
Eve keluar dari dalam kamar mandi setelah sebelumnya membersihkan kelopak bunga mawar yang dimandikannya tadi agar Tala tidak mengetahuinya jika tidak Eve akan sangat malu.
Eve juga tidak mau jika harus meminta tolong kepada pelayan di mansion ini karena Eve juga sama merasa malu.
“Ternyata wangi sekali.” Ujar Eve saat dirinya mencium lengannya karena kelopak bunga mawar juga ditambahkan wewangian oleh pelayan sesuai yang disuruh oleh Adya tadi.
Pintu kamar di ketuk membuat Eve yang tadinya duduk di balkon kamar segera beranjak untuk melihat siapakah yang sedang mengetuk pintu karena itu tidak mungkin Nabastala.
“Maaf Nona mengganggu.” Ucap kedua pelayan tersebut yang melihat Eve.
“Ada apa bibi?” Tanya Eve dengan lembut setelah sebelumnya menutup pintu kamarnya dengan Tala.
“Kami ingin membersihkan kelopak bunga mawar di dalam kamar mandi Nona.” Jawab salah satunya.
“Tidak usah bibi, sudah saya bersihkan.” Ujar Eve membuat kedua pelayan yang semulanya menunduk mendongakkan kepalanya dan menatap penuh kekaguman dengan melihat wajah Eve beserta matanya yang memikat.
“Bibi tidak usah menunduk saat berbicara jangan sungkan dengan Eve. Terimakasih.” Ucap Eve yang tidak melupakan kata sopan santun yang diajarkan kedua orangtua angkatnya dulu sambil tersenyum.
Setelah pamit mengundurkan diri kepala pelayan itu pergi namun dari jarak beberapa meter mereka melihat Tuan muda mereka yang baru pulang dari kantor begitu pun dengan Eve. “Apakah sampai terdengar ya dari sana.” Gumam Eve khawatir ketika melihat Tala yang berada di ujung tangga.
Tala hanya diam saja dan biasa saja melihat kedua pelayan yang berbicara dengan Eve di depan pintu kamar dirinya dengan Eve.
Eve tersenyum dan menyambut Tala dengan mencium tangan Tala dan mengambil tas kerja Tala yang tanpa mereka sadari bahwa mereka sedang dipotret oleh seseorang yang sejak tadi bersembunyi.
Eve membalikkan badannya dan membuka pintu kamar dengan nafasnya yang tegang. Tala yang berdiri di belakang Eve menatap ke arah Eve dengan diam sambil memikirkan sesuatu.
Karena tidak mau terlalu memikirkannya Tala langsung segera membersihkan tubuhnya tapi sebelum itu Tala membuka sepatu dan dasinya terlebih dahulu.
Eve yang melihatnya seperti biasa membuka sepatu dan kaos kaki Tala dan juga tidak lupa dasi yang melilit di leher Tala sepanjang hari. “Apakah sangat melelahkan, jika lelah aku bisa melakukan pijatan jika kamu mau.” Ujar Eve mengawali pembicaraan dan merasa kasihan melihat wajah lelah Tala.
Tala hanya diam sambil melihat kelincahan Eve dalam melayaninya lalu mata keduanya bertemu dan Tala dengan segera memutuskan pandangan tersebut dengan langsung pergi ke dalam kamar mandi.
Eve memajukan bibirnya melihat Tala yang hanya diam saja bahkan Tala terlihat semakin dingin ketika melihatnya.
Eve berdiam diri di balkon dengan melihat taman bunga yang berbentuk labirin tersebut dari atas. “Apakah kelopak bunga mawar yang aku mandi tadi diambil dari situ.” Gumam Eve. “Aku belum pernah ke taman labirin tersebut sudah setahun lebih aku tinggal di sini bagaimana aku bisa tidak tau bahwa di mansion ini ada taman bunga labirin.”
Eve tersenyum menatap ke arah taman bunga tersebut dulu dirinya jika ingin menikah juga mempunyai taman labirin bunga di rumahnya tapi lihat sekarang tanpa sadar dirinya menerima dan mendapatkannya setidaknya keinginannya ini terwujud walaupun tidak selamanya.
“Sungguh menyejukkan apalagi melihat langit yang berwarna jingga.” Ucap Eve merentangkan kedua tangannya lalu Eve duduk dengan nyaman di kursi yang memang disediakan di balkon kamar tersebut. “Bahkan kursi ini sesuai dengan keinginan ku.” Ucap Eve.
Eve masih belum menyadari bahwa dekorasi kamar ini sudah berubah dan direnovasi oleh Adya supaya tidak membosankan dekorasinya seperti Tala.
Eve yang merasa ada yang kurang setelah sekian lama duduk melihat pemandangan dan memotret dengan ponselnya akhirnya beranjak dari balkon karena ingin turun ke bawah mengambil cemilan.
__ADS_1
Mata Eve melihat jam dinding yang sudah menunjuk pukul enam kurang seperapat, entah kenapa dan apa yang dilakukan Tala di dalam kamar mandi ini sudah lebih dari 1 jam Tala di dalam kamar mandi.
Mata Eve menatap pintu kamar mandi ketika mendengar suara gemericik air. Eve tidak mengerti mandi Tala karena terkadang Tala bisa cepat jika mandi dan bisa lama seperti sekarang ini. “Terkadang dia lebih girly dari perempuan.” Ucap Eve dengan dirinya sendiri ketika mengingat tingkah laku Tala yang kelewat bersih dan belum lagi jika Tala sudah mengatakan kata terserah.
Eve mengurungkan niatnya untuk mengambil cemilan di dapur karena sebentar lagi akan makan malam. Tidak lama kemudian lebih tepatnya lima belas menit Eve yang sudah menonton film kartun yang dipilihnya melalui ponselnya Tala keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
Eve melirik sedikit ke arah Tala entah kenapa Eve tetap saja merasa malu melihat Tala yang berpenampilan seperti itu namun Eve harus mengatasi rasa malunya karena dirinya harus memberikan baju dan celana buat Tala.
Tala menerima tanpa banyak kata seperti biasanya, Eve segera membalikkan badannya ketika melihat Tala yang tidak tau malu memakai pakaiannya di depan matanya sendiri. Eve tidak bisa protes mengenai kebiasaan Tala bahkan Eve begitu kaget waktu pertama kali melihat kebiasaan Tala yang tidak mengenakan atasan saat tidur.
Setelah memakai pakaiannya Tala berjalan ke balkon kamar dan menatap sekotak rokok yang sudah lama dibelinya namun tidak pernah disentuh olehnya karena sebenarnya Tala tidak merokok dan tidak pernah mencobanya.
Eve yang melihat Tala memegang sebuah kotak rokok yang diambil Tala dari laci segera berjalan ke balkon kamar. Eve merampas rokok yang ada di dalam genggaman Tala membuat Tala menatap ke arah Eve dengan tajam.
“Jangan mencobanya.” Ucap Eve yang sudah mulai mode dokternya. “Ini tidak baik buat kesehatan jangan sampai membuat mu ketagihan. Sudah berapa lama kamu menggunakannya?” Tanya Eve dengan menatap Tala tajam.
Tala yang melihat dan mendengarnya berdiri menghadap ke arah Eve dengan senyum sinisnya lalu memajukan wajahnya di hadapan Eve membuat Eve memundurkan kepalanya.
Eve yang melihat Tala memajukan tubuhnya dengan refleks memundurkan kepalanya dan menelan salivanya dengan gugup. “Siapa kamu berani melarang ku.” Tanya Tala dengan suara seraknya.
Eve yang mendengarnya menatap Tala lebih berani. “Aku adalah istrimu.” Ucap Eve. “Jangan kamu coba ini tidak buat kesehatan.”
“Kamu tidak berhak melarang ku karena kamu bukanlah siapa-siapa di mata ku.” Ucap Tala dengan pedasnya dan menatap mata Eve.
Eve tentu saja merasa sakit mendengarnya namun dirinya harus kebal jika ingin rencana Adya dan kedua mertuanya berhasil. “Aku tau dan aku selalu mengingat itu.” Ucap Eve menahan rasa pedih di hatinya.
Tala yang semula menatap ke arah depan kembali menatap ke arah Eve yang sedang menatapnya. “Jadi, aku meminta tolong kepada mu jangan merokok demi kak Adya dan kakek.” Ucap Eve dengan matanya yang berkaca-kaca. Jika dirinya tidak mampu untuk melarang Tala melakukan hal yang diinginkannya maka Eve harus melibatkan kak Adya.
Tala merampas sekotak rokok yang berada di genggaman Eve hal itu membuat Eve kaget apalagi ketika melihat Tala yang membuangnya.
Mata keduanya bertemu lalu Tala segera memutuskannya dan pergi dari balkon tersebut dan keluar dari kamarnya.
Eve memundurkan tubuhnya dan bersandar di pembatas balkon ketika melihat tatapan Tala yang selalu dingin dan semakin dingin kepadanya. Dengan memegang dadanya seolah energinya terkuras habis karena melarang Tala untuk tidak merokok.
“Kamu melakukan kerja yang bagus Eve.” Ucap Eve dengan dirinya sendiri. “Kamu harus semangat.”
Malam harinya setelah selesai makan malam dan berbincang di ruang keluarga yang menjadi rutinitas keluarga Werawan semua orang kembali ke dalam kamarnya masing-masing.
Sejak tadi Eve merasa gelisah dan tidak tenang karena dirinya akan mulai beraksi menggoda Tala dengan menggunakan pakaian tipis yang dibelikan oleh Adya dan dicobanya tadi.
Sebelum ke kamarnya Adya menyemangati Eve dan mengunci pintu kamarnya agar Tala juga tidak masuk ke kamarnya untuk menghindari Eve nanti.
Adya juga menyuruh seluruh pembantu untuk mengunci seluruh pintu kamar yang berada di dalam mansion yang biasa digunakan untuk para tamu dan memberikannya kepada dirinya.
__ADS_1
Tala pergi ke ruang kerjanya entah apa yang dilakukan Tala di sana selalu setiap malam ada saja pekerjaan yang dikerjakannya antara menghindar dari Eve atau memang benar ada pekerjaan.
Sementara Eve di dalam kamar mandi terus mondar-mandir dengan pakaian tipis yang sudah dikenakannya saat ini.
Menggigit jarinya dengan tidak tenang lalu menatap pantulan cermin di hadapannya melihat bagaimana tubuhnya yang menggunakan pakaian tipis tersebut membuat Eve ngeri sendiri.
Eve membuka pintu kamar mandi dengan pelan dan melihat ke arah seluruh ruangan dengan berjalan berjinjit padahal di dalam kamar tidak ada siapa-siapa.
Dengan segera Eve meloncat ke atas tempat tidur dan menyelimuti seluruh tubuhnya. “Bagaimana ini aku sangat gugup dan malu.” Ucap Eve memelas melihat dirinya saat ini.
Hampir tiga puluh menit lamanya Eve berpikir apakah dirinya harus mengganti pakaian tipis ini atau tidak namun akhirnya Eve menyerah karena merasa sangat malu Eve ingin segera mengganti pakaiannya sebelum Tala kembali ke kamar.
Namun sayang saat Eve yang sudah berdiri di tengah-tengah ranjang tempat tidur dan juga pintu kamar mandi. Pintu yang menghubungkan ruang kerja Tala dengan kamar ini terbuka.
Eve terdiam kaku ketika mendengarnya dan masih berdiri mematung membelakangi Tala. Pasti Tala sudah melihatnya.
Eve menggigit bibir dalamnya dengan cemas. Sementara Tala yang melihatnya tidak bisa tidak menunjukkan rasa kagetnya melihat penampilan Eve sekarang.
Dengan pasrah dan memberanikan diri akhirnya Eve membalikkan badannya menghadap ke arah Tala yang sedang menatapnya dari atas sampai bawah. “Apa yang sedang kamu kenakan?” Tanya Tala dengan suara seraknya lalu berjalan ke arah laci yang berada di samping tempat tidur.
“Segera ganti pakaianmu.” Ucap Tala sambil melihat layar ponselnya.
Eve yang mendengarnya dan sudah terlanjur dilihat Tala berjalan mendekat ke arah Tala dan memeluk Tala dari belakang.
Tala yang mendapat pelukan dari Eve tersentak kaget melihat keberanian yang dilakukan Eve kepadanya sekarang. Tala berpikir bahwa ini pasti ulah Adya yang menyuruh Eve seperti ini.
“Jika aku tidak mau bagaimana?” Tanya Eve bermain-main dengan Tala padahal dirinya saat ini sungguh sangat gugup luar biasa dan matanya dipejamkan.
Tala melihat tangan Eve yang melingkar di perutnya dan menggenggam erat baju yang dikenakannya. Tala sangat frustrasi melihat keberanian Eve dan apa yang dilakukan Adya kepada Eve sehingga berani seperti ini kepadanya.
Tala membalikkan badannya dan menatap ke arah Eve dengan tajam sementara Eve yang kaget melihat Tala yang dengan begitu cepat bergerak sehingga tiba-tiba menghadap ke arahnya membuka matanya yang semula tadi terpejam dan gigitan di bibir dalamnya terlepas.
“Cepat segera ganti baju mu.” Perintah Tala dengan suara rendahnya yang ditahan melihat Eve yang bermain-main dengannya.
Lagi-lagi Eve berusaha untuk tuli mendengar perkataan Tala dan tangan Eve kini dikalungkan di leher Tala dan mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Tala.
Sebenarnya Eve sudah sangat malu melakukan hal ini namun semuanya sudah terlanjur Eve sudah tidak memikirkan wajahnya yang sudah memerah karena malu.
Eve memberanikan diri ketika melihat Tala yang hanya diam saja lalu Eve berjinjit dan mencium bibir Tala kali ini bukan ujungnya tapi tepat di bibir Tala.
Tala membulatkan matanya melihat Eve yang semakin berani dan tidak menghiraukan perintahnya untuk mengganti pakaiannya.
Tala lalu tersenyum sinis melihat Eve baiklah Tala akan mengikuti permainan ini. Tala langsung mencium Eve dengan agresif membuat Eve kewalahan dibuatnya. Sebenarnya tadi Eve hanya mengecup saja tapi kenapa bisa begini tanya Eve dalam benaknya.
__ADS_1
*Bersambung*