
Tala yang keluar dari kamar mandi setelah mandi hampir satu jam lamanya melihat ke sekeliling kamar Tala tidak menemukan di mana keberadaan Eve.
Mata Tala menemukan dua setelan baju yang sudah disediakan di atas tempat tidur. Satu setelan formal dengan jas berwarna abu-abu, kemeja dan celana bahan berwarna hitam serta setelan lainnya setelan informal dengan baju berwarna putih lengan panjang bergaris hitam putih sampai lengan dan jeans hitam.
Tala memilih setelan informal dan mengenakannya lalu mengembalikan pakaian berupa setelan formal tersebut untuk diletakkan kembali di ruangan pakaian.
Menyisir rambutnya setelah tadi sempat mengeringkan rambut menggunakan alat pengering rambut.
Saat turun dari dalam kamar samar-samar Tala mendengar suara keributan yang berasal dari arah dapur di mana ada percakapan dua orang perempuan.
Karena keasikan bercerita Eve dan pengawal Bee tidak menyadari kehadiran dirinya sehingga Tala berpikir berdiam diri dibalik tembok sambil mendengar kedua perempuan yang masih asyik bercerita mengenai operasi itu.
“Apa Nona suka minum smootish?” Tanya pengawal Bee kepada Eve.
Eve menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepada pengawal Bee. “Iya aku sangat menyukainya. Dulu sih tidak tapi karena seseorang aku menjadi menyukai minuman ini. Selain sehat ternyata juga enak.”
Pengawal Bee menganggukkan kepalanya, “kamu mau memasak apa Bee?” Tanya Eve panggilan Eve membuat Tala mengernyit heran siapa yang dipanggil Eve dengan sebutan Bee itu.
Tala berpikir apakah itu dirinya atau bukan tapi Tala rasa itu bukan dirinya karena tidak mungkin Eve memanggilnya seperti itu. “Aku akan memasak makanan kesukaan Tuan muda dan Nona muda.” Jawab pengawal Bee.
Entah kenapa mendengar hal itu membuat Tala tanpa sadar menahan nafasnya dan mendesah pelan.
Eve yang sudah selesai dengan pekerjaannya yang membuat minuman sehat untuk suami dan juga dirinya itu melihat ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
“Sepertinya dia sudah selesai.” Gumam Eve dengan dirinya sendiri.
“Nona berbicara apa?” Tanya pengawal Bee yang mendengar gumaman Eve yang tidak jelas di telinganya.
“Tidak ada.” Ucap Eve. “Aku hanya berbicara dengan diri sendiri.” Lanjut Eve dan pengawal Bee menganggukkan kepalanya mengerti.
Eve kemudian pamit kepada pengawal Bee untuk menuju kamar sambil membawa minuman yang dibawanya beserta buah-buahan yang sudah dikupas dan dipotongnya.
Hampir saja minuman yang dibawanya tumpah karena kaget melihat Tala yang sedang bersandar di tembok. “Huh, hampir saja.” Gumam Eve melihat ke arah nampan yang berisi minuman sehat itu.
“Kenapa kak Tala berdiri di sini. Mengagetkan saja.” Ucap Eve yang tanpa sadar berbicara santai dengan Tala sama seperti waktu mereka pacaran dulu. Bedanya dulu Eve tidak memanggil Tala dengan sebutan kakak karena menurut Eve mereka seumuran tapi karena Tala adalah suaminya dan lebih tua beberapa bulan membuat Eve harus memanggil Tala dengan sebutan kakak. Karena menurut Eve itu adalah yang paling normal di antara semuanya.
Tala hanya diam dan menatap ke arah Eve yang memakai gaun berwarna putih dengan motif bunga-bunga tersebut.
Lalu Tala berjalan di depan Eve dan duduk di ruang tamu. Pengawal Bee yang mendengar sedikit suara kaget dari Eve hanya menggelengkan kepalanya.
Pengawal Bee tau bagaimana rasanya menjadi Nona mudanya itu memang menjadi kebiasaan bagi Tuan mudanya suka sekali mengagetkan orang dengan kedatangannya.
Entah itu disengaja atau tidak.
“Apa kak Tala tadi menguping?” Tanya Eve setelah meletakkan cemilan sehat ala Eve tersebut di depan meja ruang tamu.
Sebenarnya Eve merasa canggung jika harus berbicara dengan Tala melihat terakhir kali mereka selalu tidak bersahabat dan bertengkar. Namun, Eve tidak ingin membuat pengawal Bee yang sedang berada di dapur tau dan mendengar bahwa mereka sedang bertengkar.
