Berbagi Cinta: Complicated Love

Berbagi Cinta: Complicated Love
BAB 24. Memutuskan untuk Memulai


__ADS_3

Eve memejamkan matanya namun selama dua jam Eve tidak bisa tidur dan kembali membuka matanya menatap ke langit-langit kamar.


Mata Eve melihat ke arah Adya yang sudah jatuh terlelap ke alam bawah sadarnya bahkan mungkin Adya sedang bermimpi.


Menghela nafasnya dengan panjang karena perkataan Adya yang mengatakan bahwa Tala masih mencintai gadis di masa lalunya.


Masih menjadi pertanyaan di dalam benak Eve siapa gadis yang sangat dicintai oleh Tala apakah setelah dirinya Tala kembali dekat dengan gadis lain.


Memikirkannya membuat Eve merasa gelisah karena dirinya tau bahwa jelas bukan dirinya karena dirinya begitu sangat menyakiti hati Tala saat itu apalagi pas dirinya baru tau bahwa laki-laki yang mendekatinya dulu bernama Eddy Ekata adalah sahabat Tala itu yang Eve tau.


Tapi, ketika mereka menikah Eve tidak melihat Eddy menghadiri pernikahan mereka. Apakah persahabatan mereka hancur karena dirinya.


Eve yang memikirkannya menangis bahwa dirinya telah merusak hubungan persahabatan antara Tala dan Eddy. “Ternyata aku sejahat itu.” Ucap Eve dengan lirih.


Eve mengganti posisinya menghadap ke arah Adya yang sedang tertidur lelap. “Terimakasih karena kakak selalu ada untuk Eve.”


“Apakah kakak tau betapa Eve sangat bersyukur memiliki kakak yang berada di sisi Eve dan Eve juga bersyukur mendapatkan mertua yang baik seperti ibu dan ayah serta dan mempunyai kakek Werawan.”


“Eve bersyukur kepada Tuhan bahwa doa Eve terkabulkan ingin mendapatkan sebuah keluarga yang memberikan perhatian yang tidak pernah Eve kira walaupun itu hanya akan bisa Eve rasakan sampai…” Eve mengusap air matanya karena tidak sanggup untuk mengatakan kegelisahan dan ketakutannya selama ini untuk pergi meninggalkan keluarga yang sudah menerima dirinya apa adanya.


“Karena kalian Eve memilih bertahan dan Eve akan mencoba dan berusaha untuk membuat Tala mencintai Eve dan memberikan keturunan kepada kalian."


“Terimakasih kak karena sudah menceritakan pengalaman hidup kakak. Di sini Eve mendapatkan banyak pelajaran bahwa hal yang terlalu berlebihan itu tidak baik termasuk mencintai. Eve akan berusaha semampu Eve jika memang tidak ada celah bagi Eve maka Eve akan melepaskannya.”


Sementara di dalam kamar Eve dengan Tala. Tala baru saja keluar dari ruang kerjanya karena menyelesaikan pekerjaan yang harus dikerjakannya sekarang.


Melihat ke atas tempat tidur yang kosong membuat Tala mengenyitkan dahinya karena tidak ada Eve di sana. Menatap ke sekeliling ruangan kamar dan mendengar dengan seksama kesunyian yang ada apakah ada suara di dalam kamar mandi namun Tala tidak mendengarnya.


Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam akan sangat tidak mungkin jika Eve keluyuran di malam hari seperti ini. Biasanya Eve sudah tidur dua jam yang lalu dan itu adalah jadwal rutin Eve setiap malamnya.


Akhirnya Tala tidak mau memikirkan di mana keberadaan Eve dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Keluar dari kamar mandi namun Tala masih belum melihat Eve di tempat tidurnya.


Tala berjalan ke sisi ranjang di mana dirinya biasa tidur lalu melihat ke ponsel yang tergeletak di samping nakas tempat tidur.


Membuka ponsel dan menggulirnya ke sana kemari, Tala melihat ada pesan masuk dari Adya dua jam yang lalu dengan segera Tala membukanya.


Di layar ponselnya Tala melihat ada pesan suara dan juga di atasnya ada foto Eve yang sedang menatap ke arah kamera dengan penuh tanda tanya.

__ADS_1


“Kesayangan Adya hari ini istri muda mu tidur dengan istri pertama mu jangan mencarinya dan jangan khawatir. Bye-bye kesayangan Adya ditunggu ya akan ada hadiah buat mu nanti.”


Itulah isi pesan suara dari Adya, Tala terus menatap layar ponselnya sambil memikirkan sesuatu namun akhirnya Tala menyudahinya karena menurut Tala itu bukanlah hal yang penting.


Merebahkan tubuhnya yang lelah lalu memejamkan matanya menghadap ke arah di mana biasanya Eve tertidur. Baru beberapa menit Tala kembali membuka matanya dan berjalan keluar dari kamar dan masuk ke dalam kamar yang ada di depan kamarnya.


Eve yang belum tidur segera memejamkan matanya ketika mendengar suara pintu terbuka. Eve tidak tau itu siapa apakah itu Tala atau bukan. Tapi, Eve yakin bahwa mungkin saja itu adalah Tala mengingat bahwa Tala akan sering keluar kamar ketika jam segini entah itu untuk apa tapi Eve tidak pernah tau.


Tala yang berjalan dengan perlahan dan melihat ke arah tempat tidur di mana dua orang wanita sedang terlelap dalam tidurnya dengan saling menghadap satu sama lain.


Entah apa yang dipikirkan Tala tapi Tala melihatnya tersenyum dengan lembut bukan senyuman yang selalu diberikannya kepada Eve dengan sinis untuk pertama kali setelah sekian lama.


Tapi, mungkin bagi Adya sudah biasa tapi tidak bagi Eve namun Eve tentu saja tidak tau karena dirinya memejamkan mata walaupun dirinya sadar itu pun jika Eve bisa melihatnya karena lampu kamar sudah dimatikan dua jam yang lalu dan hanya digantikan dengan lampu tidur.


Tala melangkahkan kakinya pergi keluar kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Kali ini Tala bisa menikmati ranjang-nya sepuasnya tanpa ada Eve di sampingnya.


Karena semenjak Eve keguguran Tala tidak pernah lagi tidur satu ranjang dengan Eve Tala akan tidur di ruang kerjanya yang sekarang sudah disediakan tempat tidur berukuran 120x200 cm.


Ada banyak alasan kenapa Tala tidak ingin tidur bersama Eve karena Tala tidak ingin melihat wajah Eve setiap dia menutup mata di malam harinya dan saat dirinya membuka matanya di pagi harinya Tala tidak menyukai itu.


Keesokan harinya Eve membuka matanya ketika sinar matahari menyelip masuk ke dalam kamar. Rasanya Eve tidur dengan sangat nyenyak dan nyaman setelah sekian lama walaupun dirinya larut tidur semalam.


Mata Eve melihat ke arah sampingnya namun dirinya tidak melihat bahwa ada Adya di sana. Mata Eve melihat ke jam dinding di depan ranjang yang cukup besar ternyata jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi.


Eve terlonjak kaget melihat jam dan matahari sudah bersinar sangat terang. Dengan segera Eve mencuci wajah dan menggosok giginya lalu keluar dari kamar Adya dengan tergesa-gesa lalu masuk ke dalam kamarnya.


Tala terlonjak kaget melihat pintu yang ditutup cukup kuat Eve juga terkejut sebagai pelakunya. “Maafkan aku.” Ujar Eve lalu melihat Tala yang sedang melilitkan dasinya dengan segera Eve membantunya.


Tala kaget melihat Eve yang seperti orang linglung. “Maafkan aku yang tidak menyiapkan setelan kantormu pagi hari ini. Nanti aku akan membuat dan membawa makan siang ke kantor. Jadi, kamu jangan makan siang di luar.” Ucap Eve lalu mengambil tas kerja Tala dan membawanya.


Tala menatap penuh kebingungan melihat Eve pagi ini, biasanya Eve akan selalu rapi dan sudah tidak menggunakan piyamanya. Eve tentunya belum menyadari bahwa saat ini dirinya sedang menguncir rambutnya dengan asal dan itu malah menambah kecantikannya.


Di luar kamar Eve membuang nafasnya panjang karena dirinya telah berhasil berbicara dengan Tala dan memakaikan dasi buat Tala. Ini adalah langkah awal bagi Eve untuk membuat Tala jatuh cinta kepadanya.


Walaupun sebenarnya setiap hari jika Eve ada di rumah maka Eve akan menyiapkan setelan kerja buat Tala tapi tidak dengan memakai dasi karena Tala menolak dirinya melakukannya tapi pagi ini Eve berhasil membuat Tala menjadi terdiam.


Eve yang memikirkannya tersenyum karena rencana satunya berhasil sesuai yang disarankan oleh Adya kepadanya tadi malam.

__ADS_1


Eve dan Tala turun bersamaan menggunakan tangga. Semua mata memandang ke arah pasangan suami istri tersebut walaupun tidak berjalan bersama tapi sudah membuat Adya senang melihatnya. Apalagi dirinya melihat Eve yang memegang tas kerja Tala.


“Sayang apakah tidurmu sangat nyenyak semalam?” Tanya ibu Dhara yang memulai aksinya sesuai dengan yang Adya rencanakan.


Sementara Eve hanya menunduk malu dan tersenyum canggung, “maafkan Eve ibu, ayah, kakek, dan kak Adya sudah membuat kalian menunggu untuk sarapan.”


“Tidak apa-apa sayang kami tau bahwa selama ini kamu tidak nyenyak jika tidur bersama dengan Tala karena aktivitas malam kalian untuk memberikan kami cucu.” Ujar kakek Werawan tersenyum lalu terkekeh melihat Tala tersedak dengan minumannya.


Ibu Dhara dan ayah Davka tersenyum melihat reaksi Tala dan Eve. Sedangkan Adya mengulum senyumnya dan mengerlingkan matanya kepada Eve membuat Eve menatap Adya dengan penuh tanya tanya.


Eve melirik ke arah Tala yang kini sudah fokus dengan makanannya. Rasanya Eve sungguh tidak yakin jika dirinya bisa melakukan rencana keduanya.


Adya tertawa di dalam hatinya melihat Eve yang terlihat gelisah selama menikmati sarapan-nya. Setelah selesai sarapan Tala izin untuk pamit ke kantor dan Eve mengikutinya dari belakang dan memberikan tas kerja Tala yang sejak tadi di pegangnya.


Eve mengambil nafas dan menghela nafasnya dengan panjang dan penuh kegugupan karena rencana kedua yang akan dilakukannya.


Tala yang mendengar helaan nafas Eve merasa risih. “Kamu kenapa sih dari ta…” Ucapan Tala terhenti ketika Eve mencium ujung bibirnya dan Eve yang dengan cepat memeluk tubuhnya.


Mata Tala hanya mampu berkedip melihat apa yang telah dilakukan Eve kepadanya lalu berjalan pergi meninggalkan Eve yang menahan malu atas apa yang barusan dilakukannya. “Ekhm maafkan aku jika aku belum berpenampilan rapi pagi ini karena aku bangun kesiangan.”


Di sudut lain terlihat kakek Werawan, ibu Dhara dan Adya sedang mengintip interaksi pasangan muda itu sambil menahan tertawanya. Adya yang berhasil memotret foto keduanya tersenyum penuh kegirangan.


“Berhasil ibu kakek.” Ucap Adya dengan semangat. “Mereka sangat menggemaskan.” Ucapan Adya disetujui oleh kakek Werawan dan ibu Dhara sementara ayah Davka yang melihat kelakukan ayahnya, istrinya, dan menantunya hanya menggelengkan kepalanya namun ayah Davka turut senang.


Eve masih berdiri di teras rumah menunggu mobil yang membawa Tala tersebut keluar dari mansion. Setelah melihat bahwa mobil Tala sudah tidak terlihat dalam pandangannya Eve menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


“Malunya aku apa yang telah aku lakukan.” Ucap Eve merasa ngeri dengan dirinya sendiri dan mengipaskan wajahnya menggunakan salah satu tangannya. “Pasti sekarang muka aku memerah.” Ujar Eve.


“Kata kak Adya ini adalah permulaan dan pemanasan. Permulaan dan pemanasan saja sudah begini astaga apa yang harus aku lakukan.” Ucap Eve dengan frustrasi wajahnya terus memerah ketika ingatan terus mengingatkan apa yang barusan dilakukannya kepada Tala.


Eve sangatlah malu dengan apa yang dilakukannya membuat Adya sangat senang bagi Adya Eve sangatlah menggemaskan dengan tingkahnya ketika malu. “Bagaimana bisa seorang Nabastala Affandra Werawan menolak pesona Elakshi Feshika. Aku aja sebagai perempuan merasa sangat beruntung dan terkagum-kagum melihat kecantikan Eve apalagi dengan tingkahnya dan manner-nya bagus banget.” Ujar Adya.


Ibu Dhara dan kakek Werawan menganggukkan kepalanya. “Jika kakek masih muda seperti Tala maka kakek tidak akan membiarkan Eve dimiliki oleh lelaki lain.” Ujar kakek Werawan membuat Adya dan ibu Dhara menoleh.


“Tapi, sayangnya kakek sudah lanjut usia hahahah.” Ujar Adya lalu tertawa terbahak-bahak begitu juga dengan ibu Dhara. Kakek Werawan yang melihatnya juga ikut tertawa karena melihat menantu dan cucu menantunya tertawa.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2