Eve segera menyuruh dokter dan perawat untuk segera menyelesaikan dan memberesnya.


Eve melangkahkan kakinya dengan tegas dengan tatapannya yang kosong.


Pintu ruangan operasi terbuka sehingga membuat perhatian semua orang teralihkan dan melihat Eve yang keluar.


Tala segera menghampiri Eve dan menatap ke arah Eve dengan dalam lalu tangan Tala memegang lengan Eve. "Bagaimana keadaan kakek?" Tanya Tala menuntut jawaban dan kepastian dari Eve.


Eve mengangkat kepalanya dan menatap ke dalam bola mata suaminya itu yang terlihat agak memerah.


Eve melepaskan tangan Tala yang memegang kedua lengannya.


Lalu mata Eve menatap ke arah ayah Davka dan Eve memberikan hormat kepada ayah Davka sebagaimana rutinitas yang dilakukannya ketika selesai melakukan operasi maka dirinya akan memberikan hormat terlebih dahulu.


"Tuan Arjuna Laksana Werawan telah meninggal pada pukul 4:23 menit sore pada hari Kamis 10 Februari 2022." Ucap Eve dengan tatapan kosongnya.


Ayah Davka yang mendengar perkataan dari menantunya sangat terkejut dan berjalan mendekat ke arah Eve yang sedang menatap kosong.


"Kamu sudah bekerja keras dan berusaha semaksimal terimakasih." Ucap ayah Davka sambil menepuk kedua bahu Eve.


"Jangan merasa bersalah semua sudah jalannya." Eve menggelengkan kepalanya dengan pelan dan menangis histeris sehingga ayah Davka harus memeluk Eve.


Dokter Raka keluar dari ruang operasi tak lama setelah Eve keluar menyaksikan betapa kosongnya tatapan dan suara Eve yang menyatakan meninggalnya pemilik rumah sakit ini.


Dokter Raka sangat tau betapa berartinya Tuan Werawan yang Eve panggil sebagai kakek bagi Eve.


Ayah Davka mengusap air matanya yang keluar dan menahan isak tangisnya sambil menepuk bahu Eve.


Tala langsung melangkahkan kakinya pergi dari ruang tunggu operasi hatinya sangat hancur dan pikirannya juga sangat kabur yang diingkan Tala saat ini adalah menenangkan dirinya.


Geya yang melihat kepergian Tala hanya menatap punggung Tala sambil beruraian air mata.


Ada rasa lega yang dirasakan oleh Geya karena orang yang mendengarkan apa yang dikatakannya kepada Eve sudah tidak ada lagi dan ada juga rasa sedih. Di antara dua rasa itu rasa sedih mendominasi karena berpulangnya kakek Werawan.


Eve yang menangis sesenggukan segera melepaskan pelukan ayah Davka kepadanya. "Ayah, maafkan Eve." Ucap Eve menatap wajah mertuanya yang sudah mulai menua karena usia namun masih tetap ketampanan yang dimiliki oleh ayah Davka.


"Jangan bilang seperti itu menantuku kamu sudah melakukan yang terbaik. Jangan menyalahkan dirimu ini sudah menjadi takdirnya."


Eve menggelengkan kepalanya, "kenapa ini harus terjadi dan kenapa kegagalan pertamaku menyelematkan pasien harus kakek." Isak tangis Eve yang merasa bahwa dirinya saat ini sungguh tidak berguna.

__ADS_1


"Kenapa ayah, kenapa aku...aku...tangan ini...aku sudah gagal ayah." Ucap Eve.


"Menantuku Eve jangan seperti ini, jika kamu seperti ini maka kamu akan membuat kakek menjadi sangat sedih karena kamu menyalahkan dirimu atas kepergiannya."


"Kakek akan selalu ada bersama kita, kakek akan menjaga kita dari atas. Jangan menyalahkan dirimu." Ujar ayah Davka.


"Kamu kenapa kamu saja yang tidak mati." Ucap Geya dengan pedasnya kepada Eve sambil beruraian air mata menatap penuh kebencian ke arah Eve.


"Geya jaga bicaramu tidak baik berbicara seperti itu. Eve adalah kakak ipar sepupu semua sudah jalannya jangan menyalahkan siapa pun." Nasihat ayah Davka.


Geya terdiam mendengar perkataan dari ayah Davka dan menangis sesenggukan.


"Menantuku ayah harus memberitahu berita ini kepada ibumu dan juga kakakmu mereka pasti sangat khawatir. Kamu bersihkan dirimu dan segeralah pulang ke mansion. Besok kakek akan di makamkan." Ujar ayah Davka yang segera beranjak pergi dari ruang tunggu operasi.


Sebelum ayah Davka pergi ayah Davka menyuruh pengawal Eve dan pengawalnya untuk menjaga ketat Eve agar tidak terjadi apa-apa dengan Eve.


Sungguh saat ini ayah Davka juga sangat khawatir dengan kondisi Eve apalagi emosi Eve sangat terguncang dengan kegagalan operasi yang dilakukan untuk pertama kali.


"Tolong jaga menantuku jangan meninggalkannya sendirian." Ujar ayah Davka.


"Dan kamu segera bawa Geya pulang ke mansion ayah dan ibunya serta beritahu kabar ini kepada keluarga besar."


Setelah memberikan perintah ayah Davka masuk ke ruang rawat di mana istri pertama dari anaknya dan juga istrinya berada.


Sebelum masuk ayah Davka mengambil nafasnya dengan pelan namun sangat berat.


Pintu ruang rawat Adya terbuka menampilkan ayah Davka yang tersenyum menatap ke arah orang yang menempati ruang rawat tersebut.


"Ayah." Panggil Adya, ibu Dhara sedang berada di kamar mandi.


"Ayah bagaimana keadaan kakek?" Tanya Adya dengan harap-harap cemas. "Apakah operasinya belum selesai?" Tanya Adya tidak sabaran.


Ayah Davka hanya memberikan senyumannya kepada menantu pertamanya itu.


"Ayah kenapa tersenyum begitu, iya ayah sangat manis kalau tersenyum dan hak itu membuat ibu jatuh cinta kepada ayah." Ujar Adya berusaha untuk bercanda dan menyairkan hawa gelisah yang dirasakannya apalagi pikirannya berkata tidak-tidak.


"Di mana ibumu?" Tanya ayah Davka yang tidak melihat keberadaan istrinya itu yang tidak ada di ruang rawat menantunya.


"Aku di sini sayang. Sayang apakah operasi ayah sudah selesai atau belum? Bagaimana keadaan ayah?" Tanya ibu Dhara yang baru keluar dari kamar mandi.


"Duduklah terlebih dahulu." Pinta ayah Davka dan ibu Dhara sangat kebingungan.


Adya sudah mulai merasa sangat tidak nyaman. "Ayah katakan ini tidak seperti yang Adya pikirkan kan?" Tanya Adya menatap ke arah ayah Davka begitu juga dengan ibu Dhara.


Ayah Davka menggenggam tangan ibu Dhara dan juga Adya. "Beliau sudah pergi meninggalkan kita." Ucap ayah Davka dengan lirih.


Adya menutup mulutnya dengan kedua tangannya tak percaya bahwa apa yang dipikirkannya dan apa yang dikatakan oleh ayah Davka adalah sebuah fakta yang ada.


Ibu Dhara memegang tangan ayah Davka untuk memastikan lagi apakah yang dikatakan oleh ayah Davka adalah kebenaran dan ayah Davka sedang tidak bercanda.


"Sayang seriuslah." Ujar ibu Dhara.


Ayah Davka tau bakalan begini respon dari istrinya. "Itu adalah kebenarannya bahwa Arjuna Laksana Werawan sudah pulang ke tangan Tuhan."


Adya menggelengkan kepalanya sambil membekap mulutnya dengan kedua tangannya. Air mata Adya dan ibu Dhara terus mengalir bagaikan sungai.


"Menantuku tenangkan dirimu jangan sampai kondisimu menurun." Ujar ayah Davka.

__ADS_1


Ayah Davka menahan kesedihannya dan juga air mata yang ingin memaksa keluar atas kepergian ayah kandungnya itu namun ayah Davka harus kuat demi anak, istri dan kedua menantunya.


*Bersambung*


__ADS_2