“Aku harap kakak mengerti karena di sini ada pengawal Bee.” Bisik Eve setelah sebelumnya mendekatkan wajahnya di telinga Tala.
__ADS_1
Tala yang mendapat bisikan dari Eve di telinganya tersebut menolehkan segera ke arah Eve hingga tanpa disengaja Tala mengecup pipi sebelah kiri Eve.
Cup
Keduanya mematung, Eve mengerjapkan kedua matanya dan Tala yang terdiam karena kenapa bisa dia mencium pipi Eve.
Eve dengan segera menjauhkan wajah dan tubuhnya dari Tala namun tangan Tala segera mencekal pinggang Eve sehingga membuat wajah Eve berada di depan dada bidang milik Tala.
Eve mendongakkan kepalanya ke atas menatap bingung ke arah Tala sedangkan Tala menatap ke bawah. Kedua bola mata keduanya bertemu dan hidung keduanya bersentuhan.
Pengawal Bee yang memang sejak tadi mengintip segera memotret dan memvideokan adegan di antara pasangan suami istri tersebut.
Lalu setelah puas pengawal Bee segera melanjutkan acara masak-masaknya dan menjadi riang kembali.
Sedangkan di antara Tala dan Eve keduanya masih mematung Eve tidak bisa bergerak karena pergerakannya di kunci oleh Tala.
Tala lagi lagi memajukan wajahnya ke arah Eve dan membuat Eve tanpa sadar memejamkan matanya.
Tala membisikkan sesuatu di telinga Eve. “Tadi ada yang melihat.” Ujar Tala membuat Eve membuka kedua matanya dan wajahnya memerah.
Tala segera melepaskan rengkuhan tangannya di badan Eve dan Eve segera menjauhkan dirinya dan memperbaiki posisi duduknya dan juga gaunnya yang tersingkap sehingga menampilkan paha putih mulusnya itu.
Tala segera meminum minuman sehat yang dibuat oleh Eve ketika Eve yang sibuk memperbaiki gaun bermotif bunga yang digunakannya itu.
Saat Eve selesai dengan urusannya Eve menolehkan kepalanya dan menatap gelas yang ada di meja di mana sudah tidak ada smootish yang tersisa.
“Apa kak Tala masih merasa haus jika masih maka aku akan membuatnya lagi atau kak Tala ingin aku membuatkan yang lain?” Tanya Eve menawarkan minuman yang dibuatnya tadi untuk dibuat ulang.
Tala menolehkan kepalanya ke arah Eve lalu menggelengkan kepalanya, Eve pun mengerti dan setelah itu tidak ada pembicaraan yang mengalir di antara keduanya.
Suasana di antara Eve dan Tala terlihat sangat canggung seperti pasangan yang sedang berantem. “Ka-ka ekhm kalau begitu aku ke dapur untuk membantu Bee memasak apakah boleh?” Tanya Eve meminta izin kepada suaminya itu.
Tala yang untuk kedua kalinya mendengar Eve menyebut nama Bee menolehkan kepalanya ke arah Eve dan sedikit mengerutkan dahinya itu.
“Bee bukan maksudku pengawal dan aku sepakat bahwa aku akan memanggilnya dengan sebutan Bee karena aku tidak tau namanya dan juga dia tidak bisa memberitahukan namanya.”
“Apakah tidak apa-apa?” Tanya Eve sambil melihat ekspresi wajah Tala yang kembali menatap ke arah depan.
“Terserah.”
Eve sebenarnya merasa kesal mendengar kata terserah itu namun Eve tidak bisa protes karena dirinya bukanlah siapa-siapa. Jika dulu waktu berpacaran dengan Tala dirinya yang lebih sering berkata terserah maka sekarang Tala lah yang lebih sering.
Terkadang Eve berpikir apakah Tala membalas semua apa yang dilakukannya dulu termasuk kata apa yang sering diucapkan olehnya yaitu kata terserah.
“Kenapa kamu melihatku seperti itu?” Tanya Tala yang merasa bahwa Eve sedang melihatnya dengan tatapan kesalnya namun ekspresi wajahnya terlihat datar.
Eve yang mendengar suara Tala sedikit mengerjapkan kedua matanya untuk membuatnya sadar bahwa jangan sampai melamun jika bersama dengan suaminya itu.
“Tidak ada kalau begitu aku pergi dapur dulu.” Pamit Eve lalu segera beranjak dari sofa yang ditempati berdua oleh dirinya dan Tala.
__ADS_1
Eve berjalan sambil mengatur nafasnya yang terasa lega setelah berjauhan dengan Tala. Detak jantungnya berpacu dengan cepat jika bersama dengan Tala sama seperti waktu dulu.
Setelah menghabiskan makan siang yang dibuatkan oleh pengawal Bee dengan dibantu oleh Eve. Kini Tala dan Eve berada di dalam mobil hendak pulang ke mansion.
Eve sedari tadi duduk gelisah karena ingin mengatakan sesuatu namun dirinya takut bahwa Tala tidak akan mengizinkannya mengingat bahwa karena dirinya lah penyebabnya apalagi sekarang Tala yang menyetir mobil dan otomatis hanya mereka berdua di dalam mobil tersebut.
“Katakan.” Ujar Tala sambil matanya memandang ke depan karena dirinya saat ini sedang menyetir.
Eve yang sejak tadi duduk gelisah menatap ke arah Tala yang sedang fokus menyetir tersebut dan bingung. Namun Eve sama sekali tidak bersuara karena kurang mendengarnya membuat Tala menghela nafasnya.”Katakan.” Ucap Tala sekali lagi.
Nada bicara Tala masih sama sangat datar dan dingin apalagi ekspresi wajahnya dan tatapan matanya yang tajam.
“Emmm sebelum ke mansion apa boleh berhenti di pemakaman kakek terlebih dahulu.” Pinta Eve yang langsung menundukkan kepalanya sambil melipat bibirnya ke dalam menahan rasa gugup.
Tala tidak menyahutinya dan membuat Eve berpikir bahwa Tala tidak menuruti keinginannya. Eve memandang ke arah luar jendela karena menahan air mata yang hendak keluar dari matanya itu.
Tidak lama kemudian mobil berhenti di sebuah toko bunga membuat Eve menatap bingung sedangkan Tala hanya diam saja.
Selama beberapa menit keduanya terdiam di depan toko bunga. “Keluarlah.” Ucap Tala lalu memberikan uang merah lima lembar kepada Eve.
Eve yang mendengar suara Tala yang menyuruhnya untuk keluar melihat ke arah Tala dan juga tangan Tala yang menyodorkan uang lembaran berwarna merah kepadanya.
“Apa maksudnya?” Tanya Eve kebingungan.
Tala menghela nafasnya. “Bukankah tadi kamu menginginkan sesuatu.” Ujar Tala mengingatkan seolah malas sekali mengulang apa yang diinginkan oleh Eve.
Eve awalnya terdiam beberapa saat namun saat mengingat keinginannya tadi dengan semangat Eve mengambil uang yang diberikan Tala kepadanya dan tidak lupa mencium tangan Tala dan mengecup pipi sebelah kanan Tala.
Setelah itu Eve segera pergi dari mobil dan masuk ke dalam toko bunga untuk membeli bunga kesukaan kakek Werawan karenanya nanti mereka akan ke sana.
Sementara Tala setelah sekian lama waktu terakhir kali di mana Eve berusaha untuk mencari perhatian dan menggodanya selama satu bulan kini mendapatkan ciuman di pipinya tanpa sadar Tala memegang pipi sebelah kanannya dan menatap ke arah Eve yang sedang berada di toko bunga.
Tampak terlihat bahwa Eve sangat bersemangat dan senyum di bibirnya bercampur haru karena diizinkan untuk datang ke makam kakek Werawan.
Eve merasa terharu dengan itu dan Eve menyangka tadi bahwa dirinya tidak akan bisa datang ke makam kakek Werawan dan berpikir bahwa suaminya itu masih marah dan menyalahkan dirinya atas meninggalnya kakek Werawan.
Tapi, Eve juga tidak mau berpikir terlalu tinggi jika apa yang dilakukan Tala kepadanya apakah di dalam hati dan pikiran pria tersebut masih menyalahkannya atau tidak yang penting Eve merasa senang.
Eve merasa bersalah di dalam dirinya karena sudah berpikir buruk terhadap suaminya itu sehingga dengan semangatnya sebagai ucapan terimakasih Eve mengecup pipi kanan suaminya itu setelah mencium punggung tangan suaminya ketika memberikannya uang lembaran berwarna merah sebanyak lima lembar itu.
Eve memilih bunga tulip yang merupakan bunga kesukaan kakek Werawan lebih tepatnya bunga kesukaan dari istri kakek Werawan.
Kakek Werawan pernah bercerita mengenai Nenek Werawan yang sudah meninggalkannya 8 tahun silam itu bahwa Nenek Werawan sangat menyukai bunga yang berasal dari negara kincir angin tersebut.
“Kakek Eve datang.” Ucap Eve dalam hatinya.
*Bersambung*
__ADS_1