
Sebelum menjawab Tala mengecup bibir Eve sebentar karena merasa sangat senang.
"Karena saat itu adalah satu-satunya pilihan yang bisa membuat ayah menjaga dan merawat kak Adya yang sedang merasa depresi berat."
Eve menjadi sedih saat mengingatnya itu semua pasti karena dirinya yang saat itu begitu dekat dengan Adhikari.
"Jangan memasang wajah sedih semuanya sudah berlalu yang harus kita pikirkan adalah masa depan." Tala mencium kelopak mata Eve sehingga membuat Eve menutup matanya.
Dulu dia juga merasakan hal-hal berat sendiri selama dia tinggal di negara L.
Tidak ada siapa pun yang dia lihat saat pulang dari kuliah karena lelahnya.
Dulu melihat teman-teman kuliahnya yang wisuda bersama dengan dirinya yang didatangi keluarga Eve hanya diam saja dan memperlihatkan bahwa dia adalah wanita yang kuat dan baik-baik saja.
Tapi tidak ada yang tau bahwa hampir setiap malam dikala Eve merasa sangat berat menjalaninya sendiri Eve menangis sejadi-jadinya sampai ia tertidur.
Benar-benar mandiri dan sendiri. Merasa dibuang dan ditinggalkan membuat Eve merasa rendah diri dan tidak berani bergaul kala itu.
Menutup diri dari dunia luar dengan bersikap dingin dan cuek pada lingkungan sekitar sehingga tak jarang orang yang melihatnya mengatakan bahwa dia anti-sosial dan tsundere.
Dia hanya tidak bergaul dan jarang berkumpul di dalam lingkungan sosial karena merasa tidak percaya diri.
Eve takut bahwa jika dia mempunyai teman maka mereka akan menanyakan tentang keluarganya kenapa dia selalu memilih sendiri padahal dia cantik.
'Kenapa dia selalu sendiri?'
'Anti-sosial'
'Jangan mau berteman dengannya karena rumor mengatakan bahwa dia adalah simpanan laki-laki kaya*''
''Dia tidak akan segan-segan untuk menusuk temannya dari belakang'
'Walaupun dia sangat pintar dan menjadi andalan tapi dia terlihat menakutkan dengan
wajah datarnya'
'Rumor adalah fakta yang tertunda, bukan!? Jadi jangan dekat-dekat'
'Wajahnya memang cantik tapi hatinya sangat busuk'
'*Dia wanita yang sangat sombong sekali'
'Aku juga mendengar bahwa dia adalah anak dari seorang wanita malam'
'Keluarganya sangat membencinya karena ibunya adalah perusak rumah tangga orang'
'Cih, dasar menyedihkan. Aku tidak akan pernah mau berteman dengannya*!'
'Iya bahkan dia merebut kekasih dari sepupunya sendiri dengan rencana-rencana liciknya'
Sekilas bayangan itu tiba-tiba terlintas di dalam benak Eve sehingga membuat Eve tanpa sadar menangis dan menutup telinganya..
Tala yang melihatnya segera menghapus air mata istrinya. Sepertinya dirinya membuat Eve mengingat akan masa lalunya.
Tala memeluk Eve dan menenggelamkan Eve di depan dadanya.
Bahu Eve bergetar karena menangis. Masa-masa sulit yang dialaminya seorang diri seperti kaset rusak yang melintas di dalam benaknya.
__ADS_1
Tangisan pilu Eve membuat Tala merasa sedih dan menatap Eve dengan sendu.
'Pasti sangat berat bagimu melewatinya sendiri, aku berjanji akan selalu berada di dekatmu'
Setelah berpuluh menit lamanya akhirnya tangisan Eve mereda.
Eve sedikit memberikan jarak dengan mendorong Tala ke belakang karena baju yang dikenakan Tala sudah basah oleh air mata dan ingusnya.
"Tidak apa-apa lagian tadi ayah sudah ingin membukanya kan biasanya ayah tidur tidak menggunakan atasan." Ujar Tala saat ia melihat ke mana arah pandangan Eve.
Tala beranjak dari tempat tidur dan membuka bajunya lalu setelahnya Tala mengangkat Eve untuk di dudukin di sofa kamar.
Tala yang bersih mengambil sprei, sarung bantal dan selimut baru untuk menggantikan sprei yang kotor.
"Bunda jangan salah paham melihat ayah yang bersih-bersih." Ujar Tala di sela-sela mengganti spreinya.
"Ayah sama sekali tidak masalah jika bunda menangis seperti tadi apalagi bersama dengan ayah malah ayah sangat senang."
"Ayah menggantinya agar kita tidur dengan nyaman dan nyenyak sehingga bisa bangun lebih segar besok."
Eve hanya melihat Tala yang berjalan mondar-mandir dengan mata sembabnya.
Tala berjongkok setelah selesai melakukan acara bersih-bersihnya.
"Sekarang bunda tidak sendiri lagi ada ayah. Setiap kali bunda merasa sedih berlarilah ke ayah. Ayah senang jika bunda seperti itu. Ayah merasa dibutuhkan oleh bunda."
"Apa bunda tau kenapa ayah dulu menjauh dari bunda itu karena ayah merasa tidak dihargai karena bunda lebih memilih bercerita dengan laki-laki lain tentang apa yang bunda rasakan dan alami." Ujar Tala sendu.
"Ayah tidak masalah jika bunda menerima pemberian dari laki-laki lain atau mau diajak pergi asal kalau terjadi apa-apa baik pada perasaan bunda atau lainnya ayah ingin bunda berlari ke ayah."
"Tapi, semua itu sudah berlalu dan ayah sudah memahami semuanya yang telah terjadi jadi sekarang ayah tidak apa-apa dan ayah akan lebih protektif dan posesif pada bunda."
"Apa bunda mengerti." Eve hanya mengangguk saja dengan muka sembabnya.
Tala seolah sedang memarahi anak kecil yang nakal dan anak kecil nakal itu adalah istrinya sendiri.
"Sekarang kita tidur atau kita mau buat adik untuk Orion." Goda Tala sembari menggendong Eve.
Eve memukul pelan dada Tala hal itu membuat Tala tertawa dibuatnya.
Tala menyangga kepalanya dengan tangannya sebelah dan sebelah tangannya lagi merapikan anak rambut Eve.
"Sekarang mari kita bicarakan masa depan."
"Ayah serius jika ayah ingin mempunyai empat anak bunda ingat ya bunda itu hanya minimal." Ujar Tala mempertegas kan lagi dengan wajahnya yang jenaka.
"Ayah tidak mau kalah dari sekretaris Diego, asisten Kaivan atau kakak ipar. Kita harus mempunyai banyak anak melebih mereka."
Eve yang mendengarnya sudah tidak tahan lagi lalu membalikkan badannya karena pusing dengan permintaan suaminya.
"Memunggungi suami tidur itu sangatlah tidak baik." Ucap Tala lalu membalikkan badan Eve dan memeluknya dengan erat.
"Sekarang tidurlah, untuk hukuman nanti saja ayah akan mengumpul ya sehingga ayah mendapatkan banyak keuntungan." Ujar Tala sembari membayangkan apa yang diinginkannya nanti.
"Atau bunda mau sekarang?" Buru-buru Eve memejamkan matanya hingga membuat Tala tersenyum.
......***......
__ADS_1
"Eve nanti malam Orion tidur bersama ibu dan ayah lagi ya." Ujar ibu Dhara mengungkapkan keinginannya itu.
Eve lupa menanyakan sesuatu, "apa semalam Orion tidak rewel ibu?"
Ibu Dhara tersenyum, "tentu saja rewel karena Orion belum terbiasa tapi ibu dan ayah mu bisa mengatasinya."
"Nanti waktu istirahat ibu dan ayah berkurang." Ujar Eve mengkhawatirkan kesehatan kedua mertuanya itu.
Mereka saat ini sedang memasak buat sarapan tidak ada Airen sepertinya Airen bangun kesiangan pagi ini.
Tala dan ayah Davka sedang menjaga dan mengajak bermain Orion dan Jean yang tentunya sudah selesai dimandikan.
"Sepertinya kak Airen bangun kesiangan." Ujar Eve saat melihat tidak ada kemunculan baik kakaknya maupun kakak iparnya.
Ibu Dhara tersenyum, "seharusnya kamu dan Tala juga belum bangun padahal ibu sudah siap menyiapkan masakan rumah buat anak menantu dan cucu ibu."
"Kalian harus memberikan ibu dan ayah cucu lagi." Ibu Dhara tidak henti-hentinya tersenyum.
Eve hanya diam saja karena bingung harus bagaimana dia menanggapi perkataan ibu mertuanya itu.
"Kalau harus pergi bukan madu lagi sebelum kembali ke negara K. Orion biarkan ibu dan ayah yang merawat dan menjaganya."
"Orion masih kecil ibu." Hanya itu kata yang menurut Eve aman.
"Justru karena itu kalian harus segera memberikan Orion adik. Orion memerlukan teman lihat Orion sangat senang jika bersama dengan Jean walaupun terkadang Orion sangat jahil seperti ayahnya." Ibu Dhara mencebikkan bibirnya saat mengingat anaknya Tala yang memang jahil.
Siang harinya Tala membawa Eve pergi ke rumah sakit untuk menjalani perawatan rutinnya.
"Bagaimana kalau kita pergi ke pantai sebelum pulang." Ucap Tala setelah selesai konsultasi.
"Panas." Celetuk Eve.
"Tenang saja ayah akan membuat bunda tidak kepanasan nanti kita beli perlengkapannya bagaimana mau tidak?"
"Tidak mau." Tala mengerucutkan bibirnya.
Eve tidak mempedulikan Tala yang ada dalam pikiran Eve sekarang bahwa dia ingin memakan es krim sepertinya ngidam bulanan Eve muncul hari ini.
"Berhenti di tempat penjual es krim." Tala menolehkan kepalanya dan tersenyum.
"Apapun keinginan bunda maka ayah akan menurutinya."
Eve dan Tala memasuki sebuah tempat yang menjual es krim dan terkenal di negara L.
Tala menggenggam tangan Eve dengan erat seolah takut jika dia merenggangkan dan melepaskan genggamannya ia takut Eve akan hilang.
"Bunda mau rasa apa?" Tanya Tala memandang lembut ke arah istrinya itu.
"Coklat." Jawab Eve singkat. Eve memandang ke sekitar di mana semua orang mengarahkan pandangannya ke meja mereka.
Eve mengernyitkan dahinya saat banyak wanita dan gadis remaja memandang suaminya dengan tatapan kagum.
Hal itu membuat Eve merasakan suasana hatinya tidak baik sedangkan sang suami fokus dengan ponselnya untuk memeriksa email yang baru saja dikirimkan oleh asisten Kaivan yang ternyata sang asisten tersebut sedang memamerkan buah hatinya.
"Cih dia pamer sekali." Ujar Tala melihat ponselnya itu.
"Benar sangat pamer." Sambung Eve dengan muka datar dan kesalnya membuat Tala mengangkat wajahnya.
__ADS_1
Tala melihat bahwa tatapan istrinya itu saat ini sedang kesal ke arahnya
*Bersambung*