
Eve melihat ada begitu banyak pewarna kuku semua warna ada.
"Kenapa banyak sekali?" Tanya Eve.
"Bukankah akan bagus jika sewaktu-waktu bunda ingin menggunakannya dan ingin warna yang berbeda barangnya sudah tersedia." Jawab Tala dengan semangat dan merasa bangga bahwa dia memang suami yang pengertian.
"Tapi, ini bukan untuk aku." Ujar Eve membuat Tala menjadi bingung.
"Lalu untuk siapa?" Tanya Tala.
"Untuk ayah." Tala mengerjapkan kedua matanya mendengar apa yang dikatakan oleh Eve.
"Ayah Davka?!" Seru Tala berusaha untuk berpikir mungkin ayah yang dimaksud bukan dirinya namun ia tidak bisa menutupkan rasa khawatir dalam dirinya.
"Bukanlah...ini itu untuk ayah Orion. Memangnya ayah Orion siapa?" Ujar Eve
Dan Tala dengan polosnya menunjuk dirinya karena kan memang benar bahwa dia adalah ayah Orion, kakak iparnya dipanggil papi dan dokter Raka meminta dipanggil daddy.
"Hah...sayang yang benar tapi ayah kan laki-laki." Ujar Tala merasa bahwa jiwanya terasa hilang.
"Siapa bilang ayah adalah perempuan. Bunda tidak akan menikah dengan sesama jenis dan jika itu terjadi tidak ada Orion."
Eve memang sengaja memanggil Tala dengan sebutan ayah sesuai keinginan pria itu agar suaminya merasa senang dan mau melakukan keinginannya sesuai dengan rencana yang sudah dia buat.
Rencana harus berjalan dengan lancar dan tentunya harus terlaksana.
"Tapi, ini untuk perempuan." Seru Tala dengan wajah bingung dan cemas. Jika dia menggunakan ini habislah dia diejek oleh asisten Kaivan karena dulu dia sempat mengejek asisten Kaivan yang memakai pewarna kuku karena ulah Yasmin saat sedang mengandung.
Tunggu, mengandung?
Yang semua wajahnya cemas dan bingung kembali menjadi sumringah dan kali ini Eve yang merasa heran.
'Ada apa dengannya'
Apakah istrinya ingin memberikan kejutan untuknya sehingga istrinya tidak memberitahukan bahwa dia sedang mengandung.
Atau istrinya belum tau bahwa dia sedang mengandung bukankah Yasmin dulu melakukannya kepada asisten Kaivan karena Yasmin mengidam.
Itu artinya Eve juga mengidam iya tidak salah lagi. Tapi, kan Eve tidak terlihat sedang hamil karena Eve sama sekali tidak mengalami mual-mual dan dia juga tidak seperti itu seperti yang sekretaris Diego alami karena kehamilan simpatik.
Apa kali ini Eve sama sekali tidak merasakan yang namanya mengidam seperti itu sehingga dia tidak mengetahui bahwa ia hamil.
"Bunda mau cat kuku ayah?" Tanya Tala untuk memastikan.
Eve mengangguk sembari mengambil tangan kanan suaminya itu. "Tunggu, tunggu..." Membuat tangan Eve terhenti dan menatap ke arah Eve.
"Kenapa? Ayah tidak mau ya!" Seru Eve dengan berpura-pura memasang wajah kecewanya.
'Lihat perubahan emosinya sangat drastis dan sensitif ia pasti benar bahwa ia sedang hamil. Orion. kamu akan mendapatkan adik!'
"Tidak. Tidak ayah sangat mau hehehe." Ujar Tala dengan pasrah.
Tidak apa-apa jika itu bisa membuat istrinya merasa senang dan bayi dalam kandungan istrinya bahagia walaupun dia harus menderita nantinya karena diejek oleh asisten Kaivan.
Tidak hanya kuku Tala melainkan telapak tangan Tala juga dihias oleh Eve seperti para perempuan-perempuan di India sana.
"Jangan banyak bergerak tunggu sampai kering dulu." Ujar Eve lalu berlanjut ke arah kaki Tala.
'Dia terlihat sangat bahagia sekali wajahnya. Sepertinya belum lahir saja bayiku sudah meresahkan.'
"Sayang, ayah haus tau." Membuat Eve yang sibuk mengecat kuku suaminya itu terhenti.
__ADS_1
"Tunggu sebentar dan jangan bergerak." Eve segera pergi ke dapur setelah memberi ultimatum kepada suaminya yang berupa perintah itu.
"Ini bahkan lebih parah dari asisten Kaivan. Aku tidak mau berangkat kerja sampai ini benar-benar hilang kalau tidak hilang sudah harga diriku jika pergi ke kantor."
"Berapa lama dia akan hilang?" Tanya Tala lelah kepada dirinya sendiri.
"Apa! Kamu berencana untuk menghilangkannya?" Pekik Eve yang baru kembali dari mengambil minuman untuk Tala.
"Jangan bergerak." Pekik Eve saat melihat Tala yang hendak bergerak.
"Awas saja jika dihilangkan maka aku akan terus membuatnya camkan itu." Tala melongo mendengar nada penuh ancaman dan aura permusuhan dari istrinya itu.
Semakin hari istrinya semakin berani baik dalam berbicara maupun bereskpresi memang kemajuan yang pesat daripada istrinya yang dulu pendiam dan selalu memendam Tala lebih menyukai istrinya seperti ini yang merasa bebas dan tidak terkekang.
"Sayang tidak boleh lho berbicara seperti itu kepada suami." Nasihat Tala.
"Maafkan aku." Ujar Eve yang mulai menunduk karena merasa bersalah.
Kenapa melihat istrinya yang seperti itu dirinya jadi merasa bersalah padahal dia hanya mengingatkan saja.
"Sayang ayah tidak apa-apa jika bunda bebas mengungkapkan ekspresi bunda ayah tidak masalah tapi darimana bunda mendengar kata-kata itu yang kurang baik itu?"
"Dari Nabastala." Jawab Eve kembali membuat Tala terdiam mendengarnya. Memang benar dirinya pernah berkata seperti itu tapi sudahlah.
"Okay bunda silahkan lanjutkan." Ucap Tala sampai lupa bahwa tadi tenggorokannya sangat kering.
"Ayah sudah tidak ingin minum lagi?" Tanya Eve dan Tala menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?"
"Bunda melarang ayah untuk jangan bergerak terlebih dahulu karena belum kering ayah nggak bisa memegang gelasnya." Terang Tala.
'Ada untungnya seperti ini, nanti kalau sudah selesai bilang pengen makan cemilan ah biar disuapi bidadari cantiknya aku'
"Apakah sudah tidak haus lagi?" Tanya Eve.
"Sudah cukup bunda terimakasih." Jawab Tala dengan tersenyum sumringah bahkan mungkin giginya akan kering karena terlalu lama tersenyum sembari melihat Eve yang sudah mulai sibuk menghiasi kakinya itu.
"Akhirnya selesai juga."
Tala melihat ke sepuluh jari kakinya itu untuk kaki Tala tidak mempermasalahkannya karena bisa ditutupi dengan kaos kaki dan pakai sepatu tapi kalau tangan mana sudah digambar sebagus mungkin dan kuku diwarnain bukan hanya satu saja melainkan ada sepuluh warna sesuai dengan warna kuku kakinya.
"Apakah ini sudah kering?" Tanya Tala kepada istrinya itu dan Eve melihatnya dengan hati-hati.
"Masih belum sedikit lagi." Jawab Eve.
"Bunda ayah ingin makan cemilan sambil nonton TV masih nunggu berapa lama lagi ayah lapar." Ujar Tala.
"Tinggal tunggu sebentar lagi."
"Ayah ingin makan cemilan dan lapar bunda." Ujar Tala dengan manja.
Eve menghela nafasnya, "baiklah aku menyiapkan cemilan dulu."
Tala bersorak gembira di dalam hatinya karena rencana minta disuapi oleh Eve akan berhasil.
Tidak lama kemudian Eve sudah menyiapkan cemilan buah-buahan yang sudah dikupasnya dan juga keripik buah buat dirinya dan suaminya itu.
Tala membuka mulutnya dengan lebar saat Eve menyodorkan garpu dan buah.
'Jika seperti ini setiap hari aku mau dicat kukunya walaupun harus menanggung ejekan dari asisten Kaivan.'
__ADS_1
......***......
Tala sedang berada di ruang kerjanya dengan Eve yang sedang duduk di sofa sembari membaca buku tentang parenting.
Sekretaris Diego yang mendengar bahwa Tala datang bersama istrinya di kantor segera masuk ke dalam ruang kerja Tala.
"Setelah sekian lama akhirnya kamu masuk kantor juga." Ujar sekretaris Diego setelah mengetuk pintu dan diizinkan masuk.
"Selamat pagi Nyonya muda." Sapa sekretaris Diego kepada Eve dan Eve hanya menunduk sebagai balasan diberikannya kepada sekretaris Diego.
"Di mana sekretaris Wendy?" Tanya Tala saat tidak melihat istri dari sekretarisnya itu.
"Sekretaris Wendy pergi ke kamar mandi Tuan." Jawab sekretaris Diego yang memperhatikan Tala dengan intens karena sepenglihatannya hari ini Tala terlihat gelisah.
Tala berjalan ke arah istrinya itu yang sedang duduk dengan tangan yang berlipat di depan dada.
"Sayang nanti kamu pergilah bersama dengan sekretaris Wendy dan para pengawal. Nikmati waktu mu untuk bersosialisasi ajaklah kak Airen juga ke rumah baru Yasmin nanti ayah menyusul." Ujar Tala sembari mengelus kepala Eve dengan lembut.
Mata sekretaris Diego sedari tadi yang memperhatikan gerak-gerik aneh Tala membelalak matanya tak percaya walaupun sekilas ia bisa melihatnya dengan jelas.
Setelah Eve pergi wajah Tala menjadi datar saat melihat sedari tadi sekretaris Diego melihat ke arahnya dengan intens.
"Tidak usah melihat ku seperti itu aku tau aku sangat tampan jangan sampai orang-orang berpikir aneh dan jangan mengejekku."
"Cih, percaya diri sekali. Aku sangat prihatin melihat ku seperti itu." Ujar sekretaris Diego yang meringis melihat tangan Tala.
Sekretaris Diego tidak mau mengejek Tala karena takut bahwa dia juga akan mendapatkannya apalagi istrinya saat ini sedang hamil.
"Apa Eve sedang hamil?" Tanya sekretaris Diego.
Mendengarnya membuat Tala tersenyum sumringah. "Entahlah aku harap begitu akhir-akhir ini dia memang sensitif tapi dia sama sekali tidak mual-mual seperti ibu hamil dan aku juga tidak mengalami kehamilan simpatik seperti mu."
"Kenapa tidak memeriksanya?" Tanya sekretaris Diego yang tentu saja harus menjaga jarak dari Tala karena masih merasa mual walaupun tidak separah waktu trimester kehamilan istrinya itu.
"Nanti saja aku masih menebak-nebak apakah Eve sudah tau dia hamil atau belum siapa tau dia sedang memberikan kejutan buat aku dan aku tidak mau kejutan itu gagal."
"Melihat mu dan asisten Kaivan sepertinya kalian berdua takut sama istri." Ujar sekretaris Diego dengan ragu-ragu. Apakah tidak apa-apa jika dia mengatakannya seperti itu ini tidak masuk dalam karma bahwa dia harus mengalami seperti mereka kan?
"Aku itu suami yang sayang istri bukan takut istri." Dengus Tala kesal
"Ya, ya ya terserah mu lah. Kenapa kamu menyuruh istriku dan istrimu ke rumah asisten Kaivan?"
"Apa kamu lupa mereka sudah pindah ke rumah baru dan mengadakan acara penyambutan apa itu namanya." Terang Tala dengan malas mengingat undangan acara penempatan dan pindah rumah baru dari asisten Kaivan.
"Lagian Eve perlu bersosialisasi selama ini dia tidak mempunyai teman dan tidak ada teman yang tulus dengannya dulu. Sepertinya Eve merasa nyaman dengan Yasmin dan Daisy serta istrimu."
"Kamu tidak takut jika mereka sudah berkumpul akan merencanakan sesuatu?" Sekretaris Diego tentu saja was-was apalagi itu nanti diketuain oleh Yasmin yang bersikap bar-bar.
"Kamu tau kan bagaimana dengan Yasmin apalagi jika sudah ada Daisy."
"Huh, apa kamu lupa istrimu juga sama dengan mereka. Hanya istriku dan kakak ipar ku yang pendiam, kalem, dan elegan." Pujian Tala kepada Eve dan kakak iparnya itu membuat sekretaris Diego memutar bola matanya malas. Apa tidak bisa setiap hal yang dibicarakannya tidak ada pujian diri sendiri.
"Jika istriku ketularan berati itu virus dari istrimu dan istri Kaivan dan Jackson." Seru Tala. Sudahlah berbicara dengan Tala tidak ada habisnya sebaiknya ia bekerja saja daripada mendengar celoteh Tala.
Padahal acara pindahan rumah asisten Kaivan masih besok namun sekretaris Diego tidak memberikan protesnya dan membiarkan istrinya itu pergi ke rumah asisten Kaivan.
Lagipula nanti dia tidak akan sendiri saja bersama dengan Tala pasti asisten Kaivan akan datang ke sini karena diusir Yasmin untuk berbicara leluasa dengan Eve, Wendy, dan Daisy.
Sekretaris Diego bisa menebaknya tinggal tunggu jam berapa asisten Kaivan masuk sembari mendumel kesal.
*Bersambung*
__ADS_1