
Setelah sambungan telepon terputus Tala menghela nafasnya dengan lega istri kakak iparnya mendukung dan melindungi dirinya dari kakak iparnya yang posesif itu.
Tala memijat pangkal hidungnya karena pusing, Tala tidak habis pikir bagaimana bisa Eve berkata kepada dirinya bahwa ingin membebaskan orang yang telah berbuat jahat kepadanya bahkan mereka tidak segan merencanakan pembunuhan saudara mereka sendiri.
“Terbuat apa hatimu itu?” Tanya Tala kepada Eve yang masih dalam pengaruh obat bius yang disuntikkannya.
Tala memang menyiapkan obat-obat yang sewaktu-waktu kapan saja dibutuhkan oleh Eve semenjak psikiater mendiagnosis bahwa Eve mengidap PTSD.
Untuk mendiagnosa sebuah gangguan jiwa memerlukan waktu yang cukup lama sampai benar-benar pasti bisa memakan waktu kurang lebih 6 bulan. Namun, karena istrinya dulu mempunyai teman seorang psikiater yang satu kampus dengannya dan mereka begitu dekat sebelumnya Eve memang saat itu sedang menjalani perawatan.
Tala mengingat perkataan teman satu-satunya Eve selama kuliah yang mengatakan bahwa Eve beruntung dia masih bisa waras dan bekerja layaknya normal sebagai seorang dokter kalau tidak dia akan mengalami hal yang berat selama ia menjalankan profesinya bisa saja ia dituduh mal praktik dan rumah sakit dituntut akan hal itu.
“Terlalu banyak hal yang aku tidak ketahui selama ini, aku terlalu mengabaikan dan berpikir bahwa kamu terlalu banyak mengasihani diri sendiri. Namun aku sadar bahwa akulah yang merasa bahwa terlalu banyak mengasihani diri sendiri. Justru perkataan itu bukan ke kamu tapi ke aku, aku yang egois karena tidak memikirkan penderitaan mu kala itu.”
Pantas saja semenjak bertemu dengan Eve dan menikah dengan Eve waktu pertama kali merasa heran dengan sikap Eve yang tidak sama seperti dulu. Eve terlalu banyak diam dan saat Eve ingin menjelaskannya dia tutup mata dan telinga.
...…***…...
Malam harinya Eve terbangun, Eve memegang kepalanya yang terasa pusing matanya mengerjap memandang ke sekitar ruangan namun ruangan tampak gelap hanya ada cahaya remang-remang.
Eve menyipitkan matanya untuk mencari tau di mana dia berada ternyata dia sedang berada di dalam apartemen. Apartemen yang Eve tidak pernah tau sama sekali di mana dan apa namanya sampai saat ini, apartemen yang menjadi tempat Tala menyuruhnya untuk tinggal di sini ketika ada masalah yang tidak sesuai dengan situasi dan kondisi Tala.
Eve berjalan pelan dengan kaki telanjang sembari merapatkan luaran panjang gaun tidur panjang yang dikenakannya.
Mata Eve memandang ke sekitar luar yang menampakkan pemandangan kota di malam hari, Eve mengingat Orion sehingga membuat Eve sedikit panik tadi dirinya berkata bahwa hanya pergi sebentar saja dan tidak menyiapkan ASI untuk putranya itu.
Eve berjalan keluar dari dalam kamar dengan tergesa-gesa membuat Tala yang sedang berada di dapur menyiapkan makan malam buat Eve dan dirinya menoleh saat mendengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa sampai ia mendengar suara bunyi tabrakan.
__ADS_1
“Di mana sakitnya?” Tanya Tala dengan tanggap saat Eve terdiam sembari memejamkan matanya dengan suara yang berdesis. Ujung jempol kakinya terasa ngilu namun Eve tidak bersuara sama sekali karena menahannya.
Tala langsung menggendong Eve sehingga membuat Eve membuka kedua matanya, “katakan sakit jika sakit jangan menahannya ayah mohon.” Ujar Tala dengan lirih.
Melihat Eve yang terbiasa menahannya sendiri semakin membuat Tala merasa sedih dan frustrasi dengan dirinya sendiri karena belum bisa menjadi tempat ternyaman bagi Eve untuk mengungkapkan perasaan, pikiran, dan ekspresinya.
Tala melihat kedua kaki Eve dengan seksama lalu setelah menemukannya ada warna sedikit kemerahan di ujung jempol sebelah kanan istrinya Tala menyiupnya dengan pelan.
“Bagaimana bisa bunda menahannya seperti ini lihat jempol kaki bunda memerah.” Eve memandang ke arah wajah Tala yang tampak khawatir dengan keadaannya.
“Ini hanyalah hal kecil jangan melebihkan.” Eve menarikkan kakinya yang berada di atas lutut Tala yang sedang berjongkok.
“Kecil maupun besar harus diungkapkan bukan karena terlalu berlebihan atau pun lainnya. Kecil bisa saja menjadi besar jika berlarut-larut bagaimana nanti kalau kaki bunda mengalami pembengkakan!”
Tala memandang Eve dengan dalam dengan segera Eve mengalihkan pandangannya dari Tala hal itu membuat Tala merasa sedih namun dirinya harus bisa mengontrol perasaan dan pikirannya agar sejalan bahwa istrinya itu sedang tidak baik-baik saja.
“Aku ingin pulang.”
Tala yang hendak pergi mendengar perkataan Eve terhenti dan mendekat ke arah Eve dan duduk di samping Eve sembari memegang kedua tangan Eve yang berada di atas kedua pahanya.
“Kenapa? Apa bunda tidak nyaman atau bunda menginginkan sesuatu?” Tanya Tala sembari berpikir keras apa yang ada di dalam otaknya.
“Jika bunda mengatakannya katakanlah jangan ragu ayah tidak akan marah dan ayah akan berusaha untuk menurutinya asal bunda tidak meminta untuk berpisah atau menjauh darimu.”
Eve menatap ke arah Tala yang sedang menunggunya dengan penuh kesabaran, “bebaskan mereka.” Dengan reflek membuat badan Tala sedikit menjauh dari Eve untuk menegakkan badannya.
“Beristirahatlah bunda pasti lelah atau bunda mau melihat ayah sampai selesai masak.” Tala mengalihkan pembicaraan yang akan membuat mereka kembali bertengkar.
__ADS_1
Tala tidak ini mereka bertengkar hanya karena gara-gara orang yang menurut Tala tidaklah penting untuk dipikirkan.
“Orion saat ini berada di kediaman kak Joha tadi mereka menelpon dan mengatakan jangan khawatir. Apa bunda khawatir bahwa Orion tidak bisa tidur sebelum meminum ASI dari bunda?”
“Orion saat ini biarkan saja berada di mereka karena Orion ingin tidur bersama dengan Jean beserta papi dan maminya. Selagi bunda menunggu pompa lah ASI bunda untuk Orion masih ada waktu sebelum Orion tidur bukan ayah sudah menyiapkan pompa ASI nya. Nanti ayah akan meminta pengawal untuk mengantarnya ke kediaman kakak.”
Eve menerima alat pompa ASI dari Tala, “baiklah jika bunda masih malu maka ayah tinggal masak nanti ayah akan panggilkan jika sudah selesai.”
Tala memperlakukan Eve seperti anak kecil saja apalagi dengan Tala yang menepuk kepala Eve dengan pelan serta mengelus rambut Eve dengan pelan.
Sesampainya di dapur Tala meregangkan ototnya agar rileks kembali Tala tidak ingin bahwa Eve merasa terganggu dan tidak nyaman dengan dirinya karena tidak bisa menjaga ekspresi dan sikapnya atas perkataan Eve.
Bagaimana jika dia salah berekspresi saja dengan menunjukkan wajah lelahnya kepada Eve semakin membuat Eve menutup diri darinya.
Tadi psikiater dan psikolog yang sudah Tala rekrut sebagai psikiater dan psikolog pribadi keluarga agar informasi tidak tersebar ke mana-mana mengatakan bahwa dirinya harus pandai mengontrol emosi, intonasi, ekspresi dan sikapnya ketika bersama dengan Eve.
“Begini saja sudah terasa seperti ini bagaimana bisa kamu menahan dan memendamnya bertahun-tahun.”
Tala juga menelpon teman Eve yang psikiater serta psikiater dan psikolog yang menangani Eve di London satu persatu mereka juga menyuruhnya untuk lebih berhati-hati.
Sepertinya dirinya harus banyak baca dan belajar tentang psikologis dan gangguannya. “Eve beruntung bahwa dia masih bisa bertahan dan tidak menggandakan kepribadiannya sebagai bentuk perlindungan diri.” Kata-kata yang diucapkan oleh teman Eve yang berprofesi sebagai psikiater yang menemani Eve selama masa-masa sulitnya 8 tahun tanpa sanak saudara dan keluarga.
“Jika tidak Eve akan sulit bagi Eve untuk melihat mana yang nyata dan mana yang asli.”
*Bersambung*
__ADS_